I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
TERSIKSA



Percakapan kedua insan kasmaran itu terhenti karena kedatangan Auraline dan Royland.


"Hans? kelasmu sudah selesai?" saut Royland.


Sang adik itu pun sontak menoleh ke arah kakaknya. "kak Roy? iya sudah, kak" balas Hans. Raut wajahnya nampak bingung dengan kedatangan sang kakak yang tiba tiba. "ada perlu apa kakak kemari?" tanya nya.


Royland berjalan mendekat sembari tersenyum seringai. "memangnya tidak boleh aku kemari?" bukannya menjawab, Royland justru balik bertanya pada Hans dengan nada guraunya.


Hans terkekeh mendengar pertanyaan itu. "ah bukan begitu kak. maksudku, kok tumben sekali kakak kemari" ujar sang adik.


Auraline ikut terkekeh, begitu juga dengan Rosemary. "aku dan Roy baru saja dari toko kamera, Hans" jawab Auraline seraya mendudukkan diri disamping Rosemary.


"wah kakak membeli kamera ya?" tanya Rosemary dengan raut wajah sumringahnya.


Sang kakak itu tersenyum hingga kedua matanya menyipit sembari kepalanya sedikit dimiringkan. "tentu saja, lihat ini. Royland lah yang membelikannya" jawab sang kakak seraya membuka bungkusan kotak yang ia letakkan diatas meja.


Dilihatlah sebuah kamera berteknologi terbaru. Rosemary membelalakkan kedua matanya, raut wajahnya mendadak terlihat bingung ketika melihat barang tersebut. Pasalnya, kamera itu nampak persis seperti kamera modern. Dan yang membuat dirinya bingung adalah, mengapa tidak ada ponsel ataupun televisi di negeri itu. Sedangkan, bentukan kamera saja sudah terlihat modern dan jauh dari kata jadul.


Tidak hanya Rosemary, Hans juga terdiam dengan mulut bengkaknya yang sedikit ternganga.


Melihat kedua adiknya itu terdiam tak berkutik. Auraline mengernyitkan keningnya dan ikut terbingung. "kenapa kalian diam saja?" ujarnya seraya membolak balikkan kamera yang ada ditangannya untuk dipandangi.


Dengan sigap kedua insan kasmaran itu menjawab secara bersamaan. "tidak apa apa kak" jawab mereka.


Hans dan Rosemary sontak terkaget, dan kemudian saling pandang sembari terkekeh.


"begini ya, kalau sudah jodoh. bahkan sampai bicara pun mereka serentak" gurau Royland.


Ksatria pangeran itu tertawa sampai kedua bahunya naik turun. Begitupun dengan semua insan yang berada di ruang tamu istana Ardarish itu.


"oh iya, Hans. tadi, kata kak Bella kau dicari kakakmu" ucap Rosemary dengan tiba tiba hingga membuat suasana tawa itu terhenti. 


"kak Clark?" tanya Hans seusai menghentikan tawanya.


"iya lah, siapa lagi" jawab Rosemary seraya menaikkan kedua alisnya.


"untuk apa dia mencariku?" tanya Hans lagi menerka nerka.


"tadinya, aku juga diminta olehnya untuk tidak langsung pulang, Hans" saut Royland, seketika raut wajahnya berubah serius.


Auraline yang tadinya terdiam dan hanya memandangi kagum kamera baru miliknya itu, kemudian meletakkan barang tersebut lalu membuka suara. "daripada kalian menerka nerka. lebih baik kalian panggil saja dia" ujarnya halus.


"nah itu benar, kak" jari telunjuknya seketika mengacung ke atas sembari dilayunkannya pelan. "tapi, aku tidak tahu dimana dia" balas Hans.


Sang kakak iparnya itu kemudian mengemasi kamera yang ia letakkan di atas meja tersebut ke dalam kotaknya. Diangkatlah kotak berisi kamera itu seraya beranjak berdiri. "ya sudah biar ku panggilkan. kalian tunggu disini ya" ucap Auraline.


"baik kak" balas Hans singkat seraya membenahkan posisi duduknya menyandar pada sofa.


"iya, Auraku" dibalasnya ucapan Auraline itu dengan lantang. Royland yang dulunya pemalu, kini sudah berani terang terangan meski di depan adik adiknya.


...****************...


Di siang hari yang terik itu, James membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Sembari menatapi langit langit kamarnya. Ia kembali teringat Rosemary setelah seharian menjalani aktivitasnya.


"aku heran dengan diriku sendiri, kenapa ya? aku bisa jatuh cinta sedalam ini pada Rosemary" gumam James dengan pandangannya yang tertuju rapi ke arah langit langit kamar.


Sebelum ia bertemu dengan Rosemary, James memang tidak pernah jatuh hati pada gadis manapun. Bahkan, dari banyaknya gadis yang ia temui saat menjalani pendidikan, juga tak ada yang terlihat menarik di matanya. Maka dari itu, seringkali ia merenungi perkara tersebut meski tidak penting di kehidupannya.


"terkadang, aku rela membuang waktuku hanya untuk merenungi hal itu" gumamnya lagi. Kali ini pandangannya beralih ke arah jendela kamarnya yang terbuka lebar.


Dibangunkannya badan gagah itu, kemudian berjalan mendekati jendela dan menduduki sofa tunggal miliknya.


"setelah kupikir pikir, aku ini seperti orang bodoh. aku rela menunggu, meski sudah tahu jika penantian ini tidak akan ada hasilnya" sudut bibir kirinya terangkat, pandangannya kosong dan raut wajahnya tidak bisa diartikan.


Namun, ia terus menggumam. "tapi, jujur saja aku sangat mencintaimu, Rosemary!" seketika tangan kanannya ia angkat untuk menopang keningnya. Dilema yang ia rasakan di dalam hatinya itu, membuat James merasa tersiksa.


...****************...


Tanpa disadari, putri Jacob Arvent itu juga sedang memikirkan pria yang barusaja menolongnya. Lebih tepatnya, pria tersebut adalah James.


Pandangannya juga kosong, di dalam pikirannya terus menyebut nama James. "Alisa, sudah cukup! jangan pikirkan pria kolot itu lagi!" gumam Alisa kesal seraya memukul mukul tempat tidurnya.


Ia mencoba memejamkan matanya agar tertidur. Tapi bukannya tertidur, di dalam kegelapan pejaman mata itu justru malah terlihat sosok James. Sehingga, Alisa semakin kesal dengan dirinya sendiri.


Kekesalannya membuatnya lelah. Seketika ia membangunkan badannya untuk terduduk dan mengusap wajahnya kasar. "sadar Alisa! kau tidak boleh jatuh cinta, hanya karena kau diperlakukan dengan baik" ujarnya seraya mendongak keatas menatap langit langit kamar dengan kedua matanya yang terus berkedip kedip.


"tapi, memangnya perlakuan baik apa yang dia lakukan padaku? hanya sekedar mengambilkan makanan?! ah kau ini konyol sekali Alisa!" gumam Alisa seketika sadar dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya.


Putra raja Rolland dan putri Jacob Arvent itu sedang saling memikirkan masalah hati mereka masing masing. Dan yang membuat hati mereka tersiksa adalah, karena tidak ada imbal balik apapun pada setiap insan.


James memikirkan Rosemary yang sudah menjadi milik Hans. Sedangkan Alisa, ia memikirkan pria yang sedang memikirkan gadis lain.


...****************...


Seminggu berlalu, Rosemary mulai menjalani kehidupannya dengan pasrah. Ia sudah tidak lagi memikirkan bagaimana agar ia bisa kembali ke dunia aslinya. Dinikmatinya secangkir teh hangat di dalam ruang tamu, sembari menunggu Hans selesai mengajar.


"jujur, gue bosen banget. ga ada hp, ga ada tv. cuman ada buku, mana gue lagi malas banget lagi baca buku. bahkan, buku yang Hans pinjemin ke gue aja belum sempet gue baca" gumamnya panjang, dengan raut wajahnya yang terlihat malas. Disendekapkan juga lengannya di depan dada.


Rosemary menghela nafas panjang seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu istana.


Tak lama setelah ia menghening, tiba tiba terdengar suara Auraline yang tengah memanggilnya.


"Rose, Rosemary kemarilah" panggil sang kakak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...