
Sengguk demi sengguk ia rasakan, hingga membuat dadanya terasa nyeri. Merasa nafasnya mulai tak terkontrol akibat isak tangis, Rosemary pun mencoba menghentikan tangisnya. Dielapnya pelan kemudian air mata itu.
Sembari masih terisak, Rosemary berusaha menguatkan dirinya sendiri. "udah cukup! gue gaboleh nangis, haah" ucapnya dengan kedua tangan mengepal erat yang ia letakkan di dekat dada.
Gadis berambut pirang bercahaya itu seketika mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, guna mengalihkan rasa sedih yang sedang ia rasakan. "seharusnya gue nggak berpikir sampai situ! masa iya gue sakit dikit tiba tiba mati sih?! konyol banget" ujar Rosemary mencoba berpikir positif.
Diaturlah nafasnya yang masih terengah engah. Dan ketika sudah merasa tenang, gadis itu kembali merenung. Sudut kepala kanannya ia sangga dengan pucuk jari lentiknya yang panjang. Pandangannya kosong, mengarah ke arah jendela kamar yang masih memperlihatkan suasana gelapnya hari.
"tau deh, gue capek gelisah terus. mau gue mati kek, mau gue sembuh kek. terserah!" gumam Rosemary dengan posisi dan pandangannya yang masih sama. "tapi kalo dipikir pikir, kalo gue mati, arwah gue pergi kemana? huaaaa gue ngga mau mati!" bagaikan seperti anak kecil yang tidak punya pendirian, Rosemary itu terus merenung dan berakhir plin plan dengan pendapatnya.
Pandangannya yang terus terusan kosong, membuatnya kembali merasa mengantuk. Gadis itu sontak menguap dan tak sadar telah memejamkan kedua matanya. Hingga pada akhirnya, tidurlah sosok Rosemary itu.
...****************...
3 jam berlalu, sinar matahari pagi telah muncul dari ufuk timur dan menerangi seisi negeri Fanlyland. Hans yang sudah terlihat rapi dengan pakaian dinas hariannya itu, kemudian berjalan menuju ruang makan.
Dan sesampainya diruang makan, dilihatnya sang ayah dan ibu beserta sang kakak. Sembari tetap berjalan melangkah, Hans pun menyapa mereka.
"pagi ayah, pagi ibu, pagi kak Roy" sapa Hans dengan tangan kanannya yang melambai pelan.
Ketiga insan bangsawan itu sontak menoleh karena sapaan dari Hans. Dibalasnya sapaan tersebut seraya tersenyum manis. "pagi juga, Hans" balas mereka.
Senyumnya seketika terpaut, seusai melihat respon positif yang selalu mereka berikan pada dirinya. Duduklah kemudian ksatria pangeran itu di samping sang kakak.
"apa kau akan tetap mengajar hari ini, Hans?" tanya Royland sembari sibuk mengambil secentong nasi.
Mengangguklah Hans sambil memautkan kembali senyuman di bibirnya. "tentu saja kak" balas Hans.
"itu bagus! tapi jangan lupa untuk mengemasi pakaianmu, Hans. besok kita akan berangkat pagi" sahut sang ayah.
"iya ayah, nanti malam akan ku kemas" dijawabnya sopan perintah sang ayah sembari meraih secentong nasi dan diletakkanlah di atas piring makan.
Setelah pembicaraan singkat anggota keluarga tersebut usai, empat insan bangsawan itu pun segera menikmati hidangan pagi mereka.
...****************...
Sementara itu, di istana Endonie. James rupanya tengah disibukkan dengan menata puluhan kotak berisi sample aromatherapy, yang berhasil di produksi oleh sang ayah dan Jacob.
"aduh, kalau begini mana bisa aku menghampiri Rosemary" keluh James. "aku berharap bisa kesana walau hanya sebentar". meski sedang disibukkan, James terus mengeluh dan berharap memiliki sedikit waktu untuk menghampiri Rosemary.
Namun tak berselang lama setelah ia mengeluh, sang ayah pun datang dan rupanya beliau mendengar keluhan tersebut. "pergilah, tak apa James. tapi nanti setelah kau pulang, langsung saja ke toko Alisa ya" ujar raja Rolland.
Raja Rolland pun mengukir senyuman tulusnya pada sang anak. "sudah tidak usah dipikirkan. biar pelayan yang membereskannya". balas beliau. "oh iya, kau juga tak perlu khawatir. ayah akan membimbing mereka agar tidak salah menempatkan sample sample ini" sambung sang raja.
Mendengar jawaban sang ayah yang begitu meyakinkan, James pun tersenyum senang hingga gigi putih rapinya nampak jelas. "baiklah kalau begitu, ayah. terima kasih banyak. aku tak akan lama. nanti juga setelah aku pulang, aku akan langsung ke toko Alisa" ujar James panjang dengan perasaan gembiranya yang tak terukur.
Sang ayah pun memangut mangut sembari mengukirkan senyum. Di usapnya pula dengan pelan pundak sang anak. "iya nak, sama sama" balas beliau.
Semangatnya yang begitu membara, membuat James tak ingin membuang waktunya. Sang putra mahkota tunggal itu segera berangkat menuju istana Ardarish.
...****************...
Selepas menyelesaikan sarapan pagi, Hans rupanya berubah pikiran. Hans kembali memasuki kamar dan berniat untuk mengemasi pakaiannya pagi itu. "sepertinya aku harus mengemasi pakaian sekarang. aku takut kelupaan" gumamnya sembari menggaruk garuk pucuk kepalanya yang tak gatal.
"ya sudah lah. ku kemasi sekarang saja" tanpa pikir panjang, Hans pun segera melancarkan rencananya.
Di dalam kegiatannya, tiba tiba Royland datang karena melihat pintu kamar Hans yang terbuka lebar. "Hans? kau tidak jadi berangkat?" tanya Royland sembari berjalan mendekati adiknya.
Mendengar suara sang kakak yang tiba tiba, Hans pun sedikit terkejut dan sontak menoleh. "ah kau ini membuatku terkejut saja. aku belum berangkat kak. karena ku rasa akan lebih baik jika aku mengemasi pakaianku sekarang" jawabnya panjang.
"haha, iya iya benar. kau itu pelupa, kemasi sekarang saja" singgung Royland dengan nada bicara guraunya.
Meski disinggung sang kakak, Hans justru tertawa. "iya kakak benar, hahaha" gumamnya. Diambil lah kemudian sebuah tas besar mirip koper, tetapi tanpa roda di dalam laci lemarinya. "memangnya kita akan bermalam disana berapa hari kak?" tanya Hans dengan kedua tangannya yang masih sibuk membuka resleting tas.
Karena tak mengerti jawabannya, Royland pun menaikkan kedua bahu lebarnya. "entahlah, aku juga tidak tahu. tapi, kata ayah bawa 4 set baju saja" balasnya.
"ah baiklah kalau begitu" tanpa menoleh dan masih sibuk dengan kegiatannya, Hans pun menggumam seadanya.
...****************...
Dengan laju berkudanya yang cukup kencang, tak lebih dari 15 menit pun James akhirnya sampai di istana Ardarish. Di ketuknya pintu istana tersebut dan disambutlah ia dengan pelayan istana Ardarish.
"aku ingin menemui putri Rosemary, apa dia ada di istana?" tanya James sopan.
Mengangguklah pelayan tersebut dengan pandangannya yang tertunduk. "ada pangeran, silahkan masuk. akan kami panggilkan putri Rosemary" balasnya.
Setelah dipersilahkan masuk, James pun memasuki istana dengan sopan. Ditunggulah sosok Rosemary itu di ruang tamu istana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...