Human-Z

Human-Z
Chapter 53 : Adu Kekuatan



Rafael berjalan dengan kesal kembali kearah rumah. Dia paling kesal disaat sesuatu di dalam tubuhnya selalu bertindak tanpa izinnya.


"Hei! Tunggu!" teriak Jaka mencoba mengejar Rafael.


Jaka memegang pundak Rafael. "Tunggu, aku mempunyai permintaan."


Rafael menghentikan langkahnya dan menatap Jaka dengan datar. "Apa? Maaf saja yaa, aku sedang tidak baik-baik saja sekarang."


Jaka terlihat sangat kecewa, senyumannya perlahan pudar. "Yaah… padahal baru mau ngajak duel untuk mengetes kekuatanmu, tapi tak apa lah!" Jaka membalikkan badannya dan berjalan sekitar 5 meter.


Namun, tiba-tiba saja ada angin yang berhembus dan seperti menusuk punggung Jaka. Dia berbalik dan menampakkan sebuah tentakel berwarna hitam pekat sedang mengintimidasinya. Jaka mundur beberapa langkah ke belakang.


"Fyuuh! Rasanya benar-benar mencekam," ucap lega Jaka.


Setyo dan Hendro datang dengan tergesa-gesa akibat suara deru angin yang besar tadi. Kawan-kawan Rafael hanya menghela nafas panjang, mereka sangat mengerti Rafael. Rafael adalah orang yang suka tantangan. Tantangan apa saja akan dilakukannya dengan tujuan melatih kemampuannya.


"Ka-kalian… apa yang kalian lakukan hah?!" bentak Hendro dengan amarah yang meluap-luap dan menodongkan senjata laras panjangnya kepada Rafael.


Setyo memegang pundak kiri Hendro dengan lembut. "Tenanglah, mereka akan menjelaskan, tetapi telah mengurungkan niatnya karena kamu membentaknya."


"Oke, cepat jelaskan!"


Rafael dan Jaka saling melirik untuk menjelaskannya. Rafael hanya menghela nafas disaat Jaka tidak mau menjelaskan, akhirnya dia lah yang menjelaskannya.


Perlahan tentakel Rafael masuk kembali ke punggungnya. Rafael mencoba membuat senyuman senatural mungkin. "Jaka mengajakku untuk duel, apakah boleh?"


Setyo dan Hendro hanya terperanjat tak percaya. Hendro memandang ragu Jaka. "Kamu yakin?"


"Yakin. Ya, aku sangat yakin. 10 juta persen aku yakin!"


"Baiklah, kami akan menjaga kalian. Jangan sampai menghancurkan halaman!" Ultimatum yang sangat mengintimidasi.


***


Di halaman belakang, saat ini Rafael dan Jaka saling berjarak 4 meter dan menunjukkan kewaspadaan tinggi. Kawan-kawan Rafael menontonnya dengan antusias, Setyo dan Hendro bahkan duduk santai sambil menyesap kopi, Ibunya Jaka menatap khawatir kepada 2 insan di depannya.


"Oke, siapa yang lebih dahulu?" ucap Jaka sambil menutup matanya perlahan.


Rafael mengeluarkan 2 buah tentakelnya yang dia mampu kendalikan secara penuh, jika lebih maka akan kesulitan dan malah kawan virusnya lah yang mengendalikannya.


"Bagaimana dengan aku? Kita sama-sama akan mengetahui kekuatan masing-masing di medan pertempuran!"


Jaka membuka matanya dan mengangguk perlahan. Segera setelah mengangguk, dia melihat langsung gerakan cepat dari tentakel milik Rafael. Tentakelnya berputar di udara bagai torpedo.


Dengan santainya Jaka menghindarinya dan memiringkan tubuhnya ke kanan. Setelah dia memiringkannya, tentakel itu berbelok tepat di samping Jaka. Tentunya Jaka yang melihat secara lambat tentakel itu langsung melompat berguling ke depan.


Rafael menarik kembali tentakelnya secara cepat. "Wow! Matamu benar-benar hebat!" puji Rafael tanpa rasa tekanan.


"He-hei? Apa yang barusan terjadi?" tanya Hendro sambil berdiri.


"Kami tidak tau, tetapi yang pasti, Rafael telah menyerangnya dengan kecepatan yang sulit untuk dilihat mata telanjang. Namun, anakmu Jaka bisa menghindarinya dengan mudah." Penjelasan dari Setyo lah membuat Hendro merasakan merinding.


Dia tidak menyangka Rafael akan seperti itu. Awalnya dia hanya tau bahwa Rafael itu memang Human-Z, persoalan apa kekuatannya, dia sama sekali belum mengetahuinya.


Kembali ke duel. Rafael kembali melesatkan tentakelnya dengan ayunan badan sebelah kirinya yang condong ke belakang. Tentakel itu melesat dengan deru angin yang kencang. Jaka yang melalui penglihatan matanya mulai sedikit kesulitan. Kecepatan tentakel itu bertambah.


Jaka menghindari secara dengan melompat ke samping dan langsung berlari kearah Rafael dengan semampunya. Namun, tentakel Rafael berbalik dan mengejarnya, Jaka melihat sebentar ke belakang, tentakel Rafael telah berada 1 meter di belakangnya.


Jaka langsung memajukan badannya ke depan dengan cepat hingga dia terjatuh dan bertiarap di tanah. Namun, dengan cepat dia berdiri kembali dan mengayunkan belatinya yang berada di tangannya ke tentakel yang barusan lewat diatasnya.


"Heeyaaaa!!"


belati itu hanya tinggal beberapa sentimeter lagi untuk mengenai tentakel itu, tetapi mata bilah belatinya hanya menyayat angin kosong. "Ah!! Curang!" keluh Jaka kesal.


"Bisa diam gak?" tanya Jaka melompat-lompat ke kanan dan ke kiri dengan cepat.


Penglihatan mata juga membutuhkan refleks tubuh yang cepat. Jika mata bisa melihat sesuatu seakan gerak lambat, maka refleks tubuh harus juga bergerak secara cepat. Karena saat penglihatan mata melihat sesuatu melambat, tetapi sebenarnya benda itu sangat cepat sehingga refleks tubuh juga dibutuhkan disini.


"Oi! Bisa diam gak?"


Pakaian Jaka sangat kotor akibat dia terus saja berguling di tanah atau bahkan bertiarap untuk menghindari serangan yang brutal dari Rafael. Entah mengapa Rafael menyadari sesuatu.


"Kekuatannya bukan hanya penglihatan lambat dan penilaian. Dia memiliki kemampuan refleks yang meningkat disaat virus itu bersamanya! Refleksnya diatas rata-rata manusia biasa, meskipun bisa melihat secara lambat, tetapi diharuskan juga memiliki refleks yang cekatan," gumam Rafael sambil terus mengayunkan tentakelnya untuk menyerang Jaka.


30 menit berlalu, tetapi mereka berdua sama sekali belum berhenti. Jaka yang ingin mendekat ke Rafael sangat kesulitan akibat tentakelnya selalu saja menghalang jadinya dia harus kembali mundur ke belakang menjauhi Rafael. Stamina mereka sudah bukan stamina manusia biasa.


Arena duel sudah hancur, rumput-rumputnya telah banyak tercabut. Tanah-tanahnya mulai berhamburan. Hendro yang melihat itu sangat ingin menghentikan duel ini. Namun, dilain sisi dia sangat ingin melihat hasil duel ini.


Kawan-kawan Rafael sendiri bahkan merasakan kelelahan dari pertarungan tak masuk akal dihadapan mereka. Satu persatu mulai merasakan bosan akibat belum ada tanda-tanda seseorang akan menang.


"Jaka! Aku tau kemampuanmu bukan hanya penglihatan lambat dan penilaian. Pasti tubuhmu memiliki refleks yang telah ditingkatkan akibat dari virus yang mendiami tubuhmu. Aku sangat tau, sebaik apapun mata dalam melihat gerakan cepat pasti didukung oleh refleks tubuh yang sangat menakjubkan!" teriak Rafael dan masih terus menyerang Jaka menggunakan tentakelnya.


Jaka yang terus bergerakpun hanya tersenyum licik. "Heh… ternyata aku sudah ketahuan. Ya, memang benar. kelincahanku juga ditingkatkan. Awalnya memang kelincahanku lumayan, tetapi disaat ada kawan virusku maka kelincahanku ditingkatkan secara drastis dan melewati rata-rata manusia pada umumnya!" jelas Jaka melompat ke kanan dan ke kiri secara zig-zag untuk menghindari tentakel Rafael.


Menyadari akan Jaka yang semakin dekat, Rafael mundur secara refleks ke belakang. Tentakelnya pun menjadi goyah.


Jaka tersenyum seringai. "Akhirnya! Sesuai perjanjian, luka sekecil apapun dari pertarungan ini maka orang yang memiliki luka akan kalah!"


Jaka langsung berlari secara cepat. Kelincahannya memang tidak dapat dipungkiri. Tentakel Rafael yang sedikit goyah pun mencoba membela diri secara spontan. Tentakel itu berayun secara diagonal dari atas ke bawah. Jaka kembali tersenyum licik.


"Heyaaa!!"


Langkah kaki Jaka berhenti sesaat tentakel Rafael benar-benar membuatnya merinding. Namun, Rafael juga saat ini juga dalam bahaya serta merasakan ancaman nyawa menghilang. Ya, Jaka dan Rafael saling todong alat senjata masing-masing. Jaka sendiri telah sampai dihadapan Rafael dan menodongkan belatinya tepat ke leher, Rafael juga demikian. Tentakelnya berada di titik buta dari Jaka sehingga Jaka tidak bisa menghindarinya.


"Ya! Duel kali ini seri!" teriak Hendro sambil mendatangi Rafael dan Jaka yang saling todong.


Kawan-kawan Rafael, Setyo dan ibunya Jaka menghampiri mereka dengan tatapan kagum. Kekhawatiran ibunya Jaka sendiri telah menghilang selama pertarungan 30 menit lebih ini.


"Kalian berdua sudah bukan manusia!" seru Setyo sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya, mereka ini sangat overpower!" timpal Clara.


"Baiklah, aku akan mengakui ini seri. Lain kali aku lah yang menang!" ucap Rafael dengan menyombongkan dirinya.


"Mulai… hm! Rafael si sombong telah dimulai!" cibir Bryan sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.


Jaka memberikan senyuman seringainya. "Heh… kamu yang menang atau aku?" cibir Jaka juga sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Perlahan Rafael merasakan sesuatu mengalir pada tangannya. Dia mengangkat tangan kanannya dan menampakkan darah yang sedang mengalir pelan.


"Hah?! Bagaimana bisa?!" sentak Rafael mengagetkan semua orang.


Tentunya juga semua orang yang berada disana terkejut bukan main. Mereka tidak menyangka Rafael akan terluka walaupun hanya sayatan kecil.


"Aku memiliki 2 bilah belati loh!" Jaka menunjukkan belatinya yang berada di tanah tak jauh di belakang Rafael.


"Jadi begitu yaa, aku kalah. Sungguh licik, tapi aku suka! Dimana kamu menyembunyikan belatimu yang itu?"


"Belatiku memiliki pegangan ditengah, diantara dua bilah. Satu bilah bisa dicabut. Jadi, aku menggunakan bilah belati yang tak ada pegangannya dan melemparnya disaat aku menodongkan belati yang masih ada pegangannya tadi!" jelas Jaka.


Akhirnya terkuak sudah rencana licik Jaka. Namun, di dunia ini jika tidak cerdas-cerdas memanfaatkan sesuatu maka tidak seru. Kelicikan juga diperlukan di dunia yang hancur ini.


Duel diakhiri dengan pemenangnya adalah Jaka. Kawan-kawan Rafael, Hendro, Setyo dan ibunya Jaka hanya tertegun melihat kelicikan Jaka. Mereka semua pun memasuki rumah untuk kembali beristirahat pada sore hari.