
Sementara itu, Clark yang masih bingung dengan tingkah laku bibi Anna padanya itu, tiba tiba ia kembali berpapasan dengannya di ruang makan keluarga.
"Bibi". Panggilnya.
Bibi Anna sontak menoleh ke arah sumber suara itu.
"Iya, pangeran Clark?". Jawab bibi Anna.
"Maaf sebelumnya, bi".
"Tapi, aku ingin tahu apa maksud dari ucapan bibi tadi?". Ujar Clark dengan raut wajah memelas.
Bibi Anna tersenyum ragu.
"Bibi tidak mengatakannya sekarang, karena bibi tidak ingin kau kepikiran".
"Fokus saja dengan kehamilan istrimu". Balas bibi Anna.
"Tidak bibi. Aku tidak akan kepikiran". Ucap Clark penasaran.
Bibi Anna terpaksa memberitahunya.
"Jadi, sebenarnya. Tadi bibi sempat melihatmu dan Gloria sedang berbicara..". Belum sempat bibi Anna menyelesaikan bicaranya, Clark sudah memotong pembicaraan itu .
Clark sontak membulatkan matanya gugup.
"Bibi, bibi. Ini tidak seperti yang bibi pikirkan!".
"Sungguh, aku tidak menerima tawaran dari wanita murah itu!". Potong Clark dengan raut wajah gugup dan khawatir.
"Iya, bibi tahu".
"Bahkan, jika memang kau menerima tawarannya. Seharusnya sekarang kau sudah duduk bersamanya disana, kan". Balas bibi Anna mencoba menenangkan.
Mendengar hal itu, Clark pun mulai tenang karena bibi Anna mempercayai ucapannya.
Clark menghela nafas lega.
"Syukurlah, bibi percaya padaku".
"Bi, aku mohon untuk peristiwa ini jadikan rahasia antara kita berdua saja ya". Pinta Clark halus.
Senyum ragu di bibir bibi Anna terukir.
"Memangnya, kau tidak ingin Bella menjauhi wanita munafik itu?". Tanya bibi Anna.
Clark mengangguk ragu.
"Aku ingin sekali, tapi aku tak yakin Bella akan mempercayaiku". Balas Clark.
"Bibi tidak akan memberitahu siapapun tentang ini. Tapi, cobalah dulu untuk menceritakannya pada Bella. Tidak ada salahnya kan mencoba". Tutur bibi Anna halus.
"Baiklah, bi. Akan ku coba". Balas Clark dengan wajah yang masih tertunduk ragu.
****************
Auraline, William dan Royland akhirnya sampai di istana Ardarish. Karena jam sudah menunjukkan waktu makan siang, mereka pun bergegas masuk untuk melaksanakannya.
"Roy, bagaimana jika kau makan siang disini saja bersama kami". Tawar Auraline.
Royland tersenyum mengangguk.
"Baiklah. Lagipula, ayah dan ibu sepertinya belum pulang. Daripada aku di istana sendirian". Jawab Royland.
"Nah, kalau begitu ayo kita masuk kak". Ajak William dengan lambaian tangannya yang mengarah pada sang kakak itu.
Seusai ajakan itu, Royland setujui. Mereka semua berjalan masuk lebih dalam ke istana untuk menuju dining room.
Sesampainya disana, tanpa menunggu lama. Mereka pun menikmati hidangan makan siang bersama bibi Anna, Clark dan Bella.
Sesaat sebelum makan siang selesai. Raja Handry, ratu Mia, dan Rosemary pun sampai di istana.
"Kakak?"
"Mari makan kak". Ucap bibi Anna ketika terkaget atas kehadiran sang raja secara tiba tiba.
Raja Handry tersenyum hingga kedua matanya menyipit.
"Sudah, An"
"Kami semua sudah selesai makan siang tadi". Jawab raja Handry.
"(mengangguk)"
"Ah, syukurlah"
"Maaf, jika aku kurang sopan. Tiba tiba makan siang tanpa sepengetahuanmu, kak". Ujar bibi Anna dengan wajah yang tertunduk.
"Ah, apa yang kau katakan itu?"
"Anggap saja seperti istanamu sendiri. Aku ini kakakmu". Jawab raja Handry.
"Iya bi, bibi ini kan anggota keluarga kerajaan Ardarish"
"Masak iya, untuk makan siang saja bibi harus izin". Saut Rosemary.
Auraline terkekeh.
"Bahkan keluarga kerajaan Elevan pun ku ajak makan bersama, bi". Celetuknya dengan mata yang melirik senyum ke arah Royland.
Royland yang mendengarnya, sontak memendam rasa malu dengan pandangan yang tertuju pada wajah cantik Auraline.
Raja Handry ikut terkekeh.
"Royland ini juga anakku"
"Sudah sepantasnya jika dia menikmati hidangan makan siang disini". Balas raja Handry yang berhasil memecahkan rasa malu Royland.
Kedua sudut bibir Royland menaik membentuk bulan sabit, kedua matanya menyipit dan memandang wajah calon ayah mertuanya itu. "Terima kasih raja" "Sudah memberi saya izin untuk makan siang disini". Gumamnya.
Waktu makan siang kala itu, sangat ramai dan menggembirakan. Dengan bertambahnya tiga anggota keluarga, membuat suasana istana menjadi semakin ramai.
****************
Keesokan paginya. Matahari telah bersinar terang menerangi seisi negri Fanlyland. Rosemary terbangun lebih siang hari ini. Dia melupakan perjanjiannya dengan James yang rencana akan berangkat menuju telaga Hyris pagi itu.
"ttokk tok ttok" suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu kamar.
Rosemary mengusap matanya pelan dan merenggangkan seluruh badannya diatas ranjang. Rasa kantuk yang begitu tinggi membuatnya tak kunjung berdiri untuk membuka pintu tersebut.
"ttook ttok tok" karena tak mendapat jawaban, suara ketukan itu terus terdengar dan membuat risih telinga Rosemary.
"iya, buka saja" teriaknya dari dalam dengan badan yang berusaha terduduk.
Jawaban Rosemary membuat suara ketukan pintu itu terhenti dan masuklah seorang pelayan wanita yang memberitahunya, bahwa ia sedang ditunggu James dibawah.
"ah iya! aku lupa. bilang saja padanya, tunggu sebentar!" kedua mata Rosemary terbelalak kejut, ia lupa jika hari itu ia akan berangkat ke telaga Hyris.
Dengan terburu buru, Rosemary pun bergegas mandi dan bersiap siap. Meski ia seorang wanita, Rosemary tak membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan dirinya.
"maaf James, aku terlambat bangun!" ucapnya dengan terburu buru berjalan cepat menuruni anak tangga.
James mendecak kesal dan memalingkan wajahnya sejenak sebelum kembali memandang Rosemary.
"kau ini. padahal kita sudah janjian!" balasnya dengan raut wajah kesal.
"hehe iya maaf. aku lupa sekali, ya sudah ayo berangkat" merasa hari sudah semakin siang, Rosemary mengajak James untuk segera berangkat. Namun, James menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.
"kau yakin, akan tetap berangkat?" tanyanya dengan tubuh yang masih terduduk santai di sofa.
"yakin lah, memangnya kenapa?" langkah Rosemary terhenti dan malah balik bertanya.
"bukankah, kehidupanmu di istana ini sudah berubah menjadi lebih baik? kak Bella juga sudah menganggapmu sebagai adik kan? apa kau juga yakin akan meninggalkan Hans? bagaimana jika Hans tak mampu hidup tanpa kehadiranmu?" segudang pertanyaan yang melewati kedua telinga Rosemary itu membuatnya terdiam sejenak. Apa yang dikatakan James juga pernah menjadi kebimbangannya untuk kembali ke dunianya atau tidak.
Rosemary menghela nafasnya panjang dan kembali terduduk di samping James.
"aku tidak tahu, aku harus menjawab apa" gumamnya lirih dengan wajah yang tertunduk pilu.
"pikirkan saja dulu. kau masih mau berjuang untuk kembali ke duniamu atau tidak" ucap James.
Tidak ada jawaban sedikitpun yang keluar dari mulut Rosemary, ia masih saja diam dan tertunduk merenungkan jawaban.
"ya sudah. kalau begitu, aku pamit dulu ya" karena tak mendengar sepatah kata pun dari Rosemary, James memutuskan untuk pulang.
"jangan, James. aku masih tetap ingin kembali ke duniaku!" bantahnya dengan ayunan tangan yang menggenggam lengan James dengan erat.
James memandangnya sayu. Ia tak menyangka Rosemary benar benar akan meninggalkannya. Jangankan meninggalkannya, Hans yang statusnya menjadi kekasih Rosemary pun, ia tinggalkan tanpa sepengetahuannya.
"aku tahu, aku akan mengecewakan Hans. tapi, aku tidak ingin merepotkan ibuku. jika aku tak bangun dari koma ku, ibuku akan terus membayar biaya rumah sakit" ucapnya lemas, wajahnya masih tertunduk kaku dengan tangan yang masih menggenggam erat lengan James.
"ya sudah. kalau begitu, ayo kita berangkat" James tidak tega melihat Rosemary kecewa, alhasil ia pun menurutinya untuk segera berangkat ke tempat yang sudah mereka rencanakan semalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...