
Alisa menggeleng, raut wajahnya terlihat gugup. "ah tidak, aku hanya ingin kau membawa pulang ini. sebagai rasa terima kasihku padamu" dilepasnya genggaman tangan itu, diambilnya juga sebuah kotak kecil berwarna biru berisi aromatherapy lavender diatas nakas.
"ambil lah ini" disuguhkannya kotak tersebut pada James.
James membalikkan badan, pandangannya tertuju pada Alisa yang sedang terduduk lemas diatas ranjang. Diambilnya kotak yang ada di tangan Alisa tersebut dengan pelan. "terima kasih" balasnya singkat.
Alisa mengangguk dan tersenyum tipis. "iya sama sama. ya sudah kau boleh pulang" ujar Alisa.
James tak menjawab sepatah katapun. Ia hanya menaikkan alisnya dan tersenyum tipis. Selepas menerima pemberian dari Alisa, James pun segera keluar menghampiri sang ayah.
...**************** ...
Diruang tamu istana Ardarish, Bella dan Rosemary yang sedang berbincang bincang itu kedatangan Auraline. Ia menuruni anak tangga sembari lari kecil. Putri kedua Ardarish itu nampak hendak pergi ke keluar.
Rosemary melihat kakaknya itu tengah melewati ruang tamu, sehingga dipanggil lah dia. "kak Aura? kakak mau kemana?" ujarnya.
Menolehlah Auraline pada sang adik. Awalnya ia hendak menjawab. Tapi, seketika ia tertegun saat melihat Bella dan Rosemary yang sedang duduk berdua. Jarak duduk mereka juga terbilang sangat dekat.
Auraline terdiam melongo dan tak kunjung menjawab pertanyaan Rosemary.
"Aura? kenapa kau malah melamun?" karena tak terdengar jawaban apapun dari Auraline, Bella ikut terheran dengan tingkah adiknya itu.
Gadis berambut coklat sepunggung itu seketika menggeleng cepat seraya memejamkan matanya singkat. "ah maaf. aku mau pergi sebentar dengan Roy" diusapnya pelan tengkuk lehernya, sembari berjalan mendekati kedua saudara perempuannya itu.
Rosemary seketika tersenyum seringai. "wah, kakak pasti mau pergi berkencan ya" gurau Rosemary dengan jari telunjuknya yang mengacung ke arah Auraline.
"ah tidak, aku hanya diminta untuk menemaninya membeli sebuah barang" raut wajahnya mendadak malu, kedua pipinya memerah seraya tersenyum kaku.
Bella terkekeh, pandangannya beralih dari Rosemary menuju Auraline. "tak apa lah, jika ucapan Rosemary memang benar. lagipula, kau juga akan menjadi istrinya nanti" ujar sang kakak.
Auraline meringis, raut wajah malu nya masih belum menghilang. "ya-aa, tapi tidak secepat itu lah kak" balasnya.
Pembicaraan ketiga putri Ardarish itu tiba tiba terpotong dengan kehadiran Royland. "selamat pagi, semua" sapanya.
"ah kak Roy sudah datang, ini kak Auraline juga sudah siap kak" tanpa aba aba, seusai menoleh ke arah Royland, Rosemary segera menyaut sapaannya.
"iya, asal kau tahu saja. dia sungguh bersemangat, Roy" tambah Bella dengan senyum seringainya.
Auraline menggigit bibir bawahnya menahan rasa malu, pandangannya tertunduk tak berani mengarah kepada sang kekasih.
Royland terkekeh melihat wanitanya itu terdiam tak berkutik. Ia mengerti, jika Auraline sedang menahan rasa malunya. Dihampirilah Auraline seraya memeluknya dari samping. "ayo, kita berangkat" ajaknya.
Wajahnya seketika mendongak, pandangannya mengarah pada Royland. Ia tertegun, karena Royland tiba tiba memeluknya. "ya-a ss-sudah ayo" balas Auraline terbata bata.
Rosemary dan Bella hanya tersenyum, sebab mereka sudah terbiasa saja dengan adegan peluk memeluk. Bahkan, Rosemary sendiri juga sering memeluk Hans. Tapi, hal itu berbeda dengan Auraline. Ia dan Royland sama sama insan yang pemalu, sehingga baru kali ini mereka merasakan sebuah pelukan meski hanya dari samping.
"aku berangkat dulu ya kak Bell, Rose" pamit Royland seraya menggandeng tangan Auraine.
Bella dan Rosemary mengangguk serta tersenyum. Ditinggalah kedua saudara putrinya itu pergi.
...**************** ...
Di hari yang cerah dan cukup terik itu, sekitar pukul 2 siang, akhirnya pelajaran ilmu ksatria pertama dari Hans telah selesai. William mulai membereskan buku yang ia bawa, begitupun dengan Hans. Selepas membereskan semuanya, mereka pun segera kembali menuju ruang tamu.
Diruang tamu istana Ardarish, Hans melihat jelas Rosemary yang sedang tertidur di atas sofa panjang dengan posisi membelakangi arah pintu masuk.
Willian menoleh pada Hans. "kak Rosemary sepertinya tertidur, kak" ujarnya.
Hans tersenyum dan mengangguk tanpa menoleh William sama sekali. Pandangannya terus tertuju pada Rosemary yang sedang tertidur. "iya, Will" gumam Hans.
"ya sudah, aku masuk dulu kak. terima kasih atas pelajarannya hari ini. aku benar benar senang bisa belajar denganmu, kak" William tersenyum seraya membungkukkan badannya pada Hans.
Pandangannya seketika beralih pada William. Hans juga senang melihat kesopanannya. "iya, sama sama Will. semangat terus ya belajarnya" balas Hans.
"pasti itu kak. sampai jumpa besok ya" William itu menegakkan badannya dan beranjak dari posisinya melangkah masuk.
Dianggukannya wajah rupawan itu seraya tersenyum. Seusai William semakin memasuki istana, Hans mulai mendekati Rosemary yang sedang tertidur itu. Didudukinya sisi sofa dibelakang Rosemary yang masih tersisa.
Punggung kecilnya ia usap pelan. Dipandanginya keindahan Rosemary itu hingga puas. Hans tak berniat membangunkan Rosemary, ia hanya diam dan memandangi. Sampai akhirnya, Rosemary mulai merasa ada hembusan nafas yang meniup niup telinganya. Dibalikkanlah badan mungil itu seraya mengusap pelan kedua matanya. "Hans? kelasmu sudah selesai?" tanya nya tanpa membagunkan diri dari sofa.
Hans tersenyum lebar ketika memandangi Rosemary yang semakin dekat dengan wajahnya itu. "sudah. kau menungguku ya?" balas sekaligus tanya dari Hans.
Masih dengan posisi nyamannya, Rosemary mengangguk dengan bibir tipisnya yang merengut. "iya" gumamnya.
Hans semakin tersenyum, hingga kedua matanya menyipit. Ditangkupkanlah kedua tangan besarnya pada wajah Rosemary. Wajahnya juga semakin mendekat, dengan pandangannya yang tak lepas dari Rosemary.
"izin ya" ucapnya lirih.
"hmm?" Rosemary bingung, ia membelalakkan matanya karena wajah Hans yang semakin mendekat.
Belum mendapat jawaban yang pasti, Hans langsung mencium bibir Rosemary dengan lembut. Dipeganginya erat rahang Rosemary dengan tangkupan tangannya.
Gadis mungil itu tak mampu menolak ataupun mendorong, meski kedua tangannya ia letakkan di depan dada bidang milik Hans. Lagi dan lagi, Rosemary merasa tenang ketika mencium aroma mint yang keluar dari mulut Hans.
Begitupun dengan ksatria pangeran itu, aroma harum mawar yang tercium dari tengkuk lehernya membuat Hans terasa nyaman ketika sedang mencumbu sang kekasih. Diperdalamnya, ciuman itu oleh Hans. Ia tak mau melewatkan setiap inchi dari bibir Rosemary. Wajah dan bibirnya terus berputar pelan, mengelilingi kenikmatan itu.
Rosemary memejamkan matanya, ketika Hans semakin memperdalam ciuman itu. Kedua tangannya menaik pada bahu sang kekasih dan mengepal erat.
Tak lama dari itu, Hans pun melepaskan ciumannya. Dipandanginya Rosemary dengan bibirnya yang semakin memerah dan membengkak akibat kelakuannya itu. Diusapnya pelan bibir itu seraya menggumam. "maaf, bibirmu jadi membengkak. sepertinya aku terlalu lama menciummu" ujarnya.
Rosemary tertegun sejenak kemudian tersenyum kaku. "aku masih terkejut Hans" gumam Rosemary dengan pandangan kakunya yang mengarah pada Hans.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...