
"(tersenyum)".
"Dasar apa?". Tanya Hans.
"(tersipu)".
"Benar benar kau ya". Balas Rosemary.
"(menujuk pipi Rosemary)".
"Lihat ini, pipi mu memerah (tertawa)". Ucap Hans tertawa.
"(memegang pipinya)".
"Ah tidak, mana mungkin". Balas Rosemary.
"(tertawa)".
"Mana bisa kau pegang. Berkaca lah sana". Ucap Hans tertawa melihat tingkah kekasihnya itu.
"(tersenyum malu)".
"Apa sih. Kau membuatku malu saja". Balas Rosemary tersipu.
"(tertawa kecil)".
"Iya maaf. Habisnya, respon mu lucu sekali". Ucap Hans.
"(melirik)".
"Ada perlu apa kau kemari?". Tanya Rosemary.
"Tadinya aku hendak mengajakmu lari pagi".
"Tapi ternyata. Kau sedang sibuk berbicara dengan James. Ya sudah tidak jadi". Jawab Hans.
"Yah, tidak jadi ya". Gumam Rosemary.
"Siapa suruh, sibuk dengan pria lain". Ucap Hans sembari tersenyum seringai".
"(mencubit pelan mulut Hans)".
"Jaga mulutmu ya. Tadi saja, dia menghawatirkan keselamatan mu". Balas Rosemary.
"Alasan saja dia itu. Supaya bisa berbicara denganmu". Ucap Hans sinis.
"(tersenyum)".
"Entahlah. Tapi yang terpenting kan sekarang dia sudah pulang". Balas Rosemary.
"Ya sudahlah, aku juga mau pulang. Sepertinya ini sudah mau masuk waktu sarapan". Ucap Hans.
"(tersenyum dan mengusap pelan kepala Hans)".
"Iya, hati hati ya. Besok jadi tidak?". Tanya Rosemary.
"(mengangguk tersenyum)".
"Tentu saja jadi". Balas Hans.
"Kalau begitu, aku pamit pulang ya". Pamitnya.
"(mengangguk tersenyum)".
"Iya cinta". Balas Rosemary.
Hans mulai menunggangi kudanya dan kembali pulang ke istananya. Melihat kepergian Hans, Rosemary sangat khawatir apabila di jalan ia kembali di hadang oleh prajurit misterius seperti yang terjadi kapan lalu. Rosemary juga tidak berhenti berdoa untuk Hans, agar semesta selalu melindungi dirinya dari bahaya.
...****************...
Sesampainya di depan gerbang pemukiman rakyat Elevan. Tak disangka, Hans terpaksa berhenti karena tiba tiba kembali berhadapan dengan kawanan prajurit misterius, yang ternyata adalah pasukan pihak sekutu yang dibentuk oleh istri dari mendiang pemimpin perang yang Hans bunuh kapan lalu saat perang.
"Mau apa kalian?!". Tanya Hans.
"Apa kau yang bernama Hans?". Tanya balik prajurit misterius itu.
"Iya!".
"Ada perlu apa kau denganku?!". Ucap Hans.
"(turun dari kuda yang ditunggangi)".
"Sabar dulu. Jangan gegabah, aku hanya akan memberimu penawaran". Balas prajurit tersebut.
"(turun dari kuda dan mendekat)".
"Penawaran apa yang kau maksud?". Tanya Hans.
"(melihat luka di tangan kiri Hans)".
"Aku rasa kau terluka karena pasukan kami?". Ucap prajurit itu mengalihkan.
"(melirik sinis)".
"Kau tak usah banyak bicara!, cepat katakan apa yang kau maksud tadi!". Tegas Hans.
"Ah baiklah, jika itu yang kau mau".
"Jika kau ingin terbebas dari gangguan kami. Kau bisa menyerahkan desa yang ayahmu pimpin sekarang". Jelas prajurit.
"(senyum seringai)".
"Ha? penawaran seperti apa itu?". Ucap Hans meremehkan.
"Ya, jika kau tak mau menerima tawaran itu, terpaksa kami harus menghabisimu". Balas prajurit tersebut.
"Aku yang akan menghabisi kalian sekarang!". Tegas Hans.
Terjadilah perkelahian antar Hans dan prajurit sekutu itu. Dengan kelincahan dan ketangguhannya, ia mampu menghindar dari serangan sekutu tersebut. Tangkis demi tangkis ia lakukan. Hingga terpaksa harus menusukkan pedang miliknya ke salah satu prajuti itu untuk menghindari serangan dari mereka. Ksatria pemegang gelar Green Knight itu tak mudah dikalahkan oleh pasukan biasa. Tak butuh waktu lama, seperti biasa ia sudah membuat 4 orang pasukan tergelatak tak berdaya. Namun, kemenangan itu masih belum sempurna. Masih tersisa 1 orang yang tadi sempat memberikan penawaran.
"(terengah engah)".
"Maju kau!". Ucap Hans kencang
Prajurit itu pun maju dan menyerang Hans secara brutal. Namun, naasnya karena stamimanya yang sudah cukup terkuras, membuat dirinya terpaksa terjatuh mundur karena dorongan keras dari prajurit tersebut.
"Kau masih mau mengelak?". Ucap prajurit tersebut.
"(tertatih)"
"Takkan kubiarkan kau merebut rakyatku". Balas Hans.
"Takkan kubiarkan kau hidup, pria kecil!!". Teriaknya sembari hendak menusukkan pedangnya pada Hans.
Namun, tiba tiba James datang dan menangkis pedang tersebut.
"Mati lah kau, Orchid!". Saut James sembari menangkis pedang tersebut.
Terjadilah pertarungan antara James dan prajurit tersebut. Hans yang melihatnya nampak tidak percaya dengan kebaikan James tersebut dan terdiam sejenak.
"Hans!".
"Bangunlah kau! cepat bantu aku". Teriak James.
Tapi, lamunan itu terbuyarkan oleh teriakan James.
Mendengar teriakan itu, Hans segera bangun dan membantu James untuk menyelesaikan pertarungan itu. Dengan bantuan James, ia berhasil mengalahkan pasukan sekutu dan selamat.
"Sudahlah, Hans".
"Ayo kita segera pergi". Ajak James.
"(menoleh)".
"Tunggu, mengapa kau menolongku?". Tanya Hans keheranan.
"Ah sudahlah".
"Lebih baik kita pergi dulu dari sini". Balas James.
Mereka pun akhirnya pergi dari sana. Hans mengajaknya untuk masuk ke pemukiman rakyat Elevan. Duduklah mereka di sebuah rumah makan elit milik warga setempat.
"Bagaimana kau bisa ada disini?". Tanya Hans.
"Tadinya aku hendak berburu rusa, di hutan dekat pemukiman rakyatmu. Disana banyak sekali rusa yang besar besar". Balas James.
"Ah begitu. Ku dengar tadi, kau memanggil nama dari salah satu mereka".
"Jadi, apa kau mengenal mereka, James?". Tanya Hans.
"(menyeruput secangkir teh)".
"(mengangguk) dia adalah paman temanku. Aku tak menyangka ia bergabung dengan pihak sekutu". Balas James.
"Sekarang banyak beberapa kerajaan yang memihak mereka".
"Hanya dengan iming iming harta kekayaan, mereka rela berpihak pada kejahatan". Ucap Hans.
"(mengangguk)".
"Kau benar Hans. Selain itu, aku rasa mereka bodoh. Mana mungkin sekutu mau membagi hasil yang mereka peroleh". Tambah James.
"Tapi, James. Mengapa kau tiba tiba membantu ku?". Tanya Hans lagi.
"Memangnya tidak boleh?". Tanya balik James.
"Bukan begitu, kau selalu nampak ingin bersaing denganku. Tapi, sekarang kau tiba tiba berubah".
"Rosemary juga berkata begitu". Jelas Hans.
"(tersenyum)".
"(menepuk bahu Hans) Hans, kau tahu kan, semesta itu punya takdir. Sekuat apapun aku merebut Rosemary darimu, jika semesta tak mengizinkannya aku tak akan pernah menang". Balas James.
Hans terdiam mendengar ucapan James yang begitu menyentuh. Ia benar benar tidak menyangka dengan perubahan James itu.
"Ku relakan dia untukmu". Tambah James.
"(menoleh)".
"Kau serius?". Tanya Hans.
"(mengangguk tersenyum)".
"Serius, lagipula untuk apa aku bercanda". Balas James.
Hans mengangguk dan tersenyum mendengar pernyataan yang keluar dari mulut James itu.
"Lagipula cinta itu tidak harus memiliki kan?".
"Sudah jadi konsekuensiku, mencintai wanita yang sudah jadi milik orang lain". Tambah James.
Setelah percakapan panjang dengan Hans, James pun memutuskan untuk kembali pulang.
...****************...
Keesokan paginya ia bersiap-siap untuk pergi ke Hutan Kota negri Fanlyland. Ia juga memanggil sang kakak, Royland untuk membantunya mengemas peralatan, setelah selesai berangkatlah mereka ke istana Ardarish untuk menjemput kekasih mereka masing-masing.
Sesampainya disana, mereka disambut dengan gembira oleh Rosemary dan Auraline.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...