Human-Z

Human-Z
Chapter 9 : Putus Asa



"Hugo .. aku akan segera kesana!"


Rafael langsung berlari kearah Revi, dia merampas Ak-47 milik Revi.


Revi yang tidak siap hanya melongo ketika Ak-47 miliknya telah berada di tangan Rafael.


"Sampai jumpa teman-temanku!" Ujar Rafael lirih sambil tersenyum kecil kepada teman-temannya.


....


Teman-teman Rafael hanya memandang kaku kearah Rafael.


Brug!


Tiba-tiba pak Setyo menyergah dan menendang senapan di tangan Rafael hingga terlempar jauh darinya.


"Sadarlah, nak Rafael!" Seru pak Setyo.


"Tidak boleh ada korban jatuh ditanganku lagi pak!" Jawab Rafael dengan nada tinggi.


"Kau bodoh!! Jangan cepat putus asa seperti itu!!" Bentak pak Setyo.


Rafael sedikit termenung sambil melihat 5 mayat para koki yang telah bersimbah darah.


"Ehh! Penahan lehermu terlepas!!" Sahut Clara.


"Ah! Ini tadi terkena pisau para koki saat mereka lempar." Ujar Rafael sambil memegang lehernya.


"Katakan ... apa yang terjadi dengan para koki sehingga kau melakukan hal ini ?" Tanya pak Setyo dengan lembutnya.


"Yaahh .. singkatnya mereka menyerangku karena tau aku bukan manusia." Jawab Rafael.


"Terus kau membela diri ?" Sahut Bryan.


"Tidak perlu banyak tanya!! Aku hanya ingin mati saja sekarang!!" Teriak Rafael dengan segenap tenaga.


Akibat suara Rafael yang menggelegar, semua orang yang berada di ruangan itu menutup telinganya menggunakan kedua tangan mereka.


"Mati!"


Rafael langsung berlari ke arah senapan Ak-47 yang tergeletak tak jauh dari para mayat koki-koki tersebut. Dengan cepat, Rafael dapat meraih senapan itu dan mengangkat mulut senapan itu kearah kepalanya.


"Nice! Modifikasi Ak-47 aktif!" Gumam Rafael dengan tenangnya.


"Arghh! Rafael! Jangan coba-coba dengan modifikasi itu!!" Teriak Revi.


"Nak Rafael .. tenanglah! Jika kau menembakkannya dan meledak, orang-orang lain di lantai 3 akan mendengar tembakan dan ledakan itu nak Rafael!" Seru pak Setyo perlahan-lahan mendekat ke Rafael.


"Ja-jangan mendekat!! Aku seorang pembunuh! Aku membunuh orang tak bersalah!" Rafael sedikit mulai terisak tangis.


"Jika benar para Zombie mampu beregenerasi ... tidak ada cara lain, aku harus pakai rencana ini!" ~Batin pak Setyo sambil melirik kearah Clara.


"Clara! Tangan kanan Rafael!!" Teriak pak Setyo.


"Ah ba-baiklah!" Clara langsung menembakkan snipernya kearah tangan kanan Rafael.


Dor!


"Arrgh!" Rintih Rafael.


Senapan Ak-47 milik Revi terjatuh ke lantai. Pak Setyo dengan cepat langsung meraihnya dan mendorong Rafael hingga terjatuh.


"Jangan bergerak! Kamu akan saya bawa ke ruangan isolasi di hotel ini! Kamu harus menyadari perbuatan yang kamu lakukan hari ini! Serta harus meyakinkan hatimu bahwa kamu itu tetap manusia!!" Seru pak Setyo sambil menunjuk-nunjuk dada Rafael.


Bug!


Pak Setyo dengan cepat memukul titik vital Rafael di leher sehingga Rafael seketika pingsan.


"Fwuuuh ... buat susah saja kau Rafa!" Keluh Revi sambil mengambil senapan Ak-47 dari tangan pak Setyo.


"Dasar! Jika ada masalah tadi, seharusnya kau memanggil kita!" Sahut Clara.


"Haaa .. Rafael, aku tau kau ingin sekali membuang dirimu yang sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, belum ada cara seperti itu!" Timpal Bryan.


Akhirnya mereka membereskan kekacauan di dapur itu dengan bantuan beberapa staf hotel. Pak Setyo berkata bahwa para koki tiba-tiba berubah menjadi Zombie karena di masakan yang mereka cicip itu terdapat virus Zombie. Mungkin terlalu berlebihan, tapi mau bagaimana lagi.


Setelah itu, Eva dan Laura datang untuk membantu memasak kembali masakan di dapur tersebut. Waktu makan siang telah lewat banyak, namun orang-orang di ruang makan masih tetap setia menunggu.


Masakan yang dimasak teman-teman Rafael dan pak Setyo pun selesai, kemudian mereka menghidangkannya ke ruang makan. Tak ada yang tau nasib para koki yang telah mati kecuali para staf hotel.


Rafael dibawa pak Setyo ke lantai bawah tanah. Hotel tersebut memiliki 1 lantai dibawah tanah, dibawah tanah tersebutlah pak Setyo mengisolasi dirinya. Pertama, dia mengatakan pada murid SMK Misu bahwa dia mengurung diri di kamarnya, namun akhirnya rahasianya terbongkar akibat Rafael yang menunjukkan hal mengerikan.


Lantai dibawah tanah ~


Kelima teman Rafael, pak Setyo dan beberapa rekan polisinya membawa Rafael ke lantai bawah tanah.


"Jadi dia yaa pak kepala, yang membuat kekacauan di dapur itu ?" Tanya rekan pak Setyo.


"Dibilang dia mengacau mungkin iya, tapi yang mengacau pertama itu adalah para koki tempramen tinggi itu. Mereka menyerang Rafael yang hanya singgah di dapur tersebut." Jawab pak Setyo.


"Sudah-sudah. Ayo kita bawa anak ini dulu!"


Rafael diletakkan di ruangan berukuran 3×3 meter. Didalamnya terdapat tempat tidur, serta beberapa buku catatan.


"Baringkan disini pak?" Tanya Eva.


"Iya. Setelah itu kita pergi dari sini, kalau mau lihat kondisi temanmu itu, izin kepada saya. Tapi dalam 1 hari hanya boleh 1 kali jenguk, dengan waktu 30 menit." Jelas pak Setyo.


Akhirnya mereka semua pergi meninggalkan Rafael seorang diri terbaring tak sadarkan diri di ruangan terkunci tersebut.


Beberapa jam kemudian, Rafael terbangun dengan pandangan sedikit kabur dan berkunang-kunang.


"Akh! Pandanganku kabur ..." Ujar Rafael lirih.


Rafael dengan susah payah untuk mencoba duduk dan membiasakan diri kembali.


"Di-dimana ini?"


Rafael melihat sekelilingnya yang hanya ruangan bercat putih, tak ada perabotan apapun.


"Emm .. buku apa ini ?" Gumam Rafael ketika melihat 2 buah buku serta sebuah bolpoin terdapat di ujung ranjangnya.


Rafael mengambil 2 buku tersebut dan membuka asal halaman bukunya. Tidak terdapat apapun yang tertulis didalamnya. Di cover bukunya hanya tertulis 'buku cacatan'.


"Ah! mungkin saja aku dibawa oleh pak Setyo kesini untuk menenangkanku." Gumam Rafael.


"Jangan bergerak! Kamu akan saya bawa ke ruangan isolasi di hotel ini! Kamu harus menyadari perbuatan yang kamu lakukan hari ini! Serta harus meyakinkan hatimu bahwa kamu itu tetap manusia."


Rafael teringat dengan perkataan pak Setyo pada dirinya. Rafael berpikir, perkataan pak Setyo ada benarnya, namun perkataan terakhir itu tidaklah benar.


"Cih! Aku ini sudah bukan manusia!!" Seru Rafael sambil meninju dinding di samping ranjangnya.


Duak!


Dindingnya seketika retak kecil. Rafael yang sadar akan perbuatannya mempunyai ide.


"Hu! Malas saja aku disini. Aku harus keluar dan menjauh dari hotel ini! Aku tidak ingin melukai kembali orang-orang lain." Gumam Rafael.


Dengan segenap tenaga, Rafael meninju dinding disamping ranjangnya. Dindingnya pun berlubang, namun tiba-tiba tanah dalam jumlah besar masuk ke dalam ruangan Rafael.


"Woaah! Salah dinding aku!" Keluh Rafael.


Rafael melihat pintu ruangannya, dia langsung beranjak ke pintu tersebut. Pintunya terbuat dari besi.


"Wah! Mereka benar-benar mengurungku Disini. Sampai-sampai pintu besi dikerahkan!"


Rafael dengan cepat menendang pintu tersebut hingga membuat bunyi keras menggelegar di lantai bawah tanah tersebut.


"Iiih! Kuatnya! Dasar pak Setyo!" Seru Rafael.


...----------------...


Disisi lain, pak Setyo sedang meminum kopi diruangannya.


"Hacyuuu!!" Pak Setyo bersin hingga membuat kopi yang berada di dalam mulutnya tersembur keluar.


"Hu! Siapa juga yang membicarakanku!" Keluh pak Setyo.


...----------------...


Di ruang kamar para murid SMK Misu, Revi dan Bryan sedang saling adu fisik.


"Ayo! Maju cepat! Mana katamu bisa mengimbangi Rafa! Hanya segini mana cukup!" Seru Revi.


Bryan beranjak dari terkaparnya dengan terhuyung-huyung sambil mengelap darah yang keluar dari sudut mulutnya.


"Kalian! Sudah hentikanlah!!" Teriak Laura.


"Untuk apa dihentikan. Percuma, mereka sudah melakukan latih tanding berbahaya ini." Sahut Clara.


"Yaa memang mereka berdua selalu gini juga kok. Yang selalu berdarah paling Bryan." Timpal Eva santai sambil asyik memainkan sniper milik Clara.


"Hiyaaaat!"


Bryan meninju perut Revi, namun dengan cepat Revi menangkis pukulan tersebut dan membalas dengan menendang kaki Bryan hingga membuat Bryan terjatuh.


"Cih! Curang! Main nendang kaki!" Keluh Bryan.


"Kan gak ada tuh peraturan gak boleh nendang kaki." Sahut Revi enteng.


Brak!!


Tiba-tiba pintu ruangan kamar tersebut terbuka dengan kasar dan daun pintu tersebut terlepas hingga terlempar ke ranjang milik Revi.


~


Instagram : alif_ardra