
Sesampainya mereka di kebun istana, Rosemary pun kemudian meminta William untuk membantunya.
"Sampailah kita Will". Ucap Rosemary.
William tertegun saat melihat kebun istana yang berisi berbagai jenis tanaman langka. Tubuhnya seolah olah memintanya untuk terus melangkah mengelilingi seisi kebun itu.
"Wah, banyak sekali tanamannya. Apa kau yang menanam semua ini?". Gumam William.
"(tersenyum)".
"Tidak semua, kurang lebih lima puluh persen lah. Aku yang menamamnya". Ucap Rosemary.
"Kakak hebat".
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?". Tanya William.
"Apa kau bisa membantuku membawa air?". Tanya balik Rosemary.
"(mengangguk)".
"Iya, bisa. Dimana teko airnya kak?". Balas William.
"(menunjuk ruang perkakas)".
"Teko air ada di ruangan itu. Sementara kau mengambil air, kakak akan menggunting dedaunan keringnya". Ucap Rosemary.
"(menoleh)".
"Ah baiklah, kak. Tunggu sebentar ya". Balas William.
Sementara menunggu William datang, Rosemary pun menggunting dedaunan yang sudah kering pada tanaman kesayangannya.
Tak lama kemudian, William pum datang.
"Ini kak, airnya". Ucap William.
"(menoleh)".
"Ah, terima kasih ya Will". Balas Rosemary.
"(mengangguk tersenyum)".
"Sama sama kak. Oh iya kak, bolehkah aku menanam bibit bunga disini?". Tanya William.
"(tersenyum)".
"Tentu saja. Justru, tadi aku hendak menyuruhmu untuk membantuku menanam bibit-bibit bunga ini". Balas Rosemary.
"Baiklah kalau begitu kak".
"Mari ku bantu". Ucap William.
Mereka pun kemudian menanam bibit bibit bunga tersebut bersama.
****************
Di Istana Elevan.
Hans bersikap tidak seperti biasanya. Ia hanya melamun dan tidak banyak bicara. Royland yang telah mengetahui, bahwa hubungan adik dan kekasihnya itu sedang tidak baik, mencoba untuk menghiburnya.
"Hans?".
"Kau melamun saja daritadi?". Ucal Royland.
"Entahlah kak".
"Suasana hatiku sedang tidak baik". Balas Hans.
"(tersenyum)".
"Jangan begitu. Hans yang ku kenal, bukan orang yang pelamun begini". Ucap Royland.
"Iya kak. Aku tahu".
"Aku bingung, apa yang harus aku lakukan". Balas Hans.
"(tersenyum)".
"Kau, memang seharusnya tidak emosi di situasi seperti itu". Ucap Royland.
"Bagaimana aku tidak emosi".
"Baru saja ku tinggal sebentar, dia sudah berada disana bersama Rose". Balas Hans.
"Tapi, kenyataannya. Dia kesana karena apa? hanya karena meminjamkan buku kan". Ucap Royland.
"(mengangguk)".
"Iya kak". Gumam Hans.
"Turuti saja apa kata hatimu".
"Jika kau masih belum sanggup untuk bertemu Rose, tidak apa apa. Tapi secepatnya, kalian harus bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini". Tutur Royland.
"(mengangguk)".
"Sebenarnya, aku ingin kesana sekarang. Tapi aku belum menyiapkan kalimat untuk ku ucapkan padanya nanti". Balas Hans.
"(side hug)".
"Tenangkan saja pikiranmu dulu". Ucap Royland.
Hans hanya tersenyum dan mengangguk mendengar tutur dari sang kakak.
****************
Di Kebun Istana Ardarish.
"Kak". Panggil William.
"Iya Will, ada apa?". Jawab Rosemary sambil menanam bibit bunganya.
"(berjalan menghampiri Rosemary)"
"Yang ini bibit bunga mawar ya?". Tanya William.
"(menoleh)".
"Baik kak". Gumam William.
Kemudian, datanglah Bella yang tiba tiba memanggil Rosemary.
"Rose?". Panggil Bella.
"(menoleh)".
"Ah, iya kak?". Balas Rosemary.
"Aku dan suamiku akan pergi ke istana Elevan".
"Kau jangan keluar, di sini saja. Temani bibi Anna". Ucap Bella.
"Baik kak. Hati hati ya". Balas Rosemary.
Setelah berpamitan pada Rosemary, Bella pun pergi meninggalkan istana. Rosemary yang merasa kakak telah berubah, hatinya senang. Akhirnya ia bisa dianggap adik oleh Bella.
"Oh iya kak".
"Apa kakak pernah mendengar cerita tentang Razel si pemilik rambut ajaib?". Tanya William sembari menanam bibit bunga.
"(tertawa kecil)".
"Tidak. Tapi, cerita itu terdengar seperti dongeng anak kecil". Balas Rosemary.
"(tersenyum)".
"Tapi, ini kisah nyata kak. Bukan hanya dongeng semata". Ucap William.
"Oh, benarkah?". Gumam Rosemary.
"Iya, mau ku ceritakan?". Tawar William.
"Boleh, aku ingin mendengar ceritanya". Jawab Rosemary.
"Disebuah kerajaan, terdapat seorang putri cantik berambut panjang yang bernama Razel. Suatu ketika, saat ia sudah besar, ia dijodohkan dengan pangeran yang tampan bernama Halland, tetapi ternyata, pangeran Halland adalah sosok pangeran yang dikenal kejam oleh rakyat". Ucap William mulai bercerita.
"Lalu? selanjutnya bagaimana?". Tanya Rosemary.
"Ia disebut sebagai putri dengan rambut ajaib, karena rambutnya yang nampak bercahaya berwarna putih keemasan. Selain itu, rambutnya juga bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Pangeran Halland sangat mencintai putri Razel. Tetapi suatu saat, seoarang pelayan kerajaan memergoki pangeran Halland sedang merencanakan sesuatu yang membahayakan kepada putri Razel yang bertujuan untuk mengambil rambut ajaib sang putri". Ucap William menyambung cerita.
"Ah lalu apa yang terjadi pada putri Razel? (panik)". Tanya Rosemary terbawa suasana cerita.
"Pelayan tersebut tidak berani mengatakan hal itu kepada siapapun. Karena ia hanyalah seorang pelayan. Kemudian pangeran Halland berencana untuk mengajak putri Razel berkeliling menaiki keretanya. Bukannya berkeliling, pangeran Halland malah membawanya ke sebuah hutan dan membunuhnya". Ujar William.
"Apa? lalu bagaimana akhir ceritanya?". Tanya Rosemary.
"Ia ditemukan dalam keadaan rambut sudah terpotong sangat pendek, bahkan sudah tidak menyerupai putri Razel lagi". Jawab William.
"Malang sekali nasib putri Razel, ia mendapatkan jodoh yang hanya mementingkan dirinya sendiri". Kata Rosemary.
"Iya kak".
"Dan, konon katanya. Jasad putri Razel sampai sekarang masih di awetkan di sebuah museum negri". Ucap William.
"Benarkah?".
"Aku jadi penasaran". Balas Rosemary.
"Lain kali, jika ada waktu luang".
"Ayo kita kesana kak. Ajak kak Hans juga". Ucap William.
"(tersenyum)".
"Iya. Ayo Will. Mereka pasti mau diajak kesana". Gumam Rosemary.
"(mengangguk tersenyum)".
"Ini kak, sudah ku tanam. Sudah ku beri pupuk juga". Ucap William.
"Wah, kau sudah menyelesaikannya".
"Ya, sudah taruh saja disitu ya. Sebentar lagi kita tata". Balas Rosemary.
"Kalian sedang berkebun?". Saut bibi Anna.
"(menoleh)".
"Ah, iya bi. William bilang, ia juga suka berkebun. Ya sudah, akhirnya ku ajak dia untuk berkebun". Balas Rosemary.
"(tersenyum)".
"Iya ibu".
"Ibu senang. Melihatmu rukun dengan kak Rosemary, Will". Ucap bibi Anna.
"(tersenyum)".
"Aku juga senang. Bisa mengenal orang sebaik kak Rosemary, bu". Balas William.
"(tersenyum)".
"Aku juga senang, bi. Aku jadi punya teman baru untuk mengerjakan kegiatan berkebunku". Saut Rosemary.
"(tertawa kecil)".
"Ah, syukurlah. Kalau begitu, lanjutkan saja berkebunnya". Ucap bibi Anna.
"(mengangguk tersenyum)".
"Iya, bi". Balas Rosemary.
"Iya bu". Balas William.
Mereka berkebun hingga sore hari. Setelah menyelesaikan kegiatan mereka. Rosemary pun segera membersihkan dirinya dari tanah tanah yang menempel pada tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...