
Sudah seminggu ini, James tak lagi melihat sosok Rosemary. Ia berasumsi Ailee sudah kembali terbangun ke dunia asli nya. Tapi, dalam benaknya masih terpikirkan siapa sebenarnya jiwa yang telah mengisi raganya Rosemary. Datang dari mana, dan dari bangsa apa. James kembali terduduk dengan pandangan kosong di sofa tunggal kamarnya.
"aku rasa, sekarang dia sudah kembali ke dunianya. Tapi, demi apapun aku masih bingung dengan apa yang dialami Ailee. bagaimana bisa ia terbangun di raga Rosemary?" gumamnya bingung.
"siapa dia sebenarnya? dari bangsa mana dia?" gumamnya lagi. Kali ini dia berpikir begitu keras, dahinya berkerut, kedua matanya menyipit sinis.
Karena terlalu berpikir keras. James merasa kepala kirinya begitu sakit, ia mendecak kesal. Ia juga tak pernah menyangka jika dirinya begitu mencintai sosok Ailee yang mendiami raga Rosemary itu. Semenjak keberhasilannya mendapat air telaga Hyris, James tidak bisa tidur tenang. James benar benar takut kehilangan Ailee. Meski, bukan dirinya yang memiliki. Tapi, dengan memandangnya saja sudah mengobati rasa rindu yang ia rasakan.
"meski dia bukan sosok Rosemary yang asli, tapi aku jatuh hati dengan karakternya. aku tidak mau kehilangan dia!" sudut kening kirinya ia pijit pelan, wajahnya tertunduk pilu. hatinya diselimuti rasa takut akan kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.
James tidak tahu, jika Ailee masih ada di negri Fanlyland. Padahal, jiwa Ailee masih utuh mendiami raga Rosemary itu.
Namun, walau ia sudah berasumsi seperti itu. Otak dan hatinya tidak berjalan searah. Meski otaknya mengatakan Ailee sudah kembali, tapi hatinya berkata jika Ailee masih ada di negri ini. Dengan begitu, ia berencana untuk memastikannya dengan mendatangi istana Ardarish besok pagi.
"aku rasa aku harus ke istana Ardarish besok" ujarnya yakin. Dengan tubuhnya yang kembali terduduk tegak, dan kedua matanya yang terbuka lebar memandangi burung burung terbang dari balik jendela kamarnya.
****************
Di kala senja sudah menampakkan dirinya hari itu, Hans juga mulai kembali menampakkan dirinya pada seluruh anggota keluarga kerajaan Elevan dan Ardarish. Kedatangannya disambut gembira oleh kedua kerajaan tersebut. Di depan gerbang istana Elevan, dipasangkannya sebuah karangan bunga besar dan ucapan selamat datang. Area jalan masuk juga dihiasi dengan karpet kecil berwarna merah dengan motif abstrak emas.
Rosemary sedikit tertegun ketika melihat kekasihnya itu pulang dengan bentuk tubuhnya yang semakin gagah, kulit putihnya sedikit mencoklat, dengan rambut lurusnya yang sedikit lebih panjang. Tapi, perubahan itu tak membuat rasa cintanya berkurang. Bahkan setelah melihat Hans, rasa cinta itu semakin bertambah. Ia begitu bangga dengannya. Keteguhan Hans membuat Rosemary begitu terpukau.
"kau sudah kembali, nak" gumam raja Charless. Senyumannya begitu bahagia ketika memandangi anaknya itu.
"ibu bahagia sekali melihatmu begitu sehat seperti ini, Hans" ujar ratu Elisa.
"terima kasih atas doanya ayah, ibu. Hans berhasil menyelesaikan pendidikan ksatria ini!" pupil mata Hans berbinar binar, kedua sudut matanya juga hampir meneteskan air mata.
Tidak hanya keluarga kerajaan Elevan, keluarga kerajaan Ardarish juga merasakan suasana haru itu. Seusai mencium tangan kedua orang tuanya, Hans pun bersalaman dengan seluruh anggota keluarga lainnya. Hingga sampailah pada Rosemary.
"apa kau masih mengingatku?" Hans memegang kedua tangan Rosemary dengan diiringi senyuman yang terukir di bibirnya. Ia memandangi wajah Rosemary begitu dalam.
"kau selalu ku ingat di dalam hati dan fikiranku, Hans" wajah indah Rosemary memandang penuh wajah rupawan Hans, dengan senyum tulusnya.
Hans tersenyum mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rosemary itu, keduanya saling pandang tanpa melepaskan senyuman dari bibir mereka masing masing.
Interaksi mereka berdua, membuat seluruh anggota keluarga kerajaan hanya terdiam memperhatikan mereka. Dua insan yang dulunya bertingkah seperti anak kecil, sekarang telah berubah. Rasa kesal yang begitu tinggi di dalam hati Rosemary sekarang berganti menjadi rasa cinta yang begitu dalam.
"ya sudah, kalau begitu ayo kita masuk semua" setelah terdiam sejenak, akhirnya raja Charless mengajak semua anggota keluarga untuk masuk dan menikmati hidangan.
****************
Sementara itu, di dalam kamar James yang kembali hening itu. Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu.
"ttok tok" suara ketukan pintu itu membuat lamunan James terbuyarkan.
"buka saja" James menoleh sejenak. Kemudian pandangannya kembali tertuju ke arah luar jendela kamar.
"kau sedang apa?" tanya nya sambil berjalan maju.
"Gloria? ada perlu apa kau kemari?" raut muka James semakin masam ketika melihat kehadiran Gloria.
"aku rindu padamu" tanpa menyimpan rasa malunya, Gloria mengucapkannya dengan yakin.
"cih, apa apaan!" James mendecak kesal, sakit kepalanya belum sepenuhnya menghilang. Tapi, sudah ditambah lagi karena kedatangan Gloria itu.
"kau selalu saja seperti itu. padahal, aku mencintaimu sejak dulu" Gloria semakin mendekat, ia terduduk di pinggiran sofa tunggal yang James duduki, dengan lengan kanan nya yang berusaha meraih bahu lebar itu kemudian memeluknya dari samping.
"tolong, jangan ganggu aku hari ini. aku sedang pusing" James tak kuasa menolak pelukan itu, rasa sakit di kepalanya membuat ia tak ingin banyak bergerak.
"kau sedang sakit ya?" tanya Gloria.
James hanya mengangguk, tangan kirinya kembali memijit pelan sudut kening kiri yang sedikit berkeringat itu.
"kau pasti terlalu sering memikirkan Rosemary! sudahlah, jangan pikirkan dia lagi! dia sudah jadi milik Hans!" ucap Gloria lantang. Lengan kanannya tak lagi memeluk James. Raut wajahnya kesal, dengan satu alisnya yang menaik.
"jika kau sudah tahu begitu, seharusnya kau juga tidak mendekati Hans! Hans juga sudah jadi milik Rose!" ucapan lantang itu, membuat James emosi. Ia mengeraskan suaranya, kedua matanya membelalak menatap wajah kesal Gloria.
"James? kenapa kau malah membentakku? aku hanya ingin kau tidak memikirkan dia lagi, supaya kau tidak sakit!" bentakan James membuat wanita licik itu sedikit takut, Gloria menundukkan wajahnya dan merengek. Ia berpura pura menangis, berharap ia bisa membuat James iba padanya.
"maaf jika aku membentakmu. tapi aku hanya berkata sesuai kenyataan" melihat Gloria yang merengek, ia menurunkan nada bicaranya.
Gloria tak membalasnya dengan kalimat apapum, ia masih tertunduk dengan tangisan pura puranya itu. Hal itu, membuat James terpaksa memeluknya dengan lengan kirinya.
"sudahlah, jangan menangis lagi. aku minta maaf" James bukannya iba, tapi ia tak mau lagi mendengar suara tangisan yang membuatnya merasa bersalah itu.
...****************...
Hindangan lezat telah tertata rapi di meja makan. Seluruh anggota keluarga diminta untuk duduk. Sebagai seorang Hans, tentu saja dia akan duduk di samping Rosemary.
"ayo, dinikmati hidangannya" ujar raja Charless selaku tuan rumahnya.
Mendengar ucapan dari sang raja, mereka semua menikmati hidangan tersebut.
"Hans, cobalah makanan ini. ini tadi, aku dan ibu yang membuatnya" Rosemary menodongkan sepiring tumis labu siam dan daging untuk diberikannya pada Hans.
"ternyata, kau bisa memasak ya" sudah lama Hans tidak bercanda dengan Rosemary. Senyum seringai itu kembali terukir.
"kau kira aku tidak bisa masak?!" mendengar ejekan itu, Rosemary kembali terpancing. Kedua bola matanya melirik Hans dengan sinis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...