
Rafael melihat sekelilingnya. Dia melihat beberapa layar monitor serta sebuah seragam yang tergantung di belakang pintu. Seragam itu seperti seragam penjaga bandara.
"Jadi... Ini diruangan penjaga bandara yaa?"
...----------------...
Rafael hanya tertunduk lesu. Dia menjadi lemah akibat kekuatan tubuhnya telah keluar secara maksimal saat mempertahankan wilayah.
Brak !!
"Apa kau kata?! Semua bangsawan Inggris yang mampu melawan virus itu hanya bualan?! Sialan kau!"
Terdengar sayup-sayup dari luar ruangan sebuah suara yang sangat kecil, suara itu seperti suara wanita. Namun karena 5 indera Rafael yang meningkat akibat kemampuan anehnya itu, dia dapat mendengar secara jelas.
"Itu hanya racun yang dapat menyerang sel virus itu, tapi tidak ampuh! Aku dapat membuktikannya!"
"Hei! Kau sudah mengikuti Rafael sejauh ini tapi baru memberitahukannya sekarang? Apalagi tidak secara langsung!"
Brak !!
Terdengar suara hantaman keras dari arah luar. Rafael yang tidak bisa apa-apa hanya diam membisu. Dia tidak tahu harus berbuat apa dengan pertengkaran yang terjadi di luar ruangan.
"Nak Rafael diincar oleh banyak orang karena dia dikonfirmasi sebagai Human-Z alami satu-satunya. Nampaknya virus itu bermutasi sendiri seakan ingin memperkuat inangnya." Terdengar suara pria yang berat menimpali suara dari kedua wanita.
Rafael yang mendengar itu membulatkan matanya. Dia tidak menyangka sebuah suara yang sangat dia kenal. Ya, itu adalah suara dari Setyo Hermawan.
"Pak Setyo, kita akan melakukan eksperimen terhadapnya. Siapa pun yang menghalangi, kemungkinan dikepalanya akan ada peluru bersarang."
"Ti-tidak bisa begitu pak Agus! Rafael itu satu-satunya Human-Z alami, dia seharusnya dilindungi agar dia bisa mempertahankan negara!"
Suara-suara itu terus terdengar oleh Rafael. Rafael yang ingin berteriak namun tidak mampu akibat tenaganya yang telah terkuras habis. Rafael benar-benar hanya bisa diam menunggu pertengkaran di depan pintu ruangan. Bahkan dari sorot matanya, Rafael menunjukkan kekecewaan terhadap Agus seorang Komisaris Jendral Polisi.
Beberapa saat kemudian, suasana di depan ruangan menjadi sepi tanpa ada suara sedikit pun. Kemudian tiba-tiba langsung terdengar suara tembakan.
Dor !!
"Hei! Apa-apaan kau Agus?! Kau kira dengan pangkatmu, aku takut hah?! Jangan berani-berani menyentuh Raf--"
Dor !!
Tanpa berkata lagi, terdengar tembakan kembali. Saat itu, suara dari Setyo terhenti dengan erangan menyakitkan.
"Pak Setyo!"
Teriakkan terdengar namun sedetik kemudian terdiam. Menurut pemikiran Rafael, saat ini yang berteriak itu kemungkinan telah ditodong langsung oleh senjata.
Rafael merasakan kesedihan, namun dia tak mampu mengeluarkan perasaan itu. Seperti tertahan oleh sesuatu, bahkan air matanya tidak keluar sama sekali dan hatinya seperti tidak merasakan perasaan apapun.
"Ke-kenapa! Aku tidak merasakan apapun! Sialan! Sialan! Hanya ada kekecewaan dan dendam yang aku rasakan saat ini!" Rafael mencoba memberontak, namun apa daya rantai ditangan dan kakinya sangat kuat.
Ceklek !!
Pintu terbuka dan menampakkan beberapa orang dengan wajah penuh ketakutan dan ada beberapa orang lainnya dengan wajah datar namun terlihat kejam.
Rafael menjadi suram dan penuh dendam, dia melihat sebuah pemandangan yang gila. "P-pak Setyo?!" Rafael terbata-bata.
Terlihat Setyo dibagian kakinya banyak keluar darah. Wajahnya hanya tertunduk lemas saat dibopong oleh Bryan dan Revi.
"Brengsek!" Teriak Rafael dan akhirnya bisa bersuara keras.
Temanku, sepertinya kamu dalam bahaya.
Rafael mendengar perkataan dari dalam kepalanya. Saat ini dia tidak peduli, dan menjadi penuh amarah.
"Maaf, aku menembaknya. Tapi sebagai polisi yang dilatih seharusnya dia bertahan. Aku membutuhkan dirimu untuk eksperimen. Pasti kau bersedia kan?" Senyuman licik terpancar dari wajah Agus.
"Aaarrghh! Kenapa aku selalu diincar hah?! Apa salahku? Hanya karena aku Human-Z alami?" Penuh emosional, Rafael mengeluarkan seluruh tenaga yang tersisa untuk berteriak di hadapan Agus.
"Hohoho! Kau sudah mendengarnya ternyata. Kau sebagai satu-satunya yang terdaftar sebagai Human-Z alami akan kami perlakukan secara istimewa, sebuah eksperimen besar menantimu." Agus menatap Rafael dengan tatapan licik.
Wajah liciknya terlihat oleh semua orang. Teman-teman Rafael tidak bisa bergerak lebih karena saat ini mereka sedang ditodong beberapa senjata api automatis berjenis Ak-47. Sekali tembak, maka nyawa mereka akan melayang.
"Di dunia ini sudah berubah yaa. Orang-orang baik menjadi jahat. Sungguh ironis." Gumam Clara menatap jijik pada Agus seraya menekankan nadanya disetiap perkataannya.
Apa aku bisa membantu?
Rafael menggelengkan kepalanya secara spontan sehingga semua orang merasa bingung.
Ayolah, temanku. Aku masih ada 1% tenaga nih!
"Hmm... lakukan saja apa maumu. Aku tidak mau sengsara dieksperimennya. Aku banyak melihat film-film di televisi bahwa eksperimen pada manusia itu menyakitkan." Batin Rafael pasrah akan keadaan.
Tiba-tiba aura dari Rafael berubah sehingga orang-orang yang ada di ruangan dapat merasakannya. Mata Rafael menjadi merah menyala, rambutnya perlahan memutih. Kulitnya semakin pucat. Nafasnya berderu keras.
Krenceng !! Ptas !!
Rantai yang ada di tangan dan kakinya bergerak mengikuti arah pergerakannya dan seketika dia menghentakkannya dan terputus.