
Rafael menuju ke ruangan kamar satunya. Dia disana duduk di pinggiran kasur dan merenungkan kembali keputusannya yang dia anggap cukup baik.
"Lebih baik seperti ini," gumamnya.
...
Disaat kesepian melanda speed boat itu. Terdengar beberapa langkah kaki mendekat ke speed boat dari dermaga. Pendengaran Rafael yang semakin tajam itu mampu menganalisa bahwa ada 3 orang sedang berjalan mengendap-endap.
"Mencurigakan," gumam Rafael.
Dia segera bangun dari berbaring di kasurnya. Dia mempersiapkan senjata apinya. Rafael berdiri dan bersandar di balik pintu penutup kamar yang hanya setengah itu.
Pencurian? Kebetulan sekali ada aku yang menjaga ini.
Langkah kaki semakin mendekat. Perlahan speed boat bergoyang ketika 3 pasang kaki itu benar-benar meletakkan kakinya di atas dek belakang kapal.
"Speed boat ini tidak ada orangnya."
"Iya, tidak sia-sia kita mengintai selama seminggu, anak laki-laki itu lagi pergi menyetok barang."
"Haha! Kita bisa gunakan ini untuk menyeberang selat Makassar menuju Kalimantan!"
"Ssshh! Diam lah! Jangan berisik."
"Hei! Kau yang berisik juga."
Begitulah beberapa percakapan yang Rafael dengar. Waktunya benar-benar sangat kebetulan. Kebetulan dimana Rafael sedang berada di lokasi. Dengan ini Rafael berpikir bahwa dia akan selalu memancing bahaya dimana pun dan kapan pun.
"Setelah membereskan mereka, aku akan pergi," gumam Rafael.
Rafael melompat di tempat sehingga speed boat langsung bergoyang. Itu membuat ketiga orang asing itu terkejut dan segera mempersiapkan senjata api yang mereka bawa.
"Ada orang!" seru salah satu diantara mereka.
Speed boat ini harus aku jaga, jangan sampai dirusak tangan-tangan tamak, batin Rafael.
Ketiga orang itu mulai melangkah maju masuk lebih dalam ke ruang kendali. Di sana mereka melihat jelas ada seorang gadis kecil sedang tertidur pulas. Ya, ruang tidur dek depan menyambung dengan ruang kendali. Ruang tidur ini berada di bawah permukaan dek. Sehingga terlindungi. Intinya berada di dalam.
"Ah, iya. Aku melupakan gadis kecil itu," ucap salah seorang diantara mereka.
Kacrak!
Tanpa rasa ragu. Mereka mulai mengokang senjata api mereka. Tentunya Rafael tak membiarkan itu terjadi. Sesaat salah satu diantara mereka mempersiapkan senjata api, Rafael dengan cepat menghadangnya. Pelatuk ditarik dan melesatkan peluru dengan cepat.
"Ada orang lagi!"
Disaat perutnya terluka, Rafael dengan cepat mengeluarkan 1 buah tentakelnya untuk menghempaskan 3 orang yang masih tertegun itu terjun ke laut.
Rafael berlari keluar speed boat dan berdiri di atas dermaga. Ketiga orang itu memanjat dermaga dan menatap kesal kearah Rafael.
"Sialan! Kau siapa? Human-Z?! Bisa-bisanya anak itu berteman dengan monster sepertimu!"
"Bisa-bisanya Devin menganggap kalian orang baik," timpal Rafael tak acuh.
Semua perkataan yang benar-benar menusuk hati. Ya, perkataan dari orang itu dibalikkan dengan mudah oleh Rafael.
Tak butuh menunggu lagi, orang yang berucap itu menembakkan beberapa peluru ke Rafael.
"Cih! Mengganggu sekali!" keluh Rafael.
Rafael dengan santai menghindari peluru-peluru itu tanpa kesulitan. Sekarang Rafael tidak benar-benar menyadari gerakannya. Tubuhnya seperti dikendalikan 'sesuatu'. Itu tidak disadari Rafael.
Crats!
Sebuah tentakel melesat lurus ke depan dan menembus perut Rafael dari belakang. Rafael yang terkejut hanya melihat tentakel berwarna merah terang menggeliat di perutnya.
"Herkh!" Darah segar keluar dari mulut Rafael. Rasanya benar-benar sakit.
"Akhirnya kau datang, Empat!"
"Tidak begitu, aku terlambat membantumu, Kak Satu," ucap si pemilik tentakel itu.
Sesaat Rafael sempat menoleh dan melihat sekilas tubuh anak kecil yang tersenyum menyeringai. Rambut hitamnya terurai rapi. Mata coklatnya menatap tajam. Pendek. Hanya itu yang bisa dideskripsikan dengan kondisi tubuh anak kecil ini.
Rafael jatuh tersungkur di atas dermaga. Rafael memang sudah bukan manusia biasa, tetapi jika serangan telak mengenainya, tentu membuatnya tak bisa apa-apa.
"A-aku akan pingsan lagi kah?" gumam Rafael lemah.
Kenapa aku selalu memancing bahaya?
Kenapa?!
Aku sekarang mengerti, aku tidak akan pernah lagi berhubungan dengan manusia normal sampai masa virus ini menguasaiku atau membunuhku!
***