
"Terakhir kakak melihatnya ada dimana?". Tanya Hans kepada Auraline.
"Terakhir aku melihat dia menuju kamarnya, setelah itu ia keluar kamar lagi entah ia kemana". Jawab Auraline yang tidak mengetahui keberadaan Rosemary.
"Coba saja kau cari, di tempat favoritnya di istana ini barangkali ia berada di sana". Kata Royland.
"(mengangguk)".
"Benar juga kak, setahuku dia selalu berada di taman istana". Jawab Hans.
"Kalau begitu cari saja disana". Kata Auraline.
"Baiklah, kalau begitu. Aku tinggal dulu ya kak". Pamit Hans.
"Iya". Balas Royland.
Hans mulai mencari Rosemary ke taman istana, tetapi ternyata ia sedang tidak ada disana. Hans semakin bingung, kemana Rosemary pergi, tidak biasanya ia seperti ini. Kemudian ia mencoba mengetok pintu kamar Rosemary, tetapi juga tidak ada jawaban. Hans kembali ke ruang tamu untuk mengatakan kepada kakaknya.
"Sudah bertemu dengan Rosemary?". Tanya Auraline.
"Belum".
"Dia juga tidak ada dikamarnya. Apa dia pergi kak?". Tanya balik Hans sedikit khawatir.
"Sebentar, kau jangan panik dulu, mungkin saja ia berada di ruang tenun. Sebentar ya". Kata Auraline.
"Iya kak".
"Maaf ya membuatmu terganggu". Jawab Hans.
"Tidak apa apa". Balas Auraline kemudian berjalan menuju ruang tenun.
Setelah pintu ruangan dibuka, benar saja Rosemary sedang menenun kain. Rosemary berpikir hari-harinya akan berjalan membosankan jika tidak melakukan apapun, karena jurnal semua putri diliburkan sebab semua guru berpartisipasi terhadap persiapan pernikahan Bella. Ia juga tidak mengetahui kalau Hans akan kemari.
"Rose".
"Aku mencarimu dari tadi. Ada Hans dibawah, dia juga dari tadi mencarimu". Kata Auraline.
"Ah benarkah?".
"Ku rasa waktu ku sedang luang kak, jadi aku memutuskan untuk menenun saja". Jawab Rosemary sambil berjalan menghampiri Auraline yang berada di tengah-tengah pintu.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita turun. Ajak Auraline
Mereka pun segera turun dari lantai 2.
"Hans".
"Maaf ya. Aku membuatmu bingung mencariku". Ucap Rosemary pada Hans memohon maaf.
"(tersenyum)".
"Iya tidak apa apa. Yang terpenting sekarang aku sudah bertemu denganmu". Jawab Hans santai.
"Ada apa kemari? adakah informasi penting, tetapi ayah sedang keluar". Tanya Rosemary.
"Kau ini bagaimana Rose".
"Jelas jelas Hans kemari ingin bertemu denganmu". Saut Auraline bergurau.
"(tertawa kecil)".
"Aku rasa dia gugup, karena sudah lama tidak bertemu". Kata Royland.
"(tertawa)".
"Ah tidak. Ku kira kalian mencari ayah". Jawab Rosemary.
"(tersenyum)".
"Tidakk, aku kemari hanya ingin mengunjungimu, Rose". Ucap Hans.
"Ohh iyaa Hans".
"Tunggu sebentar ya, aku ada sesuatu untukmu". Kata Rosemary menyuruh Hans untuk menunggunya.
"Mau kemana lagi kau?". Tanya Hans.
"Sebentar, aku ke kamar dulu". Jawab Rosemary sambil berlari kecil menuju kamarnya.
Rosemary berniat untuk memberikan boneka rajut yang ia buat untuk Hans.
Sesampainya di kamar, Rosemary bergegas mengambil boneka tersebut kemudian kembali ke ruang tamu istana.
"(menyembunyikan boneka rajut dibalik kotak hadiah)".
"Kemarilah, Hans". Pinta Rosemary dengan satu tangannya yang melambai lambai ke arah Hans.
"(mengangguk)".
"Iya, aku kesana". Jawab Hans.
Hans kemudian menghampiri Rosemary.
"Ada apa Rose?". Tanya Hans.
"Tidak apa apa. Ayo kita ke taman saja". Ajak Rosemary.
"(tersenyum)".
"Baiklah, ayo". Jawab Hans.
Mereka pun kemudian menuju taman.
"Duduklah disini dulu (duduk)". Ajak Rosemary.
"(duduk)".
"Iya ada apa, sepertinya penting?". Tanya Hans penasaran dan tidak mengetahui jika ia hendak diberi hadiah oleh Rosemary.
"(memberikan kotak yang ia pegang)".
"Ini, terimalah. Ini imbalan dari bunga daisy yang kau berikan kapan lalu padaku. Semoga suka (tersenyum)". Kata Rosemary.
"(tersenyum sumringah)".
"Terima kasih. Apa ini? (membuka kotak)". Gumam Hans.
"Bagaimana?".
"Suka? anggap saja boneka berbaju pink itu aku, sedangkan boneka berbaju biru itu kau". Kata Rosemary.
"(tersenyum lebar)".
"(tersenyum)".
"Tentu saja, aku membuatnya sendiri. Aku senang, kau menyukainya". Jawab Rosemary.
"Sangat sangat menyukainya".
"Aku akan membawanya saat pelatihan nanti, agar selalu mengingatmu kapanpun dan dimanapun (tersenyum)". Kata Hans.
"(tersenyum)".
"Bawalah. Aku beruntung punya kekasih sepertimu". Ucap Rosemary senang.
"Sejak kapan kau jadi kekasihku?". Gurau Hans.
"Entahlah. Yang terpenting, kau itu milikku".
"(tertawa)".
"Itu yang semalam kau katakan padaku". Balas Rosemary.
"(tertawa)".
"Beruntungg dari segi apa?". Tanya Hans.
"Kau itu rendah hati dan humoris. Setiap aku bersamamu, aku selalu melupakan kesedihan kesedihan yang ku alami". Jawab Rosemary.
"(tersenyum)".
"Aku juga beruntung memiliki mu. Kau itu perempuan yang mahal. Tidak seperti perempuan - perempuan diluar sana". Ucap Hans.
"(tersenyum)".
"Ah tentu saja, Rosemary itu berbeda dari yang lain". Balas Rosemary.
...****************...
Sementara itu di istana Endonie. James yang sedang bersantai di kamarnya itu tiba tiba memikirkan pernyataan sang guru tentang adanya jiwa yang bereinkarnasi di negri itu.
"Aku tidak yakin, jika yang dimaksud guru itu adalah Rosemary. Tapi kenapa, ciri ciri yang dikatakannya sama dengan dirinya". Gumam James.
"Ia juga pernah berkata, kalau dirinya sedang jatuh koma dan tiba tiba terbangun di istana itu. Jika memang jiwa itu adalah Rosemary. Lantas, jiwa mana lagi yang juga bereinkarnasi?". Gumam nya lagi.
James sedikit mulai percaya dengan ucapan Rosemary itu. Namun, karena ketidak masuk akalannya. Membuat dirinya masih ragu untuk percaya.
"Lain kali, aku akan mencoba bertanya lebih detail padanya". Ucapnya.
Tiba tiba, datanglah raja Rolland yang mengajaknya untuk makan siang.
"James?".
"Kau tidak makan siang?". Tanya raja Rolland.
"(menoleh)".
"Ah iya ayah. Aku akan segera makan siang". Balas James.
...****************...
Kembali pada Rosemary dan Hans yang sedang berdua di taman istana.
"(menengok leher dan tangan Hans)".
"Luka mu sudah kering ya". Ucap Rosemary.
"(mengangguk)".
"Sudahlah. Luka ini kan sudah cukup lama". Balas Hans.
"Tapi bekasnya masih ada". Ucap Rosemary.
"(tersenyum)".
"Apa kau keberatan menerima sosok Hans yang punya bekas luka ini?". Tanya Hans.
"(tertawa kecil)".
"Tidak lah. Justru bekas luka ini lah yang menjadi saksi pengorbanan dirimu untukku". Balas Rosemary.
"(tersenyum)".
"Hati rasanya ingin mencium, tapi belum waktunya". Ucap Hans.
"Tapi, kau pernah mencium keningku". Balas Rosemary.
"Yang ku maksud bukan kening". Ucap Hans.
"(menutupi bibirnya)".
"Jangan ya. Kalau kau mau, nikahi dulu". Balas Rosemary.
"(tertawa)".
"Kau serius ingin menikah?". Gurau Hans.
"(tertawa)".
"Bukan begitu maksudnya. Maksudku, jika kau ingin menyentuh bibirku, kau harus menikahi ku dulu". Balas Rosemary.
"Ah begitu".
"Bukan karena kau yang ingin menikah (senyum seringai)?". Gurau Hans lagi.
"Ah tidaklah, mana mungkin". Balas Rosemary.
Mereka berbicara dan bergurau hingga sore. Setelah melihat suasana langit sudah mulai memerah. Kedua pangeran itu pun kembali pulang ke istananya.
...****************...
Keesokan paginya, hari berjalan dengan lancar seperti biasa. Rosemary kembali menjalani harinya dengan baik. Merawat tanaman kesayangannya adalah kegiatan yang sangat ia gemari.
Dan disaat itulah, tiba tiba James datang menghampirinya.
"James?".
"Ada perlu apa kau kemari?". Tanya Rosemary.
"(tersenyum)".
"Ada yang mau ku bicarakan padamu, Ailee". Balas Rosemary.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...