Human-Z

Human-Z
Chapter 4 : Pindah Ke Hotel



Duarr!!


Granat tersebut meledak di udara hingga mengagetkan semua teman-temannya.


"Gila kau Rafa!" teriak Revi.


"Hehe, Ayam berkokok tuh!" jawab enteng Rafael sambil menjulurkan lidah.


"Rafa!!" Rafael ditatap bagaikan anak ayam oleh para wanita, sedangkan wanita itu adalah seekor elang.


"Jiaahh! Takut!!" Rafael langsung melompat dari balkon atap terjun bebas kebawah.


Semua teman-temannya jelas ketakutan ketika Rafael melompat. Saat mereka melihat kebawah, Rafael sedang berlari kencang dan masuk kedalam bus mereka.


"Hei! Itu anak sudah bukan manusia lagi yaa!" ujar Clara sambil menggelengkan kepalanya.


"Entahlah!" jawab serentak kedua teman laki-lakinya.


...


Rafael yang bersembunyi didalam bus tidak sadar apa yang dia lakukan tadi.


"Hiiiy... tatapan mata mereka menakutkan!" gumam Rafael ketakutan.


"Eh! Tunggu dulu. A-aku melompat dari balkon atap?!" Rafael sadar dengan perlakuannya tadi.


"Rafa! Kita pindah!" teriak Revi dari luar bus.


Rafael pun keluar dari bus dengan keringat mengucur deras.


"Eh kenapa kau?! Butuh darahkah?!" tanya cepat Revi.


"Tidak...aku... aku kaget, baru sadar saat aku melompat dari balkon atap!" sentak Rafael sambil merentangkan kedua tangannya selaras dada.


"Anjirlah! Kirain kenapa!"


"Kita pindah kemana?"


"Entahlah. Tapi 3 anak perempuan itu yang mengusulkan untuk pindah. Katanya sekolah sudah tidak aman."


Mereka semua pun mempersiapkan barang-barang bawaan mereka dan memasukkannya kedalam bagasi bus. Ransum dan peralatan-peralatan pertahanan diri.


"Kita ke kantor polisi dulu. Lihat apakah masih ada amunisi atau tidak," ujar Revi.


"Terserah sopir nih!" sahut Bryan.


"Iya, iya. Aku akan bawa kalian ke kantor polisi Palu Selatan, kan," sahut Eva dari arah belakang sambil membawa sekardus mie instan.


"Haaaa... sekolah, sampai jumpa lagi!" Rafael menghela napas.


"Tunggu dulu, seperti ada yang kelupaan." Clara datang dari arah pintu bangunan sambil membawa sniper miliknya.


"Apa lagi Clara?" tanya Bryan.


"Ah iya... buku PR ku!" seru Clara dan berlari kembali ke tingkat 3.


"Cih! Si anak cerdas berulah," keluh Rafael sambil membuang muka.


"Emang kau tidak cerdas hah?! Jika karena kau ahli strategi dan lainnya, kami tidak akan menunjukmu sebagai pemimpin sebulan yang lalu!" Bentak Revi.


"Sudah-sudah! Malah berkelahi!" Teriak Laura.


"Diam beban!!" Serentak Revi dan Rafael.


"Pfffttt ... huahahah! Be-beban!" Bryan tertawa terbahak-bahak ketika mendengar perkataan itu.


"Hiks .. hiks .. memang, memang aku beban saja .. hiks .. dari dulu aku tuh memang beban .. rambutku saja warna merah muda makanya aku beban!" Laura terisak tangis dan langsung masuk kedalam bus.


"Biarkan, memang sejak dulu gitu. Nangis, ceria, nangis, ceria." Ujar Rafael.


"Guys! Buku PR ku ketemu nih! Ayo berangkat!" Teriak Clara sambil membawa beberapa buku.


Mereka semua pun berangkat. Kali ini sang sopir handal yang menunjukkan kekuasaannya. Yaa, Eva. Dia mengendarai mobil bus dengan lihai, menabrak berbagai macam halang rintang. Menghindari mobil dan motor yang terbiar serta menabrak puluhan Zombie yang sedang aktif.


Beberapa jam di perjalanan, seharusnya sekolah ke kantor polisi Palu Selatan hanya beberapa menit. Ini karena banyak halang rintang, serta harus ambil jalan memutar jadi memakan waktu yang lama.


Akhirnya mereka sampai di kantor polisi setempat. Disana sudah sangat kacau, mobil-mobil polisi terbiar mulai berkarat.


"Rafael ..." Teman-temannya menatap aneh pada Rafael sambil tersenyum smirk


"Apa .. apa ada yang salah dengan aku ?!" Sentak Rafael.


...


"Fwuuuh .. kenapa pula harus aku yang jaga diluar." Rafael menatap malas teman-temannya pergi kedalam kantor polisi.


"Cih! Zombie breng*ek!"


Syuung!


Linggis milik Rafael melesat terbang menuju ke kepala Zombie. Terdapat 3 Zombie yang saling berjejer ke belakang, linggis tersebut menembus 3 kepala Zombie tersebut hingga tertancap di mobil bus.


"Eh! Duh! Padahal bodynya sudah diperkuat. Kekuatanku menakutkan juga!" Rafael terkejut dengan linggis yang tertancap di body bus.


...


Disisi lain, teman-teman Rafael sedang berpencar didalam kantor polisi untuk mencari apa saja yang berguna.


Disisi Revi.


"Emm .. ada borgol, tapi untuk apa ..!" Gumam Revi.


"Ah! Itu ... wahh! Itu Ak-47 keduaku sekarang!" Seru Revi ketika melihat sebuah senjata Ak-47 terbiar di lantai.


Clek!


Revi mencoba melepaskan magazinenya dan melihat tuas pengaman. Senjatanya masih dalam kondisi baik, menurutnya.


"Ak-47 modifikasi kedua akan siap!" Gumam Revi kemudian menautkan senjata itu ke punggungnya.


Yaa, mereka semua masing-masing memakai semacam rompi dari kepolisian. Di rompi itu terdapat pengait untuk menyimpan sebuah senjata laras panjang.


.


.


Disisi Bryan.


"Fwuuh .. tidak ada yang berguna disini. Hanya ada komputer, komputer dan komputer. Buat apa komputer di kiamat Zombie gini sih!" Keluh Bryan.


Bryan membongkar seluruh isi lemari di ruangan itu. Namun dia tidak menemukan hal yang menarik dan berguna.


Akhirnya Bryan keluar dari ruangan itu, dan berpapasan dengan individu Zombie.


"Uwaaa!!" Dengan terkejut Bryan memukul asal kepala Zombie tersebut.


Zombie tersebut tersungkur jatuh.


"Cih!" Decak Bryan kesal.


Psyuut!


Bryan menembakkan pistol silencernya ke kepala Zombie. Beruntung namanya silencer, jika Desert Eagle maka akan menarik perhatian para Zombie nantinya.


...


Disisi Laura, Eva, dan Clara. Yaa, mereka sama sekali tidak berpencar.


"Hiii .. ada Zombie polisi tuh!" Tunjuk Laura di salah satu ruangan.


"Wah dia pakai helm level berapa tuh!" Lakar Clara dan dia langsung membidikkan snipernya.


Dengan kecepatan dan kekuatan dari sniper Clara, mau helm berapa pun akan tembus ke kepala Zombie.


"Kenapa yaa mereka tidak agresif. Padahal riset kita 2 minggu lalu, menyatakan Zombie akan sangat agresif di pagi sampai sore hari. Ini malah malam hari mereka agresif." Keluh Eva.


"Tadi malam kan para Zombie itu dibangkitkan indra nya oleh Zombie pembangkit, maka dari itu mereka jadi agresif. Kalau siang ini tidak agresif yaa jelas karena kita pakai baju pelindung. Jadi aroma tubuh kita tidak tercium oleh mereka!" Tutur Clara.


Terjadi perdebatan kecil diantara mereka bertiga. Namun beberapa saat kemudian mereka tertawa merasa lucu dengan sifat kekanak-kanakan mereka.


...


Rafael sedang bermain-main dengan Zombie di luar kantor. Dia tidak memakai baju pelindung karena menurut Revi, Rafael sudah mendapatkan kekebalan tubuh dari gigitan Zombie. Jelas, karena Rafael sendirilah yang Zombie itu.


Tapi hal yang janggal, Rafael masih tetap diincar para Zombie. Mungkin saja karena masih terdapat jiwa manusia didalam tubuh Rafael, sehingga Zombie masih tetap mengincarnya.


Beberapa saat Rafael menunggu teman-temannya. Akhirnya mereka datang dengan membawa beberapa barang.


"Revi membawa Ak-47 lagi. Bryan hanya membawa beberapa kotak peluru, itupun hanya peluru silencernya. Kalian bertiga hanya membawa brankas kecil." Ujar Rafael pada teman-temannya.


Syuung! Brak!


Tiba-tiba Rafael mengayunkan linggisnya dan memukuli brankas kecil yang dibawah teman perempuannya. Dengan beberapa kali pukulan, akhirnya terbuka.


"Bagus. Dapat kartu atm unlimited dari kepolisian." Ujar Rafael cuek.


"Aiyo! Buat apa tuh kartu atm ...!" Bryan memprovokasi Rafael.


"Ke hotel yuk! Kita kuasai hotel!" Usul Rafael tiba-tiba.


"Boleh tuh! Ke hotel Matahari. Kan lagi ada diskon pemesanan kamar tuh sebulan yang lalu, mungkin saja sekarang masih ada diskonnya." Sahut Laura.


"Oi! Mana ada diskon di kiamat Zombie ini!" Bentak Revi.


"Yaudah ayolah, ke hotel Matahari!!" Seru Bryan.


"Yaa, itu markas yang sangat besar loh!" Sahut Clara.


***


Akhirnya mereka langsung menuju ke salah satu hotel terkenal di kota Palu, yaitu hotel Matahari. Hotel tersebut terbesar di Sulawesi Tengah, sehingga bisa dijadikan markas utama mereka.


Butuh waktu beberapa jam untuk ke hotel Matahari karena akses jalan raya besar satu-satunya di halangi ratusan mobil dan motor. Sehingga mau tidak mau harus menyingkirkan terlebih dahulu kendaraan tersebut. Waktu mereka terkuras habis, butuh setengah hari untuk melakukan itu semua.


"Haa .. haa .. haa .. ca-capek!" Keluh Bryan.


"Iya nih! Perasaan semalam gak ada capeknya. Lah ini dorong mobil langsung capek!" Sahut Rafael.


"Akhirnya kita sampai di hotel Matahari. Yaa, baru sampai di parkirannya sih. Kita kan harus melakukan pembersihan terlebih dahulu." Ujar Eva.


"Tunggu malam inikah?" Usul Laura.


"Boleh tuh, kan indra para Zombie akan menghilang dimalam hari." Sahut Rafael.


"Tapi ... indramu juga akan berdampak sepertinya!" Seru Revi.


"Emm ... entahlah, kita coba saja dulu. Aku kan bisa bangkitkan indra malamku jika terdesak nantinya. Kan saat tadi malam, pertama-tama aku tak bisa mendengar, melihat dan menghirup aroma. Saat tiba-tiba ada raungan, saraf di otakku langsung bekerja ..."


"Aku langsung bisa memakai seluruh indra ku dengan kuat. Mungkin ada cara bangkitin indra dengan paksa, nanti aku coba satu-satu." Ujar Rafael santai.


"Oke. Kita akan melakukan pembersihan dimalam hari. Sekarang istirahat saja dulu, masih lama juga malam nih. Masih sekitar 4 jam-an!" Sahut Clara.


"Tapi tumben deh sepi, gak ada para Zombie." Ujar Eva.


"Iya sih. Mungkin karena tidak terusik jadi mereka tidak mengganggu kita. Kita saja pakai baju pelindung, kecuali Rafael." Sahut Revi.


Mereka semua pun beristirahat menunggu malam hari agar lebih mudah melakukan pembersihan jika terdapat Zombie.


***


Matahari menyingsing tenggelam dibalik gunung. Kegelapan mulai menyeruak masuk kedalam heningnya suasana. Para murid SMA Misu sudah bersiap-siap melakukan pembersihan.


Saat mereka perlahan keluar dari bus, tiba-tiba menyala sebuah lampu sorot dan menyorot mereka dari arah hotel. Kemudian hotel langsung terang benderang, lampunya benar-benar terang.


"Agh! Silau!" Keluh Revi.


"Rafa! Kau bisa dengar?!" Seru Bryan sambil menggoyangkan tubuh Rafael.


"Ehh! Jangan digoyangkan. Aku masih konsentrasi nih bangkitin indra malamku." Bentak Rafael.


[ Diberitahu kepada 6 orang yang berada di samping bus sekolah. Angkat tangan kalian, kami akan periksa terlebih dahulu kalian! ]


Terdengar suara megaphone dari arah hotel. Semua murid-murid SMA Misu mengikuti perintahnya kecuali Rafael.


..


Disisi lain, dibalkon teras yang menjorok ke halaman parkiran hotel. Terdapat seorang polisi yang berbicara di megaphone.


"Ah! Anak itu tidak mengindahkan peringatan!" Gumam polisi tersebut.


"3!"


"2!"


...


Seketika Rafael langsung mengangkat tangan dengan cepat.


"Fwuuh hampir saja. Rafa? Kau bisa bangkitkan indra malam kah?" Ujar Revi disampingnya.


"Ya, lumayan bisa meski sedikit harus dipaksakan. Beruntung aku sempat dengar samar-samar perintah orang itu." Ujar Rafael.


Tap! Tap! Tap!


Kelompok berseragam lengkap beserta senjata laras panjang bersiap didepan dada. Mereka mendekat kearah 6 orang murid SMA Misu.


"Periksa badan mereka. Apakah ada bekas luka, tanyakan apa saja!" Ujar individu dari mereka. Nampaknya dia pemimpinnya.


Satu persatu murid SMK Misu diperiksa, tidak ditemukannya bekas luka serta pertanyaan mereka mampu jawab dengan cepat. Sekarang, giliran terakhir dari Rafael.


"Ehh .. bekas luka gigitan ditangan ada tidak yaa!" ~Batin Rafael.


Rafael diperiksa secara menyeluruh oleh individu kelompok dari hotel.


"Hmm .. Anak ini seperti komandan, mempunyai luka gigitan!" ~Batin pemeriksa Rafael.


"Anak ini sedikit pucat!" Ujar individu dari kelompok hotel.


"Mungkin sakit." Sahut teman individu itu.


"Komandan, 6 orang anak ini aman. Ada 1 orang yang pucat, dia nampaknya sakit. Mereka membawa ransum dan perlengkapan persenjataan. Nampaknya mereka sudah terlatih sejak sebulan kiamat Zombie!" Ujar individu pada walkie talkie nya.


[ Suruh mereka masuk dan langsung menghadap saya! ]


Terdengar balasan dari seberang walkie talkie.


"Oke nak, kalian masuk. Mana kunci bus nya, nanti bapak yang akan parkirkan kedalam. Terus perlengkapan kalian akan bapak simpan di kamar kalian nantinya." Ujar seorang individu ramah.


"Nih pak, hati-hati yaa jangan sampai lecet sedikit pun." Jawab Eva memberikan kunci bus sambil tersenyum jahat.


"Anak ini yang mengendarai bus?! Menakjubkan, nampaknya mereka masih SMA." ~Batin penerima kunci bus itu.


Mereka semua pun masuk kedalam hotel. hotelnya dipenuhi oleh puluhan orang, nampaknya mereka sebagian yang selamat dari kiamat Zombie ini.


"Ternyata masih ada banyak yang hidup di dunia yang fana ini!" ~Batin Rafael.


~


Instagram : alif_ardra