Human-Z

Human-Z
Chapter 69 : Ini Bumi, dimana yang Kuat Berkuasa!



Sudut Pandang Orang Pertama, Rafael Smash, AKTIF.


Aku kembali meringkuk seperti awal disaat orang-orang asing itu datang. Mereka menatapku dengan tatapan sinis. Aku tentunya merasa risih dengan itu, rasanya mau ku bunuh ditempat mereka semua ini.


Aku yang masih mereka anggap tak sadarkan diri dengan santainya berunding di sudut ruangan. Mereka nampak serius. Sesekali aku mengintip dari celah kelopak mataku dan menampakkan anak kecil yang ku beri nama Hugo memerintahkan untuk segera menutup mata.


Aku dibuat tersenyum karenanya. Tidak ku sangka seorang anak kecil yang seharusnya bermain dengan teman-temannya dan terlihat polos, sekarang dia seperti seorang remaja diusiaku.


"Apa yang kita lakukan dengannya?"


"Kapal itu kita telah dapatkan, kakak dari gadis itu bahkan sekarang tinggal nama."


Bagai sebuah hujaman benda tajam, hatiku terasa sangat berat. Jantungku memompa darah tak beraturan. Aku menggemeretakkan gigi dengan kesal. Karena aku yang sekarang nampak tak terkendali mencoba menenangkan diri. Aku harus mendengarkan dengan seksama lanjutan percakapan mereka.


Bukan hanya diriku yang terkejut, tetapi Hugo juga mengalami hal yang sama. Namun, dia dengan cepat memperbaiki keterkejutannya dan kembali tenang seperti sesuatu itu tak pernah ada.


"Terus ... gadis itu, apa yang kita lakukan dengannya?" Orang yang kelihatan lebih tua berbicara, dia memiliki tubuh tinggi kurus.


Kemungkinan umurnya kisaran 25 tahun. Nampaknya dia adalah Satu atau pemimpin kelompok mereka atau juga kakak tertua.


"Dia kita berikan kepada Empat saja. Sesama anak kecil pasti saling mengerti, hahah!"


"Oi, Tiga! Kau selalu bercanda disaat seperti ini."


"Ayolah, Kak Satu. Santai saja."


"Lihat Dua, dia sangat tenang dan hanya diam menunggu keputusan yang kita buat!" sahut Hugo.


Sekarang, aku akan terus memanggil anak kecil Human-Z ini dengan panggilan Hugo. Mengapa? Perawakannya sangat mirip disaat Hugo adikku masih berumur 7 tahunan. Rambut hitam pekatnya, matanya yang coklat karena gen dari Ayahku, tubuh yang tentu saja pendek. Pokoknya, menurutku anak kecil Human-Z adalah salah satu kembaran adikku Hugo.


Kan katanya di dunia, masing-masing dari kita memiliki 7 kembaran. Entah aku akan percaya atau tidak, biarkanlah seperti itu saja.


"Baiklah, aku rasa percakapan kalian sampai disitu saja!" seruku dengan cepat.


Semua orang terkejut dan bahkan Hugo pun juga tersentak kaget. Namun, dia sadar dan langsung berlari kearahku dengan santainya tanpa memperdulikan kakak-kakak angkatnya yang akan tewas di tanganku. Entah berapa banyak manusia yang aku bunuh, tetapi selama itu mengganggu ketentraman manusia tidak bersalah maka aku akan membunuhnya seperti kelompok Agus.


Aku mengeluarkan 2 buah tentakelku dengan santai. Mereka semua hanya menenggak ludahnya sendiri dan berkeringat dingin. Hugo, adik angkat mereka sendiri malah memihak padaku.


"E-Empat! Apa yang kau lakukan hah?!" pekik orang yang memiliki julukan Satu. Dia sangat marah.


"Tidak apa-apa, aku hanya tertarik dengan kakak ini. Lagipula, 3 hari terakhir kalian menjadi jahat padaku. Tidak memberiku makan dan membiarkanku mencarinya sendiri!"


Aku sendiri dibuat terbelalak dengan Hugo ini. Aku menoleh padanya sambil mengerutkan kening. Menyadari dia ditatap intens, Hugo langsung menatapku intens juga.


"Haha! Santai saja, Kak Rafael. Aku bahkan lebih bahagia ketika mencari makan sendiri, lebih leluasa," ucap Hugo dengan senyuman merekah.


"Oh, baiklah kalau begitu. Lain kali kalau bersamaku, jangan seperti itu yaa. Kau bersamaku akan sangat terjamin," jawabku sambil mengelus kepalanya sehingga rambutnya menjadi berantakan.


Aku dan Hugo benar-benar tidak memperdulikan 3 orang di depan kami yang menatap horor pada kami. Semuanya merasa dari keakraban kami bahwa Hugo telah lama mengenalku. Namun, nyatanya baru beberapa menit lalu.


"Baiklah, kita sudahi percakapan kita, Hugo," ucapku sambil menatap sinis kearah 3 orang itu.


Aku maju selangkah demi selangkah mendekati mereka. Mereka juga tidak tinggal diam dan mundur perlahan sambil menodongkan senjata mereka yang penguncinya belum terbuka sama sekali. Sungguh ceroboh!


Aku mengayunkan dua tentakelku dan langsung menghantam keras ketiga orang itu. Mereka menghantam dinding sehingga membuat dinding di belakang mereka jebol. Aku sendiri merasa horor dengan kekuatanku ini. Rasanya aku menebak bahwa tulang punggung dan tulang rusuk mereka menjadi hancur, organ tubuh mereka mungkin berhamburan di dalam tubuh.


Seketika ketiga orang itu tak sadarkan diri dengan darah keluar dari mulut. Semuanya dalam keadaan yang sangat dirugikan. Bisa saja jika Human-Z yang menyerang mereka tidak tau belas kasihan, maka mereka hanya tinggal nama di dunia ini.


Sayangnya aku masih memiliki belas kasihan. Aku menatap Hugo yang matanya berbinar penuh ceria.


"Wow! Kak Rafael kuat! Rasanya jika kita berdua saling bertarung, aku tak tau lagi apa yang terjadi denganku yang masih polos ini dalam pertarungan dan hanya mengandalkan kelengahan musuh," jelas Hugo sambil mendekatiku.


Aku kembali mengelus kepalanya dengan lembut. Rambutnya sangat lembut dan benar-benar memiliki kelembutan milik Hugo adikku. Dan lagi, sifat Hugo adikku yang selalu ingin tau ada pada anak kecil ini. Dia bahkan menjelaskan sesuatu yang tak semestinya diketahui anak seumurannya.


"Ini Bumi, Hugo. Dimana yang kuat berkuasa," jawabku lantang.


Ya, nyatanya memang demikian. Ketika sebelum zaman kiamat zombie, negara-negara di dunia saling berlomba-lomba untuk keluar angkasa dan menjadikan negaranya sebagai negara pertama yang berhasil menuju Mars tempat yang dinyatakan dapat dihuni manusia dengan sedikit modifikasi pada planetnya.


Tahun ini saja sebenarnya dari Indonesia memiliki rancangannya sendiri. Aku bersama Bryan 6 bulan lalu sempat memasuki sistem informasi yang penuh kerahasiaan dari Indonesia dan mendapatkan rancangan pembuatan kapal luar angkasa untuk melakukan koloni ke Mars pertama kali.


Ya, itu jika tidak ada halangan. Namun, sekarang dunia sedang dalam krisis kiamat zombie dan manusia sepertinya akan memiliki persentase yang cukup besar untuk punah dari muka Bumi.


"Baiklah, kita keluar terlebih dahulu dan kembali ke kapal speed boat itu," ucapku sambil menoleh kepada Hugo yang memainkan tubuh ketiga orang itu.


Dia bahkan menyayat tangan orang yang memiliki julukan Satu. Nampaknya Hugo sangat asyik dengan hal yang seperti ini dan itu mengingatkanku kembali pada adikku Hugo.


"Haa ... ayo, Hugo," ucapku diawali helaan napas.


Sudut Pandang Orang Pertama, Rafael Smash, NONAKTIF.


Dua orang keluar dari bangunan yang nampak kumuh. Dari wajah mereka terlihat sangat datar. Tak ada satupun diantara mereka berbicara, dibeberapa titik pakaian mereka terdapat bercak darah. Mereka adalah Rafael dan anak kecil Human-Z di yang diberi nama oleh Rafael sebagai Hugo. Mereka berjalan menuju dermaga dan mendapati tubuh seorang pemuda yang bersimbah darah dan disampingnya ada seorang gadis kecil.


"Kakak ... kakak ..." ucap gadis itu sambil menangis.


"Araya," panggil Rafael lirih.


Araya menoleh dan mendapati Rafael dan Hugo sedang menatapnya kasihan.


"Benar apa kata Kak Rafael, Bumi memiliki orang kuat dan orang lemah serta hanya orang kuat lah yang berkuasa diatas segalanya," ucap Hugo sambil mendekati gadis kecil tersebut.


"Halo, Araya. Aku Empat, eh! Maksudku Hugo," sapa Hugo pada Araya dan mengambil tangannya untuk bersalaman.


"Hiks ... a-aku Araya. Ka-kakak bagaimana?" jawab Araya sambil menoleh kepada Devin yang telah tiada.


"Hmm, dia ... sudah tidak ada," ucap Rafael sambil memalingkan wajahnya.


Tentu saja Araya tambah semakin ganas. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia sudah mendengar perkataan dari Devin bahwa ayahnya sudah tidak ada, sekarang dia harus pasrah ketika keluarga satu-satunya telah tiada.


Anak kecil umur 6 tahun masih cukup polos. Namun, semuanya berubah ketika dizaman seperti ini. Anak kecil yang seharusnya bermain dituntut untuk menggunakan senjata api.


"Huaaa ... ayah ... ibu ... kakak semuanya, huaaa …."


"Cup, cup, cup. Tenang yaa, Dik Araya!" ucap Rafael menenangkan Araya.


***