Human-Z

Human-Z
Chapter 2 : Haruskah Berakhir ?



Geraman Zombie terdengar terus menerus.


"Sikat ?" tanya Rafael.


"Sikatlah, kenapa tidak!" teriak Revi.


Mereka berempat pun bersenang-senang dalam melakukan pembantaian besar-besaran terhadap Zombie. Gelombang demi gelombang terus berdatangan dan langsung linglung tak tau arah akibat indra Zombie disaat malam menurun drastis.


"Hiyaaatt!"


Rafael melompat ke udara dan melakukan putaran mematikannya. Linggis miliknya berputar-putar dan tepat mengenai 7 kepala hingga hancur.


Peluru dari sniper Clara melesat dengan cepat dan menembus 5 kepala Zombie yang saling berjejer ke belakang. Lantai 1 benar-benar dipenuhi mayat para Zombie. Suara gema senjata api memenuhi ruangan itu.


"AK-47 amunisinya habis. Aku ambil keatas dulu!" seru Revi.


"Jangan!! Ini ada 4 magazine aku bawa dalam kantungku," sentak Rafael.


Sedetik setelah Rafael berucap, Revi langsung menunjukkan raut wajah kaget.


"Ba-bagaimana bisa dia bawa sebanyak itu. Padahal dia juga tidak butuhkan, apa untuk aku?" batin Revi.


Syung!


Seketika sebuah kapak terbang melesat di samping kepala Revi.


"Eehhh!" serentak semua terkejut.


"Siaga! Serangan Zombie cerdas!" teriak Rafael.


"A-apa?! Zombie cerdas haruskah ada di sekolah? Kenapa bisa dari Palu Barat ke Palu Selatan tuh Zombie!" keluh Clara.


Sebuah teriakan individu Zombie membuat ratusan Zombie lain sadar dan indra mereka menguat.


"Sial! Geraman Zombie pembangkit! Brengsek!" Rafael benar-benar kesal.


"Tidak ada kesenangan lagi kawan-kawan. Kita sekarang harus serius!" seru Bryan.


"Mode menyerang, siap?" tanya Rafael.


"Siap!!"


Mereka semua mulai menunjukkan kekuasaan mereka di koridor bangunan itu. Rafael yang sebelumnya menggunakan sebuah linggis, dia membuangnya kemudian mengambil dua bilah pedang yang dia simpan di belakang punggungnya yang membentuk X.


"Silencer modifikasi siap!" sentak Bryan.


"Sniper modifikasi siap!" teriak Clara dari belakang.


"AK-47 modifikasi siap!" seru Revi.


"Tembak!!" teriak Rafael.


Setelah banyaknya suara tembakan, peluru sniper, silencer dan AK-47 meledak tepat di kepala para Zombie. Yaa, senjata-senjata itu adalah hasil modifikasi dari Revi.


"Kita se-over power gini masa' kalah dengan Zombie cerdas dan Zombie pembangkit! Hajar! Sikat!" teriak Rafael antusias.


...


Zombie cerdas, memiliki sisa-sisa ingatan kemampuannya dimasa dia belum menjadi Zombie. Zombie cerdas terbilang intelektualnya tinggi dan mampu membedakan yang mana musuh dan tidak. Ciri-ciri Zombie cerdas memiliki tubuh yang sedikit pendek dan kurus, dia memakai pakaian yang sedikit lebih rapi daripada Zombie biasa lainnya.


Zombie Pembangkit, memiliki kemampuan yang dapat membangkitkan seluruh indra Zombie yang lemah saat dimalam hari. Setelah sebuah teriakan besar dari Zombie ini, maka Zombie-zombie yang memiliki indra lemah dimalam hari akan langsung bangkit dan memiliki indra yang lebih kuat daripada saat disiang hari. Ciri-ciri Zombie pembangkit memiliki tubuh yang sedikit lebih besar dan tinggi daripada Zombie biasa.


....


Rafael memutar cepat di udara dan menebas seluruh kepala Zombie yang dia lewati menggunakan pedangnya. Entah berapa yang dia tebas saat itu. Saat sedang berputar di udara, dia dikejutkan dengan serangan dari individu Zombie, dia dihantam keras oleh palu raksasa dari individu Zombie.


Rafael terlempar hingga ke teman-temannya.


"Ugh! Si-sialan! Zombie itu ingin benar-benar bermain yaa!" Rafael langsung berdiri kemudian menolak kakinya ke lantai dan langsung berlari kencang.


"Rafa! Jangan gegabah!!" teriak teman-temannya.


Rafael dengan cepat sampai pada individu Zombie yang sedikit lebih besar daripada Zombie biasa. Dia menebas leher Zombie tersebut hingga kepalanya terlepas. Pertama, Zombie itu masih sedikit bergerak. Namun dengan cepat Rafael langsung membelah kepala dari Zombie itu.


"Hueek! Darahnya menggangguku!" keluh Rafael.


Tiba-tiba melesat peluru di samping badan Rafael menembak individu Zombie.


"Woy! Jangan lengah!" teriak Clara.


"Eh! Hehehe ..." Rafael menggaruk-garuk kepalanya.


"Rafa--"


Baru saja Bryan ingin memberitahukan bahwa disamping Rafael ada Zombie, dengan cepat Rafael membelah Zombie itu dari atas kepala hingga ke bawah titik terlemah seorang pria.


"Bersih!" teriak Rafael.


"Haaaa... koridor lantai 1 jadi kotor gini deh. Beruntung modifikasi tembakan tadi tidak terlalu besar ledakannya. Kalau besar, bisa-bisa runtuh nih bangunan," ujar Revi sambil menghela napas.


"Yok ambil bahan makanan," ajak Rafael.


Mereka pun berbondong-bondong mengambil beberapa kardus mie instan dan beras untuk dibawa ke lantai 3. Terdapat juga 1 buah kompor minyak serta satu jerigen penuh minyak tanah.


"Fwuuhh untung kemarin kita sempat menjarah gudang Alfemart." Ujar Bryan.


***


Mereka berempat pun naik ke lantai 3 dan tak lupa menutup pintu akses di tangga. Saat sampai didepan tangga, Laura dan Eva menunggu mereka.


"Duh! Aku khawatir kalau kamu tidak kembali nanti!" ujar Laura sambil memeluk Rafael.


"Oi oi! Karung beras ini berat, malah nambah beban lagi dahh!" keluh Rafael sambil meletakkan sebuah karung beras di lantai.


"Jadi? Bersih lantai 1 dan 2?" tanya Eva.


"Bersih, meski ada sedikit kendala dengan Zombie cerdas dan Zombie pembangkit," ujar Clara.


"Hahh! Sampai ada jenis mereka disini. Wahh benar-benar berbahaya sekarang nih," sentak Eva terkejut.


"Tenang, jika terjadi sesuatu yang tak terduga. Bus sekolah di halaman itu akan kamu kendarai. Bus yang sudah dimodifikasi bodynya agar lebih kuat serta moncong bus itu diberi beberapa tombak yang menempel," ujar Rafael enteng.


"Iihh! Aku yang susah juga bawa busnya." Eva sedikit kesal dan langsung masuk kedalam kelas.


-----~


Malam ini, yang dapat jadwal berjaga adalah Rafael dan Bryan. Meskipun ada Zombie yang indranya melemah dimalam hari, namun Zombie cerdas dan Zombie pembangkit adalah kedua jenis yang bertahan di malam hari dan tetap berkeliaran.


Di sisi Bryan, balkon atap.


Bryan sedang melakukan siaran langsung di media sosial. Meskipun kiamat Zombie, jaringan di Indonesia masih terbilang terpantau aman. Entah bagaimana bisa terkendali dengan aman.


"Yoo ... Kali ini kembali lagi bersama aku, Bryan sang pengintai handal ... Aku kali ini berjaga di balkon atas bangunan SMA Misu di Palu Selatan. Semoga ada yang bisa melihat tayangan ini, dan menyelamatkan 6 nyawa," ujar Bryan saat sedang melakukan siaran langsung di smartphonenya disalah satu media sosial yang masih aktif.


"Cih! 0 penonton. Tidak ada kah penonton ... 12.028 teman media sosialku apa mereka sudah menjadi Zombie yaa!" pikir Bryan ketika melihat tampilan UI di smartphone nya.


Listrik, yaa bangunan 3 lantai itu satu-satunya yang memiliki listrik. Bangunan 3 lantai itu memiliki listrik mandiri, generatornya berada di bawah tanah. Setiap keluar untuk menjarah, pasti saat pulang harus membawa bensin. Jika tidak, listriknya akan benar-benar mati.


Jadi, smartphone mereka berenam masih awet. Pergi sekolah saja membawa smartphone dengan charger. Benar-benar tak terduga, yang lebih tak terduga adalah kiamat Zombie yang membuat 6 murid ini harus bertahan di sekolah menunggu bala bantuan.


Disisi Rafael, tepatnya di lantai dasar, lantai 1.


Rafael yang sedang berkeliling, tak lupa dia berusaha mengumpul para Zombie yang sudah mati di dalam kelas di lantai 1 itu. Zombie, jika otaknya sudah hancur, Zombie sudah tidak dapat meregenerasi dan mereka akan lenyap tak tersisa dalam waktu 24 jam. Zombie memiliki kemampuan regenerasi yang kuat.


"Haa .. haa .. haa .. berat-berat juga para Zombie ini," keluh Rafael Terengah-engah.


"Semoga kalian tenang yaa."


Syuung!


Tiba-tiba sebuah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa melesat disamping badan Rafael.


...


Disisi lain, Laura yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun. Dia merasa hasrat buang air kecilnya sangat besar.


"Ugh! Aduh ... kenapa di malam gini sih rasa kencing. Aku harus ke toilet ujung koridor nih. Mana gelap lagi, gak ada orang. Eva, Clara, dan Revi pun tertidur," ujar Laura risih.


Mau tidak mau Laura harus memuaskan hasratnya. Dia pun dengan setengah berlari menuju toilet ujung koridor. Saat dia didepan pintu toilet, dia mendengar sesuatu didalam toilet.


"Emm seperti ada yang mainin air nih. Apa si Rafa? Atau Bryan? Ah tapi tak mungkin, kan mereka berjaga dibawah dan atas," gumam Laura berpikir.


Tok! Tok! Tok!


Laura mengetuk pintu kamar mandi terlebih dahulu kemudian dia berdiam dahulu. Saat sedetik setelah dia mengetuk pintu, bunyi-bunyian air didalam kamar mandi itu berhenti.


"Positif thinking ... positif thinking Laura ... ini pasti Bryan atau Rafael!" batin Laura mulai ketakutan, tetapi mampu dia tahan.


Laura pun membuka pintu kamar mandi, sebelumnya dia menyiapkan pistolnya yang dia ambil dari saku belakangnya.


"De-desert Eagle ... setauku pistol ini berat tolakannya. Kenapa harus dikasih ini sih, kan bisa silencer yang Bryan gunakan. Itu kan lebih ringan." Tak henti-hentinya Laura berbicara di dalam hatinya.


Krieeet!


Laura perlahan membuka pintu kamar mandi. Saat dia membuka setengah pintu, dia membidikkan terlebih dahulu pistolnya di celah pintu kemudian mengintipnya. Dia tidak melihat apa-apa, padahal kamar mandi terdapat lampu penerangan. Hanya saja, koridor lantai 3 dimatikan agar menghemat generator.


"Kok gak ada orang sih?!" gumam kesal Laura.


Seharusnya dia bersyukur tidak ada orang, tapi ini malah kesal tidak ada orang. Jadi ... siapa yang memainkan air di dalam kamar mandi?!


"Jika gak ada orang, berarti ..." gumam Laura.


Laura berlari kencang kembali ke kelasnya tadi beristirahat dengan teman-temannya. Kelas itu sebagai tempat istirahat, sedangkan kelas sebelahnya sebagai tempat penyimpanan barang-barang dan peralatan.


"Sial! Sial! Sial! A-aku .. ugh! A-aku ke-ketakutan!" ujar Laura gemetaran sangat dan menyudutkan diri di sudut ruangan.


Sebuah tangan memegang bahu Laura.


"UWAAA!!" teriak Laura keras.


"Hei! Laura! Sadarlah!" Revi menggoyang-goyangkan bahunya.


"Ah! Revi ... hiks .. a-aku ketakutan. Hiks .." Laura terisak tangis.


"Kenapa takut. Kan ada aku, Eva, Clara, Rafael dan Bryan. Kamu dari kecil ketakutan terus sih, kan kebawa saat besar," ujar Revi mencoba sedikit santai.


"A-aku saat mau buang air kecil, aku mendengar suara air di kamar mandi ujung koridor. Sa-saat aku buka, tak ada orang dan lagi lampu kamar mandi menyala," ujar Laura gemetaran sambil terbata-bata.


"Itu kan aku! Masa kamu tidak lihat aku sedang membasuh muka di wastafel," jawab Revi enteng.


"Hihihi! Aku kerjain juga dia. Aku kan bersembunyi di balik pintu," batin Revi sambil tersenyum tipis.


"Ta-tapi tidak ada orang. Beneran deh!" Laura tetap pada pendiriannya.


"Halusinasimu semakin menjadi deh," sahut Clara sambil duduk mengucek matanya karena silau dari lampu.


Laura seperti tidak percaya. Namun semua pernyataan temannya, membuat dia terbungkam.


Saat sedang saling berdebat, tiba-tiba terdengar suara seperti pecahan kaca dan suara ledakan setelah itu terdengar langkah kaki berat.


"Haa ... haa ... haa ... sekolah diserang puluhan Zombie pembangkit. Aku kesulitan mengatasinya, Zombie pembangkit membawa pasukan besar yaitu ratusan Zombie. Mereka ... mereka dipimpin seorang Zombie cerdas," ujar Rafael di pintu kelas sambil terengah-engah.


"Rafa! Kau ... kau berdarah! Ahh! K-kau tergigit di tangan kananmu!!" teriak Revi.


"Me-menjauh!" Dengan gemetar, Revi menodongkan senjata AK-47 miliknya pada Rafael.


Dengan kondisi Rafael yang berdarah-darah dan lagi tangannya tergigit.


"Ra-Rafael! Cepat bunuh diri. Lakukan selagi kau masih manusia!" seru Revi melemparkan bom bunuh diri berdaya ledak hanya semeter.


"Kau .." Rafael hanya memandang sedih ke teman-temannya.


Langkah kaki berlari terdengar mendekat.


"UWAAA!! Zombie pembangkit membawa pasukan!" teriak Bryan berlari dan menabrak Rafael.


Dengan tatapan aneh, Bryan langsung menjauh dari Rafael.


"Kiyaaa! Rafa ... jangan mendekat!" Bryan langsung berlari mendekati Revi yang sedang bersiaga.


"Haruskah aku berakhir disini kawan-kawan, setelah semua perjuangan kita sebulan mencari keluargaku dan keluarga kalian?" tanya Rafael sambil menitikkan air mata.


"Semua perjuanganmu mencari keluargamu dan keluarga kita berlima dalam sebulan ini akan kami kenang Rafael dan itu tidak sia-sia," seru Revi.


"Sayangnya meski ditelepon, tidak tersambung. Ayah, ibu ... kalian kemana?" batin Clara menitikkan air mata.


"TIDAK! AKU TIDAK BOLEH BERAKHIR DISINI !!"


Dengan cepat Rafael mengambil ban pinggang miliknya dan melilitkannya ke leher.


~


(Revisi)