
"maaf ya, aku kelepasan" ujarnya, dengan kembali tertunduk sesal.
"kau sepertinya sedang sedih" Rosemary memandangnya sendu. Tidak biasanya James bertingkah seperti itu.
"iya, aku sedih karena aku lapar" suasana canggung mulai menyelimuti dirinya, sehingga ia mencoba untuk menyeletuk.
"kau belum makan?" pernyataan itu, membuat Rosemary seketika melongo.
"belum" James menggeleng pelan dengan bibirnya yang merengut.
"memangnya di istanamu tidak ada juru masak?" tanya Rosemary nampak terheran.
"ada lah. tapi aku malas kalau makan di istana" raut wajahnya seketika masam. Dahinya berkerut, dan kedua matanya menyipit sinis.
"lah, kenapa memangnya? apa masakannya tidak enak? atau mungkin tidak cocok saja di lidahmu?" segudang pertanyaan itu lolos dari mulut Rosemary begitu saja.
"ah, banyak sekali pertanyaanmu!" James mendecak kesal, ia memalingkan pandangannya dari Rosemary.
"ya kan, aku cuma bertanya. duduklah saja disini, biar ku ambilkan roti lapis dan teh hangat" merasa suasana hati James sedang tidak baik, Rosemary berniat untuk mengambilkan makanan untuk mengisi perut kosong James.
"tidak usah! jangan repot repot" tapi justru James malah merasa telah merepotkan Rosemary, sehingga ia menolak tawaran tersebut.
"tenang saja, tidak apa apa. kau tak perlu congkak seperti itu!" kedua mata Rosemary mendadak menyipit dan melirik James secara intens.
"iya sudah, terserah kau saja" daripada dianggap congkak, James pun mengiyakan tawaran Rosemary itu.
Seusai melihat James yang telah terduduk di bangku kebun istana, ia pun segera berjalan mengambilkan makanan yang telah ia janjikan pada James. Diperjalanannya menuju teras istana, ia berpapasan dengan William.
"sudah selesai kak?" William itu terhenti dan bertanya pada sang kakak.
"belum, Will. kakak mau mengambilkan makanan.." ucapnya terpotong, seraya Hans menyaut pembicaraan mereka.
"oh jadi dia, pria yang ada digambar ini" Hans mengayun ayunkan gambar yang ada di genggaman tangannya.
Rosemary membuka matanya lebar, ia terkaget dengan kedatangan Hans yang sekaligus membawa pertanyaan tidak jelas itu. Seketika tangannya menyaut gambar yang Hans genggam dan dilihatnya gambar itu dengan serius. "dapat darimana kau gambar ini?" tanya nya.
"ada lah, orang yang mengirimkannya padaku. jadi, apa dia benar benar akan menggantikan aku?!" Hans masih menahan emosinya, ia berucap tanpa dengan nada yang meninggi. Tapi kedua matanya menatap intens ke arah William.
Rosemary terkekeh. Kedua tangannya menepuk pelan pundak William dengan suara tawa nya yang terus terdengar.
Merasa dirinya ditertawakan, dahi Hans berkerut. Raut wajahnya berubah kesal. "kenapa kau malah tertawa?! aku ini sedang bertanya padamu!" ucapnya mulai lantang.
Badan mungil Rosemary seketika mendekat ke arah Hans. Ditangkupkannya kedua tangan kecilnya itu pada wajah Hans. "dengar baik baik ya. dia ini William, adik sepupuku. dia lah yang mau belajar ilmu ksatria denganmu, yang pernah ku ceritakan kapan lalu itu". Rosemary memandangi wajah Hans begitu dalam.
"ha? sejak kapan kau punya adik sepupu?" ekspresinya mendadak berubah, kekesalan yang menyelimuti wajahnya itu berganti menjadi kebingungan.
"aku saja juga baru tahu, kalau aku punya adik sepupu" gurau Rosemary seraya melirik senyum sang adik itu. Dilepas lah tangkupan tangannya. Tapi, kedua matanya masih setia memandangi wajah sang kekasih itu.
"kau, adik sepupunya Rose?" arah pandangnya tertuju pada William. Jari telunjuknya menuding anak laki laki itu, dengan raut wajah yang nampak tak percaya.
Sebagai seorang introvert akut. William mengangguk, dengan raut wajahnya yang telihat panik. "iya kak" balasnya singkat.
"tanyakan pada kak Auraline saja, jika kau tidak percaya" ucap Rosemary.
Hans menggeleng, pandangannya kembali tertuju pada Rosemary dengan senyuman kecil. "tidak perlu, aku percaya padamu kok" balasnya.
William menghela nafas lega, wajahnya sudah tak terlihat panik. "kakak tak perlu salah faham padaku, postur tubuhku memang terlihat seperti pria dewasa" ujar William dengan senyum pasrahnya.
"Hans? kau kemari?" James tiba tiba datang menyaut pembicaraan ketiga insan itu.
"James? ada perlu apa kau kemari?" bukannya membalas pertanyaan, Hans justru bertanya balik padanya.
"emm, dia kemari karena ada William. mereka berteman baik, Hans" Rosemary menyaut, agar menghindari kesalahpahaman yang bisa saja terjadi lagi. "iya kan, Will" kedua matanya berkedip kedip ke arah William.
Mengerti maksud dari kedipan mata sang kakaknya itu, William pun tersenyum dan mengiyakan ucapan Rosemary. "ah iya kak, itu benar" balasnya.
James hanya terdiam dan melirik ke arah William dan Rosemary, ia tak tahu harus menjawab apa.
"ah, begitu rupanya" Hans tak terlalu menghiraukannya dan memilih untuk percaya dengan pernyataan itu.
Suasana kala itu, seketika menjadi hening. Tak ada satupun insan yang mengeluarkan suaranya. Hingga akhirnya Rosemary lah yang memecahkan keheningan tersebut.
"apa kalian akan berdiri di sini saja? ayo duduk di taman" ucap Rosemary.
Duduklah mereka semua di taman istana. James dan Hans mulai saling berbicara disana. Sedangkan Rosemary masih mengambil sepiring makanan untuk James sekaligus mengambil hidangan lain untuk Hans dan William.
"bagaimana pelatihanmu, Hans? apa semuanya berjalan dengan lancar?" James mencoba memecahkan suasana canggung yang ia rasakan itu dengan mempertanyakan tentang pelatihan yang Hans ikuti.
"tentu saja lancar. bahkan, aku sudah meluluskan semua tingkatannya" balas Hans dengan bangganya.
"ah syukurlah. aku senang mendengarnya" James tersenyum mendengar hal itu. Kemudian, dilihatnya sebuah gambar yang Hans letakkan di atas meja taman. "gambar apa itu, Hans?" tanya nya.
Hans menoleh dengan wajah datarnya. "ah itu, itu hanya gambar kesalahpahaman" balasnya malas.
"kesalahpahaman? maksudnya?" raut wajah James membingung, mulutnya sedikit ternganga. Arah pandangnya tertuju penuh pada Hans menanti sebuah jawaban.
"ada orang yang memfitnah aku dengan kak Rose selingkuh, kak James. padahal, aku ini adik sepupunya" William yang melihat kebingungan James itu sontak menjawab.
Rosemary pun datang sembari membawa nampan berisikan 4 teh hangat dan hidangan makanan lainnya. Diletakkannya satu persatu makanan dan minuman tersebut di atas meja.
"iya James. Gloria yang mengirimkan gambar itu" ucap Hans.
"ha?! Gloria?!" Rosemary dan James sama sama tertegun. Rosemary tak mengira jika Gloria masih saja mengganggu hubungannya dengan Hans.
Hans mengangguk, raut wajahnya masih terlihat datar.
"dia masih saja mengganggu hubungan kalian ya" ujar James.
Hans mengangguk pasti. Dadanya seketika membusung. "iya! aku juga sudah muak dengan perilakunya!" balas Hans dengan emosinya.
Rosemary mendudukkan dirinya disamping Hans. Kedua tangannya memeluk lengan gagah Hans dengan hangat. "Hans, perlu kau ketahui di setiap hubungan pasti ada godaan. bukankah kita sudah saling berjanji, untuk tidak menghiraukan godaan godaan itu" ucapnya halus.
Hans menoleh dan memandangi wajah Rosemary, kedua sudut bibirnya terangkat. Terciptalah sebuah senyuman tulus di wajah rupawan itu. "iya, aku tahu Rose. aku hanya tidak suka saja dengan perilakunya" balas Hans lembut.
James yang melihat sepasang kekasih itu saling pandang dengan tulus, hanya bisa tersenyum pilu. Tapi ia tak munafik, ia akui ia sedang cemburu. Hatinya seketika terasa sakit. Ia menghela nafasnya dan memalingkan pandangannya dari sepasang kekasih itu.
Sepintas, William melirik James yang berada di sampingnya itu. Meski seorang introvert akut, William punya insting yang kuat. Ia menyadari, jika James sedang cemburu. Sehingga ia memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara. Ditepuknya pelan, lengan James dengan tangan kanannya. "kak, silahkan dimakan makanannya. tehnya juga nanti terburu dingin" ucapnya halus.
James menoleh dan tersenyum. "ah iya. ku makan ya Rose" balas James.
"silahkan, ayo dimakan semuanya" Rosemary sontak menoleh ke arah James dan mempersilahkan hidangannya itu untuk disantap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...