
Tiba-tiba dokter Lee datang dari pintu tenda. "Rafael, kamu bisa ikut saya ?"
Rafael memandang teman-temannya dengan ragu, namun teman-temannya sama sekali tidak ragu dengan ajakan dokter Lee. Dengan pilihan yang matang, Rafael memutuskan untuk mengikuti dokter Lee menuju suatu tempat. Tempat yang bagi orang awam itu sangat gila!
...----------------...
Tempat ini terletak di bawah tanah. Sebuah tempat yang dipenuhi tabung-tabung aneh, didalamnya terdapat makhluk yang tak kalah aneh juga.
Rafael yang berada di belakang dokter Lee saat berjalan hanya terdiam sambil memandang Laboratorium Dokter Lee, menurut penuturannya.
Dokter Lee seperti tahu akan keingintahuan Rafael mulai berkata. "Tempat ini telah ada beberapa tahun lalu, menurut orang-orang di pelabuhan ini."
Rafael memandang lekat ke dalam sebuah tabung dengan berisi air yang memenuhi tabungnya, di dalamnya terlihat seorang anak kecil yang dimulutnya dipasang semacam alat pernapasan. Anak kecil ini sama sekali tak berbusana, hanya kulit putihnya yang terlihat, bagi Rafael, anak ini lumayan tampan.
"Dia adalah anak dari sahabat saya." Dokter Lee nampak sedih.
Bagaimana bisa? Hanya itu yang mungkin dipikirkan Rafael. Bagaimana bisa seorang anak kecil diperlakukan seperti itu. Baru saja Rafael mau berkata, dokter Lee melanjutkan perkataannya lagi.
"Dia adalah orang pertama yang terinfeksi di Palu kemudian cepat menyebar ke seluruh Indonesia dengan pertumbuhan yang tak disadari orang-orang di Indonesia."
Rafael lantas terjungkal ke belakang sangking kagetnya. Pernapasannya menjadi berat tak terkendali. Melihat hal itu, dengan cepat dokter Lee menenangkan Rafael dengan memberinya air mineral.
"2 hari sesudah penyebaran, saya menemukan dia di rumah sahabat saya yang terletak dipinggiran pantai, sahabat saya terlihat mati dihadapan anak ini. Saya membawanya menuju penginapan saya menggunakan mobil milikku, anak ini tidak sadarkan diri..."
"...Daerah penginapan saya masih sangat aman karena dikelilingi dinding setinggi 4 meter, hanya saja beberapa hari setelahnya, penginapannya hancur dikepung Undead. Saya membawa anak ini kemana saja menggunakan mobil yang saya temukan, sampai akhirnya bertemu kelompok ini untuk pertama kali. Mereka sangat baik."
Rafael mendengar penjelasan dari dokter Lee, dia merasa kasihan juga. Baru datang sehari sebelum penyebaran, dokter Lee harus berjuang bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Sungguh ironis.
"Siapa namanya ?" Rafael sedikit merasa familiar terhadap bentuk wajah dari anak kecil itu.
"Rendy. Umurnya 9 tahun."
Rafael merasa lega karena wajah yang familiar tidak memiliki nama yang ada dipikirannya.
"Terus... apa yang dokter lakukan disini?"
Dokter Lee menunduk sedih, dia seperti tidak mau berkata. Namun segera berkata ketika Rafael baru saja mau berucap untuk dilupakan saja, dokter Lee mulai kembali memandang kosong ke tabung anak kecil itu.
"Saya disini berusaha membuat vaksin kecil-kecilan dari darah bangsawan Inggris. Kamu tahu sendiri kan, keturunan bangsawan Inggris hampir punah akibat kiamat Undead ini. Makanya saya mau mengumpulkan mereka."
"Eksploitasi manusia lho dokter."
"Hanya itu satu-satunya cara !!" Dokter Lee membentak Rafael dengan keras.
"Baiklah. Saya tidak mau membantah dokter. Tapi kenapa bukan ke negaranya saja?"
"Inggris telah hancur total." Singkat dokter Lee lirih.
Rafael lebih masuk ke dalam dan melihat-lihat alat-alat dari dokter Lee. Alat-alatnya terbilang sangat canggih untuk sekelas laboratorium bawah tanah di bawah pelabuhan Pantoloan.
Rasa penasaran Rafael naik. "Ini alat yang dokter Lee bawa atau memang ada disini?"
Rafael memandang dokter Lee. Dia menimbang-nimbang permintaan dari dokter Lee, namun untuk kemajuan apa yang dokter Lee tuturkan, Rafael tidak bisa menolak.
Rafael hanya mengangguk pelan. Dengan cepat dokter Lee mempersiapkan alat-alatnya untuk mengambil setetes darah Rafael. Rafael dibaringkan diatas ranjang.
"Setetes kah ini ?!"
Rafael melihat sebuah botol berukuran 500 ml yang dipenuhi darah Rafael. Baginya itu bukan setetes, darah yang diambil membuatnya lemah.
"Haha!" Dokter Lee tertawa renyah.
"Baiklah, kamu boleh istirahat segera. Darahmu unik juga yaa." Ujar dokter Lee sambil melihat darahnya dari mikroskop.
"Ah... Boleh saya lihat?"
Dokter Lee mempersilahkan Rafael untuk melihat darahnya di mikroskop. Ketika Rafael melihatnya, dia terkesiap. Rafael melihat terdapat ribuan makhluk hidup yang bersarang di darahnya, titik-titik kecil itu menggeliat tanpa henti.
"Itu kah virusnya?"
"Iya, tapi itu adalah virus mutasi dari CytraZ-24 yang bernama Human-Z."
Mata Rafael berbinar senang, dia tidak menyangka melihat makhluk hidup kecil terdapat di darahnya. Walaupun itu makhluk hidup pembuat kiamat zombie, tapi dia sedikit tenang ketika mengetahui bahwa yang terdapat di darahnya adalah itu.
"Wow !!" Dokter Lee berdecak kagum ketika kembali melihat mikroskop.
"A... Ada apa?"
"Setiap individu membelah berkembang biak dengan cepat. Satu individu dapat membuat 1 lagi, namun individu yang membuatnya mati."
"Tumbuh satu mati satu, seperti itu?" Ujar Rafael.
Dokter Lee mengangguk pelan sambil mengambil setetes darah dari anak kecil yang berada di tabung. Ketika dokter Lee letakkan di darah Rafael, dokter Lee melihat sebuah penolakan pada mikroskop. Virus yang berada pada darah Rafael benar-benar menolak darah anak kecil itu dengan cara memakannya hingga habis.
"Menarik." Gumam dokter Lee, gumamannya didengar oleh Rafael.
"Apa yang menarik ?"
Dokter Lee berpindah tempat untuk memberikan ruang bagi Rafael melihat yang terjadi.
"Wow !!" Tentu Rafael terkejut.
"Baiklah, penelitian dari saya akan dimulai. Kamu sebaiknya keluar karena ini bisa saja berbahaya."
Rafael mengiyakan perintah dari dokter Lee, dia benar-benar tidak mau mengganggu dokter Lee di dalam laboratorium tersebut.
Rafael pergi ke tenda dimana kelima temannya berada. Disana mereka tidak terlihat. Rafael menanyai salah seorang survivor disana, survivor itu menjelaskan bahwa kelima teman Rafael berada di dermaga.
~