
Tanpa komando, pak Setyo langsung mendobrak pintu kamar mandi. Dengan cepat Bryan dan Revi masuk sambil menodongkan senjata milik mereka.
"Ehh!!" Pak Setyo, Revi dan Bryan terbelalak.
"A-ada apa woy!" Teriak Clara dari belakang.
Saat Clara masuk ke kamar mandi, dia pun juga terbelalak tak percaya.
....
Mereka semua yang berada di kamar mandi itu merasa tak percaya apa yang mereka lihat.
"Tembaklah aku. Bunuhlah aku!" Ujar Rafael lirih sambil memandang cermin yang retak tepat di tangan kirinya.
"A-a-apa yang sudah kau lakukan?!!" Bentak Revi tak percaya temannya telah melakukan hal mengerikan tersebut.
"Aku katakan ... bunuh aku, tembak aku." Jawab Rafael.
Rafael sekarang dipenuhi darah disekujur tubuhnya, mulutnya dipenuhi darah kental.
Didalam kamar mandi, terdapat 5 orang koki yang telah tergeletak bersimbah darah serta beberapa bagian tubuhnya terkoyak-koyak.
Beberapa menit yang lalu ...
Tiba-tiba Rafael ditikam dari arah belakangnya. Rafael yang tidak menyadarinya hanya pasrah tertikam tepat di punggung.
"Hahaha! Kau melewatkanku kawan!" Seru koki dibelakangnya.
Bruk!
Rafael terjatuh dilantai tertunduk lemas.
"Hahaha! Mati kau dasar breng*ek!" Bentak koki dibelakangnya.
Rafael yang sudah merasa telah putus asa, dia merasa ada aliran darah yang mengalir deras disekujur tubuhnya. Dengan cepat Rafael berdiri dan menendang koki dibelakangnya dengan memutar tubuhnya ke kanan dan mengangkat kaki kanan setinggi kepala koki tersebut.
Koki tersebut terlempar ke dinding dan kepalanya nampaknya pecah.
"Grrrr!" Geram Rafael.
"Uwaa!! Dia marah! Cepat lempar pisau atau serang dia dengan alat-alat yang ada disini!" Seru kepala koki.
Syuung! Brug! Prang!
Alat-alat memasak beterbangan serta pisau dapur pun. Namun dengan cepat dihindari oleh Rafael, Rafael berlari kencang menuju para koki.
Dia meraih leher dua orang koki dengan kedua tangannya, kemudian Rafael membantingnya ke lantai hingga membuat bunyi yang mengerikan dan ngilu.
"Roaaarrr!!" Teriak Rafael.
Belum sempat 2 koki tersisa itu menghindar, Rafael dengan cepat menjongkok kemudian menendang kedua kaki koki tersebut dengan gerakan memutar secara 180 derajat kebelakang. Kedua koki tersebut terjatuh saling bertumpuk.
Syuung! Crats!
Dengan cepat Rafael mengambil 2 buah pisau dan langsung melemparkannya tepat kearah jantung kedua koki tersebut. Mereka seketika mati ditempat.
Sreeet! Sreet!
Rafael menyeret kelima koki itu ke dalam kamar mandi dan memuaskan hasrat 'makan' nya.
Kembali ke waktu sekarang ...
"Apa yang sudah kau lakukan Rafael?!!" Bentak pak Setyo.
"Hugo ..." Gumam Rafael sambil tersendat-sendat terisak tangis.
"Hah? Hugo ... siapa itu?" Tanya pak Setyo pada Bryan.
"Itu ... adiknya." Jawab lirih Bryan.
"Hugo ... apakah ini yang kau maksud, Hugo?" Rafael kembali bergumam.
"Apa sih ?!" Sentak pak Setyo yang tak tahu apa-apa.
"Mungkin Revi dan Clara bisa siaga. Sini aku ceritakan!" Ujar Bryan sambil melirik Revi dan Clara.
"Baiklah!" Serentak Revi dan Clara menjawab kemudian menodongkan senjata api mereka pada Rafael.
"Begini pak kejadiannya ..."
Bryan mulai bercerita.
#Flashback - 1 Bulan yang lalu#
Rafael dihari itu, diberikan tanggung jawab oleh wali kelasnya untuk memberikan materi sesuai amanat wali kelasnya, apalagi Rafael saat itu menjabat sebagai ketua kelas dan lagi ketua OSIS. Dikarenakan para guru sedang melakukan rapat.
"Oke ... Sudah paham kalian?" Tanya Rafal ramah.
"Paham pak guru!" Jawab teman kelas Rafael.
"Ah! Kalian ini, hahaha!" Rafael sedikit tersipu malu.
"Hahaha!" Teman kelas Rafael pun ikut tertawa.
Hari itu, mungkin hari yang damai bagi Rafael. Dia melakukan tugasnya sesuai amanat wali kelas tercintanya, Ibu guru Rani.
Saat itu, Rafael duduk dibangku SMK kelas 12, kelas kelulusan. Yang sebenarnya tahun itu adalah tahun terbaiknya, malah menjadi tahun terburuk sepanjang hidupnya.
Di jam istirahat, Rafael bersama kelima temannya, Bryan, Revi, Clara, Eva, dan Laura pergi ke kelas 10-A. Kelas adiknya Hugo. Sesaat sampai disana, terlihat Hugo sedang di bully oleh segerombolan anak kelas 12-G.
"Woy!! Kalian jangan menganggu adikku!" Teriak Rafael ketika adiknya, Hugo sedang di bully oleh beberapa anak pengganggu.
"Huu huu huu .. kak!" Hugo terisak tangis di belakang punggung kakaknya.
Hugo yang berbadan kecil pendek, padahal sudah memasuki kelas 10 SMA. Karena fisiknya itupun dia di bully.
"Hahaha! Lihat, sang pahlawan telah datang! Kirain siapa, ternyata hanya ketua OSIS cecunguk!" Seru ketua geng pengganggu, kelas 12-G.
"Hahaha!" Anak buahnya ikut tertawa.
"Mari kita habisi mereka!" Ketua geng tersebut mengambil tongkat bisbol.
"Serang!" Teriaknya.
Beberapa anak lainnya di kelas tersebut hanya mampu menonton. Mereka tak berani membantu sedikit pun. Karena yang mereka hadapi adalah salah satu geng nakal terkuat di SMK Misu, bahkan guru sekalipun merasa enggan berurusan dengan geng nakal ini.
Rafael langsung diserang oleh ketua geng nakal tersebut menggunakan bisbol. Rafael dengan gesit menghindari serangan demi serangan.
"Hanya ini?" Tanya Rafael mengejek ketua geng nakal tersebut.
Bruk!
"Hanya itu katamu? Hahaha! Mimpilah!" Seru ketua geng nakal tersebut.
"Fwuuuh ... kalau saya sampai membunuh kalian disini, saya akan dikeluarkan dan bahkan sampai dipenjara!" Ancam Rafael.
"Membunuh katamu?! Jangan harap!!"
Dengan segenap tenaga, ketua geng nakal tersebut mengayunkan tongkat bisbolnya kearah Rafael. Ketika serangannya hanya berjarak beberapa inci, hal tak terduga menghalaunya.
"Re-Revi ?? Bryan ?"
"Kami berdua tidak akan membiarkan ketua OSIS dan bahkan sahabat kami terluka! Bodoh dengan posisiku sebagai wakil, aku akan melawan kalian! Memang... sekolah ini sudah bobrok karena ada murid seperti kalian. Tapi, kami OSIS tahun ini, akan membuat sekolah ini menjadi sekolah yang lebih baik!!" Teriak Bryan.
"Iya!" Sahut Revi.
"Hah! Banyak omong!"
Tongkat bisbol itu terus menghantam Bryan, namun Bryan terus tidak berpindah tempat.
"Aku ... Aku tidak bisa menahan diri." ~Batin Rafael.
Rafael langsung memasang kuda-kuda dengan sedikit setengah jongkok, kemudian kedua tangannya mengepal disamping pinggangnya.
"Minggir!" Teriak Rafael.
"Rafael ... jangan bilang ka-"
Baru saja Revi ingin berucap, Rafael langsung menyergah ketua geng nakal tersebut.
Bruk! Buak! Prang!
Tendangan memutar diudara dilayangkan oleh Rafael ke badan ketua geng nakal tersebut. Ketua geng nakal itu terlempar kuat kearah jendela dan menabrak jendela itu hingga pecah setelah itu ketua geng tersebut keluar dari jendela. Beruntung kelas 10-A ada di lantai dasar, jadi tidak membuat lebih banyak luka terhadap ketua geng nakal tersebut.
"Maju kalian!" Ujar Rafael sambil tersenyum smirk kearah anak buah geng nakal tersebut.
"Rencana C, kawan-kawan!!" Teriak seorang diantara mereka.
"LARI !!" Mereka semua lari tunggang-langgang.
"Ahay! Makan tuh!" Ejek Bryan.
"Wah .. makasih kakak semua! Akhirnya kami mungkin sedikit bebas! Kami semua sering dipalakin nih!" Ujar ketua kelas tersebut.
"Kenapa gak laporin ke guru sih?!" Sentak Rafael.
"Kami takut kak, kami diancam juga!" Sahut seorang murid.
Duarr!!
Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan besar dari arah parkiran.
"Wah! Apa tuh, pada lari-larian?!" Ujar seorang murid perempuan.
"Ayo kita periksa!" Usul Bryan.
Akhirnya, Rafael, Revi, dan Bryan memeriksa keluar arah parkiran. Saat ingin melangkah lebih banyak kearah parkiran, tiba-tiba ada seorang bapak penjaga pintu gerbang melarangnya.
"Jangan kesana nak!! Bahaya!!" Teriak satpam tersebut.
"Kenapa pak? Ada apa?" Tanya Bryan.
Rafael terlihat menelisik kondisi sekitar, dia merasakan ada hawa yang berbeda dengan udara disekitarnya. Dia bisa merasakannya karena sudah dilatih oleh seorang ahli bela diri padanya.
"Kita lari! Aku merasakan hawa aneh!" Seru Rafael.
Akhirnya mereka semua lari kedalam bangunan kembali. Disana sudah terjadi keributan disana-sini mengenai apa yang terjadi. Para guru juga telah menutup seluruh akses jalan untuk masuk dibangunan itu serta menutup jendela dengan menumpuk meja dan kursi.
"Ada apa ini sebenarnya pak?" Tanya Rafael pada satpam yang bertemu dengannya didepan tadi.
"Se-serangan! Orang-orang aneh berlarian tak beraturan memakan siapa saja yang bertemu dengan mereka. Pergerakannya benar-benar aneh, seperti di film-film. Yaa, seperti film-film di televisi itu, nak Rafael!" Jawab pak satpam itu sedikit trauma.
"Kita ke tingkat 3!" Seru Rafael.
Mereka semua yang berkumpul telah berada di tingkat 3. Disitu terdapat banyak siswa dan guru, sebagian telah mati digigit para Zombie di lantai bawah, disini mereka belum menyadari sesuatu yang mengerikan itu.
"Ah!! Hugo tertinggal!" Sentak Rafael ketika menyadari adiknya tidak ada.
Rafael pun berlari ke arah tangga untuk turun, saat di tangga Rafael bertemu adiknya, namun ada yang berbeda dengan adiknya.
"K-kak .. la-larilah! A-aku .. Grrrr!" Adiknya menunjukkan gelagat aneh, adiknya bersimbah darah.
"Uwaa!!"
"Ja-jadilah yang terkuat kak .. a-aku .. i-ingin melihat kakak dari atas sana." Ujar adik Rafael kemudian pingsan.
"Kenapa! Apa yang terjadi padamu!!" Seru Rafael mulai terisak.
"Grrr!" Tiba-tiba adiknya bangun dan seperti tidak menyadari apapun, pikiran menjadi kosong serta tatapannya pun menjadi kosong.
"Hugo maafkan kakakmu!!" Teriak Rafael.
Rafael langsung menendang adiknya hingga terjatuh ke bawah tangga sebelum adiknya menyerang dia. Terlihat kepala adiknya pecah dibawah tangga.
"Haaa ... aku berjanji akan menjadi kuat adik, tunggu kakak disana. Sampai jumpa adikku, Hugo!" Ujar Rafael lirih sambil memendam tangisan.
"Hugo ... aku tak sangka kau akan pergi dengan cara seperti ini!"
Tak disangka terdapat Bryan dibalik tembok melihat yang telah terjadi.
***
Bryan selesai menceritakan apa yang terjadi sebulan yang lalu.
"Terus ... mana guru-guru kalian dan para murid lainnya?" Tanya pak Setyo penasaran.
"Singkatnya, mereka mati!" Sahut Clara.
"Yaahh .. begitulah." Timpal Bryan lirih.
"Hugo .. aku akan segera kesana!"
Rafael langsung berlari kearah Revi, dia merampas Ak-47 milik Revi.
Revi yang tidak siap hanya melongo ketika Ak-47 miliknya telah berada di tangan Rafael.
"Sampai jumpa teman-temanku!" Ujar Rafael lirih sambil tersenyum kecil kepada teman-temannya.
~
Instagram : alif_ardra