
Semua orang yang berada di ruangan itu langsung membidik Rafael dengan senjata api mereka. Deru nafas Rafael terdengar berat, mata merah darahnya menatap penuh amarah kepada Agus dan beberapa bawahannya.
Ceklek !!
Karena Rafael semakin mendekat, beberapa bawahan Agus langsung menodongkan senjata api ke kepala sahabat-sahabatnya, Wahyu, Anindira dan Setyo. Mereka yang merasakan kerasnya ujung senjata api hanya pasrah tak dapat bergerak.
"Jangan... jangan! Jangan ganggu... mereka!!" Pekik Rafael keras, monitor yang ada disana dalam keadaan menyala menjadi terganggu dan mati.
"Lebih baik kamu tenang. Kami tidak akan mengganggu teman-teman baikmu. Kamu harus mengikuti apa yang kami semua katakan." Ujar Agus seraya perlahan berjalan kepada Rafael.
Rafael yang mendapati dirinya sedang dalam bahaya berkat insting kelima inderanya, entah mengapa kelima inderanya menjadi lebih tajam dan kuat saat ini, dia perlahan memutari ruangan itu sambil tetap waspada ke depan. Bawahan Agus dan kelima sahabatnya, Wahyu, Anindira serta Setyo juga perlahan memutar arah berlawanan.
"Jangan coba-coba menggunakan trik lama, nak Rafael!" Agus tersenyum ramah namun beberapa saat kemudian dia menunjukkan senyuman jahat.
Rafael tetap bergeser perlahan menuju pintu ruangan seraya memegang rantai yang telah terputus dari tempatnya. Rafael menjadikan itu sebuah senjata.
"Ayolah! Kamu tidak berencana kabur dan meninggalkan kawan-kawanmu ini kan?" Goda Agus dengan raut wajah datar.
Bau amis darah menyeruak masuk ke hidung Rafael. Dia melihat bahwa darah yang keluar dari kaki Setyo semakin banyak. Sehingga membuat Setyo menjadi pucat akibat kekurangan darah.
Tunggu yaa! 10 detik lagi tentakel itu keluar. Tekadmu lagi melawan virus Human-Z di dalam tubuh.
Rafael bisa dibilang hanya menunggu kesempatan emas untuk melakukan pelariannya namun dari tekadnya dia berencana untuk membawa kelima sahabatnya, Wahyu dan Setyo. Dia tidak mau meninggalkan mereka.
10 detik berlalu setelah saling berhadap-hadapan. Tidak ada satupun yang bergerak setelahnya. Kemudian Rafael membuka pergerakan dengan tentakel hitam pekatnya berjumlah 6 buah perlahan keluar dari punggungnya dan melewati robekan bajunya yang pertama.
"Aku mengandalkanmu, Smash!" Gumam Rafael menamai sesuatu yang terus berbicara dikepalanya.
Agus dan para polisi bawahannya tidak sempat bergerak ketika sebuah tentakel maju dan mengancam mereka dengan menusukkannya ke dinding. Dinding itu berlubang.
"N-nak... te-tenanglah!" Ujar Agus terbata-bata.
"Takut yaa?" Tanya Rafael menyeringai jahat.
"Kita harus bunuh dia agar dunia aman! TEMBAK!!" Seru Agus kemudian memerintahkan polisi bawahannya.
Dor !! Dor !! Dor !!
Di ruangan yang hanya berukuran 4 meter × 4 meter terjadi keributan. Sahabat-sahabat Rafael, Wahyu, Anindira dan Setyo keluar dari ruangan itu tanpa sepengetahuan Agus dan bawahannya.
"Heeeyyaaa!!" Rafael melarikan diri setelah membanting semua orang yang berada di sana memakai tentakelnya. Agus dan para polisi bawahannya memuntahkan seteguk darah segar.
"Tenang-tenanglah dulu, aku akan melarikan diri!" Ujar Rafael dengan nada sombong.
Sesaat Rafael keluar dari ruangan itu, dia melihat bahwa ruangan itu berada di tengah-tengah ruangan yang lebih besar lagi serta banyak berhamburan senjata-senjata api. Beberapa penjaga juga telah terkapar akibat sahabat-sahabatnya Rafael dan Wahyu serta Anindira yang bergerak dengan cepat melumpuhkan para penjaga. Penjaga itu memakai atribut serba hitam.
"Rafa! Ayo kita kabur! Mungkin pakai tentakelmu kau bisa bawa pak Setyo!" Ujar Clara memberi saran.
Rafael hanya terdiam melamun. Perlahan tentakel hitam pekatnya masuk kembali ke punggungnya. Kemudian Rafael tersungkur tak sadarkan diri kehabisan tenaga.
"Lupakanlah!" Gerutu Clara kesal.
Bryan dan Clara membopong Rafael kemudian Revi dan Eva membopong Setyo keluar dari kawasan bandara. Dipunggung mereka semua terdapat senjata api milik mereka. Ternyata ruangan besar itu berada di luar kawasan bandara, itu adalah sebuah bangunan besar yang terbengkalai. Apa yang Rafael lihat kemungkinan itu ruang penjagaan bangunan itu.
Mereka semua perlahan-lahan menjauh dari kawasan bandara dan mendapati sebuah mobil bus. Saatnya Eva beraksi menggunakan bus itu.
"Oh yeah! Kunci busnya masih ada!" Seru Eva dari pintu bus. Saat ini mereka menunggu Eva untuk mengecek.
"Baguslah! Ayo!" Anindira berseru semangat.
Setelah itu mereka semua pergi dengan Eva yang mengendarainya. Bus itu melewati kerumunan zombie dengan cepat tanpa ada hambatan. Bus itu lebih besar dari bus sekolah mereka dan tenaganya lebih besar sehingga jika menabrak kerumunan zombie maka masih bisa diatasi. Bus mereka menjauh dan menjauh melewati bangunan-bangunan yang telah terbengkalai.
Beberapa jam mereka terus pergi. Akhirnya bus mereka tepat mogok di pengisian bahan bakar minyak. Eva pun mengisi bensin dengan cepat karena ayahnya adalah bos dari suatu perusahaan pengisian bahan bakar minyak kendaraan. Mereka beristirahat di sana beberapa saat dengan persetujuan semua orang.
"Kita istirahat dulu yaa! Kita obati dulu pak Setyo!" Ujar Clara seraya mendongakkan kepalanya ke atas. Langit biru dengan awan yang menghitam pertanda akan hujan.
Setyo semakin lemah, namun kesadarannya masih ada. Dia melihat semua perjuangan dari murid-murid SMA Misu dan Anindira. Tidak terasa matanya mengeluarkan air mata haru. Memakai pengetahuan pengobatan mereka, mereka mampu menahan darah Setyo dari kaki kanannya yang tertembak. Mereka berencana melakukan operasi kecil namun ingin menuju ke rumah sakit di sana agar lebih lengkap.
"Kita berada di antah-berantah. Kita tidak pernah loh ke Makassar." Bryan mendekati Clara yang sedang duduk dipinggiran teras.
"Ya, makanya itu. Kita harus terus menjauhi dari kelompok bandara. Mereka itu berbahaya sekarang!" Timpal Revi mendatangi mereka berdua.
"Beruntung pak Setyo itu bisa dibilang seperti Rafa, jadinya dia perlahan menyembuhkan diri!" Datang Laura seraya membawa beberapa makanan ringan.
"Ya, kau benar Laura. Terus sepertinya pihak kelompok bandara tidak mengetahui kalau pak Setyo itu seperti Rafa, jadinya dia sedikit aman." Ujar Clara sambil mengambil sebuah makanan ringan.
Mereka beristirahat beberapa jam di sana hingga matahari mulai tenggelam dari balik bangunan tinggi. Langit cerah mulai gelap dan beberapa bintang bermunculan serta bulan yang masih sedikit redup.