
Di dalam perjalanan pulang, Hans tak henti memeluk erat Rosemary. Melihat Rosemary yang tak kunjung berhenti menangis membuatnya ikut bersedih. Namun, sebagai seorang Hans ia berusaha membujuk Rosemary dengan diajaknya ke sebuah air terjun.
"(memeluk dan mengusap kepala Rosemary) sudah ya menangisnya". Ucap Hans halus.
"Bagaimana aku tidak menangis, aku juga mengkhawatirkan keselamatan keluargaku, pangeran. Aku takut". Balas Rosemary sesenggukan.
"Percayalah, hal itu tidak akan terjadi. Kau masih ingat dengan ucapanku waktu itu kan?". Tanya Hans dengan sedikit senyuman.
"Ucapan apa?". Tanya balik Rosemary.
"Ketakutan hanya akan membawa kegelapan. Kau itu indah Rose, jangan biarkan kegelapan itu menyelimuti keindahanmu". Ucap Hans.
"(tersenyum kecil) jika dirasa menangis, tidak ada gunanya. Mengapa aku menangis". Ucap Rosemary mulai tenang.
"(tersenyum lebar) nah, maka dari itu. Tak sepantasnya wanitaku yang cantik ini menangis seperti ini". Balas Hans.
Rosemary hanya tersenyum mendengar ucapan Hans itu.
"Ah iya, aku ada kejutan untukmu". Ucap Hans.
"Kejutan? kejutan apa itu?". Tanya Rosemary.
"Coba lihat kearah jendela". Balas Hans.
"(menoleh ke arah jendela) wah, tempat apa ini indah sekali". Ucap Rosemary terpukau dengan keindahan sebuah air terjun.
"Ini adalah Air terjun Flowbie. Air terjun terindah sepanjang sejarah di negeri Fanlyland ini". Balas Hans.
"Airnya begitu jernih dengan dihiasi pepohonan yang hijau membuat air terjun ini terlihat begitu segar". Ucap Rosemary.
"(tersenyum) aku sengaja mengajakmu kemari, aku tahu kau pasti menyukainya". Balas Hans.
"(tersenyum) tentu saja. Kau telah mengajakku melihat banyak hal yang luar biasa. Aku berhutang padamu". Ucap Rosemary.
"(senyum seringai) hutangmu akan lunas, jika kau menikah denganku nanti". Balas Hans.
"(melirik) kau ini ada ada saja". Ucap Rosemary.
"(tertawa) ayo, kita turun". Ajak Hans.
"Turun?". Tanya Rosemary bingung.
"Iya, turun. Kau tak ingin melihat keindahan air terjun itu lebih dekat?". Ucap Hans.
"(tersenyum) tentu saja aku ingin. Baiklah ayo". Balas Rosemary semangat.
Turunlah mereka dari kereta menuju air terjun tersebut.
"Jangan mendekati air yang disana, arusnya deras. Lebih baik ke bawah sana saja". Ucap Hans..
"Iya, arusnya deras sekali.". Balas Rosemary.
"Patung apa itu, pangeran?". Tanya Rosemary.
"(menoleh ke arah patung) ah, patung itu. Itu namanya patung flowbie. Konon katanya, patung itu melambangkan sebuah kemakmuran di negeri Fanlyland ini". Jelas Hans.
"Patung itu juga dijelaskan di sebuah buku yang berjudul "The Tale of Fanlyland". Tambah Hans.
"Buku apa itu? aku tak pernah mendengarnya". Tanya Rosemary.
"Konon katanya, The tale of Fanlyland adalah sebuah buku takdir. Didalam buku itu, tertulis takdir semua orang yang hidup di negeri ini. Termasuk takdirmu dan takdirku". Jelas Hans.
"Begitukah? lantas, ada dimana buku itu sekarang?". Tanya Rosemary.
"Buku itu ada di sebuah menara di dekat hutan fanlyland dan dijaga oleh seorang pertapa tua sakti". Balas Hans
"Mengapa harus dijaga, pangeran?". Tanya Rosemary lagi.
"Buku itu bukan buku sembarangan. Orang orang bisa saja menyalahgunakan buku itu untuk mengubah takdir mereka dengan menulis takdir yang mereka mau. Padahal, sebaik baiknya takdir yang mereka inginkan, takdir dari semesta lah yang terbaik". Jelas Hans.
"Begitu ya manusia, mereka hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri". Balas Rosemary.
"(mengangguk) begitulah manusia". Ujar Hans.
"Kau mau kebawah? kesana, kita duduk diatas batu itu". Ajak Hans.
"(menoleh dan tersenyum) boleh, ayo". Balas Rosemary.
Mereka pun akhirnya turun ke bawah untuk menikmati keindahan air terjun itu lebih dekat.
Tak terasa waktu terus berjalan hingga sore hari, akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang.
"Hari sudah semakin sore. Ayo kita pulang". Kata Hans mengajak pulang Rosemary.
"(menoleh) iya, ayo. Ayah dan ibu pasti mencariku". Jawab Rosemary dengan senyuman tipis.
Hans dan Rosemary akhirnya mulai kembali ke perjalanan untuk pulang ke istana mereka masing-masing.
...****************...
"Dari mana saja kau?". Tanya Bella ketus.
"(tersenyum tipis) sebelum pulang, Hans mengajakku untuk melihat air terjun. Maaf jika aku tak meminta izin dulu". Jawab Rosemary.
"Jangan gunakan kecantikanmu untuk memikat semua pria di negri ini Rose!". Hina Bella.
"Maksud kakak apa?". Tanya Rosemary.
"Bisa bisanya kau menerima semua ajakan pria? setelah Hans, sekarang James". Ucap Bella.
"Kurang apa Hans bagimu? dia tampan, ia tegas, bijaksana, dan baik". Tambah Bella.
"Maaf sebelumnya, mengapa kakak tiba tiba berkata seperti itu?". Ucap Rosemary heran.
"Aku tak pernah macam macam! aku tak pernah menerima ajakan dari siapapun kecuali Hans". Jelas Rosemary kencang.
"Kau tak perlu mengelak!! aku tau semuanya! setelah acara festival selesai, kau dan James masuk ke dalam ruangan pribadinya kan!". Ujar Bella.
"Iya! aku memang masuk kesana! tapi tak sedikitpun james menyentuh tubuhku!". Balas Rosemary
"Kau tak perlu menuduhku seperti itu. Aku bukan wanita murahan!". Jelasnya.
"Lantas, untuk apa James mengajakmu kesana? aku tidak bodoh Rose". Ucap Bella.
Rosemary terdiam dan teringat dengan ucapan Hans yang tidak diizinkan raja Handry untuk memberi tahu soal ancaman kepada anggota keluarga kerajaan Ardarish. Sehingga, ia tidak bisa menjelaskan lebih detail pada kakaknya tentang apa yang sedang ia lakukan di ruangan pribadi James.
"Sekarang kau terdiam? sudah jelas semuanya Rose". Saut Bella.
"Jika kau tidak percaya, tanya saja pada James sendiri! kau hanya sosok kakak yang tak pernah mengayomi adiknya!". Ucap Rosemary kesal.
"Apa?!! kau menghinaku?! (mengangkat tangannya hendak memukul Rosemary)". Balas Bella emosi.
Disaat itulah, ayunan tangan Bella dihentikan oleh sang ayah.
"Bella!" . Ucap raja Handry.
"Ayah?!". Jawab Bella.
"Apa yang akan kau lakukan pada adikmu?!". Tanya raja Handry.
Belum mendapat jawaban dari Bella, Rosemary berlari meninggalkan raja Handry dan Bella itu di ruang tamu istana.
...****************...
Di kamar, Rosemary menangis, ia rindu dengan kehidupannya yang dulu, kehidupan sosok Ailee yang selalu damai. meski hanya hidup bersama dengan ibu dan kakaknya, keluarga kecil itu tak pernah mengenal kata padu.
FLASHBACK
Di dapur kecil yang bersih itu, Ailee, ibunya, dan Alice kakaknya sedang memasak sesuatu.
"Ma, ini rasanya udah pas belum sih?" Tanya Ailee.
"Waduuhh ini kurang garam, hambar gini rasanya". Jawab sang ibu.
"Oh iya, kayaknya kamu lupa kasih garam deh dek!". Saut Alice tertawa.
"Yaudahh sini biar mama aja yang masakk kaliann tunggu aja di ruang Tv". Ucap sang ibu tertawa.
"Hahaaahha yaudahh ayo kakk kita tunggu di depan aja sambil nonton Tv". Ajak Ailee.
Alice dan Ailee akhirnya menunggu ibunya yang sedang memasak sambil menonton Tv. Hingga akhirnya masakan ibu mereka selesai.
"Nahh ini diaa sup nya sudah selesai, mama tadi juga udah gorengin kalian perkedel kentang biar tambah mantull dimakan pakai nasi hangatt". Ucap sang ibu sambil menyodongkan makanannya.
"Wah, terima kasih ma". Ucap Ailee.
"Ayo, buruan dimakan mumpung masih panas". Saut Alice.
Keluarga kecil tanpa kepala keluarga itu, hidup sederhana dan bahagia. Sambil menikmati kelezatan masakan sang ibu, mereka juga saling bercerita dan menonton Tv. Bagi Ailee hal itu sungguh kebahagiaan yang luar biasa yang saat ini sangat ia rindukan.
(Kembali ke kehidupan Rosemary)
Rosemary hanya bisa menangis dan menangis, sambil menyebut-nyebut nama ibu dan kakaknya.
"Mamaaa, kak Alicee. Ailee sangattt merindukan kaliann. Ailee ingin bangunn, tapi Ailee tidak bisaa". Keluh Rosemary yang tersendu-sendu tangisnya.
Saat itu, tiba tiba ada yang mengetok pintu kamarnya.
"Tteokk-Tteookkk-Tteook..".
Rosemary pun mengusap air matanya dan membuka pintu kamar.
"Rose? apa kau di dalam? izinkan aku masuk untuk mendengar ceritamu".
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...