
Dikala hari sudah mulai sore, dengan sinar senja yang mulai memerah. Toko aromatheraphy milik Jacob Arvent telah dipastikan untuk tutup lebih awal. Sejak projek kolaborasi dengan raja Rolland dilaksanakan, ayah Alisa memintanya untuk menutup toko lebih awal. Karena, sudah jelas saja, Alisa tidak akan sanggup melayani para pelanggan sendirian dari pagi hingga malam.
Seusai pelanggan terakhir telah dilayani, gadis bertubuh tinggi kurus itu berjalan mendekati pintu toko dan memutar sign board bertuliskan buka menjadi tutup.
"loh, kenapa tutup? ini kan masih jam 5 sore" ujar James dengan polosnya. Ia tak tahu, jika kebijakan toko tersebut sekarang mengharuskan untuk tutup lebih awal. Tepatnya di jam 5 sore.
Menolehlah Alisa seraya menghela nafas panjang. "kau kira aku tidak lelah seharian bekerja?! sejak jam 6 pagi tadi aku sudah sibuk melayani pelanggan. lagipula, kata ayah aku sudah bisa menutup tokonya di jam 5 sore" balas Alisa panjang.
Mendengar jawaban Alisa yang terkesan sedikit menyolot. Raut wajah James mendadak memasam. "oh begitu" gumamnya singkat dan datar.
Akan tetapi, gadis mandiri itu seketika juga tersadar dengan ucapannya. Ia tersenyum tipis sembari wajahnya ia tundukkan. "terima kasih ya, kau sudah mau membantuku. bahkan, kau juga membelaku ketika tadi aku sempat terhina oleh salah satu pelanggan" ujar Alisa halus.
Kedua mata birunya sontak kembali menoleh ke arah gadis yang sedang tertunduk pilu itu. Rasa iba nya kini kembali hadir dan menyelimuti hati kecil James. "iya, sama sama. biasanya, selepas menutup toko, apa yang akan kau lakukan?" balasnya pelan.
Diangkatnya pelan wajah cantik itu, ditataplah juga keindahan mata biru milik James yang bersinar tersebut. "aku akan memberikan laporan penjualan hari ini pada ayah, kemudian makan" ujar Alisa.
Mengangguklah pelan sosok James, dengan kedua matanya yang berpaling dari Alisa. "baiklah, kalau begitu ayo kita hampiri mereka" badannya seketika melangkah menuju pintu pembatas antara toko dengan rumah Alisa, meski dirinya tidak tahu dimana keberadaan sang ayah sebenarnya.
Melihat James yang semakin melangkah, Alisa segera menyusul pria tersebut.
Kedua insan tersebut akhirnya mendatangi sebuah ruangan yang cukup besar, dan rupanya ruangan tersebut adalah sebuah ruangan produksi yang biasa digunakan Jacob Arvent untuk meracik aromatherapy.
Dibuka lah pelan pintu ruangan dengan diiringi suara panggilan halus oleh Alisa. "ayah, aku sudah menutup tokonya" ujar gadis tersebut.
Sang ayah seketika menoleh, begitu juga dengan raja Rolland. Kedua seorang ayah itu tertegun sejenak saat melihat sosok James yang berdiri tegak di samping Alisa.
"James? kau datang kemari, nak?" gumam raja Rolland dengan raut wajah keheranan.
Putra tunggalnya itu sontak tersenyum tipis sembari menganggukkan wajahnya. "iya ayah, aku ingin memastikan ayah dalam kondisi aman" balasnya.
Dengan raut wajah tak terima, Alisa seketika menoleh ke arah James. "memangnya, kau kira rumahku kandang hewan buas? sampai kau tak percaya dengan keamanannya?" tanya Alisa.
Diliriknya Alisa itu seraya mengangkat sudut bibir kirinya. Badannya ia bungkukkan untuk menyamai tinggi dengan si gadis tersebut. "kau itu selalu saja berkomentar. yang ku maksud tidak aman itu, di dalam perjalanannya. bukan di rumahmu" balasnya.
Wajah James yang begitu dekat, membuat Alisa seketika memundurkan badannya. Kali ini, Alisa dapat melihat jelas mata indah James yang berwarna biru itu tengah bersinar di pandangannya. "a-ah begitu rupanya" gumam Alisa terbata bata.
Merasa lawan bicaranya terlihat gugup, James pun menegakkan badannya dan memalingkan padangannya dari Alisa.
Entah mengapa, Jacob Arvent dan raja Rolland hanya terdiam dan terpaku di kala melihat interaksi antar kedua anak mereka.
Keheningan menyelimuti suasana ruangan tersebut sejenak. Hingga pada akhirnya, Alisa membuang jauh jauh rasa gugupnya dan berjalan menghampiri sang ayah, untuk memberikan sebuah laporan penjualan harian padanya. "ini ayah. laporan penjualan hari ini" ujarnya dengan kedua tangan yang mengulur, memberikan sebuah buku tipis pada sang ayah.
Jacob Arvent tersenyum bangga sembari mengangguk pelan. "iya, terima kasih anakku" balasnya.
"nah, Alisa. ajaklah James untuk makan bersamamu" ujar raja Rolland dengan raut wajah sumringahnya.
Alisa sontak melirik ke arah James dan menghela nafasnya panjang. "mana mungkin, kau masih kenyang. kau sudah membantuku sejak siang tadi" ucap Alisa.
"ah begitukah? kalau begitu kau juga harus segera makan, pangeran" pernyataan Alisa membuat Jacob Arvent sontak menyaut.
Pernyataan tersebut juga membuat raja Rolland seketika tersenyum bangga pada sang anak. "James, jaga kesehatan lambungmu. makanlah nak bersama Alisa, kau pasti lapar" tutur beliau.
Raut wajah James mendadak memasam. Pandangannya ia palingkan dari ketiga insan yang tengah menatapnya sendur itu. "ya sudah, ayolah" gumamnya.
Persetujuan dari James terdengar melegakan di telinga ketiga insan tersebut. Alisa seketika begitu bersemangat, ditariknya pelan lengan James secara spontan. "baiklah, ayo" ajak Alisa.
Putra mahkota kebanggaan rakyat Endonie, kala itu hanya mengiyakan ajakan Alisa. Meski dengan sedikit tertegun, tapi James tetap melangkah dengan lengannya yang tergandeng hangat oleh Alisa.
...**************** ...
Sementara itu, di istana Ardarish. Selepas kepulangan keluarga kerajaan Elevan. Rosemary memasuki kamarnya dan terbaring malas diatas ranjang. Arah pandangannya tertuju pada langit langit kamar, dengan tangan kanannya yang bergerak memainkan helaian rambut panjangnya.
"kayaknya emang gue harus pasrah sih. toh, kehidupan gue disini juga udah berubah jadi jauh lebih baik" gumamnya.
Sosok Ailee yang mendiami raga Rosemary itu, kembali menggumam tentang kejadian yang ia alami. Kali ini, ia sudah benar benar pasrah dengan keadaan. Meski begitu, hatinya tak bisa berbohong. Gadis itu sebenarnya sangat merindukan ibu dan kakaknya.
"tapii, gue kangen banget sama mama dan kakak. kalo gue bisa memilih, gue bakal tetep memilih untuk bangun di dunia gue sendiri" gumamnya lagi.
Dipejamkannya kedua mata mata indah itu. Lengan kanannya juga ia angkat menutupi wajah. Sudut sudut mata Rosemary mulai terisi air. Gadis berambut pirang sepunggung itu kembali meneteskan air mata ketika mengingat sang ibu dan kakaknya.
...****************...
James dan Alisa akhirnya sampai di sebuah rumah makan yang cukup besar dan ramai. Seorang James itu seketika mengedarkan pandangan nya ke sekeliling rumah makan. Ia tak menyangka jika Alisa mengajaknya makan di rumah makan tersebut. "kau biasanya makan disini?" tanya James lirih.
Alisa menggeleng dengan bibirnya yang tersenyum kecut. "tidak" jawabnya singkat.
Putra raja Rolland itu sontak melongo. "lalu, kenapa kau malah makan disini sekarang?" tanya James lagi.
Menolehlah Alisa dengan raut wajah datarnya. "banyak sekali pertanyaanmu, sudahlah ayo kita makan. kau mau makan apa? biar ku pesankan" balasnya.
"lebih baik makan di tempat yang biasa kau kunjungi saja" dengan nada yang datar, James meminta Alisa untuk membawanya ke tempat makan yang biasa ia kunjungi.
Mendengar permintaan James, Alisa menahan rasa kesalnya. Gadis tersebut menghela nafas panjang. "pangeran James, dengarkan aku. tidakkah mungkin jika aku mengajakmu makan di pinggir jalan" jelas Alisa dengan pandangannya yang tertuju penuh pada James.
James sontak membulatkan matanya. "memangnya kenapa? aku suka saja makan di pinggir jalan" balas James.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...