
Di ruangan arsip rumah sakit, kelima sahabat Rafael, pak Setyo, Wahyu dan Anindira sedang khawatir karena Rafael menghilang.
"Bagaimana ini?" tanya Anindira dengan perasaan khawatir tinggi.
"Kita berpencar, bawa senjata masing-masing dan kalau bisa pakai saja senjata api! Rafael tidak seceroboh ini untuk menghilang tanpa kabar!" seru Bryan sembari mengisi mengganti magazine pistol silencernya.
...----------------...
Semuanya mengangguk. Terutama pak Setyo yang menyiapkan sebuah senjata laras panjang berjenis M16. Senjata itu diambil oleh Clara saat melarikan diri dari kelompok bandara.
Mereka bergerak dengan cepat. Mereka berpencar dengan pembagian kelompok 2 orang. Bryan bersama Revi, Laura bersama Anindira, Clara bersama Eva, Wahyu bersama pak Setyo.
Mereka menyisiri setiap ruangan yang ada di lantai 2. Setelah tidak ditemukannya tanda-tanda keberadaan Rafael, mereka langsung berpencar dengan pembagian kelompok itu ke lantai 1 dan 3.
Di lantai 1, ada kelompok Bryan dan Anindira. Mereka menyusuri setiap ruangan. Anindira bersama Laura mendekati sebuah ruangan yang dari dalam keluar sebuah genangan darah berwarna kehitaman. Mereka berdua memanggil Bryan dan Revi. Sesaat mereka memasuki ruangan tersebut, sebuah penampakan yang mengerikan mereka lihat.
Ya, itu adalah perbuatan dari Rafael. Bryan pun langsung berlari kembali ke lantai 3 untuk menemui kelompok pak Setyo dan Clara. Revi, Laura dan Anindira hanya berdiri di depan ruangan itu dan tak berani masuk. Beberapa saat kemudian, kelompok pak Setyo dan Clara bersama Bryan sampai kembali ke ruangan tersebut.
"Ini perbuatan Rafael." Bryan langsung menyimpulkan demikian.
Siapa coba yang dapat mencabik-cabik dan membela dua tubuh zombie tersebut selain Rafael. Jika benar, berarti ada penyusup. Namun untuk saat ini Bryan mencoba berpikir positif dan menyimpulkan bahwa itu adalah kelakuan sahabatnya.
"Di sana ada lubang!" seru pak Setyo melihat sebuah lubang untuk ke bawah tanah.
"Rafael sepertinya masuk ke sana…" kata Laura dengan intuisi wanitanya.
"Ayo!" ajak Bryan.
Mereka pun memasuki lubang tersebut dengan perlahan.
***
Di sisi lain, saat ini Rafael berada di sebuah ruangan eksperimen. Dia dibaringkan disebuah ranjang dengan kedua tangan dan kakinya diikat. Dia diberi alat pernapasan. Terdengar suara alat monitor hemodinamik dan saturasi. Rafael perlahan membuka matanya.
"Ugh…" rintih Rafael.
"Kepala dokter, subjek 05 telah sadar."
"Baiklah, segera lakukan proyek C-V! Semoga subjek 05 adalah yang ditunggu-tunggu!"
Rafael mencoba bergerak, namun apa daya karena kedua tangan dan kakinya diikat dengan erat. Rafael melihat 2 orang berbaju hazmat berwarna putih sedang berbincang.
"Kalian… siapa?" tanya Rafael dalam kondisi lemah.
"Kami adalah tim eksperimen dari rumah sakit Sehat. Kami sedang melakukan eksperimen terhadap tubuhmu untuk pembuatan C-V," ujar orang yang disebut kepala dokter tersebut.
"O-otak? Ja-jantung?!" Rafael meronta-ronta untuk melepaskan ikatannya. Saat inipun dia tidak bisa mengeluarkan tentakelnya, entah mengapa.
"Demi kehidupan manusia," kata dokter satunya dengan nada datar.
"Sialan! Brengsek! Bajingan!" umpat Rafael dengan emosi yang meluap.
Namun semua itu hanya sia-sia dan lagi dia kembali dibius untuk kedua kalinya.
Sebelum kembali kehilangan kesadaran, Rafael mendengar suatu perkataan yang membuatnya terbelalak. "Habisi kawan-kawannya!"
Setelah itu, dia hanya melihat sebuah ruangan gelap. Sepenuhnya dia kehilangan kesadarannya tanpa tau apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh kedua orang tersebut.
***
Di sisi lain, saat ini pak Setyo dan lainnya sedang menyusuri lorong yang pencahayaannya temaram. Mereka tetap waspada saling menjaga. Beberapa saat kemudian, mereka sampai pada ujung lorong dan terlihat pintu besi berbentuk lingkaran.
"Bunker?" ucap pak Setyo menebak.
Tiba-tiba terdengar beberapa langkah kaki kecil digenangan air pada lorong tersebut. Mereka semua langsung waspada. Senjata mereka masing-masing dibidikkan kearah depan.
Beberapa orang keluar dari balik tembok yang ditutupi semacam kain berwarna gelap. Mereka juga menodongkan senjata api mereka pada pak Setyo dan lainnya. Melihat hal itu, pak Setyo yang seorang Human-Z langsung segera berteriak dengan keras memakai kemampuannya. Lorong itu bergetar hebat, semua orang menutup telinganya.
"Aarrghh!!" teriak kesakitan semua orang yang berada di sana. Terkecuali kelima sahabat Rafael, Wahyu dan Anindira yang terlebih dahulu menutup telinganya dengan erat.
"Tembak!" teriak Bryan. Dia merasa benar-benar bahaya jika tidak segera bertindak.
Rentetan suara senjata api terdengar menggema di lorong tersebut. Genangan air yang awalnya terlihat sedikit jernih menjadi merah darah. Terjadi kembali pertumpahan darah yang tidak diperlukan.
"Rafael dalam bahaya!" ujar Bryan menebak alurnya.
Pak Setyo langsung menembak dengan brutal ke arah pintu besi tersebut. Pintu itu terbuka dan menampakkan beberapa orang yang sedang bersiap menembak, pak Setyo memberi aba-aba pada semuanya untuk menutup telinga, kemudian berteriak dengan kencang. Semua orang yang berada di dalam pintu besi itupun berteriak kesakitan.
"Sialan! Dimana Rafael hah?!" teriak kesal Revi.
Dia membabi buta menembaki orang-orang yang kesakitan itu tanpa rasa kemanusiaan. Dia benar-benar kesal, selalu ada orang yang membahayakan sahabatnya.
"Maju!" seru pak Setyo.
Mereka semua maju seraya menembaki siapa saja yang mereka temui. Mereka menyapu rata semua orang yang berada di sana tanpa henti. 20? Tidak, kemungkinan 50 orang lebih berada di sana. Sebagian orang berbadan besar dengan bertato. Pak Setyo yang mengenali beberapa orang semakin kesal, karena beberapa dari mereka adalah buronan nasional.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai pada ruangan tembus pandang yang dikelilingi kaca tebal anti peluru. Di dalam ruangan kaca itu, terdapat Rafael yang sedang terbaring lemah dengan banyak alat terpasang pada tubuhnya. Di sebelah ruangan itu, terdapat pula ruangan kaca anti peluru. Di sana terdapat 2 orang yang sedang berdiri santainya.
"Selamat datang, kalian semua!" seru orang yang berada di dalam ruangan kaca tersebut dengan sombongnya.
Orang yang berbicara itu adalah kepala dokter yang mereka semua tau, karena saat diarsip dokumen terdapat foto kepala dokter.
"Wah, wah, wah! Nampaknya satu lagi Human-Z alami datang. Kita mempunyai 2 subjek potensial. Kita harus segera membuat C-V agar dunia menjadi damai kembali!" lanjutnya seraya berjalan ke ruangan Rafael.
"Apa maksudmu?!" seru Bryan sembari menodongkan 2 pistol silencer miliknya ke kepala dokter tersebut.
"Kalian berpacu dengan waktu. Alat ini akan segera mengekstraksi otak dan jantungnya untuk segera dijadikan bahan utama pembuatan C-V atau dikenal dengan Cytra Vaccine."
Mereka semua terbelalak mendengarkan pernyataan dari kepala dokter itu. Revi yang semakin kesal langsung menghujani kaca itu dengan Ak-47 miliknya, sayangnya kaca itu benar-benar tebal bagaikan material terkuat di dunia.
"Tidak akan bisa, kaca ini memiliki kandungan Vibranium! Hahaha!" seru kepala dokter itu dengan tertawa jahatnya.
"Vi-Vibranium? Bukannya itu hanya material fiksi? Apakah benar ada?!" Bryan jelas terkejut.
Alat yang terpasang pada tubuh Rafael perlahan mulai aktif. Waktu dimulainya pengekstraksi dibutuhkan 3 menit. Alat itu harus seperti sebuah motor yang dipanaskan agar lebih stabil dalam digunakan.
"Waktu kalian 3 menit untuk menghentikannya, selamat berjuang menghancurkan kaca itu!" ujar kepala dokter itu seraya kembali ke ruangan awalnya. Di sana dia duduk santai di atas sofa bersama pendampingnya.
"Sialan! Material fiksi dari film kesukaanku benar-benar ada di dunia nyata!" keluh Revi seraya menembaki kaca itu dengan senjatanya.
Namun itu sia-sia, kaca itu sama sekali tidak pecah bahkan tergores sedikitpun. Melihat Revi yang frustasi, Bryan maju ke depan seraya membawa sebuah kotak persegi. Bryan membuka kotak tersebut dan menampakkan sebuah bom dinamit berdaya ledak besar.
Pak Setyo memandang ragu Bryan. "He-hei! Yakin, Nak Bryan?" tanya pak Setyo mencoba menghadang Bryan.
"Tidak dicoba, tidak akan tau!" seru Bryan.
Melihat bom yang Bryan pegang, kepala dokter dan pendampingnya sedikit panik. "Hei! Jangan coba-coba!" pekik kepala dokter menunjuk Bryan.
Bryan yang mendengar itu menjadi semakin yakin untuk menggunakannya. Dia segera meletakkan bom itu di lantai, kemudian pergi menjauh dari sana diikuti oleh semua orang yang ada di sana. Bryan tersenyum menyeringai lebar kepada kepala dokter.
Sedetik kemudian ledakan besar terjadi, kepulan asap membumbung menutupi ruangan tersebut. Ruangan itu bergetar hebat. Beberapa saat kemudian, asap menghilang dan menampakkan kaca yang tidak rusak sama sekali bahkan lantaipun tidak rusak hanya terlihat hitam gosong.
"Mmmhmm… huahahah! hahaha!! Kalian benar-benar bodoh!" Kepala dokter itu tertawa dengan keras bagai seorang psikopat sadis.
"Brengsek!" umpat Bryan.
"Sekuat itu kah kaca ini? Gila!" seru Revi membanting Ak-47 miliknya ke lantai.
"Kalian, waktu tersisa 1 menit lebih 30 detik. Kalian hanya membuang waktu!" teriak kepala dokter dengan sombong.
"Ada satu cara lagi," ucap Anindira dengan raut wajah serius.
Clara langsung meraih Anindira dan mendesaknya. "Cepat katakan!"
"Rudal kalian…" bisik Anindira pada Clara.
Seketika Clara terkejut. Clara menatap tajam kearah Anindira seraya menatap bergantian sahabat-sahabatnya, Wahyu serta pak Setyo.
"Pak kepala dokter, kenapa anda melakukan hal kejam ini?" tanya Wahyu sembari maju beberapa langkah mendekati ruangan kaca milik kepala dokter dan pendampingnya.
"Demi kehidupan manusia apapun dapat kita lakukan. Kawan kalian, subjek 5 akan segera diketahui apakah lolos uji coba atau tidak!" jelas kepala dokter dengan kesungguhan.
"Apakah benar demi kemanusiaan?" tanya sekali lagi Wahyu.
Dia kali ini memiliki sebuah rencana yang dapat bekerja diwaktu sempit. Murid SMA Misu, pak Setyo dan Anindira hanya saling melirik. Mereka sama sekali tidak mengetahui rencana apa yang akan dilakukan Wahyu, itu terlalu tiba-tiba dan mereka tidak bisa untuk bertindak.
"Benar. Demi kemanusiaan, kawanmu akan mengorbankan dirinya demi kemanusiaan."
Wahyu semakin mendekat kearah pintu ruangan kaca tersebut. Jelas pintu itu seharusnya dapat dibuka dan ditutup karena terdapat mekanik lubang kunci pintu yang terlihat jelas pada kaca transparan tersebut. Kepala dokter tidak menaruh kecurigaan pada Wahyu yang semakin mendekat.
"Apakah kawan kami setuju? Waktunya masih sangat lama untuk mati. Menurut arsip yang kalian tulis, Human-Z alami waktunya 1 tahun setelah Human-Z ada. Jadi, selama waktu itupun kawan kami masih dapat membela kemanusiaan!" seru Wahyu dengan nada yang dipenuhi semangat membara.
Kepala dokter dan pendampingnya saling pandang. Tak berapa lama, terpancar senyuman seringai dari kepala dokter. "Intinya ini untuk kemanusiaan! Kalian lebih baik diam untuk kemajuan pembuatan C-V ini!" seru kepala dokter sembari melihat panel di hadapannya.
"Waktu tersisa 40 detik."
Tiba-tiba pintu kaca ruangan kepala dokter dan pendampingnya terbuka begitu saja. Melihat hal itu, mereka berdua panik bukan main dan langsung segera beranjak dari duduknya dan menodongkan senjata api kearah pintu ruangan.
"Ba-bagaimana bisa?!!" seru kepala dokter keheranan.
"Bingo! Ternyata pintu kacanya masih dapat dibuka memakai lockpick!" seru senang Wahyu seraya menatap haru kearah murid SMA Misu, pak Setyo dan Anindira.
Mereka yang masih tertegunpun sadar akan rentetan suara senjata api. Wahyu diberondong oleh senjata api milik pendamping kepala dokter.
"Sialan!" Bryan maju dan menembaki kedua dokter tersebut menggunakan pistol silencernya.
Tepat menembus tengkorak kepala. Kedua dokter itu ambruk ke lantai dalam keadaan terbelalak. Sontak Clara masuk ke ruangan dokter itu dan masuk lagi ke ruangan Rafael. Dia segera mencabut seluruh alat yang melekat pada Rafael. Hitung mundur alat ekstraksi pun berhenti.