
Auraline yang melihat kejadian itu dari balik dinding istana itu hanya bisa mengelus dada, karena ia tidak bisa ikut campur terlebih dahulu. Jika suasana sudah mulai tenang ia akan menceritakan hal yang sebenarnya tentang siapakah itu Gloria.
Meski terkesan tidak percaya. Sembari berjalan, ia terus memikirkan ucapan Gloria itu. Ia mengingat ucapan Hans yang mengatakan bahwa dirinya, tidak suka jika James mendekatinya. Sehingga ia berasumsi bahwa bisa saja hal itu Hans lakukan. Hal itu membuatnya sedih dan menangis. Tapi disisi lain, ia mencoba menyakinkan dirinya untuk tidak mempercayai ucapan Gloria itu.
...****************...
Setelah merasa suasana sudah sedikit lebih dingin. Auraline mencobaa untuk memberi tahu kepada Rosemary bahwa semua yang Rosemary dengar hanyalah tipu daya yang direncanakan Gloria.
"Tteok..tteokk". Suara ketukan dari balik pintu kamar Rosemary.
"(menoleh) iyaa siapaa? masuk saja". Balas Rosemary.
Auraline kemudian memasuki kamar Rosemary perlahan-lahan.
"Kakak?".
"Ada apa?". Tanya Rosemary.
"(menatap wajah Rosmary)".
"Seharusnya kakak yang bertanya, mengapa kau menangis?". Tanya balik Auraline dengan halus.
"(berpura-pura tersenyum)".
"Ah tidak. Siapa bilang aku menangis? aku tidak menangis". Jawab Rosemary.
"Sekarang apa yang bisa membuatmu tenang?". Tanya Auraline.
"Apa? maksudnya? aku tidak tahu kak?". Tanya balik Rosemary bingung.
"Rose".
"Kakak tahu semuanya". Jawab Auraline.
"(menangis)".
"Kak. Mana mungkin Hans melakukan hal itu!". Ucap Rosemary sembari menangis.
"(memeluk Rosemary)".
"Sabar Rose, sekarang tenangkanlah dirimu". Balas Auraline.
"Tapi aku tidak akan mudah percaya dengan ucapan bedebah itu". Ucap Rosemary.
"(tersenyum)".
"Jika kau tidak percaya, lalu mengapa kau menangis?". Gumam Auraline.
"Aku tidak tahu, tiba tiba aku ingin menangis". Balas Rosemary sesenggukan.
"(melepaskan pelukannya)".
"Apa kau tau? siapa itu Gloria?". Tanya Auraline.
"(menggeleng)".
"Aku tidak tahu". Balas Rosemary masih sesenggukan.
"Dia pernah satu kelas denganku dulu, saat masih menjalani pendidikan".
"Dia memang dikenal sebagai orang yang suka iri dan tidak suka melihat kebahagiaan orang lain". Jelas Auraline.
"Jadi, dia lebih tua dariku 2 tahun?". Tanya Rosemary.
"(mengangguk)".
"Iya. Dia juga lebih tua dari Hans". Balas Auraline.
"Mungkin, dia memang tidak suka melihatku bahagia". Gumam Rosemary.
"Ya, itu sudah biasa. Dia juga akan melakukan hal itu pada orang lain, jika ia tak menyukai orang itu". Jelas Auraline.
Rosemary mulai tenang, setelah menceritakan kebimbangannya itu pada sang kakak.
...****************...
Tak lama dari itu. Auraline pun mengajaknya untuk menenun. Dan Rosemary pun menyetujui ajakan Auraline tersebut. Namun, saat hendak menuju ruang tenun, pelayan istana memanggil Rosemary karena kedatangan James.
"Putri Rosemary".
"Kau sedang ditunggu pangeran James dibawah". Ujarnya.
"Ah baiklah, aku akan segera kesana". Balas Rosemary.
"Sebentar ya kak, aku akan segera kembali". Ucap Rosemary pada Auraline.
"Iya Rose". Balas Auraline.
...****************...
Sementara itu, Hans di istananya sedang bersantai bersama sang kakak, Royland. Membahas tentang pelatihan yang hendak Hans ikuti. Tetapi, tiba-tiba ia merasa hatinya gelisah, seperti ingin sekali menghampiri Rosemary lagi.
"Kau jadi ikut pelatihan itu Hans?". Tanya Royland.
"Tentu saja kak".
"Rose juga sudah memberikanku izin". Jawab Hans.
"Ah baguslah".
"Yang semangat ya. Jaga kesehatanmu disana, jangan sampai kau melalaikan kesehatanmu. Kata Royland.
"(tersenyum)".
"Iya kak. Tapi kak, mengapa tiba-tiba hati ku gusar ya?". Gumam Hans.
"Maksudmu?". Tanya Royland.
"Entahlah".
"Tiba tiba, aku hatiku gusar teringat Rose". Jawab Hans.
"Lebih baik kau hampiri saja kesana.".
"Mungkin saja ada sesuatu yang terjadi". Kata Royland.
"Baik kak".
"Aku kesana ya". Jawab Hans.
Hans kemudian bergegas kembali lagi ke istana Ardarish.
...****************...
Sementara itu, Rosemary pun akhirnya datang menemui James yang menunggunya.
"James?".
"Ada perlu apa kau?". Tanya Rosemary.
"(menoleh)".
"Ah, ini aku sudah membawa bukunya". Balas James.
"(duduk)".
"Wah, kau sudah membawanya. Ku pinjam ya". Ucap Rosemary.
"(mengangguk tersenyum)".
"Ramuan yang bisa membuatku kembali ke kehidupanku yang sebelumnya?". Tanya Balik Rosemary.
"(mengangguk)".
"Iya. Ternyata di dalam ramuan itu, dibutuhkan ekstrak daun dari tanaman Indigofera Tinctoria". Balas James.
"(tertegun)".
"Apa? aku punya tanaman itu. Bahkan aku selalu merawat tanaman itu di kebun istanaku". Ucap Rosemary.
"Nah, tanaman itulah yang kau butuhkan". Balas James.
"Tapi butuh berapa kira kira?".
"Karena sebenarnya, tanaman itu adalah tanaman kesayanganku. Aku tidak ingin mencabutnya banyak banyak". Ucap Rosemary.
James menggeleng dengan bahunya yang ikut naik.
"Aku tidak tahu".
"Tapi, aku rasa kita akan butuh cukup banyak". Balas James.
"Ah bagaimana ya". Gumam Rosemary.
"Kau bisa mengambil tanaman itu di dekat air terjun flowbie".
"Disana banyak tanaman itu tumbuh". Balas James.
"Oh ya?".
"Tapi, saat aku kesana bersama Hans kapan lalu, aku tidak melihatnya". Ucap Rosemary.
"Ada".
"Kau saja yang tak menemukannya. Tanaman itu berada di samping sungainya. Bukan di area air terjunnya". Balas James.
"Ah, di sungai".
"Waktu itu, aku memang berada di area air terjunnya. Makanya aku tidak melihatnya". Ucap Rosemary.
"Jika kau mau, aku bisa mengantarkanmu kesana". Tawar James.
"Baiklah".
"Akan ku pikir dulu, kapan aku akan kesana". Balas Rosemary.
Saat itu, tiba tiba Hans datang.
"Jadi ini yang kau sebut berubah?!". Saut Hans tiba tiba datang.
"(menoleh)".
"Hans?". Gumam James.
"Hans? kau datang lagi?". Tanya Rosemary.
"(menghampiri)".
"Jadi, begini perlakuanmu padaku, saat aku tidak ada?". Tanya Hans.
"(tertegun)".
"Apa maksudmu, Hans?". Tanya balik Rosemary.
"Sudah ku bilang, aku tidak suka jika James dekat denganmu!". Balas Hans.
"Tapi, yang kau lihat ini tidak seperti apa yang kau bayangkan!".
"James kemari hanya mau meminjamkanku buku". Jelas Rosemary.
"Iya, Hans".
"Kau jangan salah paham". Saut James.
"Salah paham bagaimana?!".
"Mana mungkin kau kemari hanya akan meminjamkan buku!". Ucap Hans kencang.
"Aku memang hanya meminjamkan buku, Hans!". Tegas James dengan suara yang meninggi.
"(memeluk erat lengan Hans)".
"Hans, cukup!".
"Ku mohon percayalah. Sudahi amarahmu". Balas Rosemary.
"(melepaskan pelukan tangan Rosemary)".
"Aku kecewa padamu!". Ucap Hans sembari meninggalkan Rosemary.
"Hans!".
"Hans! jangan pergi dulu!". Teriak Rosemary.
"Sudahlah, biarkan dia meredahkan amarahnya dulu".
"Menjelaskan apapun, tidak akan ia dengar jika hatinya masih panas". Balas James.
"Tapi, James!". Gumam Rosemary.
"Sudah, tenangkan dirimu". Ucap James.
Seusai punggung itu sudah tak terlihat lagi, Rosemary berlari memasuki kamarnya sembari menangis. James yang melihat itu tidak tega. Namun, tak bisa melakukan apa apa. Hans kembali ke istananya dengan amarah yang menggebu-gebu. Tapi, hati kecilnya itu tidak bisa begitu saja membenci Rosemary.
Auraline yang melihat Rosemary berlari memasuki kamarnya sembari menangis itu, hendak menghampiri adiknya untuk menenangkan dirinya. Namun, sang ayah memanggilnya.
"Auraline". Panggil raja Handry.
"(menoleh)".
"Iya ayah? ada apa?". Tanya Auraline.
"Bisakah kau menolong ayah?". Tanya balik raja Handry.
"Menolong apa ayah?". Tanya Auraline.
"Semua raja di negri ini, diminta untuk datang ke diskusi negri bersama istri dan 1 anaknya, ayah harap kau mau berpartisipasi". Balas raja Handry.
"Ah, itu tandanya kita akan berangkat bertiga? tetapi bagaimana keadaan istana nanti?". Tanya Auraline.
"Iyaa kita akan berangkat bertiga".
"Kau tidak usah khawatir, bibi Anna dan William akan menjaga istana ini selama kita pergi". Jawab raja Handry.
"Memangnya kita pergi berapa hari ayah?". Tanya Auraline.
"Hanya 3 hari saja".
"Sore ini kita akan berangkat, di hari rabu pagi kita akan pulang". Jawab raja Handry.
"Kalau begitu aku harus mengemas barang-barangku sekarang?". Tanya Auraline.
"Iya, sekarangg nak". Jawab raja Handry.
Auraline kemudian memasuki kamarnya dan mengemasi barang-barangnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...