I'LL MARRY YOU, PRINCESS

I'LL MARRY YOU, PRINCESS
KUNJUNGAN



"Inikah tempat pelatihan ksatria itu, ibu?". Tanya Rosemary sambil melihat sekeliling.


"Iya Rose, memangnya kenapa?". Kata ratu Mia.


"Tidak apa-apa".


"Hanya saja tempatnya kurang layak untuk dijadikan tempat pelatihan, ini mewah sekali". Gumam Rosemary sembari terkekeh di akhir ucapnya.


"(tertawa)".


"Ini hanya tempat untuk pengunjung yang mau menjenguk peserta pelatihan Rose. Untuk tempat pelatihannya sendiri, pasti berbeda". Kata ratu Mia.


"Ah, begitu rupanya". Gumam Rosemary mengangguk pelan sembari terus memandangi tempat itu.


Tak lama dari itu, Hans pun akhirnya datang.


"Hans!". Sapa raja Charless.


"Hans, anakku". Sapa ratu Elisa.


"(tersenyum)".


"Iya ibu, ayah". Balas Hans dengan kaki yang terus melangkah menghampiri mereka.


"Bagaimana kabarmu?".


"Kau mampu menjalani pelatihan itu?". Tanya ratu Elisa.


"(tersenyum)".


"Baik ibu. Aku mampu menjalaninya. Ibu tenang saja". Jawab Hans.


Rosemary memandang Hans dengan raut wajah datar, begitupun dengan Hans. Tapi Hans tidak ingin kedua orang tuanya tahu, kalau mereka sedang saling marah. Saat setelah melihat Rosemary, ia tiba tiba mengingat dengan surat yang semalam terkirim padanya, hingga akhirnya ia berniat mengambil surat tersebut dan bertanya pada Rosemary, apa maksud dari surat tersebut. 


"Ah sebentar, aku ke kamar sebentar bu". Ucap Hans.


"Untuk apa Hans?". Tanya ratu Mia.


"Ada yang tertinggal bu". Gumam Hans sembari berjalan pelan hendak menuju masuk ke dalam asrama pelatihan.


"Hans itu ada ada saja".


"Memangnya apa yang tertinggal". Gumam raja Charless.


"Sudahlah, tak apa. Mungkin itu penting raja". Balas raja Handry.


Tanpa menunggu lama, Hans pun kembali. Sesampainya di tempat pengunjung itu, ia pun segera mengajak Rosemary untuk pergi ke tempat lain.


"Ah, Rose".


"Ada yang mau kubicarakan padamu". Ucap Hans.


Rosemary tertegun dan sontak mengangkat wajahnya dan memandang Hans secara intens.


"Apa?!". Balas Rosemary.


"Boleh, aku permisi sebentar ibu?".


"Ada yang akan mau kubicarakan padanya". Pamit Hans halus.


"(tersenyum)".


"Ah iya, silahkan". Balas ratu Mia.


"Iya Hans. Silahkan saja". Saut raja Handry dengan diakhiri senyuman.


Seusai mendapat izin. Hans mulai berjalan menggandeng Rosemary dan mengajaknya ke sebuah lorong disamping gedung asrama pelatihan yang tidak ada orang. Sesampainya di lorong itu, Hans barusaja membuka mulut setelah membisu selama perjalanan.


"Kenapa kau ikut kemari?!".


"Bukankah seharusnya kau sudah tidak ingin melihat ksatria egois ini lagi?!". Ucap Hans.


Seketika itu, Rosemary mengkerutkan dahinya.


"Kenapa kau tiba tiba berbicara seperti itu?!".


"Memangnya siapa yang menghinamu seperti itu?!". Balas Rosemary tak terima.


Hans yang mendengar pertanyaan Rosemary itu sontak membalikkan badan dan mendekatkan wajahnya pada wajah Rosemary.


"Kenapa kau bertanya padaku?!".


"Kan kau sendiri yang menghinaku". Ucap Hans berbisik.


"Ha?! kapan aku menghinamu seperti itu?!". Balas Rosemary emosi.


"Kau lupa?!".


"Kau menghinaku lewat surat yang kau kirimkan padaku!". Ucap Hans.


"Surat?! bahkan aku saja tidak pernah mengirimkan surat padamu!". Bentak Rosemary.


"Lantas, ini apa?!". Balas Hans sembari menyodorkan surat yang tadi ia sakukan di saku celanannya.


Melihat surat yang Hans genggam itu, Rosemary kemudian mengambilnya pelan kemudian membuka dan membaca surat tersebut.


Betapa terkejutnya ia, setelah membaca surat yang bukan darinya itu tapi tertulis dan tertanda atas nama dirinya.


Rosemary menggeleng heran.


"Tapi, sungguh. Bukan aku yang mengirimkan surat ini!". Gumam Rosemary.


Hans tersenyum sinis.


"Di dalam surat itu, sudah tertanda atas nama mu! disana juga ada tanda tanganmu. Kau masih mau mengelak?!". Balas Hans tak percaya.


Mendengar ucapan Hans. Rosemary begitu kesal dengannya. Ia merasa Hans tidak lagi percaya dengan ucapannya.


"Kau tak percaya padaku?!".


Hans mengambil surat itu dan membukanya.


"Jadi? surat yang ini bukan darimu?". Tanya Hans sembari mengangkat surat yang bukan milik Rosemary.


"(menggeleng)".


"Asal kau tau saja. Aku memang mengirimkan surat padamu semalam lusa, tapi surat itu kembali padaku saat malam hari tiba". Ucap Rosemary.


"Lalu, siapa yang mengirimkan ini?".


"Lihat, tanda tangannya pun sama dengan surat yang kau tulis". Tanya Hans lagi.


Rosemary menaikkan bahunya dan memasang wajah datar. Ia kesal, Hans terburu emosi dan menuduhnya.


Melihat jawaban Rosemary yang terlihat marah dan kesal padanya. Hans pun mendekatkan wajahnya dan mencium halus bibir Rosemary.


Rosemary tertegun. Tapi, ia sama sekali tak melawan. Aroma mint yang keluar dari mulut Hans itu membuat Rosemary rilex dan sejenak melupakan masalah yang sedang terjadi. Setelah cukup mencium bibir Rosemary yang lembut itu, Hans pun melepaskan ciumannya.


"Hans?". Panggil Rosemary masih tertegun.


"Iya?". Balas Hans halus.


"K-kau?". Ucap gugup Rosemary.


"Maaf, aku terburu emosi padamu tadi". Balas Hans.


"(menggeleng pelan)".


"Hans, kau menciumku?". Ucap Rosemary tertegun.


"Ah, m-maaf Rose". Balas Hans gagap.


Suasana menjadi canggung. Mereka tak mengutarakan apapun selama 2 menit.


Merasa dirinya bersalah, karena mencium Rosemary tanpa izin. Hans kemudian menggengam tangan Rosemary dan meminta maaf.


"Maaf ya".


"Aku tidak sengaja". Ucap Hans penuh ragu.


Rosemary masih tak menjawab sepatah katapun, tapi ia mengangguk dan tersenyum menatap wajah Hans yang sedang menyesal itu.


"(mengelus kepala Hans)".


"Lain kali, izin dulu. Jangan langsung menyosor". Ucap Rosemary sembari tersenyum.


Hans tersenyum malu.


"Aku juga minta maaf, jika aku terburu emosi dan menuduhmu yang tidak tidak". Ucap Hans dengan wajah yang menunduk sesal.  


Rosemary kembali mengelus halus kepala Hans.


"Mangkanya, sebelum emosi. Tanya dulu kebenarannya". Balas Rosemary.


"Iya, maaf. Aku benar benar minta maaf". Gumam Hans dengan wajah yang masih menunduk.


"(tersenyum kecil)".


"Ya sudah, lupakan saja. Tapi, sungguh memang bukan aku yang mengirimkan surat itu. Jika memang, aku lebih memilih James daripada kau. Lantas, mengapa sekarang aku ikut mengunjungimu kemari?". Ucap panjang Rosemary.


Hans mengangguk sesal mendengar penyataan yang masuk akal dari Rosemary itu.


"Aku memang bodoh".


"Aku tidak berpikir dulu sebelum bertindak". Gumam sesal Hans.


"Huss!".


"Jangan berkata seperti itu. Aku tidak suka". Ucap Rosemary.


Terdiamlah sosok ksatria tangguh itu, sesaat setelah sang kekasih tak terima dengan ucapannya yang menganggap dirinya bodoh.


Rosemary tersenyum melihat Hans yang masih terdiam. Ia berniat untuk mengajaknya kembali ke tempat kunjung tadi.


"Sudahlah, ayo kita kembali". Ajak Rosemary dengan tatapan tulusnya.


Hans sontak mengangkat wajahnya dan balik menatap Rosemary.


"Kau sudah memaafkanku?". Tanya Hans.


"(mengangguk tersenyum)".


"Iya sudah". Balas Rosemary.


"(senyum sumringah)".


"Terima kasih Rose". Gumam Hans sembari memeluk erat tubuh mungil Rosemary.


...****************...


Sementara itu, di istana Ardarish. Royland menemui sang kekasih.


"Ttokk ttok". Suara ketukan pintu ruang tenun.


Mendengar ketukan pintu tersebut, Auraline bergegas membuka pintu tersebut.


"(membuka pintu)".


"Pangeran Royland?". Ucap Auraline.


"(tersenyum)".


"Hai, putri Auraline". Sapa Royland.


"Kemari, masuklah". Ajak Auraline.