I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
DALAM BAHAYA



Rosemary yang terkejut, hanya bisa diam dan ketakutan, tetapi Hans tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Rosemary.


"Apa maksudmu melakukan hal ini?!".Tanya tegas Hans.


"Apa maksudmu membunuh pemimpin kami?!". Tanya balik prajurit misterius itu.


"(berjalan mendekat)".


"Jika pempimpin kalian ku biarkan hidup, kalian yang akan mati!". Tegas Hans.


"Justru kau yang akan mati hari ini". Balas salah satu dari prajurit itu.


Mendengar ucapan itu, emosi Hans mulai memuncak. Segera ia merebut pedang yang ditodongkan ke leher Rosemary itu dan memeluk erat Rosemary.


"(Menodongkan pedang) kau atau aku yang akan mati hari?!". Tanya Hans.


"(melirik)".


"Kenapa kalian diam saja?!, ayo maju". Ucap prajurit itu pada kawanannya.


"Carilah tempat yang aman, dan tutup matamu ya".


"Tunggu sebentar, ini tak akan lama". Ucap Hans pada Rosemary.


Rosemary bingung, namun tak ada waktu lagi. Ia harus segera mencari tempat yang aman untuknya.


Tak lama setelah Rosemary pergi, kawanan prajurit misterius itu menyerang Hans dengan brutal. Namun, ilmu dan pengalaman Hans sudah tidak bisa diragukan lagi. Meski ia melawan 3 orang, tak berselang lama mereka pun dibuat terkapar oleh Hans.


"(mendekat dan menodongkan pedang)".


"Ku tanya padamu, setidaknya berapa upah yang mereka berikan pada kalian untuk membunuhku?!". Tanya Hans.


"(tertatih)".


"setidaknya uang makan sudah cukup untuk kami". Balas salah satu dari mereka.


"Cih, hanya uang makan?!".


"Bodoh sekali kalian!". Ucap Hans.


"Tolong setidaknya jangan bunuh kami, masih ada anak istri yang menunggu kami". Saut mereka.


"Oh, tidak. Aku tidak akan membunuh kalian".


"Asalkan kalian segera pergi dari sini dan jangan pernah menggangguku lagi!". Tegas Hans.


"(berdiri tertatih)".


"Baik, akan kami lakukan". Balas mereka.


"(melempar sekantong koin emas)".


"Ambil itu, dan pergilah kalian sekarang!". Tegas Hans lagi.


Merasa berhadapan dengan orang yang salah. Kawanan prajurit misterius itu segera pergi dari hadapan Hans.


Melihat keadaan sudah aman. Hans kemudian mencari dimana keberadaan Rosemary.


"(menoleh ke kanan dan kekiri)".


"Rose? dimana kau sembunyi?". Ucap Hans.


Rosemary yang mendengarnya pun langsung menyaut ucapan Hans itu.


"(menutup mata)".


"Apa semuanya sudah aman?". Teriak Rosemary dari balik pohon.


"(tersenyum)".


"(menghampiri) sudah, kau sudah boleh membuka matamu". Balas Hans.


Rosemary pun membuka matanya dan berlari menghampiri Hans.


"(memeluk Hans)".


"Aku takut". Ucap Rosemary.


"(mengusap halus kepala Rosemary)".


"Tak apa, kau aman sekarang". Balas Hans tersenyum.


"Sudah ku bilang. Kau terancam, Hans".


"Kau dalam bahaya". Ucap Rosemary.


"(tersenyum)".


"Bahaya yang kau maksud itu, sudah bukan bahaya lagi bagiku". Balas Hans santai.


"(melepaskan pelukan)".


"Lihat, tanganmu terluka". Ucap Rosemary khawatir.


"Terluka sedikit saja, tidak pengaruh". Balas Hans.


"(menggelengkan kepala)".


"Aku tak mau kau terluka". Ucap Rosemary.


"(tersenyum)".


"Aku baik baik saja". Balas Hans.


"Biarkan aku mengobatinya ya". Tawar Rosemary


"Baiklah, ayo kita pulang". Ajak Hans.


Melihat tangan Hans yang terluka, Rosemary menawarkan bantuannya untuk mengobati luka Hans itu.


Sesampainya di istana. Rosemary meminta Hans untuk duduk di ruang tamu, dan menunggunya mengambil obat.


"Kau duduklah disini".


"Aku akan mengambil kotak obat". Ucap Rosemary.


"(mengangguk tersenyum)".


Tak lama, Rosemary kembali dengan membawa kotak obat.


"(memungut tangan Hans yang terluka)".


"Lihat luka ini". Ucap Rosemary sembari mengobatinya.


"(melirik)".


"Kenapa?". Tanya Hans.


"(tersenyum tipis)".


"Luka ini akan meninggalkan bekas, meski nanti sudah sembuh". Jawab Rosemary.


"(menatap Rosemary)".


"Kau tahu? bekas luka itu akan menjadi saksi pengorbananku untukmu". Ucap Hans.


"Baru saja, aku mau mengatakan itu". Balas Rosemary.


"(tertawa kecil)".


Setelah Rosemary selesai mengobati luka itu. Hans memutuskan untuk pulang.


"Terima kasih sudah mengobati luka ku". Ucap Hans.


"Aku yang berterima kasih, sudah melindungiku". Jawab Rosemary.


"(tersenyum)".


"Sama sama cintaku. Ya sudah aku pamit pulang ya". Ucap Hans.


"(mengangguk tersenyum)".


"Iya, hati hati di jalan ya". Balas Rosemary.


...****************...


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 Rosemary bergegas pergi ke ruang belajar mengenai ilmu alam yang hampir saja sudah ia selesaikan 1 bab. Setelah belajar tentang ilmu alam, ia mulai berkebun menanam tanaman baru dan merawat tanaman kesayangannya yaitu Indigofera Tinctoria.



Kesegaran warna hijau daunnya bagi dia melambangkan sosok Hans yang tegas dan dermawan. Warna pink yang cerah pada bunganya bagi dia melambangkan sosok dirinya yang murah hati dan penyayang. Mengingat Hans menyukai warna hijau, sedangkan dirinya menyukai warna pink. Setelah berkebun ia mulai mempelajari tata cara berpidato yang masih diragukan olehnya, karena Rosemary adalah orang yang pemalu pidato bagi dia bukanlah hal mudah.


Pelajaran pidato selesai ia mulai berkuda, dimana ia sudah sedikit mengerti bagaimana cara mengendalikan kuda berkat ajaran kekasihnya, Hans. Tak dirasa hari menjelang sore, Rosemary lelah dan bergegas mandi setelah jurnal hariannya selesai.


Setelah ia mandi dan berganti baju, ia berinisiatif untuk menenun bersama kakak tersayangnya, Auraline. Dan bermaksud untuk menceritakan tentang bahaya yang ia alami tadi.


"Halo kak". Sapa Rosemary sambil membuka pintu ruangan.


"(menoleh)".


"Rose? ada apa kau kemari?". Tanya Auraline.


"(berjalan menghampiri)".


"(menggelengkan kepala) aku baru saja menyelesaikan kegiatan harianku, dan sekarang aku bosan". Kata Rosemary sambil duduk di sebelah Auraline.


"(tersenyum)".


"Ah begitu rupanya". Jawab Auraline sambil tetap menenun.


"Kak, boleh tidak, jika aku sambil cerita?". Tanya Rosemary.


"(menoleh)".


"Cerita? tentu saja boleh". Balas Auraline.


"Jadi pagi tadi, aku melakukan aktivitas lari pagi. Dan tidak sengaja aku bertemu Hans, berlari lah kami bersama. Nah, waktu kami berhenti di samping jalan. Tiba tiba ada kawanan prajurit menodongkan pedang padaku". Cerita Rosemary.


"Ha? lalu bagaimana selanjutnya? Tanya Auraline.


"Syukurlah kami baik baik saja".


"Hans yang melindungiku". Jelas Rosemary.


"Ah syukurlah, kalian baik baik saja".


"Untung saja, kau bersama Hans". Ucap Auraline.


"(mengangguk) iya kak".


"Oh iya kak, kakak pernah dengar tentang buku The Tale of Fanlyland, tidak?". Tanya Rosemary.


"(menoleh dan mengangguk)".


"Pernah. Yang ku tahu, di dalam buku itu tertulis takdir semua rakyat Fanlyland". Jawab Auraline.


"Kakak tahu dimana buku itu berada?". Tanya Rosemary.


"Buku itu berada di sebuah menara, Rose".


"Buku itu juga dijaga oleh seorang pertapa tua sakti dan seekor naga besar, yang konon katanya naga itu adalah seorang dewa". Jelas Auraline.


"Mengapa sampai dijaga seperti itu?". Tanya Rosemary lagi.


"Buku itu buku sakral".


"Buku itu bisa saja di salah gunakan, untuk memenuhi keinginan orang yang tidak bertanggung jawab". Jawab Auraline.


"Maksudnya kak?". Tanya Rosemary.


"Kau bisa menuliskan keinginanmu di buku itu".


"Bahkan merubah takdir pun bisa. Jika semua orang merubah takdir mereka, apa tidak berantakan kehidupan di negri ini?". Balas Auraline.


"Ah begitu. Iya ya kak". Ucap Rosemary.


"Buku itu diciptakan oleh semesta dan sebagai rahasia semesta. Kita tidak berhak tahu". Jelas Auraline.


Sejenak Rosemary terdiam dan berfikir. Apa bisa ia meminta bantuan pertapa sakti itu untuk kembali ke kehidupan aslinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...