
"aku hanya bercanda, cinta" Hans terkekeh, ia terus tersenyum dan memandangi Rosemary, hari ini rasa rindunya telah terbayar lunas.
Rosemary tak menghiraukan ucapan Hans, ia mengambil sesendok tumis labu siam dan daging yang ia buat untuk di letakkan di piring makan Hans.
"kenapa kau memandangiku seperti itu, Hans?" ucap Rosemary tanpa melirik sedikitpun wajah tampan Hans.
Hans menggeleng pelan, dengan senyumannya yang masih terukir di bibirnya. "memangnya, tidak boleh aku memandangi keindahan ini?" balas Hans sambil menyangga pelipisnya dengan punggung tangan, dan juga pandangannya yang tak bisa lepas dari Rosemary.
Sebagai seorang Rosemary, ia tak munafik. Raut wajah kesalnya seketika luntur. Kedua sudut bibirnya menaik membentuk bulan sabit, arah pandangannya tertuju pada Hans yang sedang asik memandangi dirinya. "tentu saja boleh, jika untuk Hans semata" ucapnya lirih.
Mata indah kedua insan itu saling tertuju. Mereka saling melepas rindu yang telah lama mereka pendam.
"hhmm hhmm. ayo Hans segera dimakan, nanti keburu dingin" raja Handry berdehem, seketika suasana romantis itu pecah.
Hans segera menegakkan badannya, raut wajahnya terlihat malu. "ah iya, raja. aku akan segera memakannya" ucap Hans dengan senyum malunya.
Raja Charless dan ratu Elisa terkekeh, ketika melihat Hans yang menahan rasa malunya. Tapi disisi lain, mereka merasa bahagia atas perjodohan yang di terima oleh masing masing insan. Yakni Rosemary dan Hans. Kedua anak bungsu itu, selalu menjadi penghibur di keluarga mereka.
"oh iya, Hans. pelatihmu pernah berkata pada ayah, kalau kau akan mendapatkan sertifikat setelah pelatihan itu selesai. apa itu benar?" tanya raja Charless.
"itu benar ayah. aku sudah membawanya di tas" Hans mengangguk pelan, wajahnya terlihat sumringah.
"ah bagus itu. selamat ya anakku" raja Charless terlihat bangga pada anak bungsunya itu.
Tidak hanya raja Charless yang selaku seorang ayah dari Hans. Mendengar kesuksesan tersebut, seluruh anggota keluarga juga kembali mengucapkan selamat padanya.
"kau hebat!" Rosemary memandangi kekasihnya itu, sembari mengacungkan jempolnya.
"tentu saja, kalau tidak hebat berarti bukan Hans" Hans menepuk pelan dadanya, kali ini sifat sombongnya kembali terlihat. Ia begitu membanggakan kesuksesannya di depan Rosemary.
Sudut bibir kiri Rosemary menaik, diperlihatkan nya senyum seringai itu pada Hans. "iya iya, Hans" balasnya singkat.
Sesaat setelah semuanya terdiam karena menikmati hidangan mereka masing masing. Rosemary kembali teringat, tentang rencananya untuk kembali ke dunianya. Ia kembali teringat dengan ibunya. Raut wajahnya berubah gelisah. Makanan yang ada dipiringnya tak segera ia lahap, melainkan hanya di otak atik menggunakan sendok dan garpu yang ia pegang. Pandangannya kosong seraya menunduk dan memperhatikan seisi piring makan yang ia otak atik itu. Namun sebelum Hans menegurnya, ia segera menyudahi kegiatannya itu dan kembali menyantap makanan miliknya.
...****************...
Di dalam pelukan James, Gloria menyimpan senyuman kemenangannya. Meski begitu, ia masih saja mengeluarkan rengekan yang membuat risih telinga James.
"sudah ku bilang, hentikan tangismu. aku minta maaf" James masih memeluk tubuh Gloria. Padahal di dalam lubuk hatinya ia ingin segera melepas pelukan itu. Akan tetapi, Gloria masih belum saja menghentikan rengekannya.
"ya sudah, kalau begitu aku pulang saja" Gloria menepis pelan lengan kiri James yang memeluk dirinya itu, dan beranjak dari duduknya.
James menoleh, raut wajahnya terlihat seperti merasa bersalah. Tapi, dia sendiri tak mau terlalu memperlihatkan rasa iba nya itu. Karena Gloria bisa saja menyalah pahamkan perilakunya. "sekali lagi aku minta maaf. aku memang sedang pusing sekarang. maka dari itu, emosi ku tak terkontrol" ujarnya.
"iya, ku maafkan kau James" Gloria menjawabnya dengan lemas, baru kali ini James melihat Gloria yang begitu keras dan kaku itu terlihat lemas dan takut.
James memandangi kepergian Gloria dari kamarnya itu. Meski terlihat merasa bersalah, tapi rasa geramnya pada Gloria masih lebih dominan di hati James. "jika memang dia mencintaiku, lalu kenapa dia masih saja mengejar Hans?" gumamnya bingung. Ujung jari kanannya kembali memijit sudut keningnya yang terus berkeringat.
...****************...
Hari yang begitu melelahkan semalam, telah James lalui. Ia kembali terbangun di ranjang kamarnya. Direnggangkannya seluruh tubuh yang kaku itu sambil mengeram nikmat.
"sepertinya, ini sudah siang. lebih baik, aku segera mandi dan sarapan" James yang tadinya masih terbaring nyaman di ranjang, kemudian membangunkan dirinya untuk segera mandi.
...****************...
Sementara itu, di istana Ardarish. Rosemary sudah terlihat rapi, gaun panjangnya telah melekat indah di tubuh mungil itu.
"lihatlah, betapa cantiknya Rosemary ini" Dipandanginya raga itu di kaca besar. Baru kali ini ia terpukau melihat dirinya sendiri.
Rosemary terus memutar mutar tubuhnya. Ia juga terus memandangi dirinya itu di kaca sembari bergumam. "kapan Ailee ini bisa bangun ya? tapi kasian juga sama orang orang, kalo tiba tiba raga Rosemary mati gara gara gue bangun" seketika raut wajahnya berubah, kegelisahan kembali menyelimuti wajah cantiknya.
"tapi gue nggak mau, kalau mama terus terusan bayar biaya rumah sakit" gumamnya lagi. Kebimbangan yang mengisi hati kecilnya itu jadi sering membuatnya gelisah.
"ttokk tok, Rose" seperti biasa ketika hari sudah semakin siang, tapi Rosemary belum saja keluar dari kamarnya. Auraline pasti akan datang untuk menghampiri adiknya itu.
Menolehlah Rosemary itu ke arah sumber suara. Ia berlari kecil menghampiri pintu kamar.
"hai kak"
"sudah kuduga, kakak pasti akan kemari" disapanya sang kakak itu dengan wajahnya yang sumringah.
"nah begini, sudah rapi. ayo makan, ibu dan ayah sudah menunggu kita di ruang makan" Auraline memandangi adiknya dari atas hingga bawah. Betapa leganya ia ketika melihat adiknya sudah terlihat rapi.
"baiklah, ayo" Rosemary mengangguk, dan tersenyum pada kakaknya. Ditutuplah pintu kamarnya, kemudian segera berjalan melangkah menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan. Sudah terdapat raja Handry, ratu Mia, bibi Anna, William, Bella dan Clark.
"pagi, ayah. pagi ibu"
"pagi kak Bella, pagi kak Clark. pagi bibi, pagi William" sapa Rosemary seraya mendudukkan dirinya di kursi makan.
Semua yang telah Rosemary sapa menyapanya kembali. Begitupun dengan Bella. Kerukunan yang telah terjalin, membuat raja dan ratu merasa bahagia. Terutama untuk Rosemary sendiri.
"bagaimana kondisi kandunganmu, Bella?" tanya sang raja.
"syukurlah. tabib bilang kandunganku sehat, ayah" raut wajah nya terlihat begitu bahagia ketika sang raja memperhatikan kondisi kandungannya.
"syukurlah nak, ibu senang mendengarnya" sang ratu lega dan senang mendengar pernyataan tersebut.
"jaga kandunganmu ya, Bell. semoga selalu diberi kesehatan dan dilancarkan ketika lahiran nanti" tutur bibi Anna.
"iya bi, terima kasih doanya. aku pasti akan menjaga kandungan ini baik baik" Bella tersenyum sumringah. Ia tidak lagi merasa tersingkirkan karena kehadiran Rosemary. Semenjak telah menikah dengan Clark, pikirannya jadi lebih terbuka. Nasehat yang selalu Clark tuturkan padanya membuat Bella bisa berubah menjadi kakak yang lebih baik.
"kira kira bayinya perempuan atau laki laki ya" saut Rosemary dengan lirikan bahagianya.
"aku rasa, sepertinya perempuan" di balasnya ucapan Rosemary itu dengan ramah oleh Bella.
Rosemary tak menyangka jika jawaban sang kakak itu begitu ramah. Bella benar benar telah menghargai kehadirannya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Diangkat lah kedua sudut bibir itu hingga terlihat gigi rapinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...