
"Lumpuhkan semampumu, kita juga sudah dapat 6 orang," perintah pak Setyo dengan pelan.
"Okey!" seru Clara di handsfree.
Beberapa detik setelah Clara merespon, terdengar pecahan kaca seperti tertembak. Berapa kali kaca terdengar pecah dalam 6 detik terakhir. Saking cepatnya, kelompok pak Setyo tidak bisa bertindak lebih. Mereka hanya terdiam mendengar pecahan demi pecahan kaca dan kepanikan orang-orang asing tersebut. Namun, apa daya semuanya telah berakhir.
...
Beberapa detik sebelumnya.
Clara yang mendengar perintah dari pak Setyo. Dia memasang raut wajah serius. Clara membidik perlahan kearah orang-orang asing tersebut. Namun, Clara memikirkan kembali tentang suatu hal. Kenapa harus diakhiri pertumpahan darah kalau bisa negosiasi?
"Oke, kalian bersiap menyerbu!" ucap Clara di handsfree.
Clara mulai membidik senjata api yang orang-orang asing itu pegang. Perlahan tapi pasti, Clara menarik pelatuk sniper miliknya. Pelurunya melesat dengan senyap tanpa suara membelah angin. Pelurunya memecahkan kaca jendela pertama, setelah itu menghantam keras senjata api yang sedang dipegang oleh orang yang berdiri menghadap jendela.
Clara kembali menarik pengokangnya dengan cepat dan menarik pelatuknya. Clara melakukan itu sebanyak 5 kali dan itu sangat cepat, hanya dibutuhkan waktu 6 detik untuk selesai menembakkan peluru kelima.
"Sekarang!!" teriak Clara di handsfree.
***
Kelompok pak Setyo yang mendengar itu langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan. Didapatinya orang-orang asing itu yang sedang panik karena senjata api mereka berjatuhan akibat ditembak oleh penembak misterius. Kelompok pak Setyo menodongkan senjata api mereka.
"Tahan… jangan bergerak!" seru Rafael.
"Nak Clara, turunlah!" kata pak Setyo di handsfree sambil mengangguk kearah jendela.
Orang-orang asing itu hanya terdiam ketakutan saat ini. Mereka tidak menyangka akan dikejutkan dengan segila ini. Jika saja mereka yang menembakkan senjata-senjata api, kemungkinan besar mereka merasa akan meleset jauh dan malah membunuh.
"Te-tenang! Kami bukan musuh kalian!" seru salah seorang diantara mereka, berperawakan besar dengan otot-otot seperti binaragawan.
Rafael maju mendekati mereka. "Iya, tapi jangan sampai kalian mencoba melarikan diri atau berniat membunuh kami!" kata Rafael dengan mengintimidasi.
Mereka yang mendengar itu hanya bisa berkeringat dingin. Tekanan dari anak umur 18 tahun begitu besar. Seperti bukan anak umur 18 tahun saja!
"Baiklah, kawan kalian aman kok. Ayo ikut kami," ucap pak Setyo mengayunkan tangannya.
Orang-orang asing itu digiring kearah ruangan tempat teman-temannya dan tentu dengan todongan senjata api. Kelompok pak Setyo masih belum mempercayai seseorang diantara mereka saat ini. Mereka tidak mau terjadi lagi disaat kelompok bandara mencoba melakukan kejahatan pada mereka.
Sesaat sampai di ruangan keenam orang asing yang dilumpuhkan Rafael dan kawan-kawan, mereka terlihat telah sadarkan diri dan saling berbincang. Mereka sangat santai untuk sekelas sedang berada dalam tekanan seperti itu.
"Hai…" sapa datar Rafael sembari mengangkat tangan kanannya keatas.
4 diantara 6 orang itu terkejut bukan main. Dibalik penutup wajah full face mereka, terlihat jelas bahwa mereka menunjukkan raut keterkejutan. Apalagi mata mereka sempat terbelalak beberapa detik. Melihat akan hal itu, Rafael mendekati 4 diantara 6 orang asing itu.
"Kaget? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Rafael berjongkok dihadapan mereka sambil tersenyum menyeringai. Tatapan matanya membara.
Setelah terbuka, keempat orang itu benar-benar diingat oleh Rafael. "R.E.A.N. Rani, Eka, Alamsyah dan Nanda. Kenapa kalian bisa disini?!" seru Rafael menatap tajam mereka berempat. "Ah… sialan! Berarti kalau kalian kesini--" lanjutnya.
Namun, baru saja mau berucap, perkataan Rafael dipotong. "Mereka akan dikejar oleh kelompok bandara!" seru pak Setyo.
"Sudah berapa menit berlalu saat mereka datang?!" tanya Rafael, Clara datang langsung berkata. "8 menit lalu."
"Hmm… mereka akan datang dalam 2 menit. Jarak bandara ke sini itu memakai jalan utama akan memakan waktu 20 menit jika dalam kecepatan normal. Jika kecepatan tinggi akan memangkas setengah waktu perjalanan. Oke, kalau kelompok bandara baru menyadari 8 menit lalu, kita masih aman, tetapi jika mereka juga mengejar mereka. Waktu kita sangat sedikit sekarang!" gumam Rafael menghitung-hitung sesuatu.
Mendengar pernyataan Rafael, kelompok pak Setyo langsung mulai panik. "Tenang astaga!" seru Rafael menyadari akan hal itu.
"Kita pergi sekarang!" lanjutnya sambil memandang tajam kearah Rani, Eka, Alamsyah dan Nanda.
"Kalian berdua, turun segera dan bertemu di basement!" seru Clara di handsfree.
***
Saat ini semua orang telah berkumpul di basement meninggalkan kelompok The Red. Mereka juga sedang mencari sesuatu, biarkan saja.
"Baiklah, saya serahkan kepada pak Setyo yaa?" kata Eva memelas.
Pak Setyo hanya menghela nafas. "Baiklah, cepat naik!"
Semuanya menaiki bus itu. Pak Setyo menyalakan mesin bus dan menarik tuasnya untuk melepas mode netral. Pak Setyo menekan gas dengan dalam. Kepulan asap terlihat dari ban belakang dan depan bus karena gesekan yang sangat cepat serta berat.
"Pegangan!" teriak pak Setyo.
Bus melaju menaiki tanjakan untuk keluar dari basement. Deru mesin mobil seakan menggelegar dikesunyian pagi itu. Kelompok The Red hanya melihat kepergian mereka dengan sedikit panik.
"Jika mereka pergi… bagaimana dengan mobil-mobil kita?!!" seru Eka dengan panik melihat ban-ban mobil mereka yang bocor ditembak.
Apalagi disana sama sekali tidak ada mobil yang terbiar. Kemungkinan sempat dibawa kabur oleh pemiliknya.
|
Benar saja, 2 menit setelahnya. Kelompok bandara datang dengan truk tentara dan beberapa mobil kecil. Mereka yang ditodongkan oleh senjata api hanya pasrah dengan keadaan.
"Kita akan habis…" ucap lirih Eka seraya berlutut di tanah.
Sementara itu, kelompok Rafael telah jauh dari rumah sakit. Mereka berhenti untuk sementara disalah satu rumah warga disana. Kebetulan tempatnya luas untuk parkiran bus serta rumahnya yang masih terlihat terawat.
"Ini… aneh?" gumam Rafael heran.
"Kita waspada… rumah ini masih kelihatan bersih, 1 bulan lebih seharusnya tumbuh rerumputan liar. Apalagi pagarnya diletakkan kawat besi!" kata pak Setyo seraya memegang pagar kawat besi setinggi 4 meter yang mengelilingi sebuah rumah.