
Tak semudah itu!"
Dor!
Suara tembakan terdengar dan peluru melesat kearah Rafael. Peluru itu sangat cepat dan benar-benar mengancam nyawa Rafael. Meskipun Rafael sudah bukan manusia biasa, dia tetap masih bisa mati.
Semua orang masih tertegun. Namun, ada seorang yang sadar dan segera melompat ke depan Rafael. Dia benar-benar tak peduli apakah peluru itu akan mengenainya atau tetap melewatinya. Prinsipnya 'Ada usaha ada hasil, meskipun itu buruk, aku tetap menanggungnya, walaupun itu tidak buruk bagiku, aku sangat menyesal tidak bisa menyelamatkan kawanku'.
Sesosok tubuh ambruk ke tanah dengan bagian dada yang bersimbah darah segar. Semua orang terkejut akan gerak refleks sosok tubuh itu.
"Ti-tidak mungkin! Ini cuma mimpi, kan?!!" pekik Rafael menghamburkan diri ke sosok tubuh itu.
Sang penembak telah ambruk jatuh, disisa nyawanya dia juga mengambil nyawa orang lain.
|
Rafael menghamburkan diri ke arah sosok yang jatuh ambruk ke tanah.
"Bryan!! Ti-tidak! Ini tidak mungkin! Aaarrghh!! Tidak mungkin!" teriak Rafael keras sambil memangku badan Bryan yang bersimbah darah.
Semua hanya tertegun melihat kejadian yang begitu cepat. Kejadian yang melenceng jauh dari perkiraan mereka. Mereka berpikir bahwa semua sudah selesai, akan tetapi sang penembak, yaitu Agus memilih untuk tetap berusaha disisa nyawanya.
Air hujan mulai membasahi bumi seakan tau kesedihan mendalam dari Rafael dan kawan-kawan. Perlahan hujan itu menjadi lebat dan menghanyutkan genangan darah yang ada di sana. Rambut putih Rafael menjadi basah dan menutupi mata putihnya yang penuh rasa dendam.
"Bryan ..."
"Itu tidak mungkin!"
"N-Nak Bryan ..."
Semua hanya bisa melihat Bryan menutup matanya perlahan dengan rasa bangga. Bangga bisa menyelamatkan sahabatnya itu. Tubuh Rafael bergetar hebat memegang tubuh Bryan. Giginya menggemeretak dengan dipenuhi perasaan yang campur aduk.
Pagi itu, semua yang dibangun dan dibuat dengan kokoh, hancur begitu saja. Manusia-manusia yang tidak bersalah dibantai oleh para zombie, tentara dan polisi yang tidak tau harus mengikuti siapa pemimpinnya hanya pasrah nyawa mereka terangkat. Sekarang, sepertinya orang-orang yang dibawa oleh Agus dan pasukannya juga telah kehilangan nyawanya akibat pertikaian ini. Dalam sekejap ratusan nyawa hilang. Itu terlalu mudah.
Pagi itu, suasana sangat sepi. Kekacauan yang sebelumnya sangat bising telah menjadi hening dan hanya suara air hujan yang jatuh ke bumi. Semuanya mandi hujan dengan perasaan yang tak dapat dikemukakan. Hati mereka seperti tertusuk ribuan pedang. Sakit, sangat sakit.
"Ayolah! Ini tidak mungkin, kan?!" pekik Rafael menggoyang-goyangkan tubuh Bryan yang telah dingin.
"Se-sebaiknya bawa dia ke dalam rumah," ucap Gideon nampak ragu.
"I-iya, Rafa. Kita–"
"Kenapa?! Kenapa semua ini terjadi padaku? Aku selalu memancing bahaya datang! Aku sangat tidak ingin hidup lagi! Semua yang ku lakukan harus ada korban! Dunia ini begitu tidak adil kepadaku!" sela Rafael dengan air mata berwarna merah yang mengalir dari matanya.
Air mata penuh dendam. Merah bermakna dendamnya. Air itu bagai penyesalan yang datang terlambat. Semua telah terjadi, kita bukan Tuhan yang bisa mengendalikan atau bahkan menghentikan kematian seseorang. Kita hanya sebagai perantara dalam sesuatu usaha, dan apakah usaha itu akan dikabulkan Tuhan atau tidak. Kita hanya bisa pasrah menunggu keputusan.
"Rafael ... tenanglah," ucap Jaka sambil memegang pundak Rafael.
"Maafkan aku, kalian bawalah Bryan ke dalam. Aku sangat butuh ketenangan di bawah air hujan ini," ucap Rafael sambil berdiri menjauhi wilayah rumah Hendro.
Semua orang sangat memahami rasa kehilangan Rafael. Satu persatu orang yang bersamanya akan dipanggil Tuhan. Rafael menganggap dirinya yang dalam keadaan seperti ini seakan pembawa sial.
"Hujan, apakah kau mengerti perasaanku? Bumi seakan bersedih, tapi ... apakah aku bisa menanggung kesedihan ini? Apakah aku bisa mengendalikan kekuatan mustahil ini kelak?" gumam Rafael sambil menghadap ke langit.
Semua orang telah berada dan berkumpul di rumah Hendro yang sebenarnya telah hancur bagian dalamnya. Ruangannya porak-poranda akibat kekuatan dari Rafael. Beruntungnya, rumah itu sangat kokoh dan tidak hancur.
"Ya, kita akan berpisah. Aku akan mengasingkan diri dari kalian, aku tidak ingin membuat kalian tersakiti. Aku akan berjuang dari balik bayangan kalian," ucap Rafael dengan tekad penuh keyakinan.
Ini hanyalah awal. Awal yang memulai seluruh perjalananku. Awal yang akan menentukan apakah akhirnya bahagia ataupun tidak. Semua pasti akan ada akhirnya. Setiap awal tentu juga pasti ada akhir.
"Terima kasih semua, selama ini kalian menemaniku. Aku akan sendiri untuk mencapai akhirannya. Aku tidak mau membahayakan kalian lagi," ucap Rafael sambil memandang rumah Hendro.
Dari rumah itu dipenuhi aura kesedihan. Terutama Revi, Clara, Eva, dan Laura yang notabenenya telah bersama-sama selama beberapa tahun terakhir ini. Rasanya persahabatan hanya bisa terputus oleh kematian yang datang.
"Baiklah, keputusanku tak akan bisa dibantahkan."
Rafael berjalan ke arah rumah Hendro. Di sana dia sayup-sayup mendengar tangisan pilu dari dalam rumah yang juga beriringan dengan suara air hujan menyentuh bumi dan benda-bendanya.
"Bryan ..." ucap Rafael lirih mendatangi Bryan yang telah menutup mata untuk selamanya.
Semua orang memberinya jalan penuh kelonggaran. Tak ada yang berani berucap setelah itu. Rafael hanya memandang sahabatnya itu dengan perasaan amat sedih.
"Bryan ... terima kasih untuk semua, tanpa kau, aku hanyalah seseorang tak berarti. Ketika kau datang di kehidupanku, rasanya itu sangat bahagia. Terima kasih, Bryan," ucap Rafael sambil meneteskan air mata kesedihan.
Semuanya berteriak menangis pilu. Pagi itu, hujan menjadi saksi atas kesedihan semua orang. Tak peduli apa kata orang-orang tentang harga diri seorang lelaki. Disini, semua perasaan dikeluarkan.
|
Bryan sekarang benar-benar telah dikebumikan dengan layak. Penghormatan terakhir datang kepadanya. Semua orang mengelilingi rumah terakhirnya. Tak ada yang berani berbicara ditengah kekhidmatan ini.
Semua orang kembali ke dalam rumah Hendro. Di sana mereka hanya terduduk lesu tanpa pikiran.
Hari dilalui dengan sangat lambat. Hujan terus-menerus mengguyur daerah disana. Hingga pada malam hari, semuanya tertidur dengan keadaan pasrah akan kehidupan. Rafael yang bangun seorang diri mulai menuliskan sesuatu diselembar kertas.
...--------------------------------...
Terima kasih atas semuanya. Aku, Rafael Smash tak ingin membuat kalian dalam bahaya. Kita akan berpisah mulai sekarang, detik ini. Bulan dan bintang akan menjadi saksi aku meninggalkan kalian dengan bangga. Aku benar-benar tak ingin membuat kalian dalam bahaya walau sejengkal pun. Entitas berbahaya dalam diriku mulai bergejolak, entah kapan kekuatan ini tidak bisa dikendalikan.
Sampai jumpa dilain waktu. Semuanya, aku sangat menyayangi kalian sebagai sahabat, kawan, rekan, dan orang tua. Aku akan mengembara mencari apapun itu yang bisa aku dapatkan. Semoga, ya, semoga aku bisa kembali bertemu dengan kalian dalam keadaan baik-baik saja.
Salam hangat, Rafael Smash, seorang
Human-Z yang kapan saja bisa tak terkendali.
...--------------------------------...
Sekarang Rafael meletakkan selembar kertas itu dengan damai diatas lemari kecil. Pulpen yang dipakai menulisnya dia letakkan disana sebagai sidik jari atau kenang-kenangan terakhirnya.
Rafael berjalan keluar rumah yang porak-poranda itu. Di luar, ada beberapa zombie yang nampak kebingungan.
"Sebagai awal, kalian akan menanggung kesedihanku," ucap Rafael.
Sebuah tentakel dia keluarkan dan melesat dengan cepat kearah beberapa zombie itu. Semuanya mati untuk kedua kalinya dalam sekejap. Ya, jika manusia terpapar virus ini maka mereka telah mati, dan apabila ada yang membunuh mereka dalam wujud zombie maka mereka mati untuk kedua kalinya.
Rafael berjalan menjauhi rumah Hendro. Dia menengok sebentar ke belakang.
"Sampai jumpa," gumam Rafael.
Dia mulai berjalan tanpa arah ke dunia luar sana. Bulan dan bintang seakan mengerti dengan Rafael sehingga sinar mereka menjadi seperti sangat terang.
***
Arc 1 The Beginning, Arc Extra 1.5 Colonel The Traitor — Berakhir
Berlanjut ke Arc 2 - The New World