
Selepas menikmati teh hangat, Hans pun akhirnya segera mengajak William untuk memulai pelajaran. Mengingat, waktu sudah menunjukkan pukul 7 lewat 30 menit.
Diletakkannya cangkir kosong itu diatas meja seraya melirik singkat ke arah jam dinding. "Will, ayo kita mulai sekarang" ujar Hans halus.
William yang tadinya diminta Hans untuk membaca sedikit buku ilmu kstaria miliknya itu, kemudian sontak menoleh. "baik kak, ayo. tapi kita akan belajar dimana?" meski bersemangat, William juga bingung hendak belajar dimana dia.
"kenapa kalian tidak memakai ruang belajarku dulu? tapi aku rasa sudah agak sedikit berdebu" Rosemary menengahi kebimbangan itu dengan menawarkan ruang belajar miliknya dulu.
"tidak apa apa, kita bisa membersihkannya, Rose" dengan sigap, Hans menyautnya. "dimana letak ruangannya?" merasa ruangan tersebut adalah tempat yang tepat. Hans pun menanyakan dimana lokasi ruangan tersebut.
"dari arah timur taman, kau bisa lurus saja. jika kau melihat sebuah ruangan dengan tanaman mawar di depannya, itulah ruang belajarku" jelas Rosemary.
"ah baiklah kak, kami akan kesana. terima kasih kak" semangatnya begitu membara. William segera beranjak dari duduknya dan melangkah pelan.
"kalau begitu, aku pergi dulu ya. jangan lupa makan ya, sayang" ujar Hans lirih dengan badannya yang beranjak berdiri kemudian menyusul langkah William.
Rosemary hanya tersenyum. Sejujurnya, ia tertegun dengan kata 'sayang' yang keluar dari mulut Hans. "sayang? aku tidak salah dengar kan? ku kira dia tidak tahu arti kata itu. makanya dia selalu memanggilku cinta" gumamnya lirih.
...**************** ...
Di pagi hari yang cukup cerah itu, telah James awali dengan tangisan bersama sang ayah. Pasalnya, mereka tak bisa menahan air mata ketika melihat makam mendiang ratu Cynthia.
Raja Rolland menangis sejadi-jadinya, badannya seketika tersungkur dan memeluk makam sang istri. "istriku, aku minta maaf. selama ini, aku tidak pernah mendengarkan nasehatmu" beliau benar benar menyesali perbuatannya. Diucapnya kalimat tersebut sembari sesenggukan.
James yang berada disampingnya sontak mencangkungkan badannya, kemudian memeluk sang ayah. Air matanya seketika terjatuh begitu saja. "ayah, ayah yang tenang ya. kita doakan saja ibu. ibu pasti sedih jika melihat ayah menangis seperti ini" ujar James seraya mengelus halus lengan sang ayah.
Raja Rolland menggeleng dengan air matanya yang terus terjatuh. "ibumu pasti membenci ayah. apa yang telah ayah lakukan sudah banyak membawa mala petaka untuk orang lain, terutama untuk ibumu" seorang raja yang licik itu akhirnya sadar seiring berjalannya waktu. Dirinya terus menangis sembari memeluk makam sang istri.
Diusaplah lagi dengan pelan lengan sang ayah. Pandangannya sendu menatap wajah ayahnya yang terbanjiri air mata itu. "jangan berpikiran seperti itu, ayah. aku yakin, ibu pasti bahagia melihat ayah sudah sadar dan mengakui kesalahan kesalahan tersebut. ayo kita doakan saja ibu" ujar James halus.
Sang ayah itu mengangguk pelan. Dihentikannya tangis itu perlahan lahan, dan mulai mengepalkan tangan mendoakan sang istri.
Selepas berdoa dan menaburkan bunga di atas makam mendiang ratu Cynthia. Raja Rolland memutuskan untuk pulang dan mengunjungi toko aromatherapy milik Alisa seperti yang beliau rencanakan tadi.
"sudah, ayo kita pulang James" ajak beliau seraya beranjak berdiri.
"kita benar benar akan pulang kan, yah?" masih dengan posisi bercangkungnya, James bertanya pada sanga ayah. Ia masih nampak tak setuju jika sang ayah mengajak dirinya mengunjungi toko Alisa.
"setelah dari toko Alisa, kita akan pulang" ujar raja Rolland.
James seketika memalingkan pandangannya dari sang ayah, dirinya mendecak kesal seraya melempar bebatuan kecil. "ku tunggu di dalam kereta saja ya" ucapnya lirih.
Bukannya marah melihat James yang melawan pendapatnya, justru raja Rolland terkekeh. "kau terlihat begitu membencinya" balas beliau halus.
Raja Rolland membungkukkan badannya dan menyeletuk. "jangan begitu, nanti kau bisa jatuh cinta padanya" celetuk beliau.
Mendengar hal itu, James sontak menegakkan badannya. "tidak! hal itu tidak akam terjadi, ayah. ya sudah, ayo kita segera berangkat" tingkahnya masih terlihat seperti anak kecil dimata raja Rolland. Beliau tidak terlalu menghiraukan nada bicara James yang tiba tiba meninggi itu dan tetap terkekeh kecil.
...**************** ...
Ruangan belajar yang sudah lama tak terpakai itu terlihat begitu berdebu. Raut wajah Hans seketika masam seusai melihat sekeliling ruangan yang berdebu. Ia tak menyangka jika debunya sebanyak itu.
"padahal, kemarin aku barusaja berhadapan dengan para debu, dan sekarang? aku harus berhadapan dengan mereka lagi?" gumamnya dalam hati.
"kak Hans duduk saja. biar aku yang membersihkan debu debu ini" karena tidak ingin terlalu merepotkan Hans, William mengajukan dirinya untuk membersihkan debu debu tersebut.
Raut wajah masamnya mendadak sumringah. "ah, baiklah. boleh ku tunggu diluar?" tanya Hans dengan jari telunjuknya yang mengacung ke arah pintu.
"boleh, tunggu diluar saja kak. ini tidak akan lama kok" William tersenyum dan mengangguk, menyetujui permintaan sang kakak ipar.
Hans pun kemudian berjalan keluar, ditunggunya di depan sembari tetap berdiri. Wajahnya mendongak, menatap langit biru yang berawan. Senyumnya seketika terukir, dirinya terus membayangkan wajah cantik Rosemary.
"jika ujungnya aku bisa bertemu dengan Rose begini, Hans ini tidak akan menyesal telah hidup di negri Fanlyland" gumamnya.
Tak lama setelah menggumam. William memanggilnya untuk masuk, dan dimulailah kelas pertama ilmu ksatria tersebut.
...**************** ...
Ketika James dan raja Rolland sudah hampir sampai di toko aromatherpy milik Alisa. James tiba tiba melihat keramaian di dekat warung makan. Dirinya yang tadi hanya terdiam sembari memandangi jalan dari jendela, tiba tiba menegakkan badannya dan membuka suara.
"ayah, ada apa itu? kenapa ramai sekali?" ujarnya panik seraya menunjuk ke arah warung makan tersebut.
Raja Rolland sontak menoleh ke arah yang James tunjuk. "mungkin ada pameran" balas sang ayah singkat.
James menggeleng, ia tak percaya jika keramaian itu hanyalah sebuah pameran. Karena, tiba tiba hatinya merasa gundah. Sehingga ia meminta kusir untuk berhenti.
Dihampiri lah keramaian itu oleh mereka. Betapa terkejutnya raja Rolland ketika melihat Alisa yang pingsan dan tergeletak tak berdaya di depan sebuah warung. Begitu pun dengan James, ia seketika membelalakkan matanya. Entah mengapa, kala itu rasa kesal dan bencinya pada Alisa seketika berubah menjadi iba. Dengan segera, raja Rolland menyuruh sang anak untuk mengangkat Alisa dan dibawanya ke dalam kereta.
"James! itu Alisa! angkat dia cepat! bawa dia ke dalam kereta!" ujar beliau.
James hanya mengangguk, segeralah ia masuk ke dalam kerumunan dan menyisihkan para warga. Diangkatnya tubuh kurus Alisa itu ke dalam kereta untuk dibawa pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...