I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
PROJEK



Hans terkekeh, raut wajah Rosemary yang terlihat tertegun dan gugup membuatnya tak mampu menahan kekehannya.


Gadis mungil yang masih dalam kungkungan ksatria pangeran itu mengernyitkan keningnya. "kenapa kau malah tertawa?" ucapnya.


"habisnya, ekspresimu lucu" Hans terus tertawa seraya menegakkan badan gagahnya itu.


Rosemary ikut membangunkan diri dari tidurnya. Kali ini, wajahnya telah dekat dengan dada busung Hans. Di dengarnya suara detak jantung yang begitu kencang di dalam sana. Rosemary seketika menyeringai, raut wajahnya mendadak berubah. "ah, detak jantungmu berdetak kencang sekali" ujarnya dengan jahil.


Ksatria pangeran itu sontak membelalakkan matanya. Raut wajahnya mendatar, rasa malu yang cukup tinggi mulai menyelimuti dirinya itu. "tidak, biasa saja kok" balas Hans dengan pandangannya yang seketika berpaling dari Rosemary. Ksatria pangeran itu, nampak terlihat kalah kali ini.


Diambillah halus wajah rupawan itu dengan tangan kanannya, agar pandangan Hans kembali tertuju pada dirinya. "baru kali ini, aku melihat Hansku berbohong" godanya dengan bibir tipisnya yang sedikit merengut.


Hans yang kembali memandang penuh sang kekasih itu, sontak tersenyum lebar dengan kedua matanya yang menyipit. "ya sudah, aku akan jujur". balas Hans seraya menghela nafas panjang. "jujur aku sedikit takut ketika melihat bibirmu yang membengkak" ujarnya.


Rosemary itu memanyunkan bibirnya di depan wajah Hans persis. "ku kira, kau takut akan ada orang yang melihat" balas Rosemary seraya tersenyum kecut.


"nah iya, itu salah satunya" seketika Hans terkekeh, guna memecahkan suasana hening nan canggung itu. 


Dipalingkanlah pandangannya sambil kembali tersenyum kecut. "sudah tahu begitu, kau malah menciumku di ruang tamu" balas Rosemary.


"entahlah. tiba tiba aku bergairah ketika memandangimu tadi" ujar Hans santai sembari menyeringai. Kedua matanya masih setia memandang Rosemary, meski gadis itu sudah berpaling pandangan darinya.


Mendengar ucapan Hans, kedua matanya membelalak. Pandangannya kembali tertuju pada ksatria pangeran itu. Dengan spontan, Rosemary membungkam mulut Hans dengan mencubitnya pelan. "Haaaannsss. jangan bilang begitu" ucapnya risih.


Selepas cubitan itu lepas, Hans kembali menyeringai. "kenapa? itu memang benar. kau itu sungguh menggoda" ujar Hans lagi, dengan jari telunjuknya yang mencuil halus dagu Rosemary.


Ditepisnya jari Hans yang menyentuh dagunya itu. "sssttt. Hans, sudah cukup". balas Rosemary seraya tersenyum kecut menahan risih.


Ksatria pangeran itu kembali terkekeh. "yah, Rosemary kalah lagi". ejek Hans.


"kalah dalam hal apa?" Rosemary seketika menunjukkan raut wajah kesalnya. Keningnya kembali berkerut dengan kedua matanya yang melirik menyelisik.


Mendekatlah wajah rupawan itu pada Rosemary seraya kembali menyeringai. "kau itu tidak bakat dalam menjahili Hans. ujung ujungnya kau yang tetap kalah" ujarnya lirih.


"ya sudah, terserah kau saja" lengannya ia sendekapkan di depan dada. Pandangannya beralih dari Hans dengan wajahnya yang sedikit mendongak.


...****************...


Sementara itu, di istana Endonie. James sedang bersantai bersama sang ayah di ruang keluarga. Pria berbadan tegap dengan tinggi 180 cm itu menggunakan waktu luangnya untuk membaca sebuah buku. Sementara sang ayah, sedang terbaring santai di sofa panjang sembari mendengarkan sebuah siaran radio.


Namun, tak berselang lama raja Rolland tiba tiba mengecilkan volume radio tersebut. Hal itu membuat James seketika menoleh ke arah sang ayah.


"oh iya James. ayah lupa tidak memberitahukan mu" ujar beliau seraya membangunkan diri.


"apa itu ayah?" tanyanya dengan raut wajah penasaran.


"jadi begini, tadi ayah dan Jacob berencana untuk membuat sebuah projek" jelas sang ayah yang masih menggantung.


Mendengar rencana sang ayah, James mulai berasumsi bahwa projek itu akan mengharuskan dirinya bertemu dengan Alisa sesering mungkin. Sehingga, ia nampak tak tertarik dengan projek tersebut. 


Dengan wajah dan nada bicaranya yang datar, James bertanya tentang kejelasan projek tersebut pada sang ayah. "lalu? projek apa itu?" tanya nya.


"kami berencana untuk bekerja sama membuat produk aromatherapy terbaru dan mengatur strategi pemasaran yang lebih cerdas. ayah juga sudah mengajukan diri menjadi donatur toko aromatherapy milik Alisa itu" jelas raja Rolland dengan semangatnya. "selain itu, ayah juga ingin kau dan Alisa menjadi maskot pemasaran itu" tambahnya halus.


"ha? kenapa harus aku dan alisa? ayah kan raja, tuan Jacob juga saudagar besar. kenapa tidak kalian saja?" ujar James yang nampak semakin tidak setuju setelah mendengar nama Alisa lagi.


Raut wajah sang ayah seketika masam. Raja Rolland tidak senang jika anaknya itu masih saja menggetingi Alisa. "kau ini James. bukannya senang bisa menjadi maskot pemasaran, tapi kau malah menggerutu" balas sang ayah.


"bukan begitu kenapa?" saut sang ayah mulai kesal.


"aku malas bertemu lagi dengan Alisa. aku tidak suka dengan sifatnya. asal ayah tahu saja, tadi dia sempat menuduhku yang tidak tidak. bukannya berterima kasih, tapi dia malah menuduhku" jelas James panjang. Pandangannya berpaling dari sang ayah dengan raut wajahnya yang kesal.


Raja Rolland memandanginya sendu. Niat hati, beliau tidak ingin memaksa James. Tapi, projek tersebut telah disetujui oleh kedua pihak. "jika kau dan Alisa yang menjadi maskot pemasaran, ayah yakin projek ini pasti sukses" ucap sang ayah merayu.


James memandang sang ayah tak percaya. "apa yang membuat ayah yakin?" tanya James.


"ya karena, jika kalian yang menjadi maskot, orang orang akan mengira projek ini telah dirintis oleh pemuda. dan dipandangan mereka, seorang pemuda itu memiliki pemikiran yang lebih luas. sehingga, produk yang dihasilkan dari projek ini terkesan lebih inovatif dan futureristik" jelas raja Rolland.


Tak ingin sang ayah kecewa. James pun akhirnya menyetujui permintaan sang ayah meski dengan terpaksa. "ya sudahlah. terserah ayah saja" balas James.


Persetujuan dari James terdengar begitu membahagiakan di telinga raja Rolland. Sang raja itu seketika tersenyum bangga pada James.


...****************...


Berbeda dengan James, Alisa yang mendengar rencana sang ayah untuk membuat projek bersama sang raja Endonie itu segera menyetujui dan mendukungnya.


"bagaimana Al? apa kau setuju?" tawar sang ayah dengan raut wajah sumringahnya.


Alisa tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. "apapun yang terbaik untuk ayah, Alisa setuju" jawabnya.


Jacob Arvent sontak memeluk erat anak perempuan semata wayangnya itu. Ia sangat bangga pada Alisa. Selain dirinya yang mandiri, Alisa juga anak yang penurut dan tidak suka hidup bermewah mewahan.


"ya sudah, kalau begitu pulihkan dulu kesehatanmu ya" ujar sang ayah seusai melepas pelukan hangatnya.


Gadis berambut coklat sepunggung itu mengangguk dan tersenyum pada sang ayah. "iya ayah, lagipula sekarang aku sudah sembuh" balasnya.


Diacungkanlah jari jempolnya di depan wajah Alisa seraya mengangkat kedua sudut bibirnya. "anak pintar" gumam sang ayah.


...****************...


Melihat Rosemary yang mengalihkan pandangan dan menyendekapkan lengannya, Hans menyadari bahwa kekasihnya itu sedang kesal. Sehingga, seperti biasa, ksatria pangeran itu akan mengeluarkan jurus rayuannya. "tapi, kalau soal meluluhkan hatiku, tidak ada yang bisa mengalahkan Rosemary" rayu Hans.


Masih dengan posisi yang sama. Rosemary tak menghiraukan rayuan Hans itu.


Dicuilnya lagi dagu lancip Rosemary. "apa kau marah, sayang?" tanya Hans.


Rosemary sontak melepas sendekapnya dan menoleh ke arah kekasihnya itu. "sayang? kau tau arti kata itu?" tanya nya balik.


Hans mengangguk pasti. Raut wajahnya nampak sedikit bingung. "taulah, kenapa tidak" jawab Hans.


Gadis berambut pirang sepunggung itu terdiam sejenak. Dan mulai berpikir positif, mungkin di negri itu para insan juga menyebut pujaan hati mereka dengan kata 'sayang'.


"kau tidak tahu artinya ya? kata itu ku buat sendiri soalnya. orang orang mana tau arti kata sayang" ujar Hans dengan santainya.


Pikiran positif itu seketika musnah. Rosemary mulai kembali menerka nerka. Bahkan, ia beranggapan bahwa sepertinya Hans juga mengalami hal yang sama dengannya. Yaitu tiba tiba terbangun di dunia yang antah berantah itu. Karena bahasa yang ia gunakan merupakan bahasa gaul yang biasa digunakan di dunia aslinya. Mengingat juga, di buku yang pernah ia baca, jiwa reinkarnasi yang dijelaskan di buku tersebut tidak hanya dirinya saja.


"Rose? kenapa kau malah melamun?" tangannya melambai lambai di depan pandangan Rosemary dan raut wajahnya terlihat semakin bingung.


"ah tidak, aku tahu kok" karena malas membahas masalah itu lagi. Rosemary tidak menanyakan apapun pada Hans.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...