
Rafael dan teman-temannya berusaha menghabiskan para Zombie yang tersisa setelah teriakkan pelumpuh dari pak Setyo. Waktu bergeser sedikit demi sedikit hingga tidak terasa telah menunjukkan waktu pukul 12 malam.
"Hosh.. hosh.. i-ini.. aarrghh!! Ca-capek..!" Seru Rafael dengan sisa-sisa tenaganya yang terkuras habis.
"Mana pak polisi ini pingsan lagi karena kecapekan. Seharusnya dia lebih kuat dong!" Keluh Rafael sambil melirik seorang polisi yang terbaring tidak sadarkan diri.
Tap! Tap!
Rafael yang berada di balkon teras lantai 2 dikejutkan oleh langkah kaki dari dalam ruangan kamar. Rafael dengan sigap langsung bersiaga dengan 2 buah pedang miliknya.
"Siapa disana?!" Teriak Rafael.
"Woo.. woo.. woo.. tenang sedikitlah!" Sahut sebuah suara wanita dari dalam ruangan.
Perlahan wanita tersebut keluar ke balkon teras dan menunjukkan wujudnya. Seorang wanita dengan switer putih, celana jeans ketat, memakai topi serta masker, rambutnya terurai panjang sepinggang.
Syuung!
Tiba-tiba wanita tersebut menyerang Rafael dengan langkah cepatnya dan langsung menghunuskan pisau miliknya ke leher Rafael.
Rafael yang tidak siap hanya pasrah dia telah dihunuskan sebuah pisau ke lehernya dari belakang. Entah bagaimana cara wanita tersebut bergerak dengan cepat hingga ke belakang Rafael dalam hitungan detik, seperti hipnotis.
"Mau bermain nih ?" Tanya Rafael tetap mengatur pernafasannya agar lebih tenang.
"Kamu mencoba tenang disituasi seperti ini yaa, menarik juga kamu." Sahut wanita tersebut.
"Daripada tidak menarik sama sekali gimana ? Apa mau saya bunuh kamu ?" Ancam Rafael masih dengan nada datarnya dan tenang.
"Hah?! Mau bunuh saya?! Haha-hahah!" Wanita tersebut malah tergelak tawa.
"Yakin nih?" Pungkas Rafael.
"Buktikan kalau kamu bisa!" Bisik wanita tersebut ke telinga Rafael.
"Kesalahan pertama dalam menahan musuh adalah kamu tidak mengambil senjata miliknya." Ujar Rafael.
Rafael dengan kedua pedangnya yang masih berada di kedua tangannya, dengan cepat mengangkat pedang tersebut ke belakang dan langsung menargetkan leher wanita tersebut.
"Yakin nih ? Kamu gemetaran loh!" Rafael masih dalam keadaan tenang dan bahkan mengisi nada bicaranya dengan nada mengejek.
"Eh! a-anu.. bi-bi-bisa ja-jauhkan ujung pedangnya?" Dalam keadaan gemetaran wanita tersebut berbicara, terlihat wanita itu pun sangat ketakutan.
"Haha! Tadi mengancam saya, ini malah memohon untuk jauhkan pedangku? Pisaumu dululah jauhkan dari leherku. Sedikit lagi mengenai urat leher nih, lihat aja dah berdarah." Jelas Rafael.
"Eh! Ma-maaf!" Dengan cepat wanita tersebut langsung menjauhkan pisaunya.
Rafael dengan cepat berbalik dan menyimpan kembali pedang miliknya ke belakang punggungnya, dia mundur perlahan menjauh dari wanita tersebut.
"Jadi.. mau apa kamu?" Tanya Rafael sambil sedikit menjilat jarinya yang terdapat sisa darah yang dia ambil dari ujung pedangnya.
"Iiyyuu... i-itu kan darah!" Wanita tersebut menunjukkan raut wajah jijik dan langsung membuang muka ke kanan.
"Tak apa. Itu darah kamu kok, hanya secuil hehe!" Secara tidak terduga Rafael langsung jujur.
"Eh!" Dengan cepat wanita itu langsung memeriksa leher belakangnya.
Beberapa saat ketika dia memeriksa lehernya, wanita tersebut langsung terkejut ketika di jarinya terdapat darah yang berasal dari lehernya. Rafael hanya memandang datar wanita tersebut sambil menikmati sisa-sisa darah di jarinya.
"Tidak perlu khawatir. Pendarahannya akan segera berhenti, aku hanya menggores sedikit tadi dengan goresan lembut. Makanya kamu tidak merasakannya." Jelas Rafael kemudian mendekat secara perlahan ke wanita tersebut.
"Ja-jangan dekati aku!"
Plak!!
Rafael mendekat dengan kemampuannya dan langsung menampar pipi tembem wanita tersebut yang terlindungi masker berwarna hitam dengan lembut, kemudian dia mundur lagi beberapa langkah dari wanita tersebut.
"Sadarlah, di dunia yang mengalami kiamat Zombie ini kau tidak bisa memanggil polisi atau siapa pun itu sekarang. Nah, sekarang aku membutuhkan informasi berharga darimu, apa alasan kau menyerangku!" Jelas Rafael dengan nada sedikit berat.
"Kenapa manggilnya aku-kau. Saya ini lebih tua loh dari kau! Umurku itu 21 tahun!"
"Loh! Ooh... itu tidak masalah. Lagi pula aku lebih dewasa dalam memahami situasi sekarang. Kau itu memiliki kesalahan besar dalam menahan targetmu!" Pungkas Rafael sambil berjalan ke dalam ruangan.
"Mari kita bermain sedikit." ~ Batin Rafael sambil tersenyum menyeringai.
Tiba-tiba Rafael menghilang dari pandangan wanita tersebut. Wanita itu jelas panik bukan main, seorang manusia tiba-tiba menghilang dari pandangannya hanya dalam kedipan mata.
"Eh! Di-dimana dia?!"
"Aku disini." Jawab Rafael dari belakang wanita tersebut.
Bruk!
Seketika wanita tersebut jatuh tak sadarkan diri di lantai.
"Ahay! Itu yang aku mau!" Seru Rafael tersenyum simpul.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 1 dini hari, para garda terdepan istirahat di aula hotel. Beberapa polisi malah langsung tidur pulas. Teman-teman Rafael membersihkan peralatan senjata mereka.
"Yo! Gimana kabar kalian setelah gelombang besar Zombie ?" Sapa Rafael yang datang sambil menyeret seorang wanita.
"Jiaaah!! Si-siapa yang kamu bawa itu ?!" Sentak Laura.
Cletek!
6 orang polisi yang tertidur pulas langsung bangun dan menodongkan senapan milik mereka.
"Woahah.. tenanglah, aku hanya membawa seseorang yang membahayakan hidupku tadi." Ujar Rafael sambil mengangkat tangan.
"Kau tidak sopan Rafa. Bawa wanita yang pingsan hanya dengan diseret. Seharusnya bisa kamu angkat!" Bentak Revi.
"Sudahlah..! Tidak perlu diperpanjang. Aku perlu darah segar atau daging nih. Rasanya hasratku mulai naik!"
"Hahaha! Melihat dari raut wajah datarmu. Aku tau kau sudah mencicipi darah perempuan itu! Bagian tengkuknya ada sedikit goresan." Sahut Clara dari arah belakang Rafael sambil memeriksa leher wanita tersebut.
"Hmm... sepertinya tidak perlu disembunyikan yaa."
Bruk!
Tiba-tiba Rafael terkulai lemas di lantai, yang membuat teman-temannya panik serta beberapa polisi juga terkejut.
"Sssstt... jangan ribut!" Seru Clara kembali memperbaiki kondisi.
"Si-sialan kau!" Tiba-tiba Rafael bangun dan langsung menendang perut wanita tersebut.
Clara yang berada dekat dengan Rafael langsung menahan badan Rafael sebelum dia melancarkan tendangannya lagi. Clara menyeret Rafael dengan memeluk kedua tangan Rafael dari belakang.
"Cih! Merepotkan saja!" Keluh Clara.
Beberapa polisi mengikat Rafael di kursi dengan kuat agar dia tidak mengamuk.
"Jelaskan pada kami sebenarnya apa yang terjadi ?!" Bentak Bryan.
"Mengantuk, silahkan simpulkan sendiri." Jawab datar Rafael namun pandangannya tetap ke wanita yang telah dibaringkan diatas sofa.
"Oho~ nampaknya secara tidak sadar kau dibius oleh dia yaa!" Sahut Clara mengetahui alur pembicaraan Rafael.
"Dia menyerangku dari belakang, padahal aku melihat jelas dia tiba-tiba datang dari dalam ruangan. Namun pandanganku seperti dihipnotis, makanya aku hanya melihat perempuan itu tiba-tiba berada dibelakangku sambil mendekatkan ujung pisau dileherku..."
"Mungkin saja disaat itulah dia membiusku dengan suntikan yang berada disakunya. Aku membuatnya pingsan dengan kemampuanku, dia pasti terkejut. Diperjalanan ke aula ini beberapa kali aku ambruk, mungkin karena regenerasi Zombieku, bius tersebut tidak bekerja dengan baik. Jadinya masih dapat aku kendalikan diriku dan tetap dalam keadaan sadar." Jelas Rafael mulai tenang.
"Periksa seluruh saku perempuan itu!" Perintah Bryan pada beberapa orang polisi.
"Gila mereka yaa! Orang yang lebih tua dari mereka diperintah gitu! Yaa mau bagaimana juga, kemampuan mereka diatas rata-rata sih. Kami yang hanya polisi baru bisa apa." ~ Batin seorang polisi dengan perasaan bekecamuk dan kesal.
"Huuueekk!!"
Tiba-tiba Rafael muntah. Dia mengeluarkan sesuatu cairan berwarna merah. Ya, itu adalah darah.
"Astaga kau kenapa Rafa?!" Seru Clara.
~
Instagram : alif_ardra