
Saat kedua mata itu sudah baner benar terbuka lebar. Datanglah seorang dokter yang tiba tiba menghampirinya.
"Ailee? kau sudah sadar?" tanya nya dengan raut muka tak percaya.
Meski ia sudah tersadar, tapi mulutnya masih tak bisa bergerak dan seluruh badannya masih kaku. Ia tak mampu menjawab pertanyaan dari dokter tersebut. Beberapa kali ia berusaha untuk menggerakan tubuhnya, tapi tak ada gerakan apapun yang terjadi.
"Ailee?" panggilnya lagi. Dokter itu mendekat dan memandangi Ailee yang terbujur kaku itu.
Namun, takdir berkata lain. Ia kemudian kembali terbangun di kereta yang tadi ia tumpangi sebagai Rosemary. Ternyata ia hanya sedang bermimpi. Dengan nafas yang terengah engah, keringat yang bercucuran dari setiap sudut keningnya, membuat James yang melihatnya itu khawatir.
"ada apa Rose? kenapa kau tiba tiba terbangun?" tanya James dengan pandangannya yang panik.
"James, aku bermimpi!" nafasnya itu masih terengah engah. Tapi, Rosemary berusaha mengendalikan dirinya.
"tenangkan dirimu. atur nafasmu, Rose" pandangannya panik, kedua lengan yang tadinya terlipat rapat di depan dadanya, kini tengah menjulur ke depan mengambil sebuah botol air mineral dan diberikannya pada Rosemary.
Diminumnya sedikit air mineral itu untuk mengisi perut kosongnya. "James, aku tidak tahu, aku tadi bermimpi atau tidak. tapi, aku tadi sempat terbangun di rumah sakit! lebih tepatnya di duniaku sendiri!" ucapnya dengan lantang, hingga urat urat lehernya hampir terlihat jelas.
"sstt, nanti William dengar. pelankan suaramu!" balas James dengan kedua matanya yang melirik tajam William yang sedang tertidur.
"ah, maaf" Rosemary sontak membungkam mulut itu dengan tangan kirinya. "tapi, sungguh aku tadi sempat terbangun disana" ujarnya lagi dengan suara lirih.
"lantas, kenapa kau masih terbangun lagi disini?" tanya James dengan pandangannya yang nampak tak percaya.
"aku tidak tahu. kusangka, tadi aku benar benar terbangun di duniaku. tapi nyatanya itu semua hanya mimpi" Rosemary tertunduk pilu, ia merasa kecewa. Tapi setelah ia pikir pikir lagi, mana mungkin ia tiba tiba terbangun tanpa bantuan ramuan itu.
"sudahlah, kau jangan memikirkan yang macam macam, agar kau tidak bermimpi. sebentar lagi kita akan sampai" ujar James.
"ha? kita sudah akan sampai? padahal kita baru saja berangkat" balasnya tertegun, matanya membulat tak percaya.
"baru saja katamu?! kita ini sudah 6 jam di dalam kereta" ujar James.
"6 jam?! berarti, tadi aku tidur hampir 6 jam?" Rosemary kembali tertegun, tak menyangka jika dirinya tertidur selama itu.
"iya, Rose. aku saja sedari tadi tak bisa tidur. kau malah tertidur selama itu" James kembali melipat kedua lengannya dan menyandarkan punggungnya di bangku kereta, dengan pandangan yang masih memandang penuh wajah Rosemary.
"kau pasti kepikiran tentang aku kan?!" Rosemary terkekeh, mencoba mengajak James bergurau.
"apa apaan? tentu saja tidak lah!" wajah tampan James itu tersipu, dan memalingkannya dari pandangan Rosemary.
Tingkah James membuat Rosemary tersenyum, kedua mata indahnya menyipit. Ia masih tak mengira, jika James akan menjadi teman baiknya saat ini.
Selepas menempuh perjalan sekitar 6 jam 30 menit, mereka sampai di sebuah gerbang besar berlapis titanium yang mengkilat. Gerbang besar itu dihimpit oleh hutan lebat di setiap sisi sampingnya. Rosemary terdiam sejenak, ia terpukau dengan gerbang itu. Meski tak tahu sebenarnya gerbang tersebut gerbang apa, tapi Rosemary terpukau dengan kemewahan gerbang itu.
"kau sudah lihat? betapa mewahnya gerbang ini?" ujar James dengan pandangan yang tertuju rapi ke arah gerbang itu.
"iya, gerbang apa ini?" tak sadar mulutnya ternganga, kedua matanya masih setia memandang gerbang besar tersebut.
"ini gerbang Hyris" ucap James singkat.
"memangnya kita boleh masuk?" mendengar kata "Hyris" Rosemary tak yakin ia bisa memasuki gerbang itu. Karena Hyris adalah nama dewa, mana mungkin ia dengan mudah memasuki gerbang dewa.
"maksudmu, kita akan melewati hutan hutan lebat itu?" tanya nya seusai melihat James yang memandangi hutan lebat itu.
"iya. kita akan masuk ke hutan itu dan memotong jalan" balas James santai.
"ha? kau ini yang benar saja! pasti di dalam hutan itu banyak hewan buas! mana mungkin kita akan masuk kesana!" terkejut sudah jadi hal yang wajar, pasalnya hutan tersebut nampak seperti hutan bebas yang di dalamnya berisi banyak sekali hewan hewan buas.
"kau tenang saja, kita tidak akan masuk terlalu dalam. lagipula kita akan memotong jalan nantinya. ya sudah, ayo!" sebelum hari semakin sore, James mengajaknya untuk segera menuju telaga Hyris.
...**************** ...
Meski sedari tadi Hans terbaring santai di ranjangnya. Tapi itu tak mengurangi rasa lelahnya yang teramat sangat itu. Hans mencoba untuk memejamkan matanya, tapi tak bisa. Punggungnya, kedua lengannya, kedua kaki, dan tengkuk lehernya terasa sangat berat dan sakit. Namun, ia harus tetap menjalani pelatihan besok pagi. Sama halnya dengan Brandon, tapi anehnya Brandon masih bisa tertidur pulas dengan dengkurannya yang begitu keras.
"bisa bisanya, dia tertidur pulas dalam keadaan se lelah ini. dengkurannya pun keras sekali" gumam Hans dengan pandangan yang menoleh ke arah Brandon yang tertidur menyingkur di ranjangnya.
Hans memandangi kembali langit langit kamarnya. Di langit langit itu terbayangkan sesosok Rosemary yang sedang tersenyum padanya sembari menggendong seorang bayi laki laki. Hans memang berencana segera menikahinya apabila semua pendidikannya sudah ia selesaikan. Tapi, mana mungkin ia menikah lebih dulu daripada Royland.
"aku rindu sekali dengannya. setiap malam aku selalu memimpikannya" Hans masih memandangi langit langit itu dengan senyuman yang terukir di bibinya.
...**************** ...
Sementara itu Rosemary, James dan William tengah berjalan ke pelosok hutan dengan memotong jalan untuk menuju telaga Hyris. Ketika telaga itu sudah terlihat oleh mata, tiba tiba mereka bertemu dengan seorang kakek yang sedang berdiri memandangi telaga itu.
"siapa dia? apa dia pertapa sakti itu?" tanya nya lirih, dengan raut wajahnya yang takut.
"aku tidak tahu. tapi ini kan telaga yang ada diluar gerbang, mana mungkin dia menjaga disini" balas James dengan lirih.
"lah? memangnya berbeda?" tanyanya bingung.
"beda lah, lihat saja tidak ada air terjunnya. hanya ada aliran sungai. telaga Hyris yang dijaga pertapa sakti itu, sebuah air terjun" balas James dengan pandangannya yang masih tertuju pada kakek itu.
Terlalu lama berdebat, akhirnya mereka pun berinisiatif untuk berkomunikasi dengan kakek itu. Meski awalnya mereka beranggapan kakek itu jahat, ternyata mereka salah. Justru kakek itu mempersilahkan Rosemary untuk mengambil air telaga Hyris tersebut. Mereka tidak menyangka, jika akhirnya mereka bisa kembali sebelum 4 hari. James memang orang yang pandai dengan ingatannya yang tajam ia mampu menghafal jalan jalan kecil yang ada di kota Mergoriesh itu.
"James, aku benar benar berterima kasih padamu. aku tak tahu, aku harus membalas rasa terima kasihku dengan apa" ucapnya dengan pandangannya yang menatap dalam wajah James.
"iya, sama sama. kau tak perlu membalas apapun. anggap saja aku ini teman baikmu" James tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Meski tak mampu memiliki Rosemary, tapi ia bersyukur bisa berteman baik dengannya.
Rosemary membalasnya dengan anggukan dan senyum tulusnya. Mereka sampai di istana sekitar pukul 1 dini hari. Dengan badan yang sempoyongan, William berjalan memasuki istana dengan rasa kantuk yang mendalam.
"Will, jalannya hati hati. nanti tersandung" ucap Rosemary sambil menggandeng erat lengan adiknya itu.
"hmm iya kak. aku mengantuk sekali" gumam William dengan kedua matanya yang masih tertutup rapat.
"ayo, buka dulu matanya" tutur Rosemary sembari membuka paksa kelopak mata William.
William mengangguk dan menuruti perkataan kakaknya itu meski begitu sulit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...