I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
SAKIT



Mendengar pernyataan yang cukup meragukan itu, James hanya tersenyum kecut seraya mengalihkan pandangannya dari Alisa.


Sembari melahap makanan, Alisa masih terus curi curi pandang. Namun, hal itu ia lakukan karena ada sebabnya. Alisa takut, jika James tidak menikmati makanan tersebut.


Kemudian disuaplah sesendok nasi beserta lauk daging ke mulutnya. Seorang James itu terlihat menikmati hidangan tersebut. Meski hidangan tersebut di masak dengan sederhana di sebuah rumah makan pinggir jalan. Hal itu membuat Alisa seketika lega. Raut wajah sang putra mahkota itu nampak begitu meyakinkan, jika ia benar benar menikmati hidangannya. 


Selepas James dan Alisa menyelesaikan kegiatan makannya. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Karena tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Dan di kala Alisa hendak membayar, James tiba tiba menghentikannya dan memberikan sejumlah uang.


"Alisa, biar aku saja yang membayarnya" ujar James dengan tangannya yang sibuk merogoh saku. "ini ambillah" diberikanlah 3 lembar uang dan 2 koin emas kepada Alisa.


Melihat sejumlah uang yang cukup banyak, kedua mata Alisa sontak membulat. Pasalnya, uang yang diberikan James itu sebenarnya mampu di pakai untuk membeli 15 piring nasi lauk daging. "ah ini banyak sekali, 1 lembar uang saja sudah cukup. bahkan masih ada kembaliannya" balas Alisa.


"oh ya? murah sekali" gumam James tertegun.


Mengangguklah Alisa sembari tersenyum. "iya, murah bagimu" ucap Alisa dengan pandangannya yang sontak teralih dari James.


Seusai mendengar ucapan Alisa, pria pemilik mata biru itu hanya terdiam dan juga mengalihkan pandangannya.


"ya sudah, biar ku bayar dulu ya" gumam Alisa tanpa menyentuh sedikit pun lembaran uang yang diberikan oleh James.


Pria itu sontak menoleh, lantaran uang pemberiannya tak kunjung Alisa terima. "biar aku saja yang bayar. kembaliannya ambil saja. ini ambillah, Alisa" tekan James.


Gadis berambut coklat sepunggung tersebut seketika terhenti dan menghela nafas panjang. Sebenarnya, Alisa tidak ingin menolak uang pemberian James itu, karena dirinya juga sedang menghemat uang. Namun disisi lain, ia tidak ingin merepotkan James.


"kau tak usah khawatir telah merepotkan aku. anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku padamu. karena kau, ayah tidak jadi pergi dari hidupku" ujar James panjang.


Alisa membalikkan badannya. Ditataplah James dengan sendu sembari tersenyum manis. "baiklah, akan ku terima" balasnya.


Persetujuan dari Alisa membuat James juga sontak tersenyum lega. Diberikannya 3 lembar uang dan 2 koin emas itu pada Alisa.


"terima kasih, pangeran James" ucap Alisa seusai menerima uang tersebut.


Mendengar panggilan Alisa yang selalu menyertakan kata pangeran, James akhirnya kembali menegaskan pada Alisa untuk tidak memanggilnya dengan kata itu. "James saja, tidak usah pangeran" sahut sang putra mahkota itu.


"hmm iya, terima kasih James" gadis berambut coklat sepunggung tersebut menjawabnya sembari terkekeh.


"ya sudah, sana bayarlah" suruh James.


Segeralah Alisa mengindahkan perintah dari sang putra mahkota itu. Kemudian bergegas pulang.


Sesampainya mereka di rumah Alisa, James sudah disambut sang ayah di teras rumah milik gadis tersebut. Raut wajah sang raja itu nampak sumringah, dikala beliau memandang kehadiran James dan Alisa yang terlihat rukun. 


"sudah nak? jika sudah ayo kita pulang. ini sudah hampir malam" ujar beliau seraya beranjak dari duduknya dengan raut wajah yang sumringah.


James mengangguk sopan sembari tersenyum. "sudah ayah, ayo kita pulang" balasnya.


Tersenyumlah raja Rolland dengan tulus sembari memandang wajah Alisa. "Alisa, aku juga pernah terbantu olehmu. maka dari itu, anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku padamu, nak" balas raja Rolland.


Alisa hanya mengangguk sembari tersenyum sendu. Ia tak menyangka, jika ia bisa bertemu dengan raja Rolland dan berhubungan baik dengan beliau. Bahkan, seorang pangeran James dambaan rakyat Endonie saja, telah menghabiskan waktu makan bersamanya.


Tak lama setelah suasana menghening. Jacob Arvent pun datang seraya membawa sebuah bingkisan untuk diberikannya pada raja Rolland. "ah raja, ini aku ada bingkisan kecil untukmu. ambillah" ucapnya.


Raja Rolland pun menoleh. "ah baiklah, terima kasih Jac" balas sang raja seraya menerima bingkisan dari tangan Jacob.


Merasa urusannya telah usai, James pun akhirnya pamit untuk pulang. "ya sudah, kalau begitu. kami pulang dulu ya, semua" pamitnya.


"iya pangeran, terima kasih atas bantuannya ya" balas Jacob Arvent dengan tangan kanannya yang melambai.


"iya terima kasih banyak, hati hati di jalan" balas Alisa sembari mengangguk dan tersenyum.


Keluarga kerajaan Endonie pun akhirnya pulang, setelah seharian mengerjakan projek mereka.


...**************** ...


Dimalam yang dingin itu, keluarga Ardarish sedang menikmati makan malam mereka. Terlihat juga seorang Rosemary yang sedang memeluk badannya seraya mengusap usap lengan karena menahan hawa yang cukup dingin. Sang ibu yang mengetahui anaknya itu terlihat sedang kedinginan pun, akhirnya mencoba untuk memastikan.


"Rose? kau kedinginan?" tanya ratu Mia.


Rosemary sontak menoleh. "hmm" masih dengan kedua tangannya yang mengusap usap lengan. Gadis itu menjawab dengan terbata bata. "i-iya ibu, a-aku rasa ini di-ingin sekali" balasnya.


Auraline yang terduduk di samping Rosemary sontak menempelkan punggung tangannya pada kening sang adik itu. "Rose kau sedang sakit? badanmu panas" sahut Auraline. 


Layaknya seorang ibu pada umumnya, ratu Mia pun mulai panik ketika mendengar sang anak itu sedang sakit. "panas? selesaikan makanmu nak. setelah itu, nanti ibu panggilkan tabib untuk memberimu obat ya" ujar beliau panik.


"tolong ambilkan dia penghangat dulu. selimut atau jaket begitu, bu" sahut Bella ikut khawatir.


Meski tak ikut berucap, raja Handry selaku sang ayah dari Rosemary segera beranjak dari duduknya untuk mengambil selimut kecil. "biar ayah ambilkan" ucap beliau.


"aku rasa tadi kau baik baik saja, Rose. tapi, kenapa kau tiba tiba panas begini?" tanya Auraline sembari memandangnya bingung.


Sebagai seorang manusia, tentu saja Rosemary tidak mengerti. Ia menggeleng dengan bibirnya yang sedikit merengut. "aku jug-aa tidak ta-ahu kak" balasnya.


Tak berselang lama, raja Handry pun sampai sembari membawa selimut kecil di tangannya. Sang ayah itu kemudian menyelimutkan selimut tersebut ke badan Rosemary. Diusapnya pelan pucuk kepala anak perempuan bungsunya itu. "bagaimana? apa masih terasa dingin?" tanya beliau.


Ditolehnya sang ayah dengan kedua sudut bibirnya yang menaik. "tidak ayah, aku sudah merasa hangat. terima kasih ayah" balas Rosemary.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...