I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
TEGUH



Di siang hari yang cukup berawan itu, istana Endonie kembali kedatangan si induk bala Gloria. Diketuknya kencang pintu istana tersebut sembari terus memanggil manggil nama raja Rolland.


"ttokkk ttokk, raja! raja Rolland!" panggilnya lantang.


Kala itu raja Rolland sedang tidak ada di istana, beliau sedang pergi ke toko Alisa untuk menjalankan projeknya. Sedangkan, James memilih untuk tidak ikut dan dirumah saja. Karena, projek yang berjalan masih dalam tahap produksi, belum sampai ke pemasaran. 


James yang berada di ruang tamu, tentu saja mendengar ketukan pintu tersebut. Keningnya seketika berkerut, ia beranggapan tamu itu tidak sopan. Sebab, biasanya tamu yang datang akan memencet bel tanpa bersuara. Bukan mengetuk pintu kencang dan berteriak.


Dibukalah pintu tersebut dengan kasar, betapa terkejutnya ia ketika melihat Gloria yang licik itu di depan matanya. "mau apa kau kemari?" tanya nya datar.


"oh, hai James? sudah lama sekali aku absen ya" bukannya menjawab pertanyaan James, Gloria malah menggumam tidak jelas seraya tersenyum seringai memandang pria rupawan itu.


"ku tanya padamu, mengapa kau kemari?" tanpa mempersilahkannya masuk, James langsung menanyakan tujuannya kemari, dengan nada bicara yang sedikit ia tinggikan. Guna menyudahi gumaman gurau dari Gloria.


Nada bicara James yang meninggi itu tak membuat Gloria takut. Alis kirinya menaik, bibir tipisnya kembali menciptakan senyum seringai. "santai dulu, turunkan nada bicaramu" ucapnya santai.


James menghela nafasnya panjang. Ia mencoba mengontrol emosinya di depan wanita licik itu. "jawab pertanyaanku, jangan banyak basa basi. aku tidak suka!" ujar James.


Melihat James yang sudah mulai kesal dengan kelakuannya, Gloria pun akhirnya menjawab pertanyaan itu dengan serius. "aku sedang mencari ayahmu. kemana beliau?" balasnya.


Tak mau projek ayahnya dirusuhi oleh wanita licik itu, James pun tak memberitahu dimana ayahnya secara jujur pada Gloria. "beliau tidak ada di istana, aku tidak tau kemana beliau pergi" ujar James datar.


"ah begitu rupanya. sampaikan padanya ya nanti, hari rabu akan diadakan rapat bersama kelompok Artha di markas biasa" jelas Gloria.


James seketika membulatkan matanya, rahangnya mengeras. Gigi rapinya ia gerentakkan bersamaan dengan kedua telapak tangannya yang seketika mengepal erat. "kau kira, ayah akan hadir? tentu saja tidak!" James mendadak emosi. Nada bicaranya kembali meninggi.


Tawa jahat seketika keluar dari kerongkongan Gloria dan terdengar jelas di telinga James. Wanita licik itu tertawa guna meremehkan ucapan James tersebut. "mana mungkin beliau tak datang, ayahmu itu sudah jadi bagian dari Artha grup!" ucapnya ketus seraya memajukan wajahnya.


"Artha grup ya? bahkan ayah saja sudah melupakan nama itu! grup tidak jelas! pemecah kedamaian!" James tak mau dikalahkan, pria gagah itu juga membuat nama Artha grup seolah remeh.


Gloria sontak membelalakkan matanya. Wanita licik itu mendengus kesal, seusai organisasinya dihina begitu saja oleh James. Wajahnya kemudian ia dekatkan pada wajah James, dengan kedua matanya yang masih melotot. "berani kau berkata seperti itu?!" ujarnya.


"berani!! mulai saat ini ku beritahu kau, ayah sudah tidak akan lagi bergabung dengan organisasi itu! kau paham!!" jelas James secara singkat dan padat.


Gloria benar benar tertegun. Ia terdiam sejenak, raut wajahnya seketika melongo mendengar pernyataan yang keluar dari mulut James. "apa? kau serius?" suaranya mendadak melirih.


"serius! jadi jangan pernah ganggu kedamaian kami lagi!" jelas James lagi.


Wanita berambut hitam pekat sepunggung itu memangut mangut, seolah olah menyetujui ucapan James. "tapi, justru aku tak bisa menjamin kedamaian kerajaan Endonie, setelah raja Rolland berkhianat" gumam Gloria lirih, seraya membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari James.


James hanya menghening, ia terlihat tak menghiraukan ucapan Gloria itu. Dipandanginya wanita licik tersebut yang sedang berjalan menjauh darinya, dengan raut wajah kesalnya.


...****************...


Rosemary berjalan menghampiri sang kakak yang sedang berada di ruang keluarga. Sesampainya disana, ia melihat sang kakak yang sedang sibuk meletakkan banyak hidangan makanan di atas meja ruang keluarga.


Rosemary yang terbingung itu sontak bertanya pada sang kakak. "loh kak, mau ada acara apa?" tanya nya.


Sang kakak itu menoleh dan tersenyum, kegiatannya mendadak terhenti ketika adiknya mulai mengajak bicara. "ayah bilang, keluarga kerajaan Elevan akan kemari" balas Auraline.


Selepas mendapat jawaban dari sang kakak, Rosemary pun mendekat dan membantunya sembari menggumam. "kenapa bukan pelayan yang menyiapkan ini semua kak?" tanya nya lagi.


Auraline seketika terkekeh. "kakak ingin hidangannya lebih istimewa" balas sang kakak singkat.


Kedua putri Ardarish itu pun kemudian berjalan menuju dapur. Di dalam dapur tersebut juga terdapat bibi Anna yang sedang mengongseng tumisan labu siam dan daging.


Rosemary yang melihat tumisan itu, tiba tiba teringat dengan Hans. Sebab, tumisan labu siam dan daging adalah makanan kesukaannya.


"wah, bibi Anna sedang memasak tumisan labu siam dan daging ya" ucap Rosemary dengan raut wajah sumringahnya.


Sang bibi pun mengangguk dan tersenyum. "iya, Rose" balas bibi Anna dengan kedua tangannya yang masih sibuk mengongseng tumisan.


"ayo Rose, ikut kakak menyiapkan minuman". ajak Auraline seraya berjalan menuju rak untuk mengambil gelas dan teko.


"ah iya kak, ayo" sang adik itu pun menuruti ajakan kakaknya.


Kedua putri Ardarish dan sang bibi itu kemudian menyibukkan diri mereka di dapur.


...****************...


Tak terasa, hari sudah semakin siang. Kegiatan praktek ilmu ksatria itu juga sudah membuat kedua insan tersebut kelelahan. Perut mereka keroncongan. Hans dengan tubuhnya yang sudah mulai basah dengan keringat itu kemudian terduduk di sebuah bangku.


"sudah, Will. jangan terlalu dipaksakan, lanjut besok lagi" Hans yang melihat adik iparnya itu sudah mulai tertatih dengan nafasnya yang terengah engah, kemudian tak tega dan memintanya berhenti.


"baik kak. aku juga sudah merasa lelah" balasnya seraya ikut mendudukkan dirinya di samping Hans.


Diusapnya pelan punggung William sekaligus dipandanginya wajah sang adik itu dengan sendu. "kau sangat teguh. aku suka dengan keteguhanmu, dek" ujarnya.


William menoleh dan tersenyum pada Hans. "kau lah yang kujadikan inspirasi, kak. aku sering mendengar cerita dari kak Rose, kalau kau itu orang yang teguh. dan, dia juga pernah bercerita, bahwa gelar Green Knight sudah kau pegang sejak usia 19 tahun" ujar William panjang.


"Oh ya? Rosemary pernah bercerita tentang itu" gumam Hans dengan kedua alisnya yang menaik seraya tersenyum.


William mengangguk pasti, kedua sudut bibirnya kembali terangkat. "iya kak. kak Rose sering menceritakan banyak hal tentangmu" balas William.


Hans hanya tersenyum mendengar pernyataan William. Walau sejujurnya ia sedang tersipu.


"ya sudah, ayo kita masuk. kita lanjut besok lagi" setelah cukup mengeringkan keringat, Hans pun mengajak William untuk menyudahi kegiatannya hari itu.


Sesampainya mereka di dalam istana, Hans tak lagi melihat Rosemary di ruang tamu. Itu karena memang, Rosemary sedang membantu sang kakak.


Sehingga, Hans terpaksa menelusuri istana tersebut demi mencari keberadaan kekasihnya itu. Dicarilah di kamarnya, ruang tenun, dan hingga ke kebun. Namun, tak kunjung ia temukan. Sampai pada akhirnya, mereka berpapasan ketika Hans kembali masuk ke dalam ruang keluarga.


"Rose, dari mana saja kau?" panggilnya.


"Hans? kelasmu sudah selesai ya" Rosemary seketika menghampiri kekasihnya itu dengan raut wajahnya yang sumringah.


Melihat Rosemary yang semakin mendekat, Hans menjauhkan badannya. Ia takut, Rosemary akan mencium bau masamnya. Padahal, dirinya sama sekali tak mengeluarkan bau tersebut. "jangan terlalu dekat, Rose" ujar Hans seraya menahan Rosemary untuk tidak mendekatinya dengan kedua lengan yang ia julurkan.


Rosemary itu mendadak terbingung. "ha? kenapa?" tanya nya.


"biar aku mandi dulu, aku takut kau mencium bau masamku" balas Hans dengan kedua lengannya yang telah menurun.


Rosemary seketika mendengus. "tapi, aku tidak mencium bau tersebut" gumam Rosemary sembari berjalan mendekati Hans kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...