
Kelompok pak Setyo sedang memandang sebuah rumah sederhana yang dikelilingi oleh pagar kawat besi setinggi 4 meter. Kawatnya terlihat sangat tajam.
"Yakin? Pintu pagarnya saja tergembok nih…" kata Bryan sambil memegang gembok pagar kawat tersebut.
"Ada orangnya ini, dijamin deh! Ada orang, lagi kiamat zombie gini sempat-sempatnya kunci pintu pagar? Apalagi ada kawat besinya yang seperti baru dibuat…" kata Rafael menoleh kepada Bryan.
Pak Setyo terlihat sedang termenung. Dia seperti menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan. Beberapa saat, pak Setyo melihat ke murid SMA Misu. "Baiklah, coba tembakan senjatamu, Nak Revi!"
Revi sedikit keheranan, tetapi dia tetap bersiap untuk menembakkan senjatanya. "O-oke… kalau itu yang bapak mau!"
Rafael dan lainnya hanya menunggu apa hasil dari keputusan pak Setyo, selama itu akan berniat baik maka kenapa tidak dilakukan.
Revi mengambil posisi, dia menodongkan Ak-47 nya ke langit. Dia mulai melepas kunci kokangnya dan menekan pelatuknya. Suara tembakan menggelegar dikesunyian pagi itu 1 kali. Burung-burung beterbangan dari dahan-dahan pohon akibat terkejut. Beberapa zombie berdatangan, tetapi Bryan langsung bertindak menggunakan pistol silencernya.
Beberapa saat kemudian, seseorang keluar dari pintu rumah. Pria paruh baya yang memegang senjata laras panjang, lengkap dengan rompi peluru, memakai celana tentara yang memiliki warna campuran yaitu coklat dan hijau tua.
"Siapa disana?" teriak pria berbadan tegak berotot tersebut sambil menodongkan senjata api.
Pak Setyo memundurkan Rafael dan kawan-kawan, dia maju lebih dekat ke pintu pagar kawat besi. "Kami orang yang bertahan hidup!" seru pak Setyo sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Kelompok bandara?!" Nada mengancam.
Pak Setyo kembali berkata. "Kelompok bandara? Kami memang dari sana. Namun, kami melarikan diri!"
"Bisa dipercaya?" tanya sekali lagi pria itu dengan mengintimidasi.
"Bapak sepertinya tau tentang kelompok bandara, sepertinya bapak tau Human-Z. Kelompok bandara menginginkan itu, sedangkan kami memilikinya."
Pria berbadan tegak dan berotot itu langsung berlari cepat kearah pintu pagar. Sekarang dia lebih jelas terlihat, dia memiliki rambut cepak berwarna hitam, alis tegas, rahang yang tegas juga, mata berwarna hitam dan menatap dengan tajam. Dia dengan cepat membuka gembok pagar dan mengajak dengan buru-buru mereka semua untuk masuk. Pria itu kembali menggembok pintu pagar kawat besinya.
"Ayo! Masuk, istri saya sedang memasak!" kata pria itu dengan senyuman hangat.
Kelompok pak Setyo hanya menyetujuinya saja. Lagipula mereka tidak tau arah saat ini. Daerah asli mereka telah jauh.
***
Di ruangan makan, terdapat kelompok pak Setyo dan sepasang suami istri serta seorang remaja seumuran Rafael dan kawan-kawan. Remaja ini memandang tajam kearah Rafael dan kawan-kawan, dia sangat mencurigai semua orang yang baru saja datang itu.
"Sudahlah, Nak. Mereka ini baik kok, bapak bisa nilai!" ucap pria berotot sambil menyendok nasi ke piring.
"Silahkan dimakan, tidak perlu sungkan," ucap istrinya itu tersenyum hangat. Rambut bergelombang hitam panjang sepinggangnya membuatnya sangat cantik.
Pak Setyo, Rafael dan kawan-kawan pun mengiyakan setelah semua jenis makanan telah diambil suami istri dan remaja itu. Tentunya mereka menunggu agar tau sesuatu tentang makanan tersebut.
"Hmm! Ayo dimakan masih hangat nih," ucap pria berotot itu sambil menyuap dengan lahap sesendok nasi ke mulutnya. "Tidak usah khawatir, tidak ada racun!" lanjutnya tersenyum ramah.
"Ah… maaf mencurigai kalian. Kami telah banyak bertemu orang yang mencoba memanfaatkan kami," ucap Rafael sambil tersenyum kaku.
Di ruang berkumpul, disana pak Setyo, Rafael dan kawan-kawan sedang berbincang-bincang dengan pria pemilik rumah itu.
"Oke, perkenalkan saya Hendro Wibowo. Seorang tentara yang bisa dibilang mengkhianati negara? Entahlah, soalnya kami para tentara diperintahkan untuk mencari Human-Z untuk dimanfaatkan pada suatu eksperimen." Hendro hanya tertunduk lesu.
Pak Setyo yang mendengar itu, membulatkan matanya. "Jadi… Agus? Ya, Agus memerintahkan kalian?" tanya pak Setyo.
"Iya, dia sangat licik sekarang. Dulu tidak, dia sangat baik. Saya sangat kenal dia, walaupun kami berbeda satuan. Dia kepolisian dan saya ketentaraan, kami para tentara biasa tidak bisa juga untuk tidak mendengarkan perintahnya." Hendro berdiri membelakangi mereka sambil melihat kearah jendela.
Di luar jendela, terdapat sebuah kebun sayuran yang lumayan besar. Remaja seumuran Rafael sedang menyirami kebun sayuran itu. Remaja itu nampak suram dengan rambut hitamnya yang menutupi kedua matanya.
"Dia anakku, Jaka Wibowo. Anak yang memimpikan untuk masuk ketentaraan, tetapi untuk sekarang nampak mustahil," ucap Hendro sambil melipat kedua tangannya di dada, dia berucap dengan haru.
Hendro berbalik, dia menitikkan air matanya. "Ah… maaf. Saya terbawa suasana saja!" Dia menyeka air matanya yang mengalir di pipinya.
"Hahaha! Tidak begitu. Kami semua tau kok, pasti ada orang yang merasa sedih. Kami saja baru kehilangan seseorang…" ujar pak Setyo sambil melirik Rafael.
"Siapakah? Apa boleh saya tau?" tanya Hendro kembali duduk di kursi.
Rafael menghela nafasnya. "Yaa… kawan kami gugur saat berada di rumah sakit Sehat. Orang-orang rumah sakit membuat perkara!" ujar Rafael dengan kalimat terakhir penuh penekanan dan sedikit luapan emosi.
Clara yang melihat itu menatap tajam Rafael. Rafael yang menyadari itu hanya tertunduk dan mencoba menenangkan diri.
"Ah… baiklah. Sepertinya kelompok bandara dan kelompok rumah sakit Sehat membuat kalian kerepotan! Dasar mereka!" seru Hendro dengan kesal.
"Rumah sakit Sehat sudah musnah," sahut Clara datar.
Hendro yang telinganya mendapatkan suara itupun membelalakkan matanya. Dia menatap Clara sedikit tidak percaya. "Hei! Bagaimana bisa? Saya tau kalau kalian mempunyai seorag anggota polisi, tetapi--"
"Jangan anggap mereka anak SMA biasa, mereka ini lebih dari itu," sela pak Setyo dengan cepat.
Hendro melihat keenam murid SMA itu tetap memegang masing-masing senjata api mereka. "Oke, oke. Baiklah, saya mengerti. Ini saja kalian terlalu waspada yaa…."
Anindira melihat kepada Rafael dan kawan-kawan, dia sedikit tertawa kecil. Itu membuat siapa saja yang melihat mereka akan terkejut. Awalnya dia juga seperti itu.
"Ayah, aku tidur dulu!" ujar Jaka yang tiba-tiba datang dan langsung menaiki tangga untuk ke lantai 2.
"Dia--"
"Ya! Dia memiliki kepribadian yang tidak peduli sekitar, dia cukup suram. Namun, kalau sekitarnya berpotensi berbahaya, dia bisa sangat tegas. Seperti saat dimeja makan tadi," sela Hendro saat Bryan baru saja mau berbicara.
Mereka terus berbincang-bincang hingga matahari tepat di atas kepala. Siang yang cukup panas membuat siapa saja akan dehidrasi. Pak Setyo, Rafael dan kawan-kawan beristirahat di ruang berkumpul. Hendro sendiri memberi kebebasan kepada kelompok Rafael, apakah mau menetap untuk sementara lagipula rumahnya cukup besar untuk menampung mereka atau pergi lagi.
"Haa… itu tergantung pak Setyo sebagai pembimbing kita, hahaha!" ujar Rafael sambil berbaring di lantai dan kedua tangannya dia lipat ke belakang kepala sebagai bantalannya.
"Sepertinya sementara kita menetap? Soalnya kita juga tidak ada tujuan, kan?" Cukup logis apa yang dikatakan pak Setyo dan nampaknya semua orang setuju.