I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
TERNODAI



"merepotkan apanya? tentu saja tidak. justru itu sudah jadi kewajiban James sebenarnya. dia sendiri juga sudah nenyetujui projek kolaborasi ini kan" tidak merasa direpotkan, raja Rolland tidak setuju dengan pendapat Alisa. Dijelaskannya panjang pada gadis mandiri itu dengan halus.


Alisa terdiam sejenak, dengan wajahnya yang sedikit tertunduk. Ia merasa raja Rolland memiliki watak yang berbeda dengan anaknya. Sebab dipandangan Alisa, James seperti insan yang tidak punya simpati dan berwatak keras. Padahal sebenarnya anggapan Alisa tersebut salah. Begitupun dengan James, pria rupawan bermata biru itu juga memiliki pandangan buruk terkait Alisa. Sama halnya dengan gadis berambut coklat sebahu itu, James dengan pikiran buruknya menganggap Alisa adalah insan yang keras dan kaku. 


Putri semata wayang Jacob Arvent itu tersenyum dan mengangkat wajahnya. Dipandanglah wajah sang raja dengan kaku. "baiklah raja, aku serahkan semua pada raja. sekali lagi, ku ucapkan terima kasih telah banyak berkontribusi dengan baik bersama ayah" ujarnya halus.


Ditepuklah pelan pundak Alisa sembari diusap halus. "iya, sama sama. aku juga berhutang budi padamu, nak. mungkin, jika kau tak datang kala itu. aku sudah tinggal nama" balas sang raja dengan pandangannya yang mendadak sendu.


"raja tidak berhutang padaku. kedatanganku di waktu itu, sudah jadi takdir yang telah ditulis oleh semesta" ke rendah hatiannya membuat raja Rolland begitu menyayangi anak perempuan Jacob Arvent itu.


Beliau tersenyum memandang Alisa. Hatinya mendadak berkata ingin menjadikan sosok gadis mandiri yang tahan banting itu sebagai menantunya. Tapi, keinginan itu terpatahkan oleh anaknya sendiri. James dengan rasa kesal yang masih mendominasi isi hatinya pada Alisa itu, tidak akan mungkin menyetujui hal tersebut. 


Tak berselang lama, beberapa pelanggan mulai kembali memasuki toko. Merasa gadis itu akan dilanda kesibukan, raja Rolland pun memutuskan untuk kembali melanjutkan kegiatan produksinya.


...****************...


Selepas kegiatan mandinya usai, Hans mulai membuka pintu kamar mandi sedikit demi sedikit. Ksatria pangeran itu celingak celinguk, ia khawatir jika Rosemary masih berada di dalam kamar. Karena ia lupa tak sekalian membawa baju ganti ke dalam kamar mandi.


Setelah dipastikan tidak ada orang, Hans pun keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk yang terlilit di pinggangnya. Dihampirilah tas miliknya yang berisi baju ganti di atas ranjang Rosemary.


"Hans, keluargamu sudah datang. apa kau suuu-daahh.. astagaaa!!" seorang Rosemary itu tiba tiba datang. Ditutuplah wajahnya dengan kedua telapak tangannya, seusai melihat Hans yang hanya terbalut handuk di pinggang.


"Rose?! kenapa kau tak mengetuk pintu dulu?!" ditariklah selimut yang terlipat rapi diatas ranjang Rosemary itu, untuk menutupi tubuhnya.


Masih dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Rosemary terus bergumam. "aku tidak tahu, jika kau berganti disini. ku sangka kau berganti di dalam kamar mandi" tubuhnya terasa kaku, Rosemary hanya terdiam pada posisinya. "lalu, sekarang aku bagaimana?" tanya nya.


"ya kan kau bisa keluar dulu" Hans ikut terbingung, kedua pipinya semakin memerah.


Rosemary menggeleng cepat, dengan wajah mungilnya yang tetap ia tutupi. "tidak! tidak bisa, Hans. tubuhku terasa kaku. aku tidak bisa kemana mana" ujarnya.


Ksatria pangeran itu semakin bingung, raut wajahnya seketika melongo. "aduh, ya-aa sudah, tetap pada posisimu saja. aku akan segera berganti di dalam kamar mandi" balas Hans seraya melepaskan selimut yang ia kenakan.


"iya iya, cepatlah" gumam Rosemary.


Hans itu kemudian membawa baju gantinya dan beranjak kembali memasuki kamar mandi.


"sudah?!" tanya Rosemary dengan posisinya yang masih sama.


"sudah! kau sudah bisa membuka wajahmu" teriak Hans dari dalam kamar mandi.


Rosemary kemudian membuka wajahnya perlahan. Gadis itu seketika menghela nafas lega. "sumpah?! ya ampun, Hans! bisa bisanya gue ngeliat jelas badan lo tanpa pakaian!" gumamnya lirih. "ya tuhan, mata gue ternodai!!" Rosemary mendadak terdiam melamun, pikirannya masih terbayangkan sosok Hans yang minim busana itu. Sehingga tak kunjung beranjak dari posisinya.


"Rose?! kau masih ada disitu?" lamunannya seketika terbuyarkan ketika Hans tiba tiba memanggilnya.


"ah iya, Hans. kenapa? kau butuh bantuan?" balasnya seraya mendekat ke arah pintu kamar mandi.


"tidak. tapi, tunggu aku ya. jangan kemana mana" gumam Hans menggema.


...****************...


Sementara itu, di ruang keluarga istana Ardarish. Suasana istana kala itu sudah mulai ramai. Kedua raja yang bijak dan kedua ratu cerdas tengah terduduk sembari saling bertukar cerita dan tawa. Begitupun dengan kedua putra serta putri mereka. Auraline, Bella, Clark dan Royland. Keempat insan muda itu berbicara tentang urusan mereka masing masing.


Ditengah pembicaraan, datangalah bibi Anna yang membawa beberapa hidangan yang belum tersedia di meja. "silahkan dinikmati hidangannya" diletakkannya hidangan tersebut dengan sopan diatas meja ruang keluarga.


Pemimpin rakyat Elevan beserta istrinya itu mengangguk dan tersenyum manis.


"sudah, Anna. duduklah disini bersama kami. panggil William juga" ujar raja Handry dengan posisi duduknya yang nyaman.


"iya Anna. biarkan para pelayan yang membawanya kemari" saut ratu Mia.


Bibi Anna sontak terkekeh kecil. "mana mungkin William mau bergabung dengan orang sebanyak ini kak" balasnya seraya mendudukkan diri disamping ratu Mia.


"tidak bi, William sudah berubah. dia sudah lebih berani sekarang" Auraline yang mengetahui perkembangan adiknya itu, sontak menyaut.


"ah iya iya, aku setuju denganmu. dia juga sudah lebih terbuka dengan kami" Bella ikut menyaut dan mengakui perkembangan William.


Sang ibu dari William itu tersenyum, kemudian beranjak dari duduknya untuk memanggil sang anak.


...****************...


Rosemary yang sedang menunggu Hans itu lama kelamaan merasa jenuh. Gadis itu kemudian berjalan pelan menghampiri jendela, dan dilihatnya pemandangan dari dalam kamarnya itu.


Tak berselang lama dari berdirinya dia di depan jendela itu. Hans kemudian menyelesaikan kegiatannya. Ksatria pangeran tersebut keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang sudah terpakai utuh. Rambut panjangnya nampak masih basah dan terjulur ke bawah menutupi keningnya. 


Dilihatlah seorang Rosemary yang sedang memandangi jendela. Tanpa bersuara sedikit pun, Hans pun mendekati kekasihnya itu diam diam.


Dipeluknya tubuh mungil itu dengan hangat dari belakang. Lengan gagahnya ia kalungkan pada pinggang Rosemary. "kau sedang melihat apa?" tanya Hans dengan pandangannya yang terikut ke arah jendela.


Gadis mungil itu sontak mendongak dan menoleh. Lagi dan lagi, Hans kembali membuat pipinya memerah karena pelukan hangat yang tiba tiba itu. "tidak ada, aku hanya jenuh menunggumu yang tak kunjung keluar dari kamar mandi" balasnya.


Hans terkekeh mendengar hal itu. Dibalikkan lah tubuh Rosemary yang tadinya menyingkur, dan kini menjadi menghadap pada dirinya. Wajah Rosemary ia tangkup dengan kedua tangan. "lihatlah pakaianku. banyak sekali komponen yang harus ku pakai. makanya, aku lama di dalam kamar mandi" ujar Hans lembut.


Rosemary itu tiba tiba menghela nafas panjang. "ah benar juga" balasnya yang tiba tiba gugup.



..."Hans selamanya akan tetap milik Rosemary, dan Rosemary selamanya juga akan tetap milik Hans"...


...-Hans Ourche de Elevan-...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...