
Kedua sudut matanya mulai terisi air. Disandarkanlah punggung gagahnya itu di sofa. Matanya terpejam seraya menahan tangis ketika merindukan mendiang sang ibu. Akan tetapi ia tetap tak mampu menahan air itu agar tak terjatuh. Sudut mata kirinya mulai meneteskan air dan membasahi pipinya.
"ibu, aku rindu sekali padamu" gumam James dengan kedua telapak tangannya yang menutup rapat wajahnya itu.
Bagaikan di terjang badai habis habisan. Di hari itu, James batinnya benar benar lelah. Begitu juga dengan raga nya yang tadi berulang kali ia tegangkan ketika emosi. Ia tak mengutarakan apapun lagi dan berdiri menghampiri ranjangnya untuk merebahkan diri.
"ibu, kali ini aku benar benar membutuhkan kehadiranmu, ibu" gumamnya sendu. Air matanya terus menetes pelan. Diusapnya air yang terus menetes itu dengan tangan kanannya.
Di kala ia menangis dengan tubuhnya yang masih terbaring lemah diatas ranjang, tiba tiba terdengar suara ketukan pintu.
"tttokkk ttok" ketukan pintu itu terdengar berkali kali, lantaran James tak kunjung menyaut ataupun membukanya.
James tak menghiraukannya, ia masih terbaring dengan wajah yang ia tutupi dengan lengan kanannya.
"tttokk tok ttok" karena tak mendapat jawaban, suara ketukan itu terdengar semakin kencang.
Seketika telinganya merasa risih, James menggeram kesal dan terpaksa membangunkan diri dari ranjangnya. Dibukalah pintu itu dengan kasar. Dan dilihatnya seorang wanita tengah berdiri di depannya sembari membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Kedua matanya membulat, ia mencoba mengenali siapa wanita itu. Tapi, nyatanya ia memang tidak mengenalnya. "siapa kau?" tanya James.
Wanita itu menjawab dengan malas. Karena kesal, James tak kunjung membukakan pintunya. "lama sekali kau membuka pintunya. ini hidangan pagi dari ayahmu. aku diminta beliau untuk mengantarkannya padamu" ujarnya datar, seraya menodongkan nampan itu pada James.
James tertegun sejenak, pandangannya tertuju pada nampan berisi hidangan yang ditodongkan oleh wanita itu.
"terimalah, kau belum makan" ucapnya halus sembari mengangkat tangan James untuk menerima nampan itu, kemudian segera berbalik dan pergi meninggalkannya.
James masih tertegun, dirinya hanya terdiam memandangi kepergian wanita yang tidak ia kenali itu. "siapa dia?" gumamnya lirih.
...**************** ...
Setumpuk buku berdebu yang berjumlah 15 tadi, telah Hans bersihkan. Ditatanya rapi buku buku itu ke dalam rak.
"akhirnya selesai juga" gumamnya.
Di kala dirinya hendak kembali menuju ruang baca, ia tiba tiba terhenti dan melihat sebuah buku yang menarik baginya. Buku itu tampak begitu mewah, sampulnya berwarna merah maroon dan di setiap sudut pada sampulnya juga terlapisi sebuah logam berwarna emas.
"dua insan istimewa? wah sepertinya ini buku romansa. aku harus menyimpannya. siapa tahu Rosemary tertarik dengan buku ini" ujarnya seraya mengambil buku tersebut dengan tangan kanannya.
"Hans?! apa kau di dalam ruang buku?! kemarilah, bantu aku mengangkat bangku!" teriak Royland dari ruang baca.
Hans sontak menoleh dan menyautnya. "ah iya kak. aku akan segera kesana" teriaknya balik.
Segeralah dirinya menghampiri sang kakak yang sedang memerlukan bantuan itu. Dan sesampainya di ruang baca, dilihatlah sebuah buku yang sedang digenggam oleh Hans.
"buku apa itu? kenapa terlihat mewah sekali" tanya Royland dengan pandangan bingungnya.
Hans seketika menaikkan bahunya. "aku tidak tahu, tapi sepertinya ini buku romansa" jawabnya.
"oh, ku sangka buku apa" raut wajahnya seketika mendatar, dan nampak terlihat tidak tertarik dengan buku yang Hans bawa. "ya sudah, ayo bantu aku mengangkat ini!" pinta nya seraya mengayunkan tangan kanannya.
"iya iya kak" Hans segera mendekat dan bergumam dengan muka malasnya.
...**************** ...
Sementara itu, James masih termenung di dalam kamarnya sembari memandang nampan yang telah wanita tadi berikan padanya.
"siapa dia?" gumam James bertanya tanya.
Karena rasa penasarannya yang begitu tinggi, James mencoba untuk keluar dari kamarnya dan menghampiri wanita tersebut. Dibukanya pintu kamar itu pelan pelan, dengan langkahnya yang juga begitu halus. James terus melangkah menuju ruang makan, tapi masih tak menemukan wanita itu.
"kemana dia?" James terus menoleh kesana kemari, untuk menemukan keberadaan wanita tersebut. Namun, nyatanya ia tidak ada di dalam ruang makan.
Raja Rolland yang melihat kehadiran anak semata wayangnya itu sontak tersenyum dan menyapa. "James?" ucapnya dengan pandangan tulusnya.
Tanpa basa basi, James langsung bertanya tentang siapa wanita tak dikenal yang berada di istananya itu. "siapa dia ayah?" tanya nya.
"kau tidak perlu tahu siapa aku. tapi setidaknya, kau sebagai anak bisa menghargai ayahmu!" wanita itu segera menjawabnya dengan cukup lantang.
"ha? apa maksudmu mengatakan hal itu?!" emosinya seketika terpancing keluar, James kembali bertanya denga nadanya yang hampir meninggi.
Wanita itu mendekat, dan membisikkan sebuah pernyataan pada James. "asal kau tahu, ayahmu hampir saja bunuh diri di dekat sungai Asahan!" ucapnya ketus namun terdengar begitu lirih.
James terkaget, matanya mendadak melotot. Ia tak percaya jika ayahnya akan senekat itu. "Apa?! kau pasti berbohong!" balas James dengan lantangnya.
"James, semua yang dikatakannya benar" saut raja Rolland halus, pandangannya kembali tertunduk pilu.
"kenapa ayah mau melakukan itu?" James mencoba mendekati ayahnya, ia melangkah lemas setelah mendengar pernyataan itu.
Raja Rolland menggeleng meski masih tertunduk. "ayah sudah terlalu banyak merugikan orang lain" ujarnya pelan.
Pria berbadan tegap itu seketika berlutut di depan ayahnya. "tapi bukan berarti ayah harus melakukan perbuatan keji itu. apa ayah tega meninggalkan aku sendiri di istana ini?" ucap James halus. Kedua matanya telah berbinar binar.
"ayah sudah tidak punya harapan lagi, ayah bingung apa yang harus ayah lakukan" kedua mata raja Rolland ikut berbinar binar. Ia terlihat begitu merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan di masa lampau.
Digenggamnya erat tangan ayahnya itu sembari dicium. "ayah, jalani saja kehidupan ayah seperti biasa. tapi, kali ini hilangkan hal buruk yang pernah ayah lakukan di masa lalu" ujarnya seraya meneteskan air mata dari kedua sudut mata birunya.
Raja Rolland hanya mengangguk dengan tangisnya yang mulai menjadi. Dirinya meringkuk di atas sofa, tubuhnya pun sedikit bergetar karena tangisannya.
"sudah ayah, jangan menangis. aku tidak ingin melihat ayah menangis" ujar James pelan.
Raja Rolland mengangguk dan menghentikan tangisnya, dieluslah tangan James yang tengah menggenggam tangannya itu. Ditolehnya juga wanita yang tak dikenal tersebut, kemudian dipanggil.
"Alisa? kemarilah nak" pintanya halus.
James sontak ikut menoleh ke arah Alisa. "Alisa? siapa dia ayah?" tanya nya.
Diberikan lah tangan kanannya, untuk mengajak bersalaman. "perkenalkan, namaku Alisa" ucapnya singkat.
James menerima salaman itu dan menjawabnya. "aku James" jawabnya.
"sudah tahu" masih dengan wajah datarnya, Alisa menggumam singkat tanpa memandang wajah James.
Dadanya seketika membusung, emosinya hampir keluar ketika mendengar gumam Alisa yang terkesan menyebalkan. Namun, emosinya tertahan saat ayahnya mulai berbicara.
"Alisa tadi yang menyelamatkan ayah, sehingga ayah tidak jadi bunuh diri" ucap raja Rolland.
"oh, ya sudah terima kasih" James melirik singkat wajah Alisa kemudian kembali menunduk.
"dia bukan putri kerajaan. dia anak saudagar besar, Jacob Arvent" jelas raja Rolland dengan pandangannya yang tertuju penuh pada sang anak.
"Jacob Arvent? pemilik toko aromatherapy di pusat kota itu?" tanya James, yang sepertinya mengenal sang ayah dari Alisa.
"iya, James" saut singkat Alisa.
"terima kasih Alisa, kau telah mencegah saya untuk tidak melakukan hal buruk tadi" ujar raja Rolland seraya memandang wajah Alisa dengan tersenyum.
Alisa mengangguk dan membalas senyuman itu. "iya raja sama sama. kalau begitu, saya pamit dulu" merasa urusannya telah usai, Alisa memutuskan untuk pulang.
"sebentar, saya harus membawakan buah tangan untuk kau berikan pada keluargamu" melihat Alisa hendak pulang, raja Rolland segera berdiri dan berniat memberikan Alisa buah tangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...