Human-Z

Human-Z
Chapter 23 : Hal Yang Mengejutkan



Rafael duduk saling berhadapan dengan wanita yang membantunya menghabisi monster Zombie mutasi itu.


"Jauh-jauh kau sana, bau amis!" Sentak wanita itu.


"Emm.. perutku sih berlubang hehe~" Rafael tersenyum merekah menyentuh perlahan perutnya yang sedang regenerasi.


"Ke berapa kali ?" Tanya wanita itu.


"Oh, yang ini kedua kali. Yang pertama waktu lawan wanita tentakel, siapa yaa namanya, aku lupa." Jawab Rafael.


"Lupa atau tidak tau. Setauku, wanita itu jarang menyebutkan namanya pada orang yang dia tidak kenal. Bahkan dia sering membuat nama yang aneh." Ujar wanita tersebut sambil mengikat luka yang berada di telapak tangannya menggunakan kain.


"Bagaimana kamu tau ?" Tanya Rafael penasaran.


"Bisa dibilang organisasi kami dengannya bertentangan. Aneh yaa, aku beritau ini ke orang asing." Jawab wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.


"Haaa~... apa-apaan dunia ini. Bermacam-macam hal muncul. Organisasi apalah, Human-Z lah, monster mutasi lah, Zombie yang menginfeksi lah. Sungguh sial aku terlahir di dunia ini." Rafael berdiri dan membelakangi wanita tersebut.


"Rafa !!" Teman-teman Rafael datang menghampiri mereka berdua.


"Siapa perempuan ini ?!" Ujar Clara sedikit ketus.


Clara menunjukkan kecemburuannya pada wanita asing tersebut.


"Ah.. aku bukan siapa-siapanya. Aku hanya menolong dia. Hanya darahku yang bisa menetralisir virus Zombie ini." Ujar wanita itu sambil mengayunkan tangannya dengan ramah.


Clara memandang tajam wanita itu, dari bawah keatas. Saat tatapan mata Clara menuju ke pedang yang tersanggul di pinggang wanita itu, Clara sedikit terkejut


"Wahh!! Pedang pegangan emas. Dasar pencuri !!" Sentak Clara menunjuk-nunjuk wajah wanita asing tersebut.


"Eh! Bu-bukan.."


"Apa !! Itu kau ambil di museum kan ?!" Clara mendesaknya.


Whuush !!


Rafael melesat diantara para wanita itu untuk menengahi perdebatan diantara mereka.


"Diam yaa." Rafael menyunggingkan senyuman sambil memiringkan kepala dan menutup mata.


"Ugh~ kalau Rafa yang menengahi pasti sudah berhenti." ~ Batin Bryan gemetaran.


"Mari kita berbincang-bincang di dalam bus, itu akan lebih aman." Ajak Rafael.


Wanita asing tersebut mengangguk namun sebelum itu dia menoleh ke arah belakangnya di sebuah rumah bertingkat 3.


"Ada apa ?" Tanya Laura.


"Ah.. tidak apa-apa kok, hehe."


...


Saat ini mereka telah berada di dalam bus. Masing-masing mengambil tempat yang menurut mereka aman, tentu Eva di kursi kemudi untuk berjaga jika ada keadaan bahaya maka bisa langsung tancap gas.


"Jelaskan semua yaa." Rafael lagi-lagi tersenyum pada wanita asing itu.


"Te-tekanannya... dia mendesakku." ~ Batin wanita asing itu.


"Nama." Singkat Rafael sambil mengelap lumuran darah pada linggisnya.


Rafael duduk santai di kursi bus. Wanita itu memandang Rafael dengan pandangan pasrah, mau bagaimana pun, dia diterima dengan baik di dalam bus sebagai orang asing.


"Anindira Quenby Elvina." Jawabnya sambil tertunduk.


"Nama yang indah. Perempuan yang pemberani juga bijaksana, melindungi banyak orang bagai malaikat bersayap." Ujar Rafael dengan tenangnya.


"Eh!" Wanita itu terkejut.


"Bagaimana, Dira ?" Ujar Rafael sambil menoleh ramah ke wanita itu.


"Emm... boleh juga seperti itu." Jawab sungkan Anindira.


"Halo salam kenal, aku Laura Asmita." Laura tersenyum ramah, Anindira membalasnya.


"Aku Clara Diana." Clara menatap tajam Anindira, tentu Anindira membalasnya dengan tatapan tajam juga.


Itu membuat Anindira merubah raut wajahnya menjadi tegas.


"Yo~ Aku Bryan Narendra." Bryan melambaikan tangan kanan ke atas, Anindira membalas lambaiannya.


"Aku si pengemudi handal. Eva Kaila." Sahut Eva dari kursi kemudi.


"Terus kamu siapa ?" Tunjuk Anindira pada Rafael.


"Aku?" Tunjuk Rafael ke diri sendiri.


"Iya kamu."


"Rafael Smash." Singkat Rafael datar.


"Oke. Perkenalannya kita sudahi. Mari kita bahas yang lebih serius." Raut wajah Anindira berubah menjadi serius.


"Human-Z. Itulah kamu Rafael." Ujar Anindira menoleh ke Rafael.


"Apa itu dan kenapa bisa ada ?" Tanya Rafael dengan berbinar.


"Ini informasi yang baru aku tau. Human-Z adalah hasil eksperimen pada manusia dengan memasukkan virus Zombie ke dalam tubuh, nah dengan perlakuan khusus seperti..."


"Kamu mengikat lehermu. Itu adalah perlakuan khusus agar virusnya tidak menyebar ke otak. Entah bagaimana, tapi itu berhasil pada beberapa orang dengan pengawasan ketat. Melihat kamu, sepertinya kamu melakukan itu sendiri yaa."


"Iya. Beberapa hari lalu aku lakukan gitu. Beberapa minggu lalu kami berenam bereksperimen dengan memasukkan darah Zombie ke dalam seekor tikus. Tikus itu bermutasi, kami memasangkan tali dilehernya. Itu dapat menahannya tapi tikus itu mati karena terbebani." Jelas Rafael.


"Kenapa dikatakan hasil eksperimen?" Tanya Clara datar.


"Aku pun tak tau. Tapi ketua kami, Ketua Lee. Dia mengatakan seperti itu. Rasanya aneh aku beri informasi sebanyak ini." Jawab Anindira.


"Lee ?! Dokter Lee Min yang dari Korea Selatan itu ?!" Sahut Bryan.


"Hmm... sepertinya aku pernah dengar namanya." Ujar Rafael.


"Ya, kamu benar Bryan. Dia adalah dokter Lee Min yang bertanggung jawab dalam mencari vaksin dari virus Zombie ini." Jawab Anindira.


"Be-benarkah ada vaksinnya ?!" Seru Rafael.


Baru saja Anindira hendak membuka mulut untuk berucap, tiba-tiba mobil bus berguncang keras. Eva yang panik langsung menyalakan mobil bus dan langsung tancap gas, membuat semua yang berada di dalam mobil bus terhempas ke belakang.


"Eh.. a-apa itu tadi ?!" Seru Rafael maju ke depan.


"Sepertinya Zombie !!" Jawab Eva masih sedikit panik.


"Tenanglah, Eva !!" Teriak Revi.


"I-iya... fuuuuh~" Eva menarik nafas panjang dan dihembuskan.


Eva merasa mulai tenang dan mampu mengendalikan mobil bus dengan lebih stabil tidak berguncang.


Bunyi gemuruh langka kaki terdengar dari belakang bus. Nampaknya gerombolan Zombie mengejar mobil bus tersebut.


"Dira, jika kamu dipihak kami. Bantu kita, itu akan membuat kamu akan kami percayai." Ujar Clara mengokang sniper miliknya.


Brak !!


Secara tidak terduga, para Zombie melompat dan meraih sisi belakang bus, mereka bergelantungan. Itu terlihat karena sebagian sisi belakang bus adalah kaca. Setengah kaca dibagian atas, setengah body mobil dibagian bawah.


"Apa-apaan mereka !" Seru Bryan kesal.


"Bersiap..."


"Angkat senjata..."


"Tembak !!"


Rafael memerintah ketiga temannya, Clara, Bryan dan Revi untuk menembaki para Zombie yang bergelantungan di sisi belakang bus.


Ckiiit !!


Bus berbelok dengan mengitari bundaran di perempatan jalan. Bus sedikit miring ke kanan akibat kecepatan bus saat berbelok ke kiri sangat cepat.


"Ke sisi kiri semua !!!" Teriak Eva.


~


Instagram : alif_ardra


Facebook : Alif Ardra