Human-Z

Human-Z
Chapter 62 : Perlawanan Kecil dari Gideon



Paginya, pasukan gabungan bandara menjadi kacau akibat ditemukan 2 mayat yang tertembak mati. Mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk satupun terhadap peluru yang bersarang di jantung kedua mayat itu.


Di ruangan Agus, dia sedang berpangku tangan disana dengan tatapan serius.


"Jelas ada pengkhianat di dalam kawasan bandara," gumamnya sambil menutup mata.


...


Di pagi hari itu, para petugas gabungan mulai bekerja lebih maksimal. Beberapa tim mulai dibentuk untuk pencegahan sekaligus pencarian siapa dalang dari penembakan itu.


Pemimpin dari seluruh tim yang dibentuk adalah Agus, dengan wakil atau penasihatnya adalah Gideon.


Di area yang lumayan luas. Berkumpul lah seluruh pasukan gabungan. Barisan itu yang awalnya riuh menjadi diam seribu bahasa setelah Agus dan Gideon naik ke panggung kecil.


"Oke, saya mengumpulkan kalian disini karena apa?" ucap Agus dengan suara yang sangat keras.


"Dalang dari pembunuhan semalam!" Serentak seluruh orang yang berada di sana.


"Dengar-dengar, ada pengkhianat diantara kita. Tentunya ... kita, ah! Bukan. Tentunya saya akan membuat sebuah rancangan yang tak dapat dibantah!"


Gideon yang hanya berdiri di belakang Agus cuma menyimak. Dia memperhatikan setiap perkataan dari Agus. Apakah ada yang mengganjil atau tidak.


Agus maju satu langkah semakin dekat dengan pasukan gabungan itu. Sebenarnya bisa saja Gideon mengambil hati pasukan gabungan itu untuk menghakimi Agus. Hanya saja, dia mau sebuah rencana yang cukup licik di hadapan Agus.


"Baiklah, dengarkan baik-baik!"


"Rencana yang akan saya buat akan melibatkan seluruh penyintas yang berada di bandara ini. Mereka akan saya manfaatkan sebagai atau untuk menemukan si pengkhianat. Tentunya pengkhianat itu akan berpihak kepada para penyintas. Jadi, jika ada pergerakan yang membahayakan para penyintas, kemungkinan pengkhianat ini akan mengaku."


Penjelasan yang lumayan singkat itu dibawakan oleh suara nada yang cukup mengintimidasi seakan orang-orang diharuskan menyetujui rancangannya.


"Pak, saya rasa jangan seperti itu. Tujuan kita awalnya kan menyelamatkan para penyintas," bisik Gideon di telinga Agus.


"Kamu cukup bilang setuju atau tidak setuju."


Ah! Sial! Kepemimpinan otokratif dan diktator sekali! batin Gideon sambil menggigit bibir bawahnya dengan kesal.


"Oke, yang tidak setuju angkat tangan!" pekik Agus.


Cukup lama. Ada 5 menit semuanya hening tanpa adanya angkat tangan sedikitpun.


"Baiklah, saya rasa–"


"Tunggu!!" sela Gideon sambil maju selangkah.


"Apakah kalian tidak mempunyai perikemanusiaan. Saya mengerti rencana dari Pak Agus, kemungkinan dia akan membahayakan bahkan tidak tanggung-tanggung nyawa manusia dia ambil. Apakah kalian mau jika keluarga kalian diberlakukan secara tidak manusiawi? Itu Hak Asasi Manusia!" lanjutnya dengan mata berbinar dan suara yang menggebu-gebu.


Perlahan tapi pasti, dengan sebuah kalimat yang lumayan panjang itu, akhirnya satu persatu tangan di angkat ke atas dengan perasaan lega.


Ah ... Kolonel AD mau membantah Pak Agus! Dia hebat!


Seandainya dia yang memimpin di kelompok ini, aku bahagia!


Perdebatan ini membuatku semakin gila!


Aku akan memilih kubu Kolonel Gideon walaupun nyawaku taruhannya!


"Oh, Kolonel Gideon sekarang ada apa? Apa ada yang mengganggumu semalam?"


Gideon langsung tersentak kaget ketika perkataan terakhir dari Agus.


"Ya, ada yang menggangguku semalam. Nyamuk yang banyak."


"Oh, jadi karena itu yaa? Berarti kelakuanmu tadi karena itu?"


"Tidak!!! Saya masih mempunyai kemanusiaan, Pak Agus. Mohon maafkan, kita beda pendapat!" seru Gideon sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.


Semua orang yang melihat itu hanya terdiam. Perdebatan yang bisa dikategorikan antar petinggi kelompok bandara. Mereka seharusnya mampu menjadi penengah, hanya saja takut kepada kekuasaan Agus.


"Oke, siapa yang setuju?" tanya Agus dengan suara datar.


Orang-orang yang mengangkat tangan disaat tidak setuju mulai menurunkan tangan mereka dan orang-orang yang setuju mulai mengangkat tangan mereka dengan bangga karena mengikuti rencana Agus.


"Oke, kita beda pendapat. Terima kasih atas semuanya!" seru Gideon. "Oh, iya. Yang tidak setuju atas rencana Pak Agus ikut saya, segera!" lanjutnya sambil memandang sinis Agus.


Tak butuh berapa lama, pasukan gabungan itu terpecah menjadi dua kubu. Tanpa aba-aba penghormatan, kubu Gideon juga dibubarkan olehnya dan diperintahkan untuk mengikutinya.


Agus yang melihat itu mulai menaruh curiga kepada Gideon. Kolonel Gideon seperti menyembunyikan sesuatu, tapi apakah itu? batin Agus sambil mengelus dagunya.


***


Di rumah Hendro, semua orang hanya melakukan aktivitas seperti biasanya. Tak ada yang istimewa. Hanya saja mereka tinggal menunggu kabar orang kepercayaan mereka di bandara. Keempat saudara kelompok The Red, 3 orang sebelumnya, dan Gideon. Sedangkan 11 orang yang menyerang rumah Hendro masih cukup bersantai di rumahnya.


"11 orang itu dimana?" tanya Rafael sambil menoleh ke Jaka.


"Mereka lagi bercocok tanam tuh bersama ibuku," jawab Jaka tak acuh.


"Hah?!! Gimana-gimana? Ber-bercocok tanam?"


"Apaan sih! Negatif sekali pikiranmu! Mereka lagi membantu ibu di kebun belakang rumah!" seru Jaka kesal.


"Hahaha! Negatif banget kau, Rafa," sahut Clara sambil tertawa.


"Sialan!"


Semua teman-temannya hanya tertawa terbahak-bahak melihat Rafael yang cukup berpikiran negatif hanya sebuah kalimat pendek dari Jaka.


"Kalian ... Setyo dengan saya akan pergi ke kelompok bandara. Kalian tunggu saja dirumah!" ucap Hendro tiba-tiba datang bersama Setyo.


"Oh, iya. Mobil jeep yang ada itu kita berdua pakai," timpal Setyo sembari memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


Rafael dan teman-temannya saling melirik. Semua butuh persetujuan juga agar nyaman.


"Baiklah, terserah Pak Setyo dan Pak Hendro saja," ucap Bryan sambil disibukkan dengan pull-up di bingkai pintu.


"Iya sih, kalau ada apa-apa hubungi saja kami dari handsfree ini," ucap Revi menunjukkan handsfree nya.


"Baik, kalian hati-hati dirumah," ucap Setyo.


Semuanya mengangguk paham kemudian mulai kembali beraktivitas masing-masing.