
Dengan langkah kecilnya, Rosemary akhirnya sampai di kamar William. Diketuknya pelan pintu kamar tersebut, namun tak ada jawaban.
"ttokk ttok, Will" panggilnya.
Ditunggulah sebentar, barangkali William akan bangun. Tapi, tetap tak terdengar jawaban apapun.
"gue masuk aja kali ya. yaudah deh" Rosemary memutuskan untuk langsung masuk, pasalnya William tak menyaut sepatah kata pun.
Dibukalah pintu itu pelan pelan. Rosemary terus berjalan masuk hingga mendapati sebuah ranjang berisi badan yang begitu gagah diatasnya dan itulah William.
Ditepuknya pelan punggung William seraya memanggilnya lirih. "Will, apa kau tidak bangun?" ucapnya.
Merasa punggungnya ada yang menepuk, William seketika menoleh dengan matanya yang masih terpejam ke arah Rosemary.
"Will, katamu sekarang kau akan belajar" ujar Rosemary pelan.
Matanya mendadak terbuka lebar, William menengakkan badannya secara tiba tiba. "iya! aku lupa kak! sudah siang ya?!" bukannya melihat jam, William malah panik dan bertanya pada kakaknya itu.
Rosemary terkekeh melihat tingkah William. "ini sudah hampir jam 7. kakak kira tadi kau sudah bangun" balas Rosemary halus.
"ah, ku kira sudah lebih dari jam 7" diletakkanlah telapak tangannya di depan dada sembari menghela nafas lega. "ya sudah kak, kalau begitu aku akan segera mandi" ujar William seraya membangunkan diri dari duduknya.
"nah baguslah. kakak tunggu diluar ya" Rosemary segera berdiri dari duduknya dan beranjak keluar.
"baik kak" William berjalan pelan mendekati kamar mandi. Tapi, sebelum memasuki kamar mandi, William mengendus endus seperti mencium aroma yang cukup menyengat. "ini pasti aroma harum dari kakak ya" ujarnya.
Langkahnya sontak terhenti, Rosemary terkekeh sembari menoleh ke arah adiknya. "iya Will. kakak ingin tampil lebih baik hari ini" balas Rosemary.
"hmm, aku rasa setiap hari kakak tampil begitu baik. harum iya, cantik iya, ditambah dengan gaun panjang yang kakak kenakan, menjadi semakin nyaman untuk dipandang" William memuji Rosemary dengan begitu panjang. Tapi, meski begitu apa yang William ucapkan memang fakta. Rosemary selalu tampil cantik setiap hari.
"ah kau ini bisa saja. ya sudah, mandilah setelah itu sarapan" tersipu sudah jadi hal yang wajar, pasalnya pujian itu keluar dari mulut anak lelaki yang polos, sehingga bisa dikatakan pernyataan itu adalah benar.
William tertawa, kedua matanya menyipit ketika melihat kakaknya tersipu. "baiklah, aku mandi dulu ya kak" selepas itu, ia kemudian memasuki kamar mandi.
...**************** ...
Suasana pagi kembali James rasakan, kali ini dengan semangatnya ia kembali terbangun di kamar nyaman miliknya.
"hmm pagi yang cerah" dilihatnya gorden putih yang terpasang di jendela dan telah terpancari sinar matahari. Ia membangunkan dirinya untuk terduduk dan bersandar di headboard ranjang.
"seusai cobaan yang begitu berat semalam ku jalani, akhirnya ada hikmah dari itu semua. ayah sekarang sudah mau berubah" James menggumam senang, ia mengukirkan senyum di bibirnya dengan pandangan yang tertuju pada gorden jendela.
Merasa sukmanya telah terkumpul, James kemudian beranjak dari duduknya dan dibukalah jendela kamar itu lebar lebar. Burung burung terbang terlihat oleh kedua mata biru turunan dari ibunya itu. Komponen tersebut lah yang membuat Alisa seketika terus terbayang dengan wajahnya meski hanya sekali bertemu.
Ditolehnya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7. "sudah jam 7, ayah pasti sudah bangun. beliau juga mengajakku ke makam ibu kan hari ini, aku harus segera bersiap siap" ujarnya.
Dengan segera, badannya melangkah menuju kamar mandi seraya meraih handuk yang tersangkut di atas tembok samping pintu kamar mandi.
...**************** ...
Sementara semua keluarga bangsawan baru saja bersiap siap atau mungkin masih baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya, berbeda dengan Alisa. Dirinya sudah terbangun sejak jam 4 pagi untuk membantu ayahnya menyiapkan produk aromatherapy yang telah dipesan banyak pelanggan.
Direnggangkanlah badannya dengan posisi terduduk sembari menguap. "hoaamm. jujur aku masih mengantuk" gumamnya.
Maka dari itu, ayahnya mulai mengajak Alisa ke toko aromatherapy miliknya untuk dilatih bertemu dengan orang orang. Selain itu, Jacob Arvent juga membelikan buku yang bisa Alisa pelajari secara mandiri dengan bantuan darinya. Hingga akhirnya di umur Alisa yang ke 20 tahun, ia tumbuh menjadi gadis cantik mandiri yang tahan banting.
Seusai mengemasi semua produknya, Alisa berdiri dan memanggil ayahnya. Untuk bertanya langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya. "ayah, aku sudah mengemasi semua produknya. apa lagi yang harus aku lakukan?" tanyanya.
Menolehlah sang ayah itu ke arah anak perempuannya dan dijawablah dengan halus. "kau bisa mengambil kardus yang ada di ruang barang, lalu masukkan semuanya ke dalam kardus ya" jawab Jacob Arvent.
Mendapat perintah tersebut, Alisa langsung mengambil kardus yang berada di dalam ruang barang kemudian memasukkan produk milik pelanggan ke dalam kardus dengan rapi.
...**************** ...
Selepas menempuh perjalanannya dari istana Elevan, Hans akhirnya sampai. Turunlah dengan pelan tubuh gagah itu dari kuda yang ia tunggangi. Kemudian masuk ke dalam dengan sopan.
Suasana istana Ardarish pada pukul 7 itu masih begitu sepi. Akan tetapi, Hans tidak menghiraukan itu. Karena, Rosemary sudah berada di ruang tamu dan tengah menunggu kedatangannya sembari membaca sebuah buku.
Dihampirilah kekasihnya yang begitu ia cintai itu. "hayoo sedang menunggu apa kau, cinta?" ucapnya pelan seraya mendudukkan dirinya di sofa.
Rosemary terkejut, seketika raut wajahnya terlihat sumringah dengan kedua matanya yang terbuka lebar. "Hans?! kau sudah datang" balas Rosemary.
Hans tersenyum lebar melihat Rosemary yang begitu senang dengan kedatangannya. Dipeluk lah hangat tubuh Rosemary, dan diusap usap pelan punggungnya. "rupanya kau masih rindu padaku ya" gumam Hans dalam pelukan itu.
Rosemary semakin mengeratkan pelukan itu. "iya! sejak kemarin aku masih merindukanmu" rasa gengsinya sudah benar benar luntur. Kali ini Rosemary sudah berani terang terangan tentang perasaannya.
Hans mengendus halus, aroma harum mawar yang tercium dari tubuh Rosemary membuatnya terasa tenang di dalam pelukan itu. "maaf, jika aku membuatmu rindu padaku" ujarnya pelan, tangan kanannya menaik mengusap halus kepala Rosemary.
Ditengah keromantisan mereka, tiba tiba William datang dan tengah menuruni anak tangga. Dirinya juga sudah terlihat rapi dengan pakaian tempurnya. Padahal di hari itu, Hans hanya akan mengajarinya secara teori bukan praktek.
"kak aku sudah si-iii-ap, astaga" ucapnya terbata bata ketika melihat Hans dan Rosemary sedang berpelukan hangat.
Hans menoleh dan melepaskan pelukan itu secara tiba tiba. Digerentakkan gigi rapinya dengan raut wajahnya yang terlihat malu. "aduh, aku malu" gumamnya lirih seraya memandang Rosemary.
Rosemary tersenyum meringis memandang kekasihnya yang sedang malu itu, kemudian segeralah ia menjawab ucapan sang adik itu. "ah iya, Will. ini Hans sudah datang" balas Rosemary dengan raut wajahnya ikut terlihat malu.
William terkekeh kecut. "tidak usah terburu buru kak" ujar William sembari memainkan kedua tangannya. Ia tak enak telah mengganggu suasan hangat kedua kakaknya itu.
"tak apa, Will. kita bisa memulainya sekarang" Hans ikut menyaut meski masih agak kaku.
Berniat untuk mengakhiri suasana canggung itu, William kemudian berjalan mendekat. "santai dulu kak. kita bisa memulainy setelah sarapan. aku ambilkan teh hangat bagaimana?" ujarnya dengan sopan.
"kau belum sarapan?" Hans mendongak menatap calon adiknya yang masih berdiri di dekatnya itu.
William menggeleng. "maaf aku terlambat bangun, kak" balas William pelan.
Mendengar hal itu, Hans terkekeh kecil. Ia meminta William untuk sarapan terlebih dahulu sebelum memulai pelajarannya.
"baiklah, akan ku ambilkan teh hangat dulu ya" ucap William.
"iya, silahkan adikku" balas Rosemary dengan halusnya.
"iya silahkan adik iparku" bukan Hans, jika tidak dengan celetukan. Ia melepas rasa canggungnya dengan gurauan yang ia buat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...