Human-Z

Human-Z
Chapter 56 : Bersama Kita Bisa!



Rafael, Anindira, Jaka dan kawan-kawan sedang menunggu hasil keputusan dari para orang tua. Mereka menyerahkan kepada para orang tua, menurut mereka jika bergabung akan ada keputusan yang cukup naif.


"Gimana yaa?" ucap Jaka sambil memandang awan-awan putih di langit.


Rafael mendekati Jaka dan duduk di sampingnya. "Bagaimana pendapatmu tentang kelompok bandara?" tanyanya sambil menatap Jaka penuh pertanyaan.


Anindira dan kawan-kawannya Rafael mendekat juga disana sehingga membuat formasi 4-4 saling menghadap. Saat ini mereka sedang duduk di teras halaman belakang.


Jaka bersandar di dinding sambil meluruskan kakinya. "Hemm... itu tergantung, menurutku mereka cukup berbahaya. Namun, mereka juga sedang berusaha menemukan anti virus itu sehingga cukup bisa membantu manusia. Tergantung perspektif masing-masing aja sih," jelas Jaka.


"Aku menyela, menurutku kelompok bandara akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuannya. Entah itu membunuh seberapa banyak manusia sehingga kemanusiaan mereka hilang atau mencoba bernegosiasi dengan kasar? Ya, itu pendapatku tentang mereka sih," ucap Bryan sambil duduk bersila.


Clara hanya menghela nafas kemudian berkata dengan ringan. "Haa... benar apa katamu, Jaka. Sesuai perspektif masing-masing aja!"


Laura terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Eva yang melihat itu, dia menepuk pelan pundak Laura. "Kenapa kau, Laura?" tanya Eva dengan mengernyitkan dahi.


Laura menggeleng cepat. "Tidak apa-apa!"


Anindira bergeser kearah Laura kemudian berkata pelan. "Jangan disimpan, itu akan membebanimu kelak,"


Revi yang hanya menyimak awal pembicaraan merekapun mulai berkata. "Ayolah, katakanlah. Kami akan mencoba menyelesaikan permasalahanmu!"


Laura berdiri pelan, dia berjalan menjauhi mereka semua kemudian berbalik dan melebarkan kedua tangannya di depan dadanya. "Bagaimana menurutmu dengan dunia ini? Apa yang akan terjadi jika semua ini tidak selesai? Apakah kita akan hidup damai berdampingan dengan para zombie itu? Tidak mungkin, kan?!" seru Laura mengeluarkan segenap emosinya.


Semuanya terdiam seribu bahasa. Mereka sama sekali tidak memikirkan untuk kedepannya, bagaimana mereka kelak. Perasaan mereka saat ini menjadi campur aduk atas pernyataan Laura.


"Tapi--"


Sebelum Anindira melanjutkan perkataannya, seseorang menyelaknya. "Dunia ini akan kembali damai!" seru Jaka dengan suara yang bergetar.


"1 bulan lebih, Jaka. 1 bulan lebih dunia menjadi tambah hancur! Orang-orang berlomba-lomba untuk menemukan anti virus itu, tetapi harus mengorbankan banyak orang lain juga. Para petinggi menjadi melenceng dari kemanusiaannya!" Laura benar-benar emosional. "Semua itu percuma, rasanya mau mati saja!" lanjutnya menunduk pasrah.


"Masing-masing dari kita pasti merasakan beban perasaan. Ya, aku juga merasakannya bahkan lebih. Rasa penyesalanku tentu ada, aku tidak bisa menyelamatkan orang terdekatku, Hugo dan Wahyu. Tentunya aku juga sangat ingin mati, aku sengsara dengan kekuatan ini, Laura! Kau tidak tau! Rasanya, virus Human-Z ini akan segera mengambil alih tubuhku, tetapi siapa yang tau kapan itu," jelas Rafael dengan nada lirihnya.


Semuanya saling memandang. Tak ada lagi yang bisa menimpali perkataan Rafael saat ini. Tepat dengan perasaan sedih mereka, cuaca tiba-tiba saja berubah mendung. Awan putih mulai berubah warna menjadi abu-abu, awan mulai berkumpul.


"Aku, Rafael, Revi, Clara, Laura, Eva, Anindira dan kamu Jaka. Aku rasa kita harus terus bersama dihari esok. Bersama kita bisa!" ucap Bryan berdiri secara cepat sambil mengangkat tangan kanannya yang mengepal ke udara.


"Bersama... kita bisa?" ucap Eva sedikit memiliki perasaan yang tak dapat diartikan.


Laura duduk dipinggiran teras. "Yaah... bagaimana yaa, kita haruskah bersama terus? Itu sedikit canggung nampaknya," ucap Laura sambil meluruskan kakinya.


Keheningan langsung terpecah ketika pintu belakang rumah terbuka dan menampakkan Setyo dan Hendro yang dipenuhi bercak darah mulai dari baju hingga di wajah terdapat beberapa titik darah sambil memandang datar kearah depan.


"He-hei? Apa yang Ayah dan Pak Setyo lakukan?!" seru Jaka mendekati mereka berdua.


Setyo dan Hendro hanya tersenyum tipis. Kedua pasang mata itu menyiratkan agar mereka tak perlu tau. Akhirnya Jaka hanya mundur perlahan kemudian duduk kembali.


"Sepertinya begitu..." gumam Jaka sambil menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Rafael nampak sangat memahami sesuatu. "Hmm... apakah?" gumamnya.


"Ya! Keempat orang itu... agghh! Lupakan!" Jaka menjauhi semua orang dan langsung menuju pondok halaman belakang.


"Baiklah. Silahkan berkegiatan terserah kalian," ucap Setyo dengan nada suara yang serak.


Setyo dan Hendro kembali pergi ke dalam rumah dan menutup pintu belakang rumah dengan rapat.


Rafael berdiri dan membelakangi semua orang. "Sepertinya istilah bersama kita bisa cocok juga. Kita harus terus bersama hingga akhir. Sebagai sahabat, rekan, kawan, atau apapun itu!" seru Rafael sambil mendongakkan kepalanya ke langit.


"Ya! Kita pasti bisa!" Tiba-tiba saja Jaka kembali datang dengan antusias.


Bryan berdiri dengan cepat, dia berjalan kearah Rafael dan Jaka. "Kita berdelapan akan terus bersama, tak peduli hujan, badai, atau apapun kita harus tetap bersama. Karena bersama kita bisa!" ucapnya.


Satu persatu mereka berdiri dan saling berpegangan tangan hingga membentuk lingkaran.


"Bersama kita bisa!" ucap Rafael memberi aba-aba.


"Ya! Bersama kita bisa!!" serentak semua orang disana.


***


Tanpa sadar, semangat mereka telah diperhatikan Setyo, Hendro dan Nur Aini dari balik jendela. Mata mereka menyiratkan penuh pengharapan pada generasi muda dihadapan mereka ini.


"Ya, bersama kita bisa," gumam Setyo lirih.


"Generasi muda dihadapan kita adalah harapan bangsa," sahut Hendro disusul anggukan terharu Nur Aini.