I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
GELAR



Keesokan paginya, kala matahari sudah menampakkan dirinya dari ufuk timur. Rosemary masih terlelap. Begitupun William. Karena kegiatan semalam yang membuat mereka kelelahan.


"ttokk ttok tok" suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu kamar Rosemary.


Rasa kantuk yang mendalam dan berpadu dengan rasa lelah yang cukup tinggi membuat Rosemary tak berkutik. Tubuhnya masih terbaring lemas di ranjangnya. Tidurnya juga masih begitu pulas, disertai dengan dengkuran kecil.


"ttok tok, Rose" suara ketukan pintu itu juga disertai dengan suara panggilan.


Masih dengan respon yang sama. Rosemary masih tertidur lelap, meski ketukan pintu itu terjadi berkali kali.


"kemana Rosemary ini ya? aku rasa semalam dia sudah pulang. apa dia masih belum bangun?" ternyata suara ketukan pintu itu datang dari Auraline.


"Rose, ttokk tok ttok" Auraline kembali mengetuk pintu dan memanggil namanya. Tapi, masih tak ada jawaban.


Karena itu, Auraline pun kemudian memberanikan diri untuk masuk. Sebab, hari sudah semakin siang tapi Rosemary masih belum terlihat batang hidungnya. 


...****************...


Berbeda dengan Rosemary dan William. James justru sudah terbangun dan duduk di sofa tunggal kamarnya. Pandangannya kosong, kedua matanya menyipit karena tiupan angin. Karena posisi duduknya yang dekat dengan jendela kamar yang terbuka.


"kenapa akhir akhir ini suasana hatiku tidak baik ya" gumamnya, masih dengan pandangan yang kosong. 


James merasa tidak rela, jika Rosemary kembali ke dunianya dan meninggalkan dirinya begitu saja. Meski ia sudah merelakan Rosemary pada Hans, tapi setidaknya ia masih tetap mencintainya dengan tulus. Walau dirinya dan Rosemary hanya berteman, James sudah sangat bersyukur.


"Rose itu simpatinya tinggi. terutama pada ibunya, bahkan ia rela meninggalkan pujaan hatinya demi sang ibu" James menggeleng heran. Selama ini, ia tidak pernah menemukan wanita dengan rasa simpati setinggi Rosemary, mengingat di negri Fanlyland mayoritas wanita sangat terpacu pada seorang pria. Bahkan, mereka rela meninggalkan ibu mereka. Karena ingin mengubah nasib dengan menikahi pria kaya.


Keheningan menyelimuti seisi ruang kamar yang begitu luas itu, setelah James memilih untuk terdiam dan kembali pada pandangan kosongnya. Tangan kirinya memegang sudut kening yang berkeringat dingin itu. Sikunya bertopang pada pinggiran sofa, dengan satu kakinya yang naik ke paha.


...****************...


Dibukalah pintu kamar Rosemary pelan pelan. Auraline sedikit terkejut saat memasukinya, karena lampu kamar yang masih menyala di setiap sisinya. Di dalam kamar itu terdapat 6 lampu. 2 lampu terpasang di langit dekat pintu masuk, dan 4 lampu terpasang di langit kamar utamanya yang berisi ranjang, lemari, sofa dll.


Terlihat sesosok Rosemary yang sedang terbaring nyaman di ranjangnya dengan posisi menyingkur pintu masuk kamar. 


"Rose? kau masih belum bangun?" ditepuknya pelan punggung Rosemary. Dipandanginya ia dengan sayu.


Rosemary mulai terbangun karena tepukan itu. Ia mengusap pelan matanya dan merenggangkan seluruh tubuhnya di ranjang. "ah kakak? maaf kak, aku terlambat bangun" ujarnya dengan kedua matanya yang berusaha terbuka lebih lebar. 


"kau tidak lapar, Rose? ini sudah siang loh" tanya sang kakak halus.


"memangnya, ini jam berapa kak?" Rosemary berusaha membangunkan badannya itu untuk terduduk dan bersandar di headboard ranjang.


"ini sudah jam 11 siang" ujar Auraline.


"apa?! aku tidak menyangka jika sekarang sudah sesiang itu" Rosemary tertegun, kedua matanya terbelalak. Ia terburu buru turun dari ranjangnya dan bergegas meraih handuk yang tersangkut di dekat kamar mandi dalamnya. "sebentar ya kak. aku mandi dulu" ucapnya lagi.


Auraline tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah laku adiknya itu. Selagi menunggu adiknya itu selesai mandi, Auraline mematikan lampu lampu yang masih menyala terang. kemudian berjalan mendekati jendela dan dibukanya jendela itu lebar lebar. Dari dalam kamar Rosemary itu, ia bisa melihat jelas pemukiman para rakyat yang begitu bersih dan hijau. Dipandanginya pemukiman itu dengan senyuman yang ikut terpaut di bibirnya.


"akhir akhir ini, aku jadi sering merindukan Royland" gumam Auraline lirih. Pandangannya masih tertuju pada pemukiman warga, wajah cantiknya juga masih menciptakan senyuman manis yang terukir di bibirnya.


Tak lama dari itu, Rosemary pun keluar dari kamar mandi dengan terbalut pakaian mandi. "kakak? kakak masih disini?" tanya nya.


Auraline menoleh. "ah iya, aku tadi mematikan lampu lampu yang masih menyala, dan membuka jendela agar berganti hawa" balas Auraline.


Rosemary tersenyum memandang sang kakak. Justru Auraline lah yang lebih memperhatikan dirinya dari pada raja Handry dan ratu Mia, yang statusnya sebagai orang tua. Ia sangat menyayangi kakaknya itu.


...****************...


"gue heran. kok, gue ga bangun bangun ya? masak iya gue salah sih bikinnya?" gumam Rosemary.


Ia berpikir keras, kedua bola matanya menaik dan mulutnya membulat.


"tapi, gue bersyukur sih. gue masih bisa ngelihat Hans balik dengan membawa gelar yang dia harapkan" gumamnya lagi dengan sudut bibir kirinya yang menaik. Kedua tangannya mengepal seperti sedang berdoa. 


"Rose? kau di dalam?" panggil seseorang dari balik pintu kamarnya.


Rosemary menoleh ke arah sumber suara itu dan bergegas membuka pintu kamarnya.


"ah kakak. ada apa kak?" di balik pintu itu, terdapat Auraline.


"kau sudah dengar kabar? bahwa Hans akan pulang sore ini?" Auraline menujukkan raut muka bahagia, mendengar calon adik iparnya itu hendak pulang.


"tentu saja sudah. ayah memberitahuku tadi pagi" tak hanya Auraline, Rosemary juga menujukkan raut muka bahagianya pada sang kakak.


"kalau begitu, kenapa kau masih di kamar? ayo turun! ibu memintamu untuk membantunya menyiapkan hidangan untuk dibawa ke istana Elevan nanti" ujar Auraline.


Mendengar hal itu, Rosemary segera keluar dari kamarnya dan bergegas membantu sang ibu.


...****************...


Sementara itu, di tempat pelatihan Hans.


Hans yang sedang membereskan semua barangnya, dikejutkan dengan ketukan pintu.


"tteokkk tteokk". terdengar suara ketukan pintu dari balik kamar asrama.


Hans segera membuka pintu tersebut, dan ternyata itu adalah pengirim surat.


"atas nama pangeran Steven Hans Elevan?" tanya pengirim surat itu.


"iya saya sendiri" meski dengan raut wajah bingung, Hans tetap menerima kedatangan pengirim surat itu dengan baik.


"ini ada surat untukmu, pangeran. untuk siapa pengirimnya, saya kurang tahu karena tidak ada nama yang jelas terkait pengirimnya". ujar pengirim surat sambil memberikan sebuah surat misterius.


"ah iya terima kasih" Hans semakin bingung, ia tidak yakin jika surat itu datang dari Rosemary. Karena Rosemary pernah berkata ia tidak akan lagi mengirimkannya surat, agar hal buruk tidak terjadi lagi. Tapi Hans tetap menerima surat tersebut.


Hans kemudian membawa surat itu masuk kedalam kamarnya. Segeralah ia membuka surat tersebut untuk mengetahui isi suratnya. Setelah Hans membuka dan membacanya, ia dikejutkan dengan tuduhan yang begitu menyakiti hatinya.


"selamat pagi, pangeran Hans. saya Gloria dari kerajaan Eillian. Tujuan saya mengirim surat ini adalah ingin memberitahu anda terkait perlakuan putri Rosemary yang tak terduga selama anda pergi ke pelatihan. Kurang lebih sekitar 2 hari setelah anda pergi, ia berani menjalin hubungan dengan pria lain yang tiba-tiba hadir di istana Ardarish. mereka berdua terlihat sangat dekat dan serasi. jika anda tidak mempercayainya, saya juga menyertakan hasil gambar yang saya ambil secara diam-diam. yang tertempel di belakang lembaran surat ini. semoga sekarang anda bisa sadar dengan kelicikan putri Rosemary padamu. terima kasih atas perhatiannya"


Tertanda


Gloria Eillian.


Hasil gambar yang Gloria ambil diam diam tempo hari, saat Rosemary sedang terduduk nyaman bersama William itu, ia sertakan di balik lembaran surat tersebut.


Walaupun Hans sudah melihat gambarnya dengan jelas, ia masih ragu dengan pernyataan itu. Mengingat ia juga pernah menerima surat dari Rosemary yang telah dipalsukan. Dari setiap pertikaian yang sudah pernah terjadi, Hans menjadikannya sebagai pelajaran. Hans mencoba menyimpulkannya dengan kepala dingin dan bijak.


"aku rasa, aku tidak boleh percaya begitu saja. aku harus menanyakan baik baik padanya nanti" gumamnya bijak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...