I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
JAHIL



Dengan laju berkuda yang cukup cepat, James akhirnya sampai di toko aromatherapy milik Alisa. Dibukalah perlahan pintu toko tersebut. Pria rupawan bermata biru itu seketika mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko, yang dibanjiri pelanggan itu. Dilihatnya juga, Alisa yang sedang sibuk mengemasi beberapa produk ke dalam kardus.


Raut wajahnya mendatar ketika melihat sosok Alisa. Namun, ke khawatiran pada sang ayah lah yang membuatnya yakin untuk datang ke toko itu. Meski sempat terdiam sejenak, James pun akhirnya berjalan mendekati Alisa. Ia berniat untuk menanyakan keberadaan ayahnya pada gadis tersebut.


Sebelum James membuka suara. Alisa sudah terlebih dulu berucap ketika ia telah melihat kedatangan James. "ah pangeran James? kau kemari? apa kau bisa membantu ku? aku kuwalahan" ujarnya panjang, sembari sesekali mengelap keringat yang membasahi keningnya. 


James itu masih terdiam melamun saat melihat kegigihan sosok Alisa. Hatinya tiba tiba terasa iba. Raut wajahnya berubah sendu dikala menatap gadis mandiri tersebut.


"aku tidak salah dengar kan? kau barusaja meminta pangeran James untuk membantumu? dimana letak kesopananmu?!" salah satu pelanggan pria tiba tiba menyaut tak terima, setelah mendengar ucapan Alisa yang meminta James untuk membantunya.


Lamunan James seketika terbuyarkan, pandangannya ia arahkan pada sosok pria tersebut. "kau tak perlu khawatir, aku sudah biasa membantunya mengemasi barang!" balasnya lantang.


Pria tersebut sontak tertunduk, mendengar nada bicara James yang cukup lantang itu. "ah baiklah kalau begitu, pangeran. hanya saja, ucapannya terkesan seperti kurang sopan denganmu" ujar pria tersebut.


"tidak, karakternya memang seperti ini" balas James seraya berjalan menghampiri Alisa dengan raut wajah datarnya.


Alisa disana hanya terdiam. Ia kembali tertegun dengan perlakuan James padanya. Gadis berambut coklat sebahu itu tak menyangka jika James membela dirinya.


"mana barang yang harus dikemasi?" tanya James dengan arah pandangannya yang tertuju penuh pada Alisa.


Gadis yang sedang terdiam itu sontak membulatkan kedua matanya. Baru kali ini James menatapnya begitu dalam. Kedua mata biru milik pria rupawan itu terlihat begitu bersinar di pandangan Alisa. 


"hey, kenapa kau malah melamun?!" melihat Alisa yang hanya terdiam melamun itu, James pun sedikit menggetaknya.


Getakan James seketika membuat Alisa tersadar dari lamunannya. "ah maaf, itu ada 4 produk berwarna ungu di bufet. ambillah, lalu masukkan kedalam kotak" ujarnya.


Ditolehlah bufet yang Alisa tunjuk tersebut. "baiklah, akan ku kemas" balas James.


Kedua insan dengan derajat yang berbeda itu, kemudian menyelesaikan tugas mereka melayani pelanggan.


...**************** ...


Sementara itu, sepasang kekasih anak bungsu dari kerajaan Ardarish dan Elevan, akhirnya sampai di ruang keluarga yang berisi banyak para insan bangsawan tersebut. Dipandanginya kedua insan itu oleh seluruh anggota keluarga. Kerukunan dan kedamaian mereka membawa energi positif untuk semua pihak keluarga. Terutama sang raja dan ratu. Insan kepercayaan rakyat tersebut tak mampu menyembunyikan raut wajah bahagia mereka.


"siang ayah, ibu. raja, ratu" ujar mereka yang tidak sengaja terucap secara serentak.


Hans dan Rosemary pun sontak saling pandang dan tersenyum kaku. Kedua insan itu berlagak gugup, seusai tak sengaja berucap secara serentak.


Melihat tingkah laku anak muda kasmaran tersebut, seluruh anggota keluarga seketika terkekeh.


"ahahha, iya nak. kemari duduklah kalian" selepas puas tertawa, raja Charless pun mempersilahkan anak dan menantunya itu untuk duduk.


Mendengar permintaan sang ayah, Hans pun segera mengajak Rosemary untuk duduk, dengan tangan kanannya yang masih setia menggenggam tangan Rosemary.


"jadi sebenarnya, kami berencana untuk mengajak kalian semua berlibur, raja" sang pemimpin rakyat Elevan itu berucap tanpa aba aba.


Sehingga membuat Rosemary dan Hans seketika saling pandang dengan kedua matanya yang membulat.


"berlibur? boleh saja. memangnya, rencana akan berlibur kemana?" raja Handry menjawabnya agak sedikit ragu, beliau berucap seraya melirik Bella. Putri pertamanya yang sedang mengandung itu, membuat raja Handry ragu untuk pergi berlibur.


"ya, sebenarnya bukan aku yang merencanakan liburan ini. tapi, apa kau ingat? setelah konferensi negri tempo lalu. kita di undang untuk menghadiri acara Suka Raya di Golden House" ujar raja Charless dengan tangan kanannya yang meraih sebuah kue manis di atas meja.


Raja Handry pun kemudian mencoba mengingat tentang undangan tersebut. Kedua matanya menyelisik, menatap ke arah langit langit istana. "oh iya. undangan itu ya. iya aku ingat sekarang" ujar beliau dengan sumringah.


Sang pemimpin rakyat Elevan itu sontak mengacungkan jari telunjuknya. "nah, jadi bagaimana kalau kita mengajak seluruh anggota keluarga kerajaan saja?" tawar raja Charless. 


Lagi dan lagi, raja Handry kembali memandang sendu putri pertamanya itu. Beliau masih meragukan hal tersebut untuk disetujui atau tidak. "hmm, bagaimana ya?" gumam beliau.


Melihat ayahnya yang sedang bingung sembari memandang dirinya, Bella paham dengan apa yang dibingungkan oleh sang pemimpin rakyat Ardarish itu. "tidak apa apa ayah, aku dan bayiku sehat sehat saja kok. asalkan aku tidak melupakan makan teratur dan juga istirahat" ujar Bella sopan.


Clark selaku sang ayah dari bayi yang dikandung Bella itu, kemudian juga menguatkan pernyataan yang diucapkan istrinya. Dielusnya perut Bella sembari tersenyum manis. "iya ayah, ayah jangan khawatir. aku juga akan menjaga istriku dengan baik" sautnya.


Pernyataan sepasang suami istri tersebut terdengar melegakan di telinga sang ayah. Tersenyumlah raja Handry dengan lega. "baiklah kalau begitu" gumam beliau. "aku yakin semua orang pasti setuju" ujar beliau dengan pandangannya yang mengedar ke seluruh insan yang berada di ruang keluarga itu.


"ya kalau aku sendiri sih mau mau saja, ayah. apalagi kalau ada Rosemary." Hans dengan sifat jahilnya yang mulai keluar itu berucap dengan santainya. Raut wajahnya terlihat tanpa rasa gugup sama sekali, terbentuklah juga sebuah senyuman seringai di bibirnya.


Berbeda dengan Rosemary, gadis itu seketika membulatkan kedua matanya. Disenggollah siku Hans itu secara spontan. "kau ini, jangan membuatku malu!" ujarnya lirih.


Kedua raja dan kedua ratu di negri Fanlyland tersebut sontak terkekeh. Begitu juga dengan keempat kakak mereka.


"baiklah baiklah. seingatku acara Suka Raya diadakan tanggal 24 ya?" seusai tawanya terhenti, raja Handry pun mulai bertanya tentang kepastian waktu acara tersebut.


"iya, tepatnya besok lusa" balas raja Charless.


"wah berarti sudah dekat, ku kira masih lama" saut Auraline dengan raut wajahnya yang sedikit tertegun.


"kalau masih lama, itu pernikahan kita Aura" putra kedua Elevan mulai tertulari sifat jahil adiknya. Dengan santainya juga, Royland bergurau di depan kedua orang tuanya.


Mendapat gurauan itu, Auraline hanya tersenyum malu. Kedua pipinya sontak memerah. Terutama saat mendengar deraian tawa dari semua anggota keluarganya.


Ditudingnya sang kakak itu sembari memandang sang ayah. Dengan deraian tawanya yang masih terdengar. "wah, rupanya kakak ingin segera menikah juga, ayah!" gumam Hans.


"ah tidak, aku hanya bergurau ayah" kedua tangannya sontak melambai lambai, arah pandangannya tertuju pada sang ayah. "kau ini Hans!" ujarnya lagi seraya menatap Hans tak terima.


Raja Charless hanya terkekeh sembari menggeleng geleng kan kepalanya pelan. "kau yakin hanya bergurau, Roy?" tanya beliau dengan tawa kecilnya yang masih tersisa.


"iya ayah, aku hanya bergurau" pertanyaan itu membuat Royland merasa menyesal telah menggurau. Kedua pipinya seketika ikut memerah.


Hans yang menyebalkan itu masih saja menertawakan sang kakak yang terdiam malu. Sehingga tawa tersebut terdengar risih di telinga sang kakak. "awas kau Hans!" ditataplah intens adiknya itu sembari menggumam lirih.


Bukannya takut, Hans justru mengejek sang kakak dengan memainkan lidahnya keluar bibir.


Suasana di ruang keluarga istana siang hari itu benar benar membahagiakan, terutama untuk Rosemary dan Hans sendiri.



..."Melaksanakan pernikahan itu harus didasari dengan segala kesiapan, kematangan, dan kemapanan"...


...-Royland Cliffer de Elevan-...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...