Human-Z

Human-Z
Chapter 36 : Jebakan



Pertemuan telah selesai, pihak SMA Misu masih memikirkan tentang serum anti virus dari penanggungjawab daerah Cendrawasih. Saat ini keenam murid SMA Misu berkeliling di daerah Cendrawasih yang sangat besar itu.


Setyo Hermawan dan rekannya sendiri langsung pulang. Mereka takut hotel ditinggal tanpa pemimpin seperti Setyo Hermawan. Bagaimana pun, Setyo sangat dihormati untuk sekarang.


Di taman bagian Barat daerah Cendrawasih, keenam murid SMA Misu ini saling berbincang.


"Bagaimana Anindira di hotel yaa?" Tanya Clara mencoba mencairkan suasana, kenapa? Karena mereka semua terlihat tegang.


"Tumben peduli, biasanya tidak hahah!" Sahut Bryan diiringi tawa sambil melihat bingung kearah Clara.


"Jadi... Bagaimana dengan persoalan serum itu ?" Clara langsung saja mengalihkan pembicaraan.


"Ingat ilmuan gila dalam novel fiksi? Frankenstein namanya." Ujar Rafael dengan santai.


"Bukannya itu nama manusia buatannya? Dan nama ilmuannya Viktor." Sahut Clara yang tahu akan novel fiksi tersebut.


"Ya, ya, ya. Setujukah kalian kita menerima serum itu terus disuntikkan pada orang yang mau, kemudian dia kita masukkan virus CytraZ-24." Ucap Rafael dengan penuh kesungguhan.


Kelima sahabatnya terbelalak ketika mendengar penuturan dari Rafael. Tidak biasanya dia berpikiran yang aneh-aneh.


"Jadi... Kita mau melakukan eksperimen itu? Sumpah Rafa, itu akan bersifat buruk. Kau tidak akan tau kedepannya bagaimana." Sahut Revi sambil berdiri dari bangku taman.


Srek !!


Tiba-tiba terdengar suara semak-semak dari arah belakang mereka. Semak belukar yang tinggi akibat taman ini sudah tidak pernah dirawat bergoyang-goyang. Rafael dan kelima sahabatnya memasang indra pendengar dan penglihatan mereka dengan waspada.


Mata mereka tertuju pada satu sisi dari semak-semak itu. Disana terlihat diantara dedaunan semak, terdapat beberapa warna. Seperti warna hitam.


"Emm.. Siapkan, kita kerjai orang yang nguping kita." Bisik Rafael pada kelima sahabatnya.


Mereka semua mengokang masing-masing senjata. Rafael memasang kuda-kuda dengan baik sambil memegang linggisnya kearah semak-semak belukar itu.


"Tem—"


Baru saja Rafael mau berucap, tiba-tiba seseorang dari balik semak belukar keluar dengan kedua tangan keatas. Disana terlihat Alamsyah yang memakai kaus hitam polos dan celana jeans. Rambut pendek yang kecoklatan terlihat menawan. Wajahnya terlihat polos, namun didalam hatinya siapa yang tahu. Tubuhnya tinggi berotot.


"Kalian waspada juga yaa." Ujar Alamsyah dengan nada beratnya.


"Sejak kapan kakak menguping pembicaraan kami ?!" Pekik Rafael mengetahui bahwa Alamsyah pasti telah menguping pembicaraan mereka.


"Entah, hanya saja sepertinya aku tertarik tentang eksperimen itu. Aku ini ketua klub sains di SMA loh!" Ujar Alamsyah sambil membusungkan dadanya.


"Dan lagi, aku pernah melakukan hal gila loh. Mem.. bu.. nuh.. o.. rang." Senyuman seringai terpancar dari wajah polosnya.


Membuat siapa saja akan merasakan aura mengancam dari senyuman itu. Bahkan Rafael dan kelima sahabatnya merasakan juga. Ada hal aneh pada Alamsyah. Dia sedikit misterius dibanding ketiga saudaranya. Dia paling jarang berbicara, menurut pengamatan murid SMA Misu selama ini.


"Apa alasanmu melakukan itu?" Tak pakai lama, Rafael mendesak dengan pertanyaan intinya.


"Hanya iseng." Singkatnya masih memasang senyuman seringai.


Tidak habis pikir, seorang yang terlihat polos diluar namun bagian dalam sangat gila. Istilah kata dari orang yang terlihat baik belum tentu dalamnya baik juga, bisa jadi dia jahat. Begitupun sebaliknya.


"Kenapa kalian terdiam? Pilihan berat yaa? Kalian harus yakin melakukan eksperimen loh. Kalau tidak yakin, bisa jadi akan buruk loh kedepannya." Ujar Alamsyah kembali membuka percakapan.


"Apa hakmu menyuruh kami?" Tanya Clara mencoba menyelidiki beberapa hal.


Buk !!


Tiba-tiba Rafael meninju pipi kanan Alamsyah dengan keras hingga membuat Alamsyah terjatuh.


"Kakak hanya cukup diam saja. Tidak usah mencampuri urusan kami. Masih untung kami menolong kakak!"


"Ha.. Haha.. hahaha hahaha !!" Alamsyah malah tergelak tawa dengan keras dan tanpa henti.


"Dasar yaa. Kalian tidak tau siapa aku ?" Alamsyah berdiri sambil membersihkan pakaiannya yang kotor.


Rafael menatap ke arah sahabatnya, tak ada satupun dari mereka yang benar-benar tahu siapa yang ada di depan mereka. Cukup misterius, tak bisa ditebak. Hanya seringainya saja yang terus-menerus menghiasi wajahnya.


"Apakah kalian tidak tau dengan pembunuh bayaran The Red ?" Tanya Alamsyah sambil mengelus lembut pipi kanannya. "Ini sakit juga." Lanjutnya.


Jantung dari keenam murid SMA Misu berdebar dengan cepat, sekujur tubuh mereka meremang mendengar nama yang sangat sakral. Bagaimana bisa? Hanya itu yang mereka pertanyakan dipikiran.


"Ayolah, banyak organisasi kriminal yang berjaya dimasa kehancuran ini loh. Jadi kalian para agen Garuda-45 harus waspada, hahaha!"


Boom! Whuush!


Tiba-tiba Alamsyah melempar bom asap ke tanah. Alamsyah hilang begitu saja dibalik kepulan asap putih. Keenam murid SMA Misu terbatuk-batuk akibat asap yang mereka hirup cukup membuat pernafasan tersumbat dan tenggorokan menjadi kering.


"Uhuk.. uhuk.. Sialan dia!" Pekik Rafael kesal.


"Apa-apaan dunia ini? Kenapa banyak muncul orang jahat lagi? The Red bukannya sudah musnah?!" Seru Clara tak kalah kesal.


"Kita harus pergi segera dari sini. Kemungkinan terburuknya..." Rafael menggantung kalimatnya.


"Daerah Cendrawasih berbahaya dan mengancam juga!!" Seru kelima sahabatnya bersamaan.


Mereka dengan langkah cepat berlari menuju gerbang utama. Disana telah ada banyak orang bersenjata lengkap menghalangi pintu gerbang. Rafael dan kelima sahabatnya pun terhenti.


"Terima kasih sudah mengantarkan jebakan dari kami, Garuda-45 !!" Pekik Reno dengan lantang.


"Je.. jebakan ?!" Ujar Laura mulai ketakutan.


"Iya, apa kalian tidak diberitau? Sayang sekali. Kami membutuhkan darahmu, Human-Z." Ujar Reno dengan tatapan penuh nafsu.


"Kenapa dengan diriku sih. Sungguh aneh, banyak orang yang mencariku." Ujar Rafael mulai risih dengan keadaan disekitarnya.


"Darahmu menjadi istimewa setelah terinfeksi CytraZ-24. Darahmu digabung dengan darah bangsawan Inggris akan menjadi kolaborasi dalam menghancurkan virus CytraZ-24." Jelas Reno sama sekali tidak berniat ingin menyimpan informasi.


"Tujuan orang-orang yang mencari Rafael memang bagus dan mulia. Tapi kalian memanfaatkannya dengan niat jahat." Ujar Bryan dengan menodongkan pistol silencernya.


"Terbaik. Kalian memang terbaik, apakah kalian tidak ciut setelah melihat sebanyak ini anggota The Red ?" Tanya Alamsyah datang dari arah belakang murid SMA Misu.


Dia berjalan santai menuju kelompoknya. Tentu saja Rafael dan kelima sahabatnya terkejut. Hawa keberadaannya sangat kecil hingga membuat mereka sempat lengah.


"Memang kami keluarga. Tapi masa' kalian tidak sadar dengan keluarga Rai? Keluarga Rai adalah keluarga pembunuh bayaran nomor satu di Indonesia." Lanjut Alamsyah sambil memainkan kedua belati miliknya.


"Kita... terdesak!" Gumam Clara.


~