Human-Z

Human-Z
Chapter 63 : Kehancuran Bandara



Setyo dan Hendro sedang dalam perjalanan mereka untuk memata-matai kelompok bandara. Cukup lama, karena mereka selalu dihalangi oleh para zombie-zombie gila.


"Akh! Mana bahan bakarnya sisa 1 batang!" keluh Hendro kesal.


Setyo melihat keluar jendela sambil terus sesekali menembak. Dia cukup merasa aneh kepada beberapa zombie yang hanya terdiam sambil memandang langit.


Setyo menoleh kepada Hendro kemudian berkata. "Para zombie hanya terdiam melihat langit, kenapa yaa?"


Hendro yang sedang fokus menyetir mobil hanya mampu mengendikan bahunya tanda tidak tau.


"Arrgh! Masih banyak misteri tentang zombie ini!" pekik Setyo kesal.


Di dalam perjalanan mereka hanya saling terdiam membisu. Suasana cukup canggung karena tak ada yang bisa dibicarakan. Disaat kecanggungan antara pria ini melanda, tiba-tiba segerombolan zombie dari arah belakang mobil mengejar mereka.


"Shiit!" umpat Hendro sambil melajukan kendaraannya.


Tak butuh waktu lama, para zombie itu menyusul mobil Hendro dan Setyo yany melambat akibat kehabisan bahan bakar.


"Arrgh!! Bersiaplah!" seru Hendro sambil mempersiapkan sepucuk pistol ditangannya.


"Oke!"


Mereka berdua keluar dari mobil dengan taruhan yang besar. Lebih baik melawan dan mati daripada tidak sama sekali dan mati. Itu yang mereka pikirkan.


Moncong kedua senjata api mereka diarahkan kepada segerombolan zombie yang mulai mendekat.


Suara tembakan terdengar nyaring disana. Peluru-peluru membelah angin dan memecahkan kepala beberapa zombie.


"Ambil magazine terakhirmu, Pak Setyo!"


"O-oke!" Setyo berlari kembali ke mobil dan mengambil magazine sesuai jenis pistolnya.


Geraman para zombie semakin terdengar keras. "Mereka mendekat!!" teriak Hendro mendekati Setyo.


Mereka berdua hanya mampu bersembunyi di dalam mobil dengan kepanikan yang melanda.


Para zombie menyambar mobil mereka, tetapi lari mereka sama sekali tidak terhenti dan malah menjauhi Setyo dan Hendro. Tentunya kedua pria ini hanya keheranan sambil melirik sesama.


"Oke, nampaknya kita sedang beruntung," ucap Hendro lega.


"Tapi ... mengapa mereka menjauh kita?"


Pertanyaan dari Setyo membuat Hendro sadar. Dia segera berlari keluar mobil dan menuju ke salah satu mobil yang terbengkalai di sana.


"Ambil selang kecil disana, Pak!"


"Siap!"


Bahan bakar mobil terbengkalai itu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam botol. Kemudian diisi lah ke mobil jeep mereka.


"Tancap gas, Pak Setyo! Saya tau kamu lebih ahli dalam mengendarai mobil. Apalagi pernah saya mendengar kamu mengejar perampokan bersenjata dengan mobil yang kalah jauh dengan mobil perampok. Mobil polisi standar melawan mobil sport."


Setyo kemudian mengambil alih kemudi. Dia menginjak pedal gas dengan dalam sehingga membuat ban belakang mobil jeep itu mengeluarkan decitan keras.


"Pegangan!!"


Mobil jeep melaju kencang. Namun, mereka bukan ke arah bandara melainkan mengejar segerombolan zombie tadi. Tentunya rasa penasaran yang membuat mereka seperti ini.


5 menit setelah mencari. Akhirnya mobil Jeep menyusul gerombolan zombie yang menggeram dan menggila itu. Mobil Jeep terus beriringan di belakang para zombie mengikuti gerakannya.


"Mereka sama sekali tidak terganggu loh," ucap Setyo.


Namun, yang awalnya para zombie itu menjauhi jalur menuju bandara, mereka malah berputar di persimpangan jalan dan menuju langsung ke jalur bandara.


"Mereka ini–"


"Ya, ada yang tidak beres di sini," sela Setyo masih tetap fokus mengendarai mobil.


20 menit kemudian, akhirnya gerombolan zombie itu benar-benar berada di hadapan gerbang bandara. Semakin dekat dengan bandara, mereka semakin menggila.


Tiba-tiba Setyo dan Hendro menangkap suara yang memekakkan telinga. Suara yang memiliki frekuensi tinggi. Suara itu jelas ditangkap oleh alat dari mobil Jeep dan kembali dikeluarkan menjadi suara yang dapat ditangkap telinga manusia. Alat itu juga mendeteksi bahwa suara ini adalah suara berfrekuensi tinggi, yaitu 20 Hz. Suara yang hanya dapat didengar oleh kelelawar dan lumba-lumba.


"Ultrasonik!" Serentak mereka berdua.


"Jadi ... zombie bisa mendengar itu?!" pekik Hendro terkejut.


"Kenapa bandara memancing para zombie? Apakah ada sesuatu?" ucap Setyo sambil memberhentikan mobilnya di sisi bahu jalan.


Zombie mencoba merangsang masuk ke gerbang bandara. Namun, sama sekali tidak ada penjaga yang berusaha menghalau itu semua.


Dari dalam bangunan tempat Setyo memarkirkan mobilnya, keluar beberapa orang dengan bersenjata lengkap.


Hendro yang sadar langsung membuka kaca mobil dan menodongkan pistolnya.


"Woahah! Tenanglah, kami damai," ucap salah seorang polisi.


"Kami kubu yang menentang perilaku tidak berperikemanusiaan oleh Agus!" sahut polisi lainnya.


"Ya, kelompok bandara membuat pancingan itu agar pengkhianat sebenarnya membuka suara," ucap Gideon yang datang dari dalam bangunan.


Setyo dan Hendro dibuat terkejut akan hal itu.


...


Mereka semua berunding di bangunan itu. Bandara juga nyaris dikuasai oleh zombie. Para pasukan gabungan bandara juga diketahui sudah kabur dengan helikopter kargo mereka. Hanya beberapa penyintas atau orang yang selamat dibawa. Sisanya ditinggalkan merana dan menunggu nasib mereka dibantai habis oleh zombie.


"Agus ... dia sudah bukan manusia sekarang, dia adalah iblis sesungguhnya!" ucap Setyo geram sambil menggebrak meja.


Meja itu terbelah dua membuat siapa saja ngeri melihatnya. Hendro memegang pundak Setyo dan menenangkannya.


"Sudahlah, itu semua sudah sia-sia. Nampaknya manusia sekarang hanya mementingkan kekuasaan. Semua rasa kemanusiaannya dia buang jauh-jauh, cukup ironis, tetapi itu juga wajar dizaman Apocalypse zombie ini," jelas Hendro.


"Kami juga tak bisa menyelamatkan orang-orang itu. Kami bahkan ditinggalkan karena melawan si sialan Agus itu. Dia tidak berniat membunuh kami secara langsung, dia berniat membunuh kami dengan licik.


Agus membuat seperti ini untuk bisa dikatakan kepada pemerintah dengan alasan 'sebagian dari kami gugur dan banyak penyintas yang tidak bisa kami selamatkan, kami menyesal'. Itu yang akan Agus katakan kepada pemerintah," jelas Gideon sambil memandang keluar jendela.


Para zombie telah seutuhnya menguasai bandara. Kemungkinan beberapa orang yang ada disana telah dibantai habis oleh para zombie.


Semua ini benar-benar tidak bisa dimaafkan! Batin Setyo.


Handsfree yang berada pada Hendro berbunyi beberapa kali.


"Ayah!! Cepat datang!! Kami dikepung banyak tentara dan polisi, 11 orang itu maju dan malah dibantai habis!! Rafael kewalahan!!"


Hendro hanya terbelalak mendengar itu. Tak berapa lama, handsfree itu sudah tidak terdengar lagi.


"Ayo bergegas!!" seru Gideon yang mendengar teriakannya Jaka.


Mata Hendro menyiratkan kebencian yang mendalam kepada sang Komisaris Jendral Polisi itu. Dia sangat menaruh dendamnya kepada Agus.


***