
Ditengah duduknya yang nyaman, Rosemary kemudian membuka buku yang Hans pinjamkan tadi padanya. Baru saja ia membuka halaman pertama, tiba tiba datanglah Bella.
"Rose? kau tak makan?" tanya sang kakak dengan raut wajah yang terheran.
Rosemary sontak menutup buku yang ia baca dan mengarahkan padangannya pada sang kakak. "ah iya, aku lupa kak. habisnya, aku tidak lapar hehe" balas Rosemary.
"tadi Aura mencarimu. tapi, William bilang kau sedang menemui Hans di ruang tamu. lalu sekarang, mana dia?" masih dengan posisinya yang berdiri, Bella terus bertanya secara halus pada sang adik.
Mendengar pertanyaan dari sang kakak yang diucapkan dengan halus, Rosemary tak mampu menahan senyumannya. Ia tersenyum seraya memandang wajah Bella. "dia kemari karena William memintanya untuk mengajari ilmu ksatria, kak. jadi, sekarang mereka sudah memulai pelajaran itu di ruang belajarku" balas Rosemary.
Bella tersenyum dan mendudukkan dirinya di samping Rosemary. "ah begitu, rupanya. suamiku bilang, dia juga mau bertemu dengan Hans. ada yang mau dia katakan padanya" ujar Bella.
Melihat sang kakak yang semakin mendekatinya, Rosemary juga semakin tertegun. Ia nampak tak percaya Bella akan benar benar berubah seperti itu. "ah iya kak, nanti setelah kelasnya selesai aku akan memberitahunya" raut wajahnya terlihat gugup ketika sang kakak yang selama ini selalu membencinya, tiba tiba duduk mendekat dengan ramah.
Bella mengangguk sembari tersenyum pada Rosemary. "oh iya, ada yang mau ku katakan juga padamu" raut wajahnya seketika mendatar selepas mengucapkan hal itu.
Perubahan raut wajah sang kakak membuat Rosemary seketika takut. "a-apa itu, ka-ak?" tanya nya terbata bata.
...**************** ...
Alisa terbangun di sebuah kamar kecil nan sempit yang berisi banyak barang barang perkakas. Dan telah dipastikan, kamar itu adalah kamar miliknya. Sekujur tubuhnya terasa lemas, bibir mungilnya tidak lagi berwarna pink melainkan memucat. Nafasnya terengah engah dengan keringat dingin yang menyucur dari setiap sudut keningnya.
Ia membuka matanya perlahan dan melihat sekeliling kamar. Dilihatnya seorang pria berbadan tegap duduk di samping kirinya dan tengah menunduk seraya memainkan jari jemarinya itu.
Matanya menyipit menyelisik, ia mencoba mengenali pria tersebut. "pangeran James?" panggilnya lemas.
Mendengar panggilan dari Alisa, James sontak mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Alisa. "kau sudah bangun?" ujarnya datar.
"kenapa kau ada disini?" Alisa tidak tahu jika James yang menolong dirinya. Raut wajahnya seketika berubah sinis, ia beranggapan bahwa James telah melakukan hal buruk padanya.
"kau tadi pingsan di depan warung, lalu aku yang membawamu ke rumahmu" masih dengan nada yang datar dan pandangan yang berpaling dari Alisa, James berucap dengan malas. Entah mengapa rasa ibanya kembali hilang.
"apa?! jadi tadi aku pingsan?! dan kau yang membawaku kemari?! kau tidak mengambil kesempatan kan?!" bukannya berterima kasih, Alisa malah mencurigai James dengan nada cukup lantang.
Pandangannya seketika mengarah pada Alisa, kedua matanya membelalak. Emosinya terpancing karena Alisa yang mencurigainya tidak tidak. "kesempatan apa yang kau maksud?! kau ini bukannya terima kasih! mana mungkin aku mengambil kesempatan! kau kira aku pria murahan?!" jelasnya dengan nada yang meninggi.
Alisa yang masih lemah seketika nyalinya menciut mendengar nada suara James yang meninggi. Ia terdiam sejenak sembari memalingkan pandangannya dari pria yang sedang beremosi itu.
"maaf, kalau aku mencurigaimu yang tidak tidak. terima kasih juga, kau sudah menolongku" ujar Alisa lirih.
James menoleh singkat sembari menghela nafas panjang kemudian beranjak dadi duduknya.
"kau mau kemana?" dengan beraninya, Alisa kembali mengajaknya bicara meski ia tahu emosi James masih belum mereda.
Tanpa membalikkan badannya dan tetap berjalan pelan, James menjawab pertanyaan itu dengan datar. "mengambilkan kau makan" balasnya.
Alisa hanya terdiam. Ia tak menyangka jika James akan melakukan itu padanya. Hatinya seketika bergetar, dipandanginya punggung gagah yang semakin menjauh darinya itu.
Dihampirilah ayah Alisa yang tengah duduk di ruang tamu rumahnya yang cukup kecil bersama raja Rolland. Mereka terlihat asik berbicara sampai ayahnya tidak lagi mengingat statusnya sebagai raja. James terdiam sejenak, melihat keakraban kedua sosok ayah tersebut.
"ayah, Alisa sudah bangun" ucap James dengan halus.
Meski sebagai saudagar besar, rumah yang ditinggali Alisa dan sang ayah begitu kecil. Bahkan, setelah memasuki ruang tamu mereka akan langsung melihat dapur yang menyatu dengan ruang keluarga kecil.
Keuntungan dari penjualan aromatherapy, bukan ia pergunakan untuk membeli rumah lagi. Melainkan, dipergunakan untuk merenovasi dan mendekor toko agar terlihat lebih menarik. Jacob Arvent dan Alisa juga sudah nyaman tinggal di rumah yang dekat dengan toko mereka.
"ah syukurlah, terima kasih kau sudah menolongnya, pangeran" Jacob Arvent berterima kasih atas bantuan yang James berikan.
James tersenyum tipis dan mengangguk. "iya, sama sama. aku rasa dia harus segera makan" ujar James.
"ah iya, baiklah akan saya...." belum selesai Jacob Arvent berbicara, raja Rolland menyautnya.
"biar James saja yang memberikannya. ini nak, ayah sudah membelikan makanan untuknya" ditunjuknya sekotak nasi yang berada di atas meja ruang tamu oleh raja Rolland.
Raut wajahnya seketika mendatar. Padahal, ia memang berencana untuk menyuruh ayah Alisa saja yang mengantarkan makanan padanya. Demi tanpa mengurangi rasa hormatnya sebagai anak, terutama di depan masyarakat biasa, James pun mengiyakan perintah sang ayah.
...**************** ...
Suasana menegangkan sedang dirasakan Rosemary ketika sang kakak merubah raut wajahnya. Pikirannya menerka nerka tentang apa yang akan kakaknya katakan pada dirinya.
Bella terkekeh kecil, ketika melihat sang adik yang nampak tegang dan gelisah itu. "kau tak perlu tegang seperti itu" ujarnya.
Rosemary tersenyum kecut, giginya ia gerentakkan karena merasa malu.
"aku hanya mau minta maaf. maaf jika selama ini, aku tidak bisa menjadi kakak yang baik. aku memang kakak yang bodoh" ucap Bella dengan kedua tangannya yang mengelus pelan punggung tangan Rosemary.
Rosemary seketika menggeleng. "tidak kak, jangan berbicara seperti itu" pandangannya tertuju rapi pada Bella serta digenggamnya erat tangan sang kakak itu.
"itu memang benar, Rose. padahal umurku sudah 27 tahun, tapi sifatku masih seperti anak kecil. bahkan, jauh dari kata dewasa. aku tak menggunakan akalku, aku masih saja menuruti kedengkian yang muncul dihatiku. sehingga, aku jadi membenci sosok adikku yang sangat di istimewakan semua insan ini" ucap Bella panjang, kedua matanya memandang sang adik begitu tulus.
Tersenyumlah gadis istimewa itu. Kedua matanya berbinar binar memandang wajah sang kakak. "meski begitu, aku tidak pernah menaruh rasa benci pada kakak di hatiku. kak Bella akan selamanya menjadi kakakku" balas Rosemary halus.
Bella tersenyum haru, dipeluknya sang adik itu dengan hangat.
Akhirnya selama bertahun tahun, hubungan baik antara kakak beradik dari kerajaan Ardarish mulai terjalin. Tanpa mereka sadari, Clark tengah memperhatikan mereka dari tangga. Dirinya tersenyum bangga, setelah berhasil mengubah cara pikir Bella yang kolot.
...**************** ...
Sementara itu, dibawalah sekotak nasi tersebut dan diberikannya pada Alisa. "kau bisa makan sendiri kan?" seperti biasa dengan nada yang datar, James bertanya pada Alisa tanpa memandang wajahnya.
Berbeda dengan Alisa, ia selalu memandang James ketika pria itu sedang berbicara. "iya, bisa kok. terima kasih ya" balas Alisa dengan sedikit gugup.
"ya sudah, makanlah. aku pamit pulang" tidak ingin berlama lama di kamar itu, James kemudian memutuskan untuk keluar dan mengajak ayahnya pulang.
Melihat James yang hendak pergi, Alisa menghentikan langkahnya. Ditariklah pelan lengan James yang gagah itu. "tunggu.." tiba tiba jantungnya berdetak kencang setelah menggenggam lengan James, sehingga Alisa tak kunjung menyelesaikan ucapannya.
James menoleh dengan tatapan datarnya. "apa lagi? kau masih butuh bantuan?" tanya nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...