I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
MUNAFIK



"Ada perlu apa kau datang kemari, pangeran?". Tanya Auraline.


Royland menggeleng pelan.


"Sebenarnya, tidak ada apa apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu". Balas Royland dengan senyuman manisnya.


"(tersenyum)".


"Ku sangka ada apa". Gumam Auraline.


"Oh iya, kau tidak ikut berkunjung ke pelatihan Hans?". Tanya Royland.


"Tidak. Memangnya kenapa?". Balas Auraline dan balik bertanya.


"Tadinya, aku ingin mengajakmu untuk ikut".


"Tapi ku rasa, terlalu mendadak. Belum lagi, kau harus bersiap siap dulu. Berdandan dan segala macam". Ucap Royland.


Auraline terkekeh mendengar ucapan sang kekasih itu.


"Ya sudah, kita disini saja". Balas Auraline.


"Memangnya kau tidak bosan?". Tanya Royland.


"Sebenarnya bosan".


"Tapi, mau bagaimana lagi. Maka dari itu, aku mengisi waktu luangku dengan menenun". Balas Auraline.


"Ah iya, ada yang mau kutanyakan padamu". Ucap Royland. 


"Apa itu?". Tanya Auraline.


...**************** ...


Sementara itu, diperjalanan kembali menuju tempat pengunjung. Hans menggenggam erat tangan Rosemary hingga sampai disana. Ia ingin menghapus rasa bersalahnya karena telah membentak Rosemary.


"(duduk)".


"Maaf ya ibu, ayah, raja, ratu. Kami meninggalkan kalian sebentar tadi". Ucap Hans.


"(duduk)".


"Iya, kami mohon maaf". Saut Rosemary.


Raja Handry dan raja Charless terkekeh mendengar ucapan putra dan putrinya itu.


"Tak apa nak".


"Kami sudah memaklumi. Kalian kan sudah cukup lama tak bertemu". Balas raja Handry.


"Iya, selagi bertemu pasti melepas rasa rindu". Saut raja Charless dengan tawa gembiranya melihat hubungan baik Hans dan Rosemary.


Ucapan raja Charless itu membuat Hans dan Rosemary saling pandang dengan diiringi senyuman indah yang terukir dari bibir mereka masing masing.  


...**************** ...


"Jadi begini putri..". Ucap Royland terpotong.


"Panggil Aura saja, supaya lebih mudah". Potong Auraline.


"Ah baiklah. Jadi begini, Ra".


"Apa kau tahu siapa itu Gloria?". Tanya Royland.


"(mengangguk)"


"Tahu. Dia teman sekelasku dulu saat masih menjalani pendidikan wajib". Balas Auraline.


"Oh ya? itu artinya dia lebih tua dari Hans dan Rosemary". Ucap Royland.


"Tentu, dia kan seumuran denganku. Memangnya kenapa, kau bertanya tentang itu?". Balas Auraline.


"Aku mendengar namannya dari Hans, ia pernah bercerita bahwa Gloria pernah mengganggu hubungannya dengan Rose". Ucap Royland. 


"Iya kau benar. Rosemary juga pernah bercerita padaku. Karena hal itu, Rosemary begitu membenci Gloria". Balas Auraline.


"Pantas saja, jika Rose membencinya".


"Dia saja tidak tahu malu begitu". Gumam Royland dengan raut wajah geli.


"Kau belum tahu saja, Roy".


"Dulu semasa sekolah, ia dikenal sebagai orang yang suka dengki dengan kebahagiaan orang lain. Belum lagi, banyak yang menyebutnya insan munafik". Jelas Auraline.


"Apa? bisa bisanya dia seburuk itu?". Ucap Royland tertegun.


"(mengangguk)".


"Iya. Dia juga begitu dekat dengan kak Bella. Aku takut, kak Bella juga menerima sifat munafiknya". Balas Auraline.


"Ah, mana mungkin dia melakukannya. Dia kan sangat dekat dengan kak Bella". Ucap Royland tak percaya.


"(tersenyum)".


"Dia itu orangnya munafik tanpa pandang bulu, Roy. Apapun akan ia lakukan demi kebahagiaannya sendiri". Balas Auraline.


Royland menggeleng heran, mendengar tentang keburukan Gloria itu. Ia tak pernah menyangka, ada insan yang terlahir dengan hati sebusuk Gloria. Sesaat mereka terdiam selama beberapa menit, hingga tiba tiba datanglah William yang memecahkan suasana hening itu.


"Kak Aura?". Panggilnya sembari membuka pintu ruangan yang tak terkunci itu.


"Ah, iya Will? ada apa?". Balas Auraline dengan mendongakkan wajahnya untuk memandang sang adik itu.


"Ah, maaf aku mengganggu". Ucap William.


Royland terkekeh.


"Ah, kata siapa kau mengganggu".


"Kemari, duduklah bersama kami". Saut Royland.


"(tersenyum)".


"Iya, Will. Kemarilah tak apa". Balas Auraline.


Merasa dirinya disambut dengan baik, William pun memberanikan dirinya untuk duduk di sofa itu bersama kedua kakak sepupunya. 


"Perkenalkan Roy".


"Ini, adik sepupuku namanya William". Ucap Auraline.


Royland tersenyum hingga kedua matanya menyipit.


"Hai Will. Aku Royland, kekasih kakakmu". Ucapnya sembari mengulurkan tangan untuk mengajak William bersalaman.


William pun melakukan hal yang sama pada Royland, kedua matanya menyipit karena senyuman yang tertaut di bibirnya.


"Iya kak Roy". Gumamnya.


"Ada perlu apa kau memanggilku, Will?". Tanya Auraline.


"Rosemary pergi mengunjungi kekasihnya ke pelatihan ksatria, Will".


"Kau tahu Hans kan?". Balas Auraline dengan balik bertanya.


"Oh begitu".


"Iya kak, aku tahu siapa dia. Kak Rosemary pernah menceritakannya padaku".


"Tapi, kapan ia berangkat?". Ucap serta tanya William.


"Tadi pagi, dia berangkat bersama ayah dan ibu". Balas Auraline.


William mengangguk pelan.


"Oh iya iya". Gumam William.


"Ah, Ra".


"Bagimana jika kita berjalan jalan keluar?". Tawar Royland.


Auraline membelalakkan matanya sumringah.


"Boleh, ayo".


"Will, kau mau ikut tidak?". Ucap Auraline.


"Jika diperbolehkan, aku mau mau saja". Balas William.


Royland tersenyum.


"Boleh lah. Ayo kita berangkat". Ajaknya.


"Mau kemana ini memangnya, kita?". Tanya William.


"Yah, kita bisa berkeliling ke taman kota? atau mungkin ke sungai Flowbie". Balas Royland sembari beranjak dari duduknya. 


William mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah, ayo kak". Gumamnya sembari berdiri.


Auraline kemudian meminta pelayan untuk menyiapkan kereta. Setelah kereta siap, tanpa menunggu lama-lama mereka pun kemudian berangkat.


...**************** ...


Di taman Istana Ardarish.


Kegiatan minum teh pagi sudah selesai. Mengingat, hari sudah semakin siang. Bella berniat untuk kembali masuk ke kamarnya dan beristirahat.


"Gloria, aku masuk dulu ya, aku harus beristirahat". Kata Bella.


"(mengangguk)".


"Baik kak. Jaga kesehatan kakak ya". Jawab Gloria.


Bella kemudian berjalan masuk, begitu juga dengan Clark. Tetapi, Bella berjalan lebih cepat daripada Clark. Sehingga, Gloria bisa menghentikannya dan mengajak bicara.


"Tunggu pangeran Clark!". Kata Gloria.


"(menoleh ke belakang) iya ada apa?". Tanya Clark.


"Kau terburu buru sekali".


"Tinggalah, disini bersamaku".Balas Gloria dengan tatapan penuh arti.


Seketika, dahi Clark berkerut. Ia tak tahu maksud dari ucapan Gloria itu.


"Aku harus menjaga istriku, kau pulanglah!". Ucap Clark penuh geli.


"Kau mengusirku?".


"Padahal, aku ingin menemanimu disini". Gumam Gloria.


"Kau jangan coba coba menggodaku! aku sudah beristri!". Tegas Clark.


"Aku tidak menggodamu, aku hanya memberimu tawaran". Balas Gloria dengan senyuman nakalnya.


"Dasar munafik!! aku tidak akan tinggal diam! aku akan melaporkanmu pada Bella!". Ucap Clark.


"Silahkan saja. Aku yakin, kak Bella tidak akan mempercayaimu. Asal kau tahu, kak Bella sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri". Balas Gloria membanggakan diri.


"Kau kira, Bella akan lebih mempercayaimu?".


"Akan ku pastikan dia akan segera menjauhi perempuan tak tahu malu sepertimu ini!". Ucap Clark dengan amarah yang semakin membara.


Gloria tidak menjawab sepatah kata pun. Setelah mendengar ucapan itu, ia langsung pergi meninggalkannya dengan senyum remeh yang masih terukir di bibirnya.


"Bagaimana bisa, istriku berteman dengan perempuan neraka sepertinya". Gumam Clark terheran.


Clark pun kemudian memasuki istana. Namun, tanpa disadari bibi Anna ternyata menyaksikan kejadian itu dari kejauhan tanpa sepengetahuan Clark.


...**************** ...


"Bagaimana Will? apa kau senang?". Tanya Royland.


"(melihat sekeliling dari balik jendela kereta)".


"Iya kak. Seumur umur, aku belum pernah berkeliling ke taman kota ini". Jawab William.


Royland terkekeh tak percaya mendengar ucapan William.


"Yang benar saja kau ini". Gumam Royland.


"Iya kak, aku tak bercanda. Sejak kecil, ayah tidak pernah mengajakku jalan jalan seperti ini. Ayah selalu sibuk mengurus urusan kerajaan. Tapi, bukan berarti ayah tidak sayang padaku. Apabila ayah pulang dari konferensi kerajaan, beliau akan selalu membawakanku hadiah. Namun, bagiku cara didik ayah itu salah. Beliau tidak memperkenalkanku dengan dunia sosial. Bahkan, untuk sekolahku saja ayah lebih memilih memanggil guru pribadi. Itulah mengapa aku tumbuh menjadi pribadi yang sangat pemalu". Jelas William.


Royland dan Auraline memandang sendu adiknya itu.


"(tersenyum sembaru menepuk pelan bahu William)".


"Aku yakin, semua yang dilakukan ayahmu pasti ada sebabnya". Balas Royland.


"(tersenyum)".


"Iya Will, itu benar". Saut Auraline.


"Bukannya begitu kak. Alhasil, aku tumbuh menjadi pribadi yang sangat tertutup pada orang baru itulah yang ku sesali". Ucap William.


"Tapi kakak rasa, sekarang kau jauh lebih baik dari yang dulu, Will".


"Lihatlah, sekarang kau sudah berani bercerita pada kami". Ucap Auraline. 


William tersenyum malu mendengar pujian yang keluar dari mulut sang kakak itu.


"Ini semua, berkat kak Rosemary. Aku terinspirasi dari kak Rosemary, kak".


"Dia mengajarkan banyak hal padaku". Balas William.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...