
Keenam murid SMA Misu, pak Setyo, Wahyu dan Anindira memilih beristirahat di ruangan arsip rumah sakit. Lagipula mereka belum memiliki tujuan untuk bepergian.
Rafael memandang semua orang yang tertidur pulas. "Sepertinya mereka bisa tidur nyenyak dizaman kehancuran ini…."
Rafael mendapatkan giliran berjaga. Dia yang sedang bosan pun memilih untuk berkeliling rumah sakit mencari aktivitas. Entah mengapa Rafael merasa aneh dengan sesuatu yang berbicara dipikirannya.
Rafael mengetuk kepalanya. "Kamu parasit itu, 'kan?"
"Hahaha hahaha! Kamu tau aja. Sepertinya saya tidak bisa berbohong lagi" Sebuah suara yang berat terdengar dikepala Rafael.
Rafael sudah mengerti sekarang. Rafael berpikir bahwa pak Setyo juga mempunyai hal yang berbicara dikepalanya, namun dia sembunyikan dengan rapat tanpa kecurigaan terhadapnya.
"Kenapa kalian ada?" tanya Rafael seraya celingak-celinguk memberikan pencahayaan pada beberapa ruangan.
Cukup lama sebelum menjawab. "Entahlah, saya juga tidak tau jati diri saya. Saya tercipta begitu saja dari CytraZ-24."
Rafael hanya menghela nafas. "Berbicara dengan hal seperti ini, aneh juga yaa…."
Tiba-tiba terdengar suara geraman dari ruangan yang berada tak jauh dari Rafael. Rafael seketika mempertajam indra pendengarnya. Setelah mempertajamnya dengan fokusnya, Rafael menyadari bahwa terdapat lebih dari 5 geraman berbeda dari ruangan yang berjarak 5 meter dari dirinya.
Rafael berjalan perlahan dengan menodongkan linggis miliknya ke depan dengan waspada. Rafael mengintip dari celah kunci pintu, dia melihat beberapa zombie seperti sedang mengelilingi sesuatu yang berada di lantai.
Rafael melihat ke kanan dan ke kiri. "Koridor ini aman, aku bisa menghabisi mereka!"
Rafael langsung menendang pintu ruangan itu sehingga membuat suara yang sedikit keras. Rafael mencoba mengendalikan kemampuan barunya, yaitu tentakel. Dia sebenarnya sedikit jijik dengan tentakelnya, tapi mau bagaimanapun itu adalah senjata yang efektif dan efisien untuk sekarang.
"Woahah! Sepertinya aku baru bisa mengendalikan 1 buah tentakel!"
Rafael hanya mengeluarkan 1 buah tentakel dari punggungnya. Menyadari akan hal itu, dia segera mengayunkannya ke depan kepada para zombie yang hanya terdiam melihat Rafael.
Tentakel itu berayun dengan cepat seperti gerakan kecepatan dari Rafael saat berada di hotel Matahari. Tentakel itu menyambar secara horizontal ke arah 5 zombie. Zombie-zombie itupun langsung terbelah dua dan mati untuk kedua kalinya.
Setelah itu, Rafael masuk ke dalam ruangan itu. Di sana pencahayaan masih menyala dan ruangan itu masih dalam keadaan bersih sebelum dibanjiri darah yang menghitam oleh para zombie.
Rafael menggelengkan kepalanya. "Ini aneh. Oi! Parasit atau apapun dirimu itu, kau mengerti akan hal ini?" tanya Rafael seraya mengetuk-ngetuk kepalanya.
"Kamu pandai mengendalikan 1 tentakel dan tidak perlu pertolonganku."
Ya, hanya itu. Suara itu menjawab denhan pujian yang berlebih pada Rafael dan tidak menjawab pertanyaan dari Rafael.
"Lupakan," gerutu Rafael sembari mendekati mayat para zombie.
Dia menyingkirkan mayat para zombie itu dari apa yang mereka kelilingi. Di saat selesai, Rafael sontak terkejut karena terdapat sebuah pintu berbahan besi dengan pegangan yang patah.
"Bunker?" tanya Rafael melihat sekitar. Rafael keluar dari ruangan dan melihat papan nama yang tergantung di atas pintu. "Ruang Kepala Dokter?" gumam Rafael membacanya.
Rafael kembali masuk ke dalam ruangan. Dia berusaha membukanya dengan kedua tangannya namun kesulitan akibat licin dari darah para zombie dan tentu juga sulit akibat pegangannya seperti dipatahkan secara sengaja.
"Siapapun dirimu, bantulah aku lagi! Sebisa mungkin dirimu itu membantu umat manusia!" seru Rafael.
Seketika 2 buah tentakel keluar dari punggungnya dan langsung menyambar pintu besi tersebut dengan ganas. Pintu besi itupun berlubang dan langsung ditarik paksa sehingga daun pintu besi itu terlepas. Terlihat sebuah tangga besi berkarat yang nampak licin akibat lumut untuk turun ke bawah, di dasarnya sangat terlihat sebuah genangan air.
Rafael turun dengan perlahan dengan menapaki tangga-tangga besi licin tersebut. Hingga pada tangga paling dasar, Rafael secara tidak sengaja terpeleset hingga terjatuh di atas genangan air.
"Duh, duh, duh! Sakit!" keluh Rafael sembari memegangi pantatnya.
Rafael melihat sekelilingnya. Terdapat lorong yang besar seperti sebuah lorong untuk kereta bawah tanah. Lorong itu digenangi air setinggi mata kaki. Rafael menyusuri lorong yang diterangi oleh cahaya temaram itu hingga mentok pada sebuah pintu berbentuk lingkaran dan lagi-lagi pegangan pintu berbentuk lingkaran itu seperti dipatahkan dengan sengaja.
"Besi?" Rafael mengetuk-ngetuk pintu itu sehingga membuat suara gema di seluruh lorong tersebut.
Tiba-tiba indra pendengaran Rafael menyadari pergerakan yang sangat kecil. Rafael berbalik dan terlihat penampakan seorang pria berpakaian putih dengan sedikit noda berwarna merah. Pakaiannya seperti sebuah pakaian dokter. Pria itu berkacamata, dia memiliki kumis tipis, mungkin dari perkiraan Rafael, pria ini berumur 40 tahunan. Pria ini menodongkan Rafael sebuah pistol berjenis revolver.
"Kamu tidak sendiri…," ucap Rafael seraya mengangkat kedua tangannya ke atas. Rafael tersenyum secara misterius.
Pria itu menurunkan pistolnya perlahan. "Keluarlah!" seru pria tersebut.
Beberapa orang keluar dari balik tembok yang rapuh. Orang-orang itu sama juga, memakai pakaian dokter. Ada 2 pria dan 2 wanita yang keluar secara bersamaan dari balik tembok yang renggang.
"Siapa kamu?" tanya pria pemegang revolver dengan menyelidik.
"Mr. Nobody!" kata Rafael dengan penekanan.
"Sudahlah, lupakan. Sebaiknya kamu ikut kami!" timpal seorang wanita berambut blonde. Dia menodongkan sebuah senapan berjenis shotgun kepada Rafael.
Rafael menurutinya, karena dia tidak mau peluru dari senjata mereka bersarang ditubuhnya dan jati dirinya yang seorang Human-Z akan terungkap akibat dia tidak segera mati. Rafael digiring oleh kelima orang itu memasuki pintu besi berbentuk lingkaran tersebut.
Pintu itu terbuka dari dalam, sehingga orang luar akan kesulitan membukanya akibat pegangan pintu bagian luar dipatahkan secara sengaja. Sesaat Rafael masuk ke dalam pintu besi tersebut, dia melihat beberapa orang berpakaian dokter.
Rafael menatap dalam pria berkacamata yang sebelumnya. "Mereka ini manusia yang tersisa dari rumah sakit?" gumam Rafael.
Rafael disuguhi sebuah ruangan yang dipenuhi oleh alat-alat eksperimen. Bahkan ada beberapa orang yang sedang dilakukannya pengujian. Rafael tak habis pikir, sebegitu menyeramkannya tempat ini.
Rafael membuka suara. "Kenapa kalian memasukkanku yang notabenenya orang asing?" tanya Rafael menatap penuh pertanyaan kepada kelima orang yang membawanya masuk.
"Kamu Human-Z, jadi kami akan lakukan eksperimen padamu!" Secara terang-terangan mereka mengatakannya kepada Rafael.
"Wait what?!"
Sebelum bergerak lebih banyak, dia tiba-tiba disuntikkan jarum bius padanya sehingga Rafael kehilangan kesadarannya di tempat yang tak dikenalnya.
Sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya, Rafael sempat berkata. "Cerobohnya… aku…."
***
Di ruangan arsip rumah sakit, kelima sahabat Rafael, pak Setyo, Wahyu dan Anindira sedang khawatir karena Rafael menghilang.
"Bagaimana ini?" tanya Anindira dengan perasaan khawatir tinggi.
"Kita berpencar, bawa senjata masing-masing dan kalau bisa pakai saja senjata api! Rafael tidak seceroboh ini untuk menghilang tanpa kabar!" seru Bryan sembari mengisi mengganti magazine pistol silencernya.