
Gadis itu sontak terdiam. Pernyataan James membuat dirinya seketika terkagum. Dari banyaknya para bangsawan yang ia temui, baru kali ini ia bertemu dengan bangsawan yang merakyat. Para bangsawan yang dikenal sang ayah membuat Alisa juga ikut mengenal mereka. Dan di pandangan Alisa sendiri, mereka para bangsawan selalu menjaga harga diri dan martabat mereka. Bahkan hanya untuk sekedar makan, mereka harus mengunjungi rumah makan elit. Tapi, berbeda dengan James. Pria itu justru mengajak Alisa untuk makan di rumah makan pinggir jalan yang biasa dikunjungi oleh gadis tersebut.
"Alisa? kenapa kau malah melamun?" melihat Alisa yang hanya terdiam mematung, James menegurnya seraya melambai lambaikan tangan di depan wajah Alisa.
Perasaan Alisa semakin tidak karuan ketika James memanggil nama Alisa untuk pertama kalinya. Pandangannya seketika tertunduk, digigitnya pula bibir bawahnya. "Alisa jangan berlebihan, kontrol dirimu Alisa" gumamnya dalam hati.
"Alisa? kau tidak dengar aku berbicara?" merasa dihiraukan, James kembali menegur gadis tersebut dengan suara yang sedikit ia keraskan.
Suara yang cukup keras itu mampu menembus pendengaran Alisa, meski tengah berada di keramaian rumah makan tersebut. "ah maaf, pangeran. tadi suaramu kurang terdengar olehku" balas Alisa dengan wajahnya yang seketika ia angkat.
"ya sudah, ayo kita keluar" ajak James.
"kau yakin? akan benar benar meninggalkan rumah makan elit ini dan beralih ke rumah makan di pinggir jalan?" gadis itu masih ragu dengan pernyataan James. Dengan keraguan yang cukup tinggi, Alisa memberanikan dirinya untuk bertanya kembali.
Raut wajah James seketika memasam. Ia merasa malas menjawab pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya itu. "yakin lah. kenapa tidak" balasnya singkat.
Pernyataan tersebut, akhirnya terdengar meyakinkan di telinga Alisa. Gadis itu tersenyum memandang James, meski pria tersebut memalingkan pandangan darinya. "baiklah kalau begitu, ayo kita kesana" ujar Alisa.
Tanpa mendapat jawaban dari putra raja Rolland itu. Alisa pun kemudian berjalan dengan James yang mengekor di belakangnya.
Tak disangka, ternyata rumah makan pinggir jalan yang biasa dikunjungi Alisa, berada tepat di seberang rumah makan elit tersebut. Tanpa berselang lama, mereka pun akhirnya sampai di sana. Dengan sopan, Alisa mempersilahkan James untuk duduk. Sedangkan dirinya lah yang memesan makanan. Bagaikan sepasang kekasih, kedua insan dengan derajat yang berbeda itu, terlihat serasi di pandangan pelayan rumah makan yang telah Alisa kenal. Diceletuknya Alisa ketika sedang memesan makanan.
"siapa pria rupawan itu? apa dia kekasihmu, Sa?" celetuk pelayan rumah makan tersebut.
"hey, jangan bicara sembarangan! dia putra mahkota kerajaan Endonie. apa kau tak pernah melihatnya?!" balas Alisa dengan kedua matanya yang seketika membulat.
Pelayan tersebut sontak menutup mulutnya sembari membelalakkan mata. "sungguh?! dia datang kemari?! pantas saja, aku seperti pernah melihat dia. rupanya dia pangeran James" balasnya lirih.
Alisa itu tersenyum kecut dengan lirikan matanya yang tidak bisa diartikan. "ya sudah. berikan aku sepiring nasi dengan tumis labu lauk ayam, dan sepiring nasi dengan tumis sawi lauk daging" ujar Alisa jelas.
Si pelayan itu mengangguk sembari menaikkan kedua alisnya. "tapi, bagaimana bisa seorang putra mahkota mengunjungi rumah makan kecil seperti ini?" meski sudah menyetujui permintaan Alisa, pelayan tersebut masih berucap karena rasa penasarannya.
"sudah, siapkan saja makanannya. banyak sekali pertanyaanmu, Vin" raut wajahnya seketika mendatar. Alisa membalas pertanyaan tersebut dengan malas.
"wajar saja si Avin ini bertanya, baru kali ini aku kedatangan seorang pangeran" ucap Avin selalu pelayan rumah makan tersebut.
"kebetulan saja dia sedang lapar, makanya datang kemari" masih dengan nada datarnya. Alisa berucap dengan malas.
"tapi, Sa. di seberang sana kan ada rumah makan elit, kenapa dia tidak.." ocehan Avin membuat risih kedua telinga Alisa, sehingga gadis tersebut sontak memotong ocehan itu.
"ah sudahlah Avin. anggap saja ini sudah jadi rezekimu! segera siapkan makanannya dan jangan banyak berkomentar" saut Alisa.
Avin seketika mendecak, sebab dirinya tak menerima jawaban yang membuatnya lega. "baik, baik tuan putri" gumamnya sembari meraya piring yang terletak di rak samping.
Diacungkanlah jempol tangannya di depan wajah Avin. "nah bagus. ku tunggu ya" balas Alisa sembari membalikkan badannya, kemudian melangkah menuju meja makan yang tadinya ia duduki bersama James.
Sesampainya gadis itu di meja makan, ia melihat James yang sedang terduduk dengan satu kakinya yang naik ke paha. Pandangan nya tertuju ke arah pintu keluar, kedua lengan nya disendekapkan di depan dada.
"tunggu sebentar ya pangeran. di rumah makan ini, kita tidak bisa mengambil makanan sendiri. tapi, kita harus memesan dan menunggunya beberapa saat" ujar Alisa pelan seraya mendudukkan dirinya pelan.
"ah baguslah kalau begitu, pangeran" gumam Alisa dengan pandangannya yang ia tundukkan.
Diliriklah singkat gadis itu oleh James. "panggil James saja, tidak apa" ujarnya.
Alisa tertegun mendengar ucapan tersebut, mana mungkin ia membuang rasa hormatnya begitu saja pada seorang putra mahkota. "ah kau jangan bercanda, pangeran. mana mungkin hal itu akan ku lakukan" balas Alisa.
Seorang James sontak terkekeh kecut. "memangnya kenapa?" dengan pandangan yang tertuju penuh pada Alisa, James itu bertanya dengan santai.
Gadis tersebut menggeleng. Raut wajahnya terlihat gugup seusai melihat James yang terkekeh kecut karena ulahnya. "aku tidak akan melakukannya, karena itu tidak sopan" balas Alisa.
Sang putra mahkota itu kembali terkekeh kecut, kali ini kekehannya terdengar panjang. "haha, tidak sopan? bahkan di pertemuan pertama kita saja, kau berani berucap ketus padaku" singgung James.
"hmm?" kedua mata Alisa sontak membulat. Tanpa sadar kedua tangannya tiba tiba mengepal erat. "ya, itu karena kau salah. jika kau tidak melakukan kesalahan, aku juga tak akan melakukan hal itu" meski emosinya mulai terpancing, Alisa tetap berucap dengan halus.
Mendengar penjelasan dari Alisa. James hanya memangut mangut, seolah olah dirinya mengiyakan penjelasan tersebut.
"jadi, jangan anggap aku tidak sopan padamu. itu semua ku lalukan karena ada sebabnya" ujar Alisa lagi.
Mendecaklah James seraya menghela nafas panjang. "iya iya" balasnya.
Selepas pembicaraan singkat itu usai. Keheningan mulai menyelimuti kedua insan tersebut. Alisa kembali menundukkan wajahnya, sedangkan James kembali mengarahkan pandangannya pada pintu keluar rumah makan tersebut.
Namun, tak lama dari suasana hening tersebut. Avin pun datang membawa hidangan yang telah Alisa pesan.
"silahkan hidangannya" ucap Avin dengan kedua tangannya yang sibuk meletakkan piring di atas meja.
"baik, terima kasih" balas James sopan.
Selepas kedua piring dan kedua gelas minum telah Avin letakkan diatas meja. Ia membungkukkan badannya dengan tujuan memberi hormat pada James, sembari berucap halus. "selamat menikmati hidangan kami, pangeran James" ujarnya.
Mengangguklah pelan seorang James itu sembari tersenyum manis. "baik, sekali lagi terima kasih" balas James halus.
Bukannya segera menyantap hidangan, Alisa justru malah melamun menatap James yang sedang meraya piringnya. Di dalam hati kecilnya, ia kembali menggumam. "selama ini aku salah telah menganggapnya angkuh. bahkan, dia saja tidak keberatan untuk mengucapkan terima kasih pada insan yang jauh dibawah derajatnya, meski itu lebih dari satu kali. dan selama ini aku juga salah telah menganggapnya sebagai seorang bangsawan yang menyukai kemewahan. bahkan, dia saja lebih memilih mengunjungi rumah makan pinggir jalan seperti ini" gumam Alisa panjang.
Merasa dirinya sedang dipandang, James pun menoleh ke arah Alisa yang sedang memandanganya itu. "kenapa kau memandangku seperti itu? kau tidak makan?" tegurnya.
Teguran itu sontak membuat Alisa membulatkan matanya. "a-aaku tidak memandangmu, aku hanya melamun. kebetulan saja arah pandangnya mengarah padamu" balas Alisa mengalihkan.
..."Kesalahan terbesar seorang insan adalah ketika ia memandang insan lain hanya dengan sebelah mata"...
...-Alisa Clein Arvent-...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...