I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
GURU



"awalnya, ku kira kak Hans orang yang pemarah dan keras kak. tapi nyatanya tidak" gumam William pelan, dengan pandangannya yang tertunduk.


Kedua mata indah Rosemary masih senantiasa memandangi langit, dan tersenyum. "sudah kuduga, Will. kau pasti mengiranya seperti itu. tapi sebenarnya dia memang orang yang keras dan tegas. namun, tidak kepadaku. dia akan seketika luluh jika sedang bersamaku" ucap Rosemary seraya mengayun ayunkan kakinya ke atas dan kebawah secara berlawanan.


"lalu, padaku? apa dia akan mengajariku dengan keras?!" William mendadak parno, raut wajahnya seketika panik. Dengan tatapannya yang nampak seperti menerka nerka. 


Rosemary terkekeh mendengar ucapan sang adik itu, seketika ia menoleh ke arah William. "tentu saja tidak, Hans itu bisa membedakan mana yang perlu ditegasi dan mana yang perlu dihalusi" gumamnya.


"ah syukurlah" William menghela nafasnya lega seraya mengusap pelan dadanya dengan tangan kiri.


...****************...


"tidak bisakah kau menjauh dariku?" mendenger ucapan Gloria, James merasa risih. Dia benar benar terlihat seperti wanita murah. Bagaimana tidak, semua lelaki yang ia anggap tampan ia dekati tanpa melihat status mereka sedang single atau sudah berpasangan.


"menjauh? kau ingin aku menjauhimu?" Gloria itu terdiam di tempatnya dan mengolor waktu agar James tak kunjung masuk ke dalam kamarnya.


Karena tak mendapat jawaban yang ia inginkan, James seketika mendekat ke arah Gloria dan ditatapnya wanita itu dengan intens. "pria mana yang mau di dekati dengan wanita murahan sepertimu?" ucapnya berbisik.


"apa?! murahan? apa maksudmu?! bukankah Rosemary lah wanita murahan itu?! bahkan dia saja mau kau ajak ke ruangan pribadimu!" amarahanya seketika memuncak. Lagi dan lagi, Gloria menyangkut pautkan masalah itu dengan Rosemary.


Kedua bola matanya seketika membulat, ditangkupkan lah tangan kanannya dengan kasar ke wajah Gloria. "kau ini ya! tidak bisakah kau tidak menyangkutkan namannya?! asal kau tahu! aku mengajaknya ke ruangan pribadiku untuk memberi tahunya, soal ancaman yang kau buat dengan ayah dan sekutu!! aku tidak ingin dia terluka karena kalian!!" tidak hanya Gloria, emosi James juga ikut memuncak. Ia berucap panjang dengan nadanya yang ia tinggikan.


"memangnya, kau tidak mau jika Rosemary jadi milikmu? aku saja ingin memiliki Hans" bukan Gloria namanya jika ia tidak memanipulasi orang. Bukannya merasa bersalah, ia justru terpikirkan sebuah rencana buruk.


"apa maksudmu?!" James dengan emosinya seketika melepaskan tangkupan tangannya dan memalingkan pandangan dari Gloria.


"ya, kita bisa bekerja sama. aku akan merebut Hans dan kau bisa merebut Rosemary" alis kirinya menaik, sudut bibir kirinya juga terangkat sehingga terlihatlah sebuah senyuman jahat yang tercipta di wajahnya.


James tersenyum kecut seraya mendecak. Arah pandangnya kembali pada Gloria. Diacungkan lah jari telunjuknya untuk menuding wanita licik nan murahan itu. "semalam, kau bilang kau mencintaiku. tapi, sekarang kau malah ingin merebut lelaki milik wanita lain?! apa itu bukan murahan namanya?!!" tegas James.


"kau kira aku tidak lelah menunggumu selama ini?! aku lelah James, kau tak pernah menganggapku ada!" pernyataan itu lolos begitu saja dari mulut Gloria.


James terdiam sejenak, ia memalingkan pandangannya dan menghela nafas panjang. "berubahlah kau seperti Rose. jika kau ingin aku mencintaimu" gumamnya lirih, badannya melemas dan pandangannya menunduk. Ia kemudian berjalan pelan memasuki kamarnya begitu saja dan mengunci pintu.


"ha?! apa yang harus ku rubah dariku? kau memang sudah terbutakan oleh Rose, James!" Gloria yang tinggal sendiri itu bergumam lirih dan kembali menyalahkan Rosemary sebagai problem utamanya.


...****************...


Sementara itu, Hans yang sedang membantu kakaknya membereskan perpustakaan istana itu sedang batuk batuk karena debu yang bertebaran.


"uhuk uhukk. kak, debunya banyak sekali, uhuk" gumamnya.


"sudah lama sekali memang, aku tidak masuk kesini" ujar Royland seraya menata beberapa buku ke dalam rak.


"mengapa para pelayan tidak diperbolehkan masuk kemari, kak? kalau boleh kan enak, kita tidak perlu repot repot membereskannya. uhuk" debu yang begitu banyak itu membuat Hans terbatuk batuk, sehingga dirinya merasa malas untuk membereskan perpustakaan itu.


"entahlah, aku juga tidak tahu, Hans. ayah yang tidak memperbolehkan mereka masuk" jawab Royland dengan dirinya yang masih sibuk menata buku.


Merasa debunya semakin banyak dan mengelilingi dirinya, Hans berniat mengambil sebuah kain untuk ia jadikan masker. Tapi, malangnya, ia tak menemukan sedikit pun kain untuk bisa digunakan. Sehingga ia menutupi wajahnya dengan lengan kirinya seraya membersihkan buku buku yang menumpuk dan berdebut tersebut. 


Ketika ia sedang berganti buku, ia menemukan sebuah buku ilmu ksatria. "wah, aku menemukan buku yang berguna!" gumamnya sumringah.


"semua buku itu berguna, Hans" saut Royland dari dalam ruang rak buku.


Hans terkekeh malu, kedua matanya menyipit. "aku bisa menggunakan buku ini untuk memaksimalkan pelajaran pertamaku pada William" ujarnya.


"pelajaran? kau mau jadi guru?" Royland datang menghampirinya sembari membawa setumpuk buku yang berdebu.


Raut mukanya seketika masam melihat buku berdebu itu lagi. "ah masih ada saja buku yang berdebu" gumamnya.


Royland meletakkan setumpuk buku kotor yang kira kira berjumlah 15 buku itu diatas meja. "kau mau jadi guru?" tanyanya penasaran.


"tidak, aku hanya diminta Rose untuk mengajari basic ilmu ksatria pada adik sepupunya" balas Hans dengan kedua tangannya yang sibuk mengayun ayunkan kemucing.


"ah begitu rupanya" guman Royland dengan badannya yang masih berdiri di depan meja. Kemudian, di tunjuklah tumpukan buku berdebu itu pada Hans. "itu ya, jangan lupa dibersihkan juga" ucapnya.


Hans melirik malas. "iya iya" balas Hans.


"yang semangat lah. lagipula tinggal sedikit kok" ujar Royland sembari menebas nebas kedua tangannya yang ikut berdebu.


"daritadi juga kakak bilang begitu. tapi ujung ujungnya juga masih banyak" Hans menggerutu, dengan kedua tangannya yang masih sibuk membersihkan buku buku.


Royland terkekeh melihat adiknya itu terus menggerutu. Diliriknya Hans itu dengan senyum seringainya. "kau ini, yang ikhlas lah" gurau Royland.


Hans tak menjawabnya dengan perkataan, melainkan hanya mengacungkan jempol kanannya pada sang kakak.


...**************** ...


Terduduklah seorang James di sofa tunggal kamar dengan amarahnya yang tak kunjung memusnah. Digebraknya meja yang ada di depan sofa tunggal itu berkali kali.


"brakk brakk brakk" suara tersebut terdengar berkali kali. Tapi, karena kamarnya begitu luas dan kedap suara, gebrakan itu tidak terdengar sampai keluar.


"sialan! wanita licik itu masih saja terlihat! haruskah aku pindah istana, agar dia tidak menghampiriku lagi!" gumamnya sembari mendengus kesal.


James merasa tidak terima atas ucapan Gloria yang mengatakan bahwa Rosemary adalah wanita murahan. Justru, Rosemary lah wanita paling berkualitas di matanya.


"berani beraninya dia menghina Rose wanita murahan!" kali ini wajahnya tertunduk, pelipis kanannya ia topang dengan punggung tangan, dengan sikunya yang betumpu pada pinggiran sofa. Serta satu kakinya yang naik ke paha.


"hari ini adalah hari paling melelehkan bagiku" wajahnya seketika mendongak menatap langit langit kamar, seraya menghela nafas panjang. "seketika, aku rindu pada ibu" gumamnya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...